CERAKEN.ID–Mataram — Transformasi pendidikan tinggi kembali menjadi perhatian utama di Nusa Tenggara Barat. Hal tersebut tercermin dalam Workshop Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi (VMTS) Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Mataram yang digelar di Prime Park Hotel Mataram, Kamis (12/2).
Kegiatan ini menghadirkan sekitar 93 peserta dari unsur pimpinan fakultas, universitas, pemangku kepentingan, hingga mitra kerja eksternal, termasuk Pengurus Daerah Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) NTB.
Workshop tersebut bukan sekadar agenda akademik rutin, melainkan momentum penting untuk merumuskan kembali arah pengembangan fakultas di tengah perubahan cepat dunia pendidikan tinggi, teknologi, dan kebutuhan industri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dekan FHISIP Unram, Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, S.H., M.H., menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan di Universitas Mataram menjadi momen strategis untuk menyesuaikan arah pengembangan fakultas dengan visi baru kampus.
Menurutnya, Universitas Mataram kini tengah mengarahkan diri sebagai perguruan tinggi unggul yang mampu bersaing secara global. Karena itu, setiap fakultas perlu menyelaraskan visi dan misinya agar mampu menjawab tantangan zaman.
“Workshop VMTS ini sejalan dengan berakhirnya visi rektor lama menuju visi baru Unram yang berdaya saing global,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Ia menegaskan bahwa visi dan misi bukan sekadar dokumen administratif untuk memenuhi kewajiban akreditasi, melainkan menjadi fondasi institusi dalam menentukan arah kebijakan akademik dan kontribusi sosial di masa depan.
Dalam perkembangannya, perguruan tinggi tidak lagi sekadar menjadi pusat pengajaran, tetapi telah berevolusi menjadi universitas berbasis riset yang diarahkan menuju konsep entrepreneur university, yakni kampus yang mandiri sekaligus memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Dulu ada anggapan perguruan tinggi jangan menjadi menara gading. Sekarang arah perguruan tinggi harus memberi dampak langsung,” jelasnya.
Program “guru besar berdampak” yang diusung rektor terpilih pun disebut menjadi bagian strategi besar Universitas Mataram untuk memperkuat kontribusi akademik terhadap pembangunan sosial dan ekonomi daerah.
Workshop ini sekaligus menandai fase penting pasca perubahan nomenklatur fakultas. Fakultas Hukum kini resmi bertransformasi menjadi Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) setelah bergabungnya Program Studi Komunikasi, Sosiologi, dan Hubungan Internasional.
Saat ini FHISIP menaungi tujuh peminatan rumpun Ilmu Hukum serta tiga program studi di bidang ilmu sosial dan politik. Dengan jumlah mahasiswa mendekati tujuh ribu orang, fakultas ini menjadi salah satu unit terbesar di Universitas Mataram sekaligus telah meraih status akreditasi unggul.
Transformasi kelembagaan tersebut menuntut penyelarasan strategi pengembangan akademik agar lulusan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Peran Industri Media dalam Pengembangan Akademik
Dalam forum tersebut, JMSI NTB tampil sebagai salah satu mitra strategis yang memberikan masukan penting, terutama terkait penguatan Program Studi Komunikasi. Industri media digital yang berkembang pesat dinilai membuka peluang besar bagi sinergi antara dunia akademik dan dunia industri.

Sekretaris Pengda JMSI NTB, Sukri Aruman, mengungkapkan bahwa kerja sama antara JMSI dan FHISIP Unram telah terjalin melalui nota kesepahaman sejak Desember 2025. Status unggul yang diraih Prodi Komunikasi Unram, menurutnya, menjadi momentum untuk membangun kolaborasi lebih konkret.
“Media siber di NTB berkembang sangat pesat. JMSI sebagai konstituen Dewan Pers memiliki 31 anggota media di NTB. Ini peluang besar untuk membangun ekosistem talenta media,” ujarnya.
Ia menilai lulusan komunikasi saat ini tidak cukup hanya dibekali teori komunikasi klasik. Mahasiswa harus menguasai keterampilan jurnalistik digital, multimedia storytelling, manajemen konten berbasis data, hingga pemahaman etika dan hukum media di era digital.
“Link and match antara kampus dan industri harus nyata, bukan sekadar konsep,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, JMSI NTB juga mengusulkan agar FHISIP melakukan kajian pembaruan mata kuliah yang relevan dengan perkembangan industri digital, khususnya regulasi media digital yang dinilai belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan industri informasi daring.
Selain itu, JMSI mendorong pengembangan kewirausahaan berbasis digital agar lulusan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha baru di sektor media dan ekonomi kreatif.
Magang sebagai Laboratorium Nyata
Usulan konkret lainnya adalah pembentukan forum kolaboratif untuk evaluasi kurikulum secara berkala agar materi pembelajaran selalu relevan dengan perkembangan teknologi informasi dan tren konsumsi media.
JMSI juga mendorong penguatan program magang terstruktur di media anggota JMSI. Melalui skema ini, mahasiswa tidak sekadar menjalani magang administratif, tetapi terlibat langsung dalam produksi berita digital, manajemen redaksi online, hingga strategi distribusi konten.
“Magang harus menjadi laboratorium nyata. Mahasiswa belajar ritme kerja media sekaligus membangun portofolio profesional,” kata Sukri.
Lebih jauh, JMSI mendorong pengembangan laboratorium media digital di kampus sebagai pusat inkubasi kreativitas mahasiswa. Laboratorium tersebut dapat menjadi ruang produksi portal berita, video digital, hingga podcast yang dikelola secara profesional dengan pendampingan praktisi media.
Kolaborasi kampus dan industri juga diarahkan pada penguatan riset media digital, peningkatan literasi anti-hoaks, serta pengembangan jurnalisme warga di tengah masyarakat.
Menurut Sukri, sinergi ini bertujuan menyiapkan lulusan komunikasi yang kompeten, beretika, dan mampu bersaing secara nasional.
“Kami ingin Prodi Komunikasi Unram menjadi pusat penghasil talenta media siber. JMSI siap menjadi mitra aktif dalam proses itu,” pungkasnya.
Menyusun Masa Depan Bersama
Workshop VMTS FHISIP Unram menunjukkan bahwa masa depan pendidikan tinggi tidak dapat dibangun oleh kampus semata. Dunia industri, komunitas profesional, dan masyarakat luas perlu dilibatkan agar kampus benar-benar menjadi pusat pengembangan ilmu sekaligus motor perubahan sosial.
Transformasi yang sedang dijalani FHISIP Unram mencerminkan kesadaran bahwa pendidikan tinggi harus adaptif terhadap perubahan zaman. Dengan kolaborasi yang kuat antara akademisi dan industri, diharapkan kampus tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan inovasi dan solusi bagi kebutuhan masyarakat.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, kemitraan kampus dan industri media menjadi salah satu kunci untuk menyiapkan generasi muda NTB yang mampu bersaing, beretika, dan memberi dampak nyata bagi pembangunan daerah maupun nasional.**
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : JMSI


































