Hardiknas 2026: Pendidikan Bukan Seremoni, Melainkan Jalan Panjang Peradaban

- Penulis

Minggu, 3 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Pendidikan membutuhkan keberanian berpikir jangka panjang, keberpihakan pada guru, keadilan dalam akses, penghargaan pada seni dan humaniora, serta kebijakan yang tidak terjebak kepentingan politik sesaat (Foto: aks        /ceraken.id)

Pendidikan membutuhkan keberanian berpikir jangka panjang, keberpihakan pada guru, keadilan dalam akses, penghargaan pada seni dan humaniora, serta kebijakan yang tidak terjebak kepentingan politik sesaat (Foto: aks /ceraken.id)

CERAKEN.ID — Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei selalu hadir sebagai penanda sejarah, mengingatkan bangsa ini pada warisan besar Ki Hadjar Dewantara tentang arti pendidikan sebagai jalan memerdekakan manusia.

Namun, di tengah upacara, pidato resmi, dan serangkaian kegiatan seremonial, pertanyaan yang lebih mendasar selalu muncul: sudahkah pendidikan benar-benar menjadi alat pembebas, atau justru masih terjebak dalam formalitas tanpa perubahan substantif?

Peringatan Hardiknas 2026 menghadirkan refleksi yang semakin penting. Di tengah derasnya perubahan teknologi, tantangan bonus demografi, ketimpangan akses pendidikan, hingga persoalan kesejahteraan guru, pendidikan tidak bisa lagi dipahami hanya sebagai urusan sekolah dan kampus. Pendidikan adalah urusan masa depan bangsa.

Berbagai pandangan dari para guru besar, kepala sekolah, dan pendidik dari berbagai daerah menunjukkan satu kesamaan: pendidikan Indonesia membutuhkan keberanian untuk berubah, bukan sekadar memperingati.

Pendidikan Harus Menjadi Jalan Pembentukan Karakter

Guru Besar Sastra dan Budaya Universitas Mataram, H. Nuriadi Sayip, menegaskan bahwa momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya mendorong pemerintah untuk semakin serius memperhatikan kemajuan pendidikan. Menurutnya, kesejahteraan pendidik harus menjadi perhatian utama, sebab guru tetap menjadi pilar utama dalam membentuk karakter bangsa.

Ia melihat pendidikan bukan semata ruang transfer ilmu, tetapi wahana utama membentuk paradigma dan mindset berkemajuan. Karena itu, penerapan pembelajaran Deep Learning untuk pendidikan dasar dan menengah, serta konsep Kampus Berdampak di perguruan tinggi, perlu benar-benar dikawal agar efektif dan tidak berhenti pada jargon kebijakan.

Nuriadi juga menyoroti cara pandang masyarakat terhadap pendidikan Saintek dan Soshum yang masih timpang. Ia menilai bidang sains dan teknologi kerap dianggap lebih superior, sementara sosial-humaniora diposisikan seolah lebih rendah. Padahal, pembangunan bangsa membutuhkan keduanya secara seimbang.

Jika ilmu pengetahuan membangun kemajuan material, maka ilmu sosial dan humaniora menjaga arah moral serta kebudayaan bangsa. Ketimpangan cara pandang ini, menurutnya, harus perlahan diubah oleh negara melalui kebijakan yang adil dan penghargaan yang setara.

Ia juga mengingatkan agar Hardiknas tidak terjebak hanya dalam seremoni formalistik: pidato, baris-berbaris, dan seragam yang rapi tetapi miskin refleksi. Baginya, peringatan ini harus menjadi ajang evaluasi objektif terhadap seluruh kebijakan pendidikan: apakah sudah sesuai cita-cita para pendiri bangsa atau belum.

Pertanyaan paling penting, menurutnya, adalah apakah seluruh kebijakan itu sudah menjawab kebutuhan “kecerdasan hidup bangsa.” Jika belum, maka yang diperlukan bukan sekadar perayaan, tetapi keberanian memperbaiki arah.

Merdeka Belajar dan Ancaman Pragmatisme Zaman

Guru Besar Antropologi Agama Universitas Islam Negeri Mataram, Abdul Wahid, melihat Hardiknas sebagai momentum refleksi yang lebih filosofis. Ia mengajak publik untuk kembali menanyakan apakah bangsa ini benar-benar telah menjalankan amanat kemerdekaan melalui pendidikan.

Baca Juga :  Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya

Menurutnya, cita-cita luhur Ki Hadjar Dewantara adalah menciptakan manusia merdeka: manusia yang berpikir bebas, berkarakter, dan memiliki kesadaran moral. Namun, tantangan hari ini justru datang dari pragmatisme sosial, ekonomi, dan politik yang sering menggeser tujuan pendidikan menjadi sekadar alat mencari pekerjaan atau status sosial.

Pendidikan yang semestinya membebaskan, perlahan bisa berubah menjadi sekadar instrumen kompetisi yang kering nilai. Jika itu terjadi, maka bangsa ini sedang mengingkari amanat para pendiri bangsa sendiri.

Meski demikian, Abdul Wahid tetap optimistis. Ia percaya cita-cita besar para pendidik zaman dahulu masih sangat relevan dan harus terus diperjuangkan. Nilai-nilai dasar pendidikan nasional, menurutnya, justru harus diaktualisasikan menjadi perangkat ideologis untuk menjawab tantangan zaman modern.

Optimisme serupa datang dari I Nyoman Sandiya, pendidik SMAN 8 Mataram. Ia memaknai Hardiknas 2026 melalui simbol “tahun kuda api,” yang menurutnya membawa filosofi pendidikan yang menarik.

Karakter kuda identik dengan kecepatan, energi, kebebasan, kerja keras, jiwa sosial, dan semangat petualangan. Dalam budaya Jawa dan Bali, kuda juga melambangkan kesatria, pembawa kabar baik, dan kemapanan. Sementara unsur api melambangkan semangat membara, kreativitas, transformasi, kepemimpinan, dan inovasi.

Namun api juga memiliki sisi lain: jika berlebihan, ia bisa menjadi agresif, emosional, dan tidak sabaran. Karena itu, pendidikan harus mampu menjaga keseimbangan antara semangat perubahan dan kedewasaan moral.

Bagi Nyoman, Hardiknas 2026 seharusnya menjadi momentum lahirnya inovasi besar dalam dunia pendidikan, terutama dalam menjawab perkembangan teknologi yang terus bergerak cepat.

Guru, Seni, dan Keadilan Sosial dalam Pendidikan

Di tingkat sekolah, suara para pendidik memperlihatkan persoalan yang lebih konkret. Soni Hendrawan dari SMPN 1 Cicantayan, Sukabumi, berharap pendidikan Indonesia semakin inklusif, merata, dan berkualitas. Baginya, pendidikan harus melahirkan generasi pembelajar sepanjang hayat: bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter mulia.

Pendidikan, menurutnya, adalah kunci pemberdayaan yang memerdekakan potensi setiap anak bangsa agar mampu berinovasi, beradaptasi dengan teknologi, dan memberi kontribusi nyata bagi kemajuan negara.

Lalu Arief Budiman dari SMPN 19 Mataram menekankan bahwa pendidikan bermutu tidak boleh hanya berorientasi pada nilai akademik. Yang lebih penting adalah pembentukan watak, keimanan, dan karakter sebagai pondasi kuat bagi generasi penerus.

Baca Juga :  Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Ia bercita-cita lahirnya pelajar yang kreatif, inovatif, mandiri, bertanggung jawab, tidak mudah menyerah, dan memiliki kepribadian yang baik. Pendidikan harus melahirkan manusia utuh, bukan sekadar angka-angka dalam rapor.

Pandangan menarik datang dari Ahmad Saifi Pahrurrozi, guru seni dari SMPN 4 Narmada, Lombok Barat. Ia berharap seni tidak lagi dianggap sebagai pelengkap dalam pendidikan, melainkan kebutuhan utama.

Baginya, seni adalah bahasa jiwa: ruang tempat siswa belajar memahami diri, menghargai perbedaan, dan merespons dunia secara lebih manusiawi. Ia ingin ruang kelas tidak hanya dipenuhi target nilai, tetapi juga karya, proses kreatif, dan keberanian untuk mencoba.

Di sisi lain, Faozan dari SMAN 1 Lembar, Lombok Barat mengingatkan agar kebijakan pendidikan tidak dipolitisasi. Pendidikan, menurutnya, adalah ruang paling terang untuk mengubah nasib individu maupun kelompok.

Ia juga menyoroti bonus demografi menuju 2045. Jika tata kelola pendidikan gagal menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, maka Indonesia Emas hanya akan menjadi slogan kosong.

Harapan sederhana namun mendasar datang dari Hj. Yati Suryati dari SDN Ciherang Rancaekek, Bandung. Ia berharap setiap guru mampu menumbuhkan semangat belajar pada anak didik sebagai fondasi lahirnya generasi intelektual masa depan.

Sementara itu, M. Yusran Hadi, kepala sekolah SMAN 1 Pemenang, Lombok Utara, membawa suara yang sangat praktis namun penting: kesejahteraan tenaga kependidikan.

Ia menyoroti belum jelasnya pembayaran gaji Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) Paruh Waktu, khususnya tenaga tata usaha sekolah. Dengan gaji yang hanya sekitar Rp500 ribu sebagaimana tertera dalam SK, kondisi itu dinilai jauh dari kelayakan dan bahkan tidak sebanding dengan UMR.

Padahal, pelayanan administrasi sekolah sangat bergantung pada tenaga tata usaha. Jika kesejahteraan mereka diabaikan, maka kualitas layanan pendidikan juga akan terganggu. Pendidikan yang baik tidak hanya bergantung pada guru dan kurikulum, tetapi juga pada sistem pendukung yang sehat dan adil.

Hardiknas 2026 akhirnya mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah kerja peradaban. Ia tidak selesai dalam satu upacara, tidak cukup dengan satu pidato, dan tidak akan berhasil hanya dengan slogan.

Pendidikan membutuhkan keberanian berpikir jangka panjang, keberpihakan pada guru, keadilan dalam akses, penghargaan pada seni dan humaniora, serta kebijakan yang tidak terjebak kepentingan politik sesaat.

Jika bangsa ini ingin benar-benar merdeka, maka pendidikan harus menjadi prioritas paling utama. Sebab dari ruang kelas yang sederhana, masa depan Indonesia sedang ditentukan setiap hari. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal
Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya
Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Car Free Day sebagai Miniatur Lombok
Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan
Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian
Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata
Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:43 WITA

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:32 WITA

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WITA

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:12 WITA

Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:05 WITA

Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA