Senaru Desa Adat yang Memegang Teguh Adat

- Pewarta

Minggu, 31 Maret 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Januari 2024, salah satu siswi SMP di Senaru menggunakan pakaian adat seperti penutup kepala perempuan yang disebut Jong. Untuk kemben (dada) merupakan kain yang ditenun perempuan desa dengan motif Lombok Utara

Januari 2024, salah satu siswi SMP di Senaru menggunakan pakaian adat seperti penutup kepala perempuan yang disebut Jong. Untuk kemben (dada) merupakan kain yang ditenun perempuan desa dengan motif Lombok Utara

LOMBOK UTARA (ceraken.id)- Pagi belum lama beranjak Ketika kicauan burung kenari begitu terdengar jelas di perkampungan Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Desa di utara kaki Gunung Rinjani. Beberapa anak kecil tampak bermain di sekitaran rumah yang beratap rumbia. Sedangkan seorang Ibu asik menimang balita dengan kain terjulur dari Pundak hingga ke pinggang.

Kaki Gunung Rinjani banyak menjadi tempat Masyarakat Lombok bertempat tinggal. Seperti Senaru (Lombok Utara), Sembalun (Lombok Timur), Karang Sidemen dan Aik Berik (Lombok Tengah). Masing-masing desa memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya Senaru yang memiliki kampung adat. Meski jumlah warganya tidak banyak kampung Senaru masih memegang teguh adat.

Baca Juga :  Bang Zul dan Bunda Niken Berbagi Kebahagiaan Wisata Edukasi Bersama 100 Anak Yatim

Misalnya penghormatan atas kesuburan alam serta air bersih yang berlimpah dari mata air di lereng Rinjani. Penghormatan itu tidak hanya berlaku pada semiotika arsitektur melainkan juga pada peraturan yang melarang warga menebang pohon secara sembarangan. Ada pula puji-pujian terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada hari-hari tertentu. Termasuk Hari Raya Besar Islam seperti Maulid Nabi SWT.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kekayaan alam Senaru atas pengaruh Rinjani membuat hasil bumi seperti sayur, beras, ubi, buah, dan kopi melimpah. Panen hasil bumi itu bisa dilihat di Pasar Tradisional Senaru yang letak di pertigaan pintu Desa Senaru. Beberapa porter atau pemandu wisata ke Gunung Rinjani sering memanfaatkan perbekalan ke puncak dengan membeli kebutuhan makanan di Pasar Senaru.

Baca Juga :  Bang Zul dan Bunda Niken Berbagi Kebahagiaan Wisata Edukasi Bersama 100 Anak Yatim

Media ini  yang berkunjung ke Senaru, Januari 2024 silam, melihat hasil bumi itu. Kepala Desa Senaru Raden Akria mengatakan, Senaru ada di kaki Gunung Rinjani. Senaru merupakan pintu masih sebelah utara Rinjani. Warga senaru begitu memperhatikan alam Rinjani. Ditingkahi buruh, Perempuan, dan anak sangat menikmati suasana Senaru sehingga menenun, mandi di sungai, ke masjid, dan ke pasar yang menjadi warna aktivitas sehari-hari warga Senaru.***

Penulis : CR - 04

Editor : Tim Redaksi

Berita Terkait

Bang Zul dan Bunda Niken Berbagi Kebahagiaan Wisata Edukasi Bersama 100 Anak Yatim
Libur Lebaran, Oi Marai Diserbu Wisatawan
Pusat Perbelanjaan Masih Menjadi Tujuan Libur Lebaran
Ustadz Zamroni Husaini: Dai Inspiratif Dibalik Keindahan Taman Surga Rinjani Sembalun
Lombok Sumbawa Fair Menyapa Dunia, WorldSBK: Awesome!
Pariwisata Indonesia Lebih Unggul dari Malaysia dan Thailand

Berita Terkait

Sabtu, 1 Juni 2024 - 22:19 WITA

Bang Zul dan Bunda Niken Berbagi Kebahagiaan Wisata Edukasi Bersama 100 Anak Yatim

Selasa, 16 April 2024 - 15:00 WITA

Libur Lebaran, Oi Marai Diserbu Wisatawan

Senin, 15 April 2024 - 19:28 WITA

Pusat Perbelanjaan Masih Menjadi Tujuan Libur Lebaran

Minggu, 31 Maret 2024 - 19:01 WITA

Senaru Desa Adat yang Memegang Teguh Adat

Kamis, 4 Januari 2024 - 08:41 WITA

Ustadz Zamroni Husaini: Dai Inspiratif Dibalik Keindahan Taman Surga Rinjani Sembalun

Minggu, 5 Maret 2023 - 10:32 WITA

Lombok Sumbawa Fair Menyapa Dunia, WorldSBK: Awesome!

Sabtu, 10 September 2022 - 21:37 WITA

Pariwisata Indonesia Lebih Unggul dari Malaysia dan Thailand

Berita Terbaru

SOCIAL & POLITIC

ZulUhel Disebut Pasangan Pemimpin yang Merakyat, Ini Kata Mereka!

Minggu, 9 Jun 2024 - 13:19 WITA

SOSIAL BUDAYA

“Merarik Kodek” Bukan Budaya Sasak Lombok

Selasa, 4 Jun 2024 - 12:49 WITA

Translate »