4 ½: Ketika Hujjatul Islam Menggambar yang Tak Pernah Selesai

- Penulis

Minggu, 26 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Angka "setengah" dalam judul pameran itu, memang tidak pernah benar-benar selesai (foto: aks / ceraken.id)

Angka "setengah" dalam judul pameran itu, memang tidak pernah benar-benar selesai (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID – Ada sesuatu yang ganjil ketika memasuki ruang pamer yang memanfaatkan Kelas TK Maca Pasir Putih, Pemenang, Lombok Utara. Dinding-dinding sekolah yang biasanya dipenuhi gambar-gambar edukatif kini ditempati deretan karya arang (charcoal) berwarna hitam-putih.

Tidak ada kesan galeri modern dengan tembok putih yang steril. Yang ada justru ruang belajar anak-anak yang tetap dibiarkan menjadi dirinya sendiri.

Di situlah Hujjatul Islam memilih memperlihatkan perjalanan estetiknya melalui pameran tunggal “4 ½”, yang berlangsung hingga 31 Juli 2026 sebagai bagian dari Bangsal Menggawe 2026: Gerimis Sepanjang Tahun. Pameran ini menghimpun tiga proyek yang lahir dalam waktu berbeda, yakni Balang Kale (2025), Belian (2026), dan 2 ½ (2026).

Ketiganya bukan dipajang sebagai fragmen yang saling terpisah, melainkan menjadi satu lintasan kreatif yang menunjukkan bagaimana seorang perupa membangun bahasa visualnya secara perlahan, tekun, dan berkesinambungan.

Yang paling terasa sejak langkah pertama adalah kesetiaan Hujjatul Islam terhadap medium arang. Di tengah kecenderungan seni rupa kontemporer yang terus mengeksplorasi teknologi digital maupun multimedia, ia justru bertahan pada material yang paling sederhana.

Dari kesederhanaan itu lahir permainan gelap-terang yang dramatis melalui teknik chiaroscuro, sebuah pendekatan yang sejak era Barok dipopulerkan oleh Caravaggio.

Belajar dari Cahaya Caravaggio

Sabtu, 25 Juli 2026, ceraken.id menjumpai Hujjatul Islam di ruang pamer. Tangan kanannya masih dibebat akibat terjatuh dari sepeda motor sehari sebelumnya. Namun luka itu tidak mengurangi semangatnya menerima pengunjung maupun berdiskusi tentang karya.

“Pokoknya harus tetap bergerak,” ujarnya singkat.

Ketika ditanya mengenai kesinambungan proyek yang dipamerkan, Jattul—sapaan akrabnya—mengangguk mantap.

“Ini sebenarnya dari karya sebelumnya juga. Ada proyek Belian, Balang Kale, dan yang terbaru 2 ½. Semuanya memang berkesinambungan.”

Kesinambungan itu bukan hanya soal tema, tetapi juga pilihan bahasa visual. Ia mengaku sejak awal terpesona oleh lukisan-lukisan Caravaggio.

“Inspirasi saya memang dari era Barok. Lukisan Caravaggio yang menggunakan teknik chiaroscuro. Waktu melihat permainan cahaya gelap-terangnya saya merasa, ‘ini kayaknya cocok dengan selera saya’. Dari awal belajar melukis sampai sekarang saya terus menggunakan pendekatan itu.”

Mereka telah belajar bahwa sepotong garis dapat menjadi cerita (foto: aks / ceraken.id)

Di Lombok Utara, pendekatan seperti ini nyaris belum memiliki kawan diskusi.

Baca Juga :  Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

“Untuk arang, sejauh ini belum ada.”

Pesisir, Disiplin Berkunjung, dan Angka Setengah

Proyek terbaru 2 ½ membawa Hujjatul Islam lebih dekat pada lanskap pesisir Lombok Utara. Namun yang ia cari bukan panorama wisata. Perahu, hasil tangkapan nelayan, tali tambang, hingga struktur kayu kapal menjadi objek-objek yang diamati berulang kali.

“Yang sekarang lebih ke pesisir Lombok Utara. Kemarin saya banyak jalan-jalan ke pantai. Mungkin karena pengaruh lingkungan juga sesuai tema ekologi bahari Bangsal Menggawe 2026. Tapi sebenarnya pesisir itu bukan hanya pantai.”

Baginya, 2 ½ bukan sekadar judul, melainkan metode berkarya.

“Intinya berkunjung. Saya meluangkan waktu dua setengah jam setiap hari untuk keliling ke mana saja. Belajar disiplin supaya ada masukan-masukan dari luar untuk kekaryaan.”

Judul pameran 4 ½ sendiri lahir dari kekagumannya pada film 8 ½ karya Federico Fellini (1963).

“Karena ada jeda, ada spasi dari satu karya dengan karya yang lain. Makanya semuanya pakai 4 ½ saja,” ujarnya sambil tertawa ketika obrolan berkembang pada film-film lain yang juga memakai angka “setengah”.

“Lho ada kan film 9 ½ Weeks karya Adrian Lyne.” tanya ceraken.id

“Oh ada juga ya?” jawabnya sambil tertawa panjang.

Dalam pengertian itu, angka setengah bukan sekadar permainan judul, melainkan metafora bahwa proses kreatif selalu menyisakan ruang untuk dilanjutkan.

Merayakan Penggalan, Membongkar Keseharian

Kurator pameran, Manshur Zikri, membaca praktik artistik Hujjatul Islam bukan semata eksplorasi medium charcoal. Yang lebih menarik, menurutnya, adalah kecenderungan sang perupa mengambil penggalan-penggalan dari sesuatu yang utuh.

Sebenarnya pesisir itu bukan hanya pantai (foto: aks / ceraken.id)

Perahu hanya menjadi palang-palangnya. Dongeng Balang Kale hanya dihadirkan melalui kipas. Adegan besar dipecah menjadi serpihan visual.

“Jattul selalu mengambil bagian tertentu dari sesuatu yang lebih utuh. Ia tidak pernah mengilustrasikan keseluruhan cerita.”

Bagi Manshur, pendekatan itu menjadi cara membongkar kembali cara pandang terhadap sejarah keseharian. Di tengah maraknya narasi kecil sebagai tandingan sejarah besar, Hujjatul Islam justru mengajak penonton mempertanyakan kembali romantisasi keseharian itu sendiri.

Baca Juga :  Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

“Kepekaan Jattul bukan pada kesederhanaan. Ia sedang mengurai kerumitan dari sesuatu yang selama ini dianggap sederhana.”

Pembacaan kuratorial itu kemudian diperkuat melalui tata pamer. Ruang kelas TK tidak diubah menjadi white cube. Sebaliknya, kusen jendela, ventilasi, meja belajar, hingga langit-langit justru dijadikan bagian dari bahasa artistik.

Peletakan karya yang rapat dan berjauhan dimainkan seperti ritme montase dalam sinema, sebuah pendekatan yang juga dipantik oleh referensi Fellini pada judul pameran.

Ketika Sekolah Menjadi Galeri

Pilihan menjadikan TK Maca Pasir Putih sebagai ruang pamer menghadirkan pengalaman yang berbeda. Di ruang yang sama tempat anak-anak belajar membaca dan menggambar, karya-karya Hujjatul Islam justru menjadi bahan belajar baru.

Yuni, guru TK Maca Pasir Putih, sengaja mengajak murid-muridnya yang berusia empat hingga enam tahun mengunjungi pameran.

“Ini pertama kali saya melihat pameran lukisan, apalagi dari bahan arang. Anak-anak saya ajak kemari sebagai edukasi. Mereka bisa mengenal gambar yang berbeda-beda, melihat detail setiap garis, karena mereka juga sedang belajar menggambar dan mewarnai. Mudah-mudahan pameran ini bisa menumbuhkan minat mereka untuk berkarya lebih jauh.”

Barangkali, anak-anak itu belum mengenal istilah chiaroscuro, belum mengetahui Caravaggio ataupun Federico Fellini. Namun mereka telah belajar bahwa sepotong garis dapat menjadi cerita, bahwa sudut sebuah perahu dapat menjadi karya seni, dan bahwa ruang kelas mereka sendiri dapat berubah menjadi ruang imajinasi.

Di situlah 4 ½ menemukan makna terpentingnya. Pameran ini bukan hanya menyatukan tiga proyek Hujjatul Islam dalam satu ruang, tetapi juga mengingatkan bahwa seni lahir dari kesediaan mengamati yang biasa dengan cara yang luar biasa.

Sejarah besar sering berawal dari serpihan-serpihan kecil, dan proses kreatif, seperti angka “setengah” dalam judul pameran itu, memang tidak pernah benar-benar selesai. (aks)

 

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh
Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”
Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang
Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan
Milu: Ketika Suara Adat Menjadi Tokoh Utama di Atas Panggung
Tanah Tumpah: Ketika Tubuh Menjadi Penjaga Ingatan Bumi
Memuliakan Sketsa, Merawat Ingatan: Proses Kuratorial di Balik Pameran Tunggal S. La Radek

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 23:19 WITA

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:06 WITA

Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:22 WITA

Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:54 WITA

Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA