Nyepi dan Takbiran di Satu Waktu: Merawat Sunyi, Menjaga Riuh dalam Harmoni NTB

- Penulis

Selasa, 17 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Rapat ini bukan hanya tentang mengatur lalu lintas kegiatan keagamaan. Ia adalah upaya merawat warisan sosial yang tak ternilai: kemampuan hidup berdampingan dalam perbedaan (Foto: pemprov. ntb/ceraken.id)

Rapat ini bukan hanya tentang mengatur lalu lintas kegiatan keagamaan. Ia adalah upaya merawat warisan sosial yang tak ternilai: kemampuan hidup berdampingan dalam perbedaan (Foto: pemprov. ntb/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di ruang rapat Sangkareang, di jantung Kota Mataram, percakapan tentang sunyi dan riuh bertemu dalam satu meja. Senin, 16 Maret 2026, Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal memimpin rapat koordinasi yang tidak sekadar membahas agenda teknis, tetapi juga merawat satu nilai yang telah lama menjadi napas masyarakat NTB: toleransi.

Perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu yang hampir beriringan dengan malam takbiran dan Hari Raya Idul Fitri umat Islam menghadirkan tantangan tersendiri. Bukan karena perbedaan itu sulit disatukan, tetapi justru karena kedekatan waktunya menuntut kesadaran kolektif yang lebih tinggi.

Dalam forum yang melibatkan Forkopimda dan FKUB NTB itu, pemerintah ingin memastikan bahwa dua perayaan besar ini tidak saling berbenturan, melainkan saling menguatkan sebagai simbol kebersamaan.

“NTB sejak lama dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi,” ujar Gubernur Iqbal, menegaskan optimisme sekaligus kewaspadaan.

Ia memahami bahwa harmoni sosial tidak pernah berdiri sendiri; ia harus dijaga, dirawat, dan diantisipasi dari kemungkinan gesekan, sekecil apa pun. Terlebih, dinamika yang terjadi di daerah lain kerap beresonansi ke ruang-ruang digital masyarakat, membentuk persepsi yang tidak selalu utuh.

Di tengah pembahasan itu, lahir kesepahaman-kesepahaman sederhana namun bermakna. Pawai ogoh-ogoh, misalnya, akan menghentikan sementara musiknya saat azan berkumandang.

Sebaliknya, pawai takbiran diimbau menahan volume pengeras suara ketika melintasi kawasan umat Hindu yang sedang menjalankan Catur Brata Penyepian. Kesepakatan ini tampak teknis, tetapi sesungguhnya adalah manifestasi konkret dari penghormatan.

Baca Juga :  Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Di sinilah toleransi menemukan bentuknya yang paling jujur, bukan dalam slogan atau pidato, melainkan dalam sikap saling mengalah, saling memahami, dan saling memberi ruang.

Rangkaian waktu pun telah disusun: pawai ogoh-ogoh pada 18 Maret, Nyepi pada 19 Maret, disusul malam takbiran pada 19 atau 20 Maret, dan Idul Fitri yang berpotensi jatuh pada 20 atau 21 Maret. Kalender ini bukan sekadar penanda hari, tetapi peta sosial yang harus dilalui bersama dengan kehati-hatian.

Di beberapa wilayah, terutama di Pulau Sumbawa, tradisi ogoh-ogoh masih belum sepenuhnya akrab. Karena itu, sosialisasi menjadi penting, agar setiap warga tidak hanya mengetahui, tetapi juga memahami makna di balik setiap perayaan.

Ketidaktahuan sering kali menjadi pintu masuk kesalahpahaman, dan kesalahpahaman adalah celah bagi retaknya kebersamaan.

Rapat itu juga menyinggung ruang lain yang tak kalah penting: media sosial. Kabinda NTB mengingatkan adanya narasi-narasi yang berpotensi memicu sentimen negatif jika tidak disikapi dengan bijak.

Dalam dunia yang serba cepat, informasi kerap melesat tanpa verifikasi, membawa emosi yang mudah terbakar.

Gubernur Iqbal pun meminta agar narasi tersebut diimbangi dengan pesan-pesan positif. Bukan sekadar melawan informasi yang keliru, tetapi membangun kesadaran bersama bahwa NTB adalah rumah bagi keberagaman yang rukun.

Baca Juga :  Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Data dari FKUB NTB seolah menjadi cermin dari upaya panjang itu. Indeks Kerukunan Umat Beragama di NTB berada pada angka 73,84 kategori tinggi.

Bahkan, indeks toleransi mencapai 87,44, masuk kategori sangat tinggi. Namun, angka kebersamaan yang masih berada di 52,88 menjadi pengingat bahwa pekerjaan ini belum selesai.

Toleransi yang tinggi perlu ditopang oleh interaksi sosial yang lebih erat, agar tidak berhenti pada sikap pasif, tetapi tumbuh menjadi solidaritas aktif.

Karena itu, disiplin menjadi kata kunci: disiplin waktu, disiplin aturan, dan disiplin dalam menjaga ketertiban. Larangan konsumsi minuman keras di ruang publik saat pawai ogoh-ogoh, penguatan pengawasan di daerah yang belum terbiasa, hingga jaminan distribusi BBM dan listrik, semuanya menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara perayaan dan ketertiban.

Pada akhirnya, rapat itu bukan hanya tentang mengatur lalu lintas kegiatan keagamaan. Ia adalah upaya merawat warisan sosial yang tak ternilai: kemampuan hidup berdampingan dalam perbedaan.

Di NTB, sunyi Nyepi dan riuh takbiran tidak saling meniadakan. Keduanya justru saling melengkapi, seperti dua sisi dari kehidupan yang sama, mengajarkan bahwa dalam diam maupun gema, ada ruang untuk saling menghormati.

Dan mungkin, di situlah letak kekuatan sesungguhnya: ketika perbedaan tidak lagi dipandang sebagai jarak, melainkan sebagai cara lain untuk saling mendekat.*

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun pemprov ntb

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data
Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan
Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB
Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem
Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata
Menyemai Rasa di Jantung Mandalika: Ketika Kuliner Lokal Menjadi Wajah Pariwisata Lombok
Saat Tempat Kerja Menjadi Ruang Aman: Otsuka dan RS Marzoeki Mahdi Membangun Budaya Peduli Kesehatan Mental
Membaca Masa Depan Teater dari Mataram: Fragmen Tengah Menjadi Laboratorium Pengetahuan Bersama

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 20:30 WITA

Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:53 WITA

Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:25 WITA

Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:04 WITA

Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA