Menautkan Kampus dan Industri Media: Strategi Masa Depan Ilmu Komunikasi Unram

Kamis, 12 Februari 2026 - 22:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perubahan zaman tidak bisa dihindari, tetapi dapat dihadapi dengan kesiapan (Foto: ist)

Perubahan zaman tidak bisa dihindari, tetapi dapat dihadapi dengan kesiapan (Foto: ist)

CERAKEN.ID—Mataram, Perubahan lanskap komunikasi global dalam satu dekade terakhir berjalan begitu cepat. Media digital, platform sosial, teknologi informasi, dan perubahan perilaku publik dalam mengonsumsi informasi telah menggeser cara masyarakat berinteraksi, bekerja, dan bahkan memandang realitas sosial.

Dalam situasi tersebut, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menyiapkan lulusan yang cakap secara akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan dunia profesional yang terus berubah.

Situasi inilah yang menjadi latar penting pelaksanaan Workshop Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi (VMTS) Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik Universitas Mataram (FHISIP Unram) yang berlangsung pada Kamis (12/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus perumusan arah strategis bagi salah satu fakultas terbesar di kampus negeri terbesar di Nusa Tenggara Barat tersebut.

Dalam forum tersebut, Sukri Aruman, pegiat pers dan penyiaran yang aktif di Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) NTB, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTB, serta Forum TV Lokal NTB, hadir mewakili JMSI NTB.

Kehadirannya membawa perspektif praktisi media yang selama ini terlibat langsung dalam dinamika komunikasi publik di daerah.

Meski diskusi mencakup keseluruhan program studi di lingkungan FHISIP, Sukri memilih memfokuskan catatannya pada Program Studi Ilmu Komunikasi, terlebih karena prodi tersebut telah menjalin kemitraan dengan JMSI NTB sejak Desember 2025 lalu.

Ia menegaskan bahwa pandangan yang disampaikannya merupakan catatan pribadi yang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi fakultas dalam menentukan langkah terbaik bagi pengembangan program studi, khususnya Ilmu Komunikasi.

Menurut Sukri, Program Studi Ilmu Komunikasi FHISIP Universitas Mataram memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia komunikasi bagi pembangunan NTB maupun Indonesia secara lebih luas.

Percepatan transformasi digital telah melahirkan perubahan drastis dalam pola komunikasi masyarakat. Informasi kini diproduksi dan dikonsumsi secara cepat, lintas platform, dan tanpa batas geografis.

Media sosial, jurnalisme digital, konten kreatif, serta komunikasi berbasis data menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks tersebut, pendidikan komunikasi tidak lagi cukup menghasilkan lulusan yang memahami teori komunikasi semata.

Dunia kerja membutuhkan tenaga profesional yang memiliki kompetensi praktis, mampu mengelola komunikasi publik, memproduksi konten berkualitas, serta memahami etika komunikasi di ruang digital.

Karena itu, Sukri memandang pentingnya integrasi eksplisit industri media dan sektor kehumasan dalam visi Program Studi Ilmu Komunikasi. Langkah ini, menurutnya, memiliki dimensi strategis secara akademik, kelembagaan, sekaligus regional.

Denis McQuail dalam Mass Communication Theory (2010) menegaskan bahwa media bukan hanya sarana penyampaian informasi, tetapi institusi sosial yang membentuk realitas dan memengaruhi relasi kekuasaan dalam masyarakat.

Di sisi lain, Grunig dan Hunt (1984) menjelaskan bahwa kehumasan merupakan fungsi manajemen strategis yang menentukan kualitas hubungan organisasi dengan publiknya.

Baca Juga :  Merawat Gairah Literasi: Menyemai Semangat Menulis di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Takalar

Perspektif ini memperlihatkan bahwa lulusan komunikasi harus dipersiapkan untuk bekerja dalam ekosistem komunikasi yang kompleks, bukan sekadar memahami konsep teoritis.

Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri

Dalam praktiknya, mayoritas lulusan komunikasi terserap di sektor media, produksi konten digital, komunikasi korporasi, hubungan masyarakat pemerintahan, serta industri kreatif berbasis platform digital.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa industri media dan kehumasan menjadi jalur profesional utama bagi sarjana komunikasi.

Karena itu, pencantuman eksplisit sektor tersebut dalam visi program studi menjadi penting sebagai penegasan orientasi lulusan sekaligus penguatan prinsip link and match antara pendidikan tinggi dan dunia kerja.

Visi yang jelas akan memandu pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, penelitian terapan, program magang industri, hingga kemitraan strategis dengan lembaga media dan organisasi publik.

Tanpa arah tersebut, pendidikan komunikasi berisiko tertinggal dari kebutuhan industri yang berubah sangat cepat.

Relevansi penguatan visi tersebut semakin kuat jika dilihat dari konteks pembangunan NTB. Provinsi ini berkembang sebagai destinasi pariwisata internasional, sekaligus wilayah rawan bencana dan kawasan kepulauan dengan keragaman sosial budaya yang tinggi.

Ketiga kondisi tersebut menuntut komunikasi publik yang profesional dan berkelanjutan.

Pariwisata membutuhkan strategi branding daerah yang konsisten di tingkat nasional dan global. Komunikasi kebencanaan membutuhkan sistem informasi cepat dan terpercaya untuk meminimalkan risiko sosial.

Sementara itu, pembangunan masyarakat kepulauan memerlukan distribusi informasi publik yang inklusif.

Dalam seluruh proses tersebut, media dan kehumasan menjadi infrastruktur komunikasi pembangunan.

Manuel Castells (2009) menyebut masyarakat modern sebagai network society, di mana arus informasi menentukan kekuatan sosial dan ekonomi suatu wilayah. Daerah yang mampu mengelola komunikasi publik secara efektif memiliki peluang lebih besar untuk berkembang.

Sebagai perguruan tinggi negeri utama di NTB, Universitas Mataram memiliki tanggung jawab akademik sekaligus moral untuk menjadi pusat pengembangan kompetensi komunikasi yang mendukung daya saing daerah.

Selain sektor formal, NTB juga menunjukkan pertumbuhan industri kreatif berbasis media digital. Produksi audiovisual, jurnalisme warga, konten lokal, hingga pemasaran digital membuka peluang baru bagi generasi muda.

Program Studi Ilmu Komunikasi dapat mengambil peran sebagai inkubator talenta kreatif melalui penguatan laboratorium media, studio produksi konten, serta kolaborasi dengan komunitas kreatif lokal.

Dengan demikian, visi program studi tidak hanya menyiapkan lulusan sebagai pekerja profesional, tetapi juga mendorong lahirnya wirausahawan komunikasi.

Fenomena ini sejalan dengan konsep convergence culture yang dikemukakan Henry Jenkins (2006), di mana batas antara produsen dan konsumen informasi semakin kabur dalam ekosistem digital yang saling terhubung.

Media kini tidak lagi satu arah, melainkan interaktif dan partisipatif. Kehumasan berkembang dari fungsi administratif menjadi komunikasi strategis berbasis data dan analisis publik.

Karena itu, pendidikan komunikasi perlu mengintegrasikan literasi digital, produksi multimedia, manajemen reputasi online, serta komunikasi krisis sebagai kompetensi inti lulusan.

Baca Juga :  Merawat Gairah Literasi: Menyemai Semangat Menulis di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Takalar
Tantangan Etika di Era Informasi

Namun percepatan teknologi juga membawa tantangan etika. Penyebaran disinformasi, polarisasi opini publik, hingga menurunnya kepercayaan terhadap media menjadi persoalan serius.

Pendidikan komunikasi memiliki tanggung jawab membentuk lulusan yang menjunjung tinggi etika profesi, verifikasi informasi, serta tanggung jawab sosial dalam penggunaan media.

Dalam konteks daerah berkembang seperti NTB, kualitas komunikasi publik sangat menentukan stabilitas sosial dan keberlanjutan pembangunan.

Karena itu, integrasi media dan kehumasan dalam visi program studi bukan hanya kebutuhan akademik, tetapi juga kebutuhan sosial.

Dari perspektif kelembagaan, penguatan visi juga berkontribusi terhadap peningkatan mutu akademik dan reputasi program studi.

Kemitraan dengan industri media dan lembaga kehumasan membuka peluang penyelenggaraan magang profesional, penelitian kolaboratif, serta jejaring nasional dan internasional.

Dampaknya tidak hanya pada kualitas lulusan, tetapi juga pada peningkatan akreditasi dan daya tarik program studi di mata calon mahasiswa.

Secara branding institusi, penyebutan media dan kehumasan memberikan citra bahwa Prodi Ilmu Komunikasi FHISIP Unram bersifat aplikatif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan industri masa depan.

Lebih jauh, integrasi media dan kehumasan tidak hanya bertujuan menyiapkan tenaga kerja profesional, tetapi juga membentuk lulusan sebagai agen perubahan sosial.

Komunikasi memiliki peran penting dalam memperkuat demokrasi, literasi informasi, serta partisipasi publik. Pendidikan komunikasi yang kuat akan menghasilkan generasi yang mampu mengelola informasi secara etis, kritis, dan bertanggung jawab.

Dalam konteks NTB yang plural dan dinamis, peran ini menjadi sangat penting untuk menjaga kohesi sosial sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan.

Menjadikan Visi sebagai Arah Masa Depan

Pada akhirnya, penguatan visi Program Studi Ilmu Komunikasi FHISIP Universitas Mataram melalui integrasi industri media dan kehumasan merupakan strategi jangka panjang untuk memastikan relevansi akademik, kesiapan profesional lulusan, kontribusi terhadap pembangunan daerah, serta daya saing global.

Visi yang kuat tidak boleh berhenti sebagai pernyataan normatif di atas kertas. Ia harus menjadi arah strategis yang membentuk identitas program studi sebagai pusat unggulan komunikasi yang berbasis riset, kreatif, adaptif terhadap transformasi digital, dan berorientasi masa depan.

Perubahan zaman tidak bisa dihindari, tetapi dapat dihadapi dengan kesiapan. Dan kesiapan itu dimulai dari keberanian lembaga pendidikan membaca tantangan masa depan serta menyiapkan generasi komunikasi yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

Daftar Pustaka

Castells, M. (2009). Communication Power. Oxford: Oxford University Press.
Grunig, J. E., & Hunt, T. (1984). Managing Public Relations. New York: Holt, Rinehart & Winston.
Jenkins, H. (2006). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide. New York: NYU Press.
McQuail, D. (2010). McQuail’s Mass Communication Theory (6th ed.). London: Sage Publications. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Merawat Gairah Literasi: Menyemai Semangat Menulis di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Takalar
Mahasiswa KKN Unram Sasar Pelajar MA Perkenalkan Cara Mengolah Limbah Tembakau Jadi Pestisida Nabati di Desa Perigi Suela Lombok Timur. Ternyata ini Alasannya!
Siswa SMA Sederajat Diimbau Tidak Ikuti Tren Menikah di Bulan Syawal
Viral! Siswa Dilarang Bawa HP ke Sekolah, Bikin Emak-Emak Ngomeh di Medsos. Ternyata ini Alasannya!
Keren! 35 Pengurus OSIS SMAN 1 Pringgabaya Digembleng Jadi Calon Pemimpin Masa Depan
IKA SMANSABAYA Dukung Program Sekolah “Cekal” Stunting
Gubernur NTB Kukuhkan Pengurus Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Pringgabaya
Terima Rombongan Pengurus Pusat IKA SMA Negeri 1 Pringgabaya, Kepala Sekolah Nyatakan Bangga

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 22:14 WITA

Menautkan Kampus dan Industri Media: Strategi Masa Depan Ilmu Komunikasi Unram

Jumat, 30 Januari 2026 - 19:53 WITA

Merawat Gairah Literasi: Menyemai Semangat Menulis di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Takalar

Kamis, 15 Agustus 2024 - 20:28 WITA

Mahasiswa KKN Unram Sasar Pelajar MA Perkenalkan Cara Mengolah Limbah Tembakau Jadi Pestisida Nabati di Desa Perigi Suela Lombok Timur. Ternyata ini Alasannya!

Sabtu, 13 April 2024 - 19:00 WITA

Siswa SMA Sederajat Diimbau Tidak Ikuti Tren Menikah di Bulan Syawal

Minggu, 3 Maret 2024 - 13:23 WITA

Viral! Siswa Dilarang Bawa HP ke Sekolah, Bikin Emak-Emak Ngomeh di Medsos. Ternyata ini Alasannya!

Berita Terbaru

Puisi-puisi tersebut tidak mencoba menjadi rumit, tetapi mampu menyampaikan rasa secara langsung. Dari kesederhanaan itu, pembaca menemukan kedalaman makna (Foto: aks/ceraken,id)

BEDAH BUKU

Menyusuri Utara, Menemukan Kembali Jejak Persahabatan dan Puisi

Sabtu, 14 Feb 2026 - 21:17 WITA

BUDAYA

Menyigi Jejak Peradaban di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Sabtu, 14 Feb 2026 - 20:28 WITA

Pelayanan publik yang baik tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari hubungan kemanusiaan yang hangat antara pemimpin dan mereka yang bekerja di lapangan (Foto: ist)

AJONG MENTARAM

Satgas Bencana dan Semangat Kebersamaan di Jantung Kota Mataram

Jumat, 13 Feb 2026 - 19:59 WITA