Sundalandia: Sebuah Benua Yang Tenggelam di Asia Tenggara     

- Pewarta

Sabtu, 18 Februari 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pada akhir Zaman Es sekitar 18.000-20.000 tahun yang lalu di Asia Tenggara terdapat sebuah benua yang dikenal dengan “Sundalandia” atau disebut juga Paparan Sunda. Hal ini dibahas oleh Stephen Oppenheimer (1998) dalam karyanya “Eden in The East:The Drowned Continent of Southeast Asia”. Benua Sundalandia tersebut luasnya adalah 2 (dua) kali India dimana wilayahnya meliputi Indo-Cina, Semenanjung Malaya, dan Indonesia.

Dalam pada itu, bagian dari Indonesia yang menjadi wilayah Sundalandia yakni Pulau Sumatera, Pulau Jawa, dan Pulau Kalimantan. Pada waktu itu, ketiga pulau tersebut tidaklah terpisah seperti sekarang, tetapi menyatu sebagai daratan yang menjadi bagian dari wilayah Sundalandia.                  

     Dahulu Laut Cina Selatan, Teluk Thailand dan Laut Jawa bukanlah berupa laut seperti sekarang, melainkan daratan yang merupakan bagian dari wialyah daratan Sundalandia. Tidak hanya Pulau Sumatera, Pulau Jawa, dan Pulau Kalimantan yang menjadi bagian dari wilayah Sundalandia, tetapi juga Pulau Bali. Menurut Den Tex (2011) dahulu Pulau Bali menyatu dengan Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan membentuk daratan yang menjadi wilayah Sundalandia. Keberadaan ikan kurau air tawar menjadi bukti bahwa dahulunya Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan pernah menyatu menjadi bagian dari wilayah Sundalandia (Irwanto, 2017).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

     Dahulu, ikan kurau air tawar pernah berkembang dalam sistem sungai Sundalandia purba yang disebut “Sungai Sunda Utara”, jenis ikan kurau air tawar ini sekarang terdapat di sungai Kapuas di Pulau Kalimantan serta di sungai Musi dan sungai Batanghari di Pulau Sumatera.

Kapan tenggelamnya benua Sundalandia?

Menurut Stephen Oppenheimer (1998) bahwa pasca berakhirnya Zaman Es sekitar 7.500-8.000 tahun yang lalu bagian dari benua Sundalandia, seluas India, tenggelam akibat kenaikan permukaan laut yang mencapai 120 meter lebih. Dalam pada itu, kenaikan permukaan air laut tersebut disebabkan oleh mencairnya lapisan es di Amerika Utara dan Antartika (Irwanto,2017).

     Dengan tenggelamnya benua Sundalandia kemudian terbentuklah Laut Cina Selatan, Teluk Thailand, dan Laut Jawa. Tenggelamnya benua Sundalandia menyebabkan empat pulau yang semula menyatu sebagai daratan yakni Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan Pulau Bali kemudian menjadi terpisah seperti sekarang ini. Sebagaimana dikemukakan oleh Stephen Oppenheimer (1998) tenggelamnya benua Sundalandia menyebabkan penduduknya bermigrasi ke arah selatan (Australia), ke timur (Pasifik), ke barat (India), dan ke utara (Asia). Ketika bermigrasi penduduk Sundalandia juga membawa hewan dan tumbuh-tumbuhan dalam perahu mereka.      

     Disisi lain, Yusep Rafiqi (2015) menyatakan bahwa Sundalandia merupakan negerinya Nabi Nuh. Artinya, ketika benua Sundalandia tenggelam dan penduduknya bermigrasi tentu ada diantara mereka yang terdampar di Pulau Lombok. Hal ini menurut Lalu Gde Suparman (1994) disebutkan dalam “Babad Lombok” bahwa diantara pengikut Nabi Nuh ada sepasang umat Nabi Nuh yang hanyut dan terdampar di Pulau Lombok yakni di pantai utara Bayan. Kemudian mereka turun gunung dan membuat desa di Bayan. Tatkala penduduk Bayan bertambah banyak mereka pindah ke Lekong Borok dan mendirikan Desa Laek. Penduduk Desa Laek tersebut kemudian mendirikan sebuah kerajaan yang disebut Kerajaan Pamatan. (*)

Berita Terkait

Tailing dan Penyakit Minamata    
Program SULTan Berhasil Kendalikan Inflasi Lotim Maret 2024
Kejelian Diperlukan untuk Menghindari Penipuan Uang Palsu Selama Bulan Suci Ramadan
Cek 5 Hal Ini Agar Rumah Aman Selama Mudik Lebaran
Sejarah Inflasi :”Dari Babilonia hingga Romawi” 
Jagoan Kalah Pilpres!
Inflasi Lotim Februari 2024 Tetap “Rendah dan Stabil”
Ketika Harga Beras Melambung Tinggi

Berita Terkait

Sabtu, 4 Mei 2024 - 15:50 WITA

Tailing dan Penyakit Minamata    

Selasa, 2 April 2024 - 14:59 WITA

Program SULTan Berhasil Kendalikan Inflasi Lotim Maret 2024

Senin, 1 April 2024 - 15:29 WITA

Kejelian Diperlukan untuk Menghindari Penipuan Uang Palsu Selama Bulan Suci Ramadan

Senin, 1 April 2024 - 15:06 WITA

Cek 5 Hal Ini Agar Rumah Aman Selama Mudik Lebaran

Sabtu, 30 Maret 2024 - 08:47 WITA

Sejarah Inflasi :”Dari Babilonia hingga Romawi” 

Sabtu, 9 Maret 2024 - 11:49 WITA

Jagoan Kalah Pilpres!

Selasa, 5 Maret 2024 - 15:06 WITA

Inflasi Lotim Februari 2024 Tetap “Rendah dan Stabil”

Minggu, 3 Maret 2024 - 15:31 WITA

Ketika Harga Beras Melambung Tinggi

Berita Terbaru

SOCIAL & POLITIC

ZulUhel Disebut Pasangan Pemimpin yang Merakyat, Ini Kata Mereka!

Minggu, 9 Jun 2024 - 13:19 WITA

Translate »