CERAKEN.ID– Jakarta, Perekonomian Indonesia menutup tahun 2025 dengan performa yang solid di tengah berbagai tantangan global.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 mencapai 5,39 persen secara tahunan (year on year/yoy), mendorong capaian pertumbuhan sepanjang tahun ke level 5,11 persen.
Angka tersebut tidak hanya mencerminkan pemulihan, tetapi juga memperlihatkan struktur ekonomi yang semakin kuat dan siap melangkah menuju pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa percepatan pada kuartal terakhir menjadi momentum penting bagi perekonomian nasional.
Menurutnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memainkan peran strategis menjaga kesinambungan pertumbuhan melalui kebijakan fiskal yang selaras dengan kebijakan moneter dan sektor keuangan.
“Ekonomi tidak hanya tumbuh tinggi tetapi juga berkelanjutan, dengan makrofiskal yang stabil,” tegas Menkeu dalam siaran pers Kementerian Keuangan, Kamis (5/2) lalu.
Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat
Motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bertumpu pada konsumsi rumah tangga. Pada kuartal IV 2025, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,11 persen, sementara sepanjang tahun mencapai 4,98 persen. Kinerja ini menandakan daya beli masyarakat yang tetap terjaga.
Penguatan konsumsi dipicu oleh meningkatnya mobilitas masyarakat, inflasi yang terkendali, serta berbagai stimulus pemerintah.
Bantuan sosial, Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLTS), hingga program magang ikut menopang konsumsi masyarakat. Momentum libur Natal dan Tahun Baru juga memberikan dorongan signifikan, diperkuat kebijakan diskon transportasi yang meningkatkan perjalanan domestik.
Indikator konsumsi juga terlihat dari meningkatnya transaksi daring serta pertumbuhan sektor restoran dan hotel yang mencapai 6,38 persen sepanjang 2025.
Sektor transportasi dan komunikasi pun ikut tumbuh 6,32 persen, menandakan aktivitas masyarakat dan ekonomi yang semakin dinamis.
Di sisi lain, perbaikan kondisi ketenagakerjaan turut memperkuat konsumsi. Bertambahnya jumlah tenaga kerja yang terserap pasar kerja membuat daya beli masyarakat relatif stabil.
Belanja pemerintah tetap menjadi bantalan penting di tengah dinamika ekonomi global. Konsumsi pemerintah tumbuh 4,55 persen pada kuartal IV dan 2,5 persen sepanjang tahun.
Belanja negara berfungsi sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong aktivitas dunia usaha.
Sepanjang 2025, pemerintah mengalokasikan Rp805,4 triliun untuk program prioritas yang mencakup perlindungan daya beli, stabilisasi harga, serta peningkatan produktivitas nasional.
Selain itu, pemerintah juga menggelontorkan Rp110,7 triliun stimulus bagi rumah tangga dan dunia usaha guna menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
Efek pengganda dari belanja negara tidak hanya terasa pada sektor usaha, tetapi juga langsung memengaruhi konsumsi masyarakat, terutama kelompok rentan.
Investasi Tumbuh, Industri Makin Percaya Diri
Pertumbuhan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mencapai 6,12 persen pada kuartal IV dan 5,09 persen sepanjang tahun. Angka ini menjadi sinyal bahwa dunia usaha semakin optimistis terhadap prospek ekonomi nasional.
Investasi mesin dan perlengkapan melonjak hingga 17,99 persen, menunjukkan peningkatan aktivitas industri dan ekspansi kapasitas produksi. Sementara itu, investasi kendaraan tumbuh 5,16 persen, seiring meningkatnya kebutuhan logistik.
Kepercayaan investor juga terlihat dari realisasi investasi PMA dan PMDN yang meningkat 12,66 persen sepanjang 2025. Stabilitas makroekonomi, sinergi kebijakan fiskal dan moneter, serta dukungan belanja modal pemerintah dan BUMN turut mendorong investasi swasta.
Kehadiran Danantara sebagai instrumen pengungkit investasi turut memberi dorongan bagi pembangunan infrastruktur dan industri strategis.
Ekspor Stabil, Pariwisata Menguat
Sektor eksternal juga menunjukkan kinerja positif. Ekspor barang dan jasa tumbuh 3,25 persen pada kuartal IV dan meningkat 7,03 persen sepanjang tahun.
Ekspor produk minyak hewan dan nabati, besi dan baja, serta mesin dan peralatan elektronik menjadi kontributor utama. Sementara itu, sektor jasa ikut terdongkrak oleh meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara yang naik 12,5 persen sepanjang tahun.
Di sisi lain, impor tumbuh 4,77 persen, terutama untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan barang modal guna mendukung aktivitas produksi domestik. Hal ini menandakan kegiatan industri dalam negeri tetap aktif.
Sektor Produksi Makin Variatif
Dari sisi produksi, sektor manufaktur mencatat pertumbuhan kuat sebesar 5,30 persen sepanjang 2025. Industri makanan dan minuman tumbuh 6,38 persen, sejalan dengan meningkatnya produksi CPO dan produk turunannya.
Industri logam dasar bahkan tumbuh tinggi mencapai 15,71 persen, seiring kuatnya permintaan ekspor besi dan baja. Industri mesin dan perlengkapan pun meningkat 13,98 persen.
Sektor perdagangan juga mencatat pertumbuhan 5,49 persen, menjadi penopang penting aktivitas ekonomi domestik.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 5,33 persen, didorong peningkatan produksi tanaman pangan, telur, dan daging ayam, termasuk untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis. Reformasi regulasi distribusi pupuk turut membantu peningkatan produksi.
Sektor yang berkaitan langsung dengan mobilitas masyarakat juga menunjukkan kinerja impresif.
Transportasi tumbuh 8,78 persen, akomodasi dan makan minum meningkat 7,41 persen, serta informasi dan komunikasi tumbuh 8,35 persen seiring meningkatnya kebutuhan digital masyarakat dan dunia usaha.
Namun, sektor pertambangan menjadi satu-satunya sektor yang mengalami kontraksi, dipengaruhi penurunan harga komoditas serta penyesuaian kebijakan hilirisasi.
Pertumbuhan Merata di Berbagai Wilayah
Pertumbuhan ekonomi juga menunjukkan penyebaran yang lebih merata. Sulawesi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,23 persen berkat aktivitas hilirisasi mineral.
Pulau Jawa sebagai pusat ekonomi nasional tumbuh 5,30 persen, didorong sektor manufaktur dan perdagangan. Sumatera dan Kalimantan tumbuh sekitar 4,8 persen, sementara Bali dan Nusa Tenggara tumbuh 4,87 persen seiring pulihnya sektor pariwisata.
Wilayah Maluku dan Papua tumbuh lebih moderat, dipengaruhi kinerja sektor pertambangan.
Dampak Sosial Semakin Terlihat
Kinerja ekonomi yang stabil memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat. Jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 147,9 juta orang pada November 2025, bertambah 1,37 juta dibandingkan Agustus 2025.
Tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,74 persen, sementara tingkat kemiskinan menurun menjadi 8,25 persen pada September 2025, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Perbaikan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi mulai semakin inklusif dan dirasakan masyarakat luas.
Optimisme 2026
Dengan capaian sepanjang 2025, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada 2026 dapat mencapai 5,4 persen.
Konsumsi rumah tangga yang kuat, investasi yang meningkat, belanja negara yang berkualitas, serta ekspor yang kompetitif diharapkan menjadi mesin utama pertumbuhan.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga kebijakan fiskal tetap hati-hati dan kredibel, serta memperkuat sinergi dengan sektor keuangan dan peran swasta.
“Seluruh mesin pertumbuhan harus bergerak selaras mendukung pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan,” tutup Menteri Keuangan.
Kinerja ekonomi 2025 menjadi penanda bahwa Indonesia tidak sekadar pulih, tetapi sedang membangun fondasi menuju pertumbuhan jangka panjang yang lebih kokoh, inklusif, dan berdaya saing di tengah perubahan ekonomi global.**
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : kemenkeu.go,id


































