Museum sebagai “Ruang Hidup”: Ikhtiar Ahmad Nuralam Menghidupkan Memori Kolektif NTB

- Penulis

Kamis, 26 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam (kanan), tengah mendorong transformasi museum menjadi “ruang hidup”,  sebuah ruang yang tidak hanya menyimpan benda, tetapi juga merawat makna (Foto: ceraken.id)

Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam (kanan), tengah mendorong transformasi museum menjadi “ruang hidup”, sebuah ruang yang tidak hanya menyimpan benda, tetapi juga merawat makna (Foto: ceraken.id)

CERAKEN.ID — Mataram — Di tengah arus modernitas yang kerap menjauhkan generasi muda dari akar budayanya, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat justru bergerak ke arah sebaliknya: mendekat, merangkul, dan menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat.

Kamis, 26 Maret 2026, Ceraken.id berkesempatan berbincang dengan Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, yang tengah mendorong transformasi museum menjadi “ruang hidup”,  sebuah ruang yang tidak hanya menyimpan benda, tetapi juga merawat makna.

Bagi Nuralam, museum tak boleh lagi dipersepsikan sebagai tempat sunyi yang penuh benda tua tanpa narasi. Ia harus menjadi ruang yang edukatif, inovatif, sekaligus akrab dengan masyarakat.

Gagasan ini kemudian dirumuskan dalam program strategis bertajuk “Kotaku Museumku, Kampungku Museumku”, sebuah pendekatan yang mengubah cara pandang publik terhadap museum.

“Melalui program ini, koleksi museum tidak lagi sekadar artefak, tetapi menjadi cerita, ingatan, dan identitas yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Transformasi itu dijalankan melalui sejumlah langkah konkret. Salah satunya adalah inisiasi pembentukan museum tematik di berbagai wilayah di Nusa Tenggara Barat.

Pendekatan tematik ini diyakini mampu menata koleksi secara lebih fokus sekaligus memperkuat daya tarik wisata budaya.

Tak hanya berhenti di level institusi, Museum NTB juga aktif mendorong lahirnya museum berbasis komunitas.

Kunjungan dan pembinaan ke desa-desa, seperti di Desa Pijot, menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk merawat sejarahnya sendiri.

Baca Juga :  Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Di titik ini, museum tidak lagi berdiri sebagai entitas tunggal, melainkan menjadi gerakan bersama.

Lebih jauh, Nuralam menekankan pentingnya penguatan riset dan publikasi sebagai fondasi utama museum modern. Museum, menurutnya, harus menjadi pusat kajian ilmiah yang dinamis, bukan sekadar ruang pamer.

Hal ini juga diperkuat dengan berbagai inisiatif publikasi yang melibatkan para pegawai museum sebagai peneliti dan penulis.

Langkah ekspansif lainnya adalah membawa budaya NTB ke panggung internasional. Melalui pameran wastra di luar negeri, termasuk di Australia, Museum NTB berupaya memperkenalkan kekayaan tekstil tradisional sekaligus mempertegas identitas budaya daerah di mata dunia.

Di era digital, inovasi juga menjadi kata kunci. Pemanfaatan media sosial dan teknologi, seperti dalam program Cross Museum 2024, menjadi strategi untuk menjangkau generasi muda yang kian lekat dengan dunia digital.

Sebagai institusi, Museum NTB memegang peran strategis dalam pembangunan kebudayaan. Ia tidak hanya menjadi pusat pelestarian artefak arkeologi, etnografi, dan geologi, tetapi juga ruang edukasi yang hidup bagi pelajar, mahasiswa, hingga peneliti.

Letaknya yang berada di Mataram menjadikannya destinasi wisata edukatif yang potensial, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Lebih dari itu, museum menjadi ruang pembentukan identitas dan kebanggaan lokal. Nilai-nilai budaya masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo diperkenalkan kembali secara kontekstual kepada generasi muda, sehingga tidak tergerus oleh zaman.

Baca Juga :  Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Kini, wajah museum pun berubah. Ia bertransformasi menjadi ruang kreatif yang terbuka, menyenangkan, dan partisipatif. Workshop, pameran tematik, hingga kolaborasi komunitas menjadi bagian dari upaya menghadirkan museum sebagai ruang publik yang relevan.

Dalam pertemuan tersebut, Nuralam juga menyerahkan sejumlah buku yang diinisiasi oleh Museum NTB, di antaranya “Tradisi Berladang: Masyarakat Sasak-Lombok Nusa Tenggara Barat”, “Alih Aksara Bahasa Naskah Markum”, “Naskah Unduk: Alih Aksara dan Alih Bahasa”, serta “Transformasi Museum Daerah: Kotaku Museumku, Kampungku Museumku”.

Khusus untuk buku terakhir, Nuralam memberikan catatan penting. Buku ini, menurutnya, bukan sekadar dokumentasi, melainkan refleksi perjalanan Museum NTB dalam bertransformasi menjadi institusi yang lebih terbuka, berbasis kajian akademik, dan dekat dengan masyarakat.

Ia juga menegaskan bahwa buku tersebut menjadi wadah aktualisasi pegawai museum dalam mempublikasikan hasil penelitian mereka.

Ke depan, Museum NTB akan menyusun rencana strategis berbasis riset, sekaligus mengkodifikasi berbagai ide inovatif untuk disebarluaskan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan.

Pada akhirnya, transformasi museum yang digagas Ahmad Nuralam bukan hanya tentang perubahan institusi, tetapi tentang membangun kesadaran kolektif.

Bahwa menjaga budaya bukan semata tugas negara, melainkan tanggung jawab bersama, agar warisan nilai, pengetahuan, dan identitas tetap hidup, dari generasi ke generasi.(aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya
Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Car Free Day sebagai Miniatur Lombok
Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian
Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata
Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram
Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif
Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:32 WITA

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WITA

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:12 WITA

Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:49 WITA

Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA