HUMA dan Jalan Pulang ke Diri Sendiri di Chamber Pop Festival 2026

- Penulis

Minggu, 28 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

HUMA. Pesannya jauh lebih dalam tentang manusia, perempuan, kehilangan, serta perjalanan kembali menemukan diri sendiri (foto: aks / ceraken.id)

HUMA. Pesannya jauh lebih dalam tentang manusia, perempuan, kehilangan, serta perjalanan kembali menemukan diri sendiri (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Malam di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, Jumat, 26 Juni 2026, menghadirkan banyak warna musikal dalam Chamber Pop Festival 2026: Music Concert, Community Hub, and Pop-up Market. Namun, di antara seluruh penampilan yang memadukan musik, tata artistik, dan orkestra gesek, satu pertunjukan meninggalkan kesan yang begitu personal.

Bukan semata karena kualitas vokal ataupun komposisinya, melainkan karena panggung itu berubah menjadi ruang kejujuran, ruang kehilangan, sekaligus ruang penyembuhan. Di atas panggung itu berdiri Cinta Aisyah Humairo, yang kini dikenal dengan nama panggung HUMA.

Festival tersebut menjadi penampilan kedua HUMA di Taman Budaya NTB. Penampilan pertamanya berlangsung pada Minggu, 12 Maret 2023, ketika masih menggunakan nama panggung SiSasa dalam peluncuran mini album Sisi Lain.

Tiga tahun berselang, ia kembali ke panggung yang sama dengan identitas musikal yang lebih matang, membawa karya-karya yang lebih reflektif, dan pesan-pesan yang jauh lebih dalam tentang manusia, perempuan, kehilangan, serta perjalanan kembali menemukan diri sendiri.

Malam itu HUMA membawakan enam komposisi, yakni Wounds karya AURORA, Echo of My Shadow karya AURORA, Di Akhir Perang karya Nadin Amizah, Runaway karya AURORA, kemudian dua lagu ciptaannya sendiri, Foolish Moon dan karya terbaru berjudul Garis. Dua repertoar terakhir diiringi oleh Sreyas String Ensemble, menghadirkan nuansa chamber pop yang intim, hangat, sekaligus emosional.

Kembali ke Panggung yang Sarat Kenangan

Usai menyanyikan dua lagu pembuka, “Wounds” dan “Echo of My Shadow”, HUMA menghentikan sejenak alunan musik. Ia menyapa penonton dengan senyum yang perlahan berubah menjadi haru.

“Nama HUMA adalah nama panggung saya, dari nama saya sendiri, Cinta Aisyah Humairo. HUMA itu sendiri dari Humairo. Ini kedua kalinya saya berada di Taman Budaya. Yang pertama saat launching mini album Sisi Lain, dan juga ditemani Sreyas String Ensemble,” ujarnya.

Kalimat itu belum selesai ketika emosinya pecah. Air mata mengalir di hadapan ratusan penonton. Beberapa detik ia terdiam, mencoba menguasai perasaan. Dari bangku penonton terdengar seseorang menyemangatinya.

“You look like an angel…”

Ucapan sederhana itu seolah memberi kekuatan. Dengan suara yang masih bergetar, HUMA melanjutkan penuturannya.

“Hari ini berbeda… karena salah satu pemain Sreyas String Ensemble, almarhum Om Budi, sudah berpulang. Maka lagu berikutnya ingin saya jadikan doa untuk Om Budi yang sudah beristirahat.”

Suasana teater mendadak hening. Tak lagi sekadar konser, melainkan ruang bersama untuk mengenang seseorang yang telah meninggalkan jejak dalam perjalanan musik mereka.

Ketika lagu “Di Akhir Perang” mulai dimainkan, suara HUMA terdengar tercekat. Isak sesekali memecah kalimat-kalimat lagu, namun justru di situlah kekuatan penampilannya lahir. Penonton larut dalam kesedihan yang dibagikan secara jujur tanpa dibuat-buat.

“Di Akhir Perang” (av: aks / ceraken.id)

Keheningan panjang yang menyelimuti ruangan menjadi bentuk penghormatan paling tulus kepada sosok yang telah berpulang.

Baca Juga :  Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang
Pesan untuk Perempuan: Rumah Itu Bernama Diri Sendiri

Atmosfer konser berubah ketika HUMA bersiap membawakan lagu berikutnya, “Runaway”. Sebelum musik dimainkan, ia mengajak seluruh perempuan yang hadir untuk mengangkat tangan.

“Aku ingin semua perempuan yang ada di ruang ini angkat tangan setinggi-tingginya. Don’t ever say that you’re not enough. Jangan pernah bilang kalau kita nggak cukup. Jangan pernah bilang kalau kita tidak perlu tahu apa yang terjadi di dunia ini.”

Kalimat-kalimat itu mengalir tanpa naskah, seperti percakapan dari seorang sahabat kepada sahabat lainnya.

“Jangan pernah bilang kita harus ini, harus itu, harus jadi cantik, harus jadi kurus, harus jadi apa yang lingkungan mau. Kita bisa menjadi yang terbaik dalam bentuk apa pun.”

Ia kemudian menunjukkan bagian tubuh yang selama ini jarang diperlihatkan kepada publik sebagai simbol penerimaan terhadap diri sendiri.

“Aku sengaja menunjukkan bagian yang jarang untuk menunjukkannya, tapi malam ini aku tunjukkan seluas-luasnya supaya para perempuan di dalam sini bisa tahu kita bebas.”

Menurut HUMA, perempuan masa kini memiliki kesempatan yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Kesempatan itu merupakan buah perjuangan perempuan-perempuan terdahulu yang membuka jalan bagi generasi sekarang.

“Saat ini kita benar-benar memiliki privilege yang sangat besar menjadi perempuan di masa kini, mungkin di masa lalu tidak didapatkan oleh perempuan-perempuan yang memperjuangkan masa kita hari ini.”

Ia lalu menutup pengantarnya dengan kalimat yang menjadi benang merah seluruh pertunjukan malam itu.

“Lagu selanjutnya supaya kita tetap merasa pulang di dalam diri kita sendiri, karena ada rumah yang perlu kita jaga. Ini dia lagu Runaway, tentang pulang ke diri sendiri.”

Musik pun mengalun, membawa pesan bahwa rumah paling aman bukanlah sebuah tempat, melainkan diri sendiri yang mampu menerima seluruh luka, ketakutan, dan harapan.

Sehari setelah konser, Sabtu, 27 Juni 2026, ketika kembali dihubungi mengenai makna gerakan mengangkat satu, dua, dan tiga jari yang ia lakukan sebelum membawakan Runaway, HUMA kembali menegaskan bahwa simbol tersebut merupakan pengingat agar setiap orang tetap merasa pulang kepada dirinya sendiri. Menurutnya, diri adalah rumah yang harus dijaga, dirawat, dan dicintai sebelum mencari tempat pulang di mana pun.

“Runaway” (av: aks / ceraken.id)

Kolaborasi, Karya Baru, dan Pertunjukan yang Menyentuh

Memasuki lagu kelima, suasana berubah menjadi lebih ringan. HUMA memperkenalkan karya orisinalnya, Foolish Moon, yang ia tulis bersama rekan-rekannya di Yogyakarta.

Baca Juga :  Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

Foolish Moon saya buat bersama teman-teman di Yogyakarta dengan proses yang sangat singkat dan menyenangkan. Kali ini Foolish Moon tidak saya bawakan sendirian, saya ditemani oleh Sreyas String Ensemble.”

Ia menjelaskan bahwa lagu tersebut lahir dari kegelisahan mengenai seseorang yang sedang jatuh cinta dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Lagu ini saya ciptakan ketika sedang memikirkan bagaimana seseorang sedang mencintai dan hanya memikirkan apa yang ada di kepalanya saja. Dan saya sangat bangga karena diberi kesempatan lagi untuk bisa berkolaborasi dengan Sreyas String Ensemble.”

Kolaborasi itu menghadirkan warna musikal yang kaya. Aransemen gesek Sreyas String Ensemble memberi ruang bagi vokal HUMA untuk bergerak bebas, sementara nuansa chamber pop membuat setiap lirik terasa lebih intim dan menyentuh.

Sebagai penutup, HUMA mempersembahkan karya terbarunya, Garis, yang baru selesai ia tulis sekitar dua hingga tiga minggu sebelum festival berlangsung.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara Chamber Pop, Taman Budaya, dan semua yang mendukung acara ini serta mempercayakan saya menyampaikan pesan-pesan yang bisa saya sampaikan. Terima kasih juga kepada semua yang sudah hadir.”

Ia kemudian memperkenalkan Dika, sahabat yang mendampinginya di atas panggung.

“Lagu terakhir ini, Garis, saya tidak hanya tampil dengan Sreyas, tetapi juga ditemani salah satu teman karib saya, Dika, yang bisa menginterpretasikan lagu ini dengan baik sesuai apa yang ingin saya sampaikan. Lagu ini sebenarnya baru saya selesaikan sekitar dua sampai tiga minggu lalu. Tiba-tiba muncul ketika saya sedang mendengarkan cerita seorang teman yang sangat saya sayangi. Jadi karena ini pertama kalinya dibawakan, saya agak nervous.”

Meski mengaku gugup, penampilan perdana Garis justru menjadi penutup yang sangat kuat. Lagu itu seolah merangkum seluruh perjalanan emosional yang dibangun sejak awal pertunjukan: tentang luka, kehilangan, keberanian menerima diri sendiri, hingga harapan untuk terus melangkah.

Secara keseluruhan, repertoar yang dipilih HUMA malam itu memiliki benang merah yang jelas: kesadaran diri, penerimaan terhadap diri sendiri, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Pesan be yourself tidak hanya hadir melalui lirik lagu, tetapi juga melalui cerita-cerita yang ia bagikan di sela-sela pertunjukan.

Respon penonton menjadi bukti bahwa pesan itu sampai kepada mereka. Tepuk tangan panjang, sorak dukungan, hingga keheningan yang penuh makna ketika HUMA menitikkan air mata membangun sinergi emosional yang jarang lahir dalam sebuah konser.

Chamber Pop Festival 2026 pun menjadi lebih dari sekadar panggung pertunjukan musik. Melalui HUMA, malam itu menjelma menjadi perjalanan pulang; pulang kepada kenangan, kepada mereka yang telah tiada, kepada keberanian menjadi perempuan yang merdeka, dan terutama, pulang kepada diri sendiri. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh
Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”
Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang
Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan
Milu: Ketika Suara Adat Menjadi Tokoh Utama di Atas Panggung
Tanah Tumpah: Ketika Tubuh Menjadi Penjaga Ingatan Bumi
Memuliakan Sketsa, Merawat Ingatan: Proses Kuratorial di Balik Pameran Tunggal S. La Radek

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 23:19 WITA

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:06 WITA

Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:22 WITA

Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:54 WITA

Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA