Bulog NTB Gunakan Skema Komersial Beli Gabah Petani

- Pewarta

Selasa, 2 April 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi ketersediaan gabah di gudang bulog NTB.

Kondisi ketersediaan gabah di gudang bulog NTB.

MATARAM(ceraken.id)- Badan Urusan Logistik (Bulog) Wilayah Nusa Tenggara Barat akan menggunakan skema komersial dalam menyerap gabah petani pada musim panen saat ini. Penggunaan skema ini menyebabkan harga beras yang dibeli oleh Bulog bervariasi di setiap daerah, karena harga ditentukan oleh pasar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB, Abdul Aziz, di Mataram senin (1/4/2024) menyatakan, saat ini Bulog NTB dapat menyerap beras petani dengan skema komersial dengan harga di atas HPP (harga pembelian pemerintah). HPP saat ini sekitar Rp5.000/kg untuk Gabah Kering Panen (GKP), dan sekitar Rp6.100/kg untuk Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat petani dan penggilingan, serta sekitar Rp6.200 di gudang Bulog.

“Saat ini Bulog juga membeli dengan harga sekitar 7 ribu rupiah perkilogram,” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aziz mengatakan, saat ini masih baru beberapa tempat yang sedang memasuki musim panen padi. Namun diharapkan tempat lainnya segera mengikuti, sehingga harga beras kembali normal dan ketersediaannya mencukupi bagi masyarakat.

Di sisi lain, Perum Bulog baru berhasil menyerap sekitar 4 ribu ton beras dari target sekitar 70 ribu ton yang harus diserap. Penyerapan beras atau gabah dari petani dilakukan setiap tahun, terutama pada masa panen, untuk mencegah agar gabah petani tidak dijual di luar daerah. Namun, pembelian dilakukan menggunakan skema komersial, di mana harga mengikuti harga pasar.

“Pengadaan masih terhambat karena beberapa daerah mengalami gangguan pada panen,” kata Pimwil Perum Bulog NTB, Raden Guna Dharma***

Penulis : CR - 04

Editor : Tim Redaksi

Berita Terkait

Banyak Manfaat, UMKM Didorong Berinvestasi atau Nabung Saham
Dana Pemerintah Daerah Mengendap di Bank hingga Rp 180,96 Triliun
Provokasi Dompu Berhasil, Bapanas Tindak Lanjuti Penyesuan HAP Jagung
Bulog Ikut Stabilkan Harga Jagung di Bima – Dompu
Jamur Tiram di Lombok Barat Bangun Ekonomi Warga
Ulah Curang Driver Amada Di Duga Penyebab Naiknya Harga Gas
Tenun Lombok Antara Komoditas dan Identitas
Warga Minta Tidak Ada Kenaikan Harga Saat Lebaran Topat

Berita Terkait

Minggu, 28 April 2024 - 15:06 WITA

Banyak Manfaat, UMKM Didorong Berinvestasi atau Nabung Saham

Jumat, 26 April 2024 - 17:38 WITA

Dana Pemerintah Daerah Mengendap di Bank hingga Rp 180,96 Triliun

Kamis, 25 April 2024 - 14:59 WITA

Provokasi Dompu Berhasil, Bapanas Tindak Lanjuti Penyesuan HAP Jagung

Rabu, 24 April 2024 - 19:57 WITA

Bulog Ikut Stabilkan Harga Jagung di Bima – Dompu

Jumat, 19 April 2024 - 17:12 WITA

Jamur Tiram di Lombok Barat Bangun Ekonomi Warga

Selasa, 16 April 2024 - 22:57 WITA

Ulah Curang Driver Amada Di Duga Penyebab Naiknya Harga Gas

Senin, 15 April 2024 - 19:20 WITA

Tenun Lombok Antara Komoditas dan Identitas

Minggu, 14 April 2024 - 23:32 WITA

Warga Minta Tidak Ada Kenaikan Harga Saat Lebaran Topat

Berita Terbaru

SOCIAL & POLITIC

ZulUhel Disebut Pasangan Pemimpin yang Merakyat, Ini Kata Mereka!

Minggu, 9 Jun 2024 - 13:19 WITA

Translate »