CERAKEN.ID — Mataram — Di tengah arus modernitas yang kerap menjauhkan generasi muda dari akar budayanya, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat justru bergerak ke arah sebaliknya: mendekat, merangkul, dan menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat.
Kamis, 26 Maret 2026, Ceraken.id berkesempatan berbincang dengan Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, yang tengah mendorong transformasi museum menjadi “ruang hidup”, sebuah ruang yang tidak hanya menyimpan benda, tetapi juga merawat makna.
Bagi Nuralam, museum tak boleh lagi dipersepsikan sebagai tempat sunyi yang penuh benda tua tanpa narasi. Ia harus menjadi ruang yang edukatif, inovatif, sekaligus akrab dengan masyarakat.
Gagasan ini kemudian dirumuskan dalam program strategis bertajuk “Kotaku Museumku, Kampungku Museumku”, sebuah pendekatan yang mengubah cara pandang publik terhadap museum.
“Melalui program ini, koleksi museum tidak lagi sekadar artefak, tetapi menjadi cerita, ingatan, dan identitas yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Transformasi itu dijalankan melalui sejumlah langkah konkret. Salah satunya adalah inisiasi pembentukan museum tematik di berbagai wilayah di Nusa Tenggara Barat.
Pendekatan tematik ini diyakini mampu menata koleksi secara lebih fokus sekaligus memperkuat daya tarik wisata budaya.
Tak hanya berhenti di level institusi, Museum NTB juga aktif mendorong lahirnya museum berbasis komunitas.
Kunjungan dan pembinaan ke desa-desa, seperti di Desa Pijot, menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk merawat sejarahnya sendiri.
Di titik ini, museum tidak lagi berdiri sebagai entitas tunggal, melainkan menjadi gerakan bersama.
Lebih jauh, Nuralam menekankan pentingnya penguatan riset dan publikasi sebagai fondasi utama museum modern. Museum, menurutnya, harus menjadi pusat kajian ilmiah yang dinamis, bukan sekadar ruang pamer.
Hal ini juga diperkuat dengan berbagai inisiatif publikasi yang melibatkan para pegawai museum sebagai peneliti dan penulis.
Langkah ekspansif lainnya adalah membawa budaya NTB ke panggung internasional. Melalui pameran wastra di luar negeri, termasuk di Australia, Museum NTB berupaya memperkenalkan kekayaan tekstil tradisional sekaligus mempertegas identitas budaya daerah di mata dunia.
Di era digital, inovasi juga menjadi kata kunci. Pemanfaatan media sosial dan teknologi, seperti dalam program Cross Museum 2024, menjadi strategi untuk menjangkau generasi muda yang kian lekat dengan dunia digital.
Sebagai institusi, Museum NTB memegang peran strategis dalam pembangunan kebudayaan. Ia tidak hanya menjadi pusat pelestarian artefak arkeologi, etnografi, dan geologi, tetapi juga ruang edukasi yang hidup bagi pelajar, mahasiswa, hingga peneliti.
Letaknya yang berada di Mataram menjadikannya destinasi wisata edukatif yang potensial, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Lebih dari itu, museum menjadi ruang pembentukan identitas dan kebanggaan lokal. Nilai-nilai budaya masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo diperkenalkan kembali secara kontekstual kepada generasi muda, sehingga tidak tergerus oleh zaman.
Kini, wajah museum pun berubah. Ia bertransformasi menjadi ruang kreatif yang terbuka, menyenangkan, dan partisipatif. Workshop, pameran tematik, hingga kolaborasi komunitas menjadi bagian dari upaya menghadirkan museum sebagai ruang publik yang relevan.
Dalam pertemuan tersebut, Nuralam juga menyerahkan sejumlah buku yang diinisiasi oleh Museum NTB, di antaranya “Tradisi Berladang: Masyarakat Sasak-Lombok Nusa Tenggara Barat”, “Alih Aksara Bahasa Naskah Markum”, “Naskah Unduk: Alih Aksara dan Alih Bahasa”, serta “Transformasi Museum Daerah: Kotaku Museumku, Kampungku Museumku”.
Khusus untuk buku terakhir, Nuralam memberikan catatan penting. Buku ini, menurutnya, bukan sekadar dokumentasi, melainkan refleksi perjalanan Museum NTB dalam bertransformasi menjadi institusi yang lebih terbuka, berbasis kajian akademik, dan dekat dengan masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa buku tersebut menjadi wadah aktualisasi pegawai museum dalam mempublikasikan hasil penelitian mereka.
Ke depan, Museum NTB akan menyusun rencana strategis berbasis riset, sekaligus mengkodifikasi berbagai ide inovatif untuk disebarluaskan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan.
Pada akhirnya, transformasi museum yang digagas Ahmad Nuralam bukan hanya tentang perubahan institusi, tetapi tentang membangun kesadaran kolektif.
Bahwa menjaga budaya bukan semata tugas negara, melainkan tanggung jawab bersama, agar warisan nilai, pengetahuan, dan identitas tetap hidup, dari generasi ke generasi.(aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































