Indonesia SAKTI

- Penulis

Senin, 6 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

(foto: ist / ceraken.id)

(foto: ist / ceraken.id)

Oleh: Syamril — Direktur Sekolah Islam Athirah Makassar

CERAKEN.ID — Beberapa pengamat khususnya yang kritis mengatakan bahwa Indonesia sedang sakit, kondisi tidak baik-baik saja. Apa yang dibutuhkan agar Indonesia tidak tambah sakit? Bisa kuat dan menjadi sehat?

Saya mencoba mengambil dari kata sakit, dengan menukar dua huruf terakhir dan membentuk kata SAKTI. Ada 5 huruf dan membentuk kata Syukur, Amanah, Kerja sama, Tindakan, Iptek-imtaq.

Perbaikan Tata Kelola

Pertama, syukur. Indonesia dianugerahi oleh Allah sumber daya alam yang sangat kaya. Juga sumber daya manusia yang masuk dalam usia produktif yang sangat besar, mencapai 65%.

Jika semua anugrah itu bisa disyukuri dengan cara digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat maka Indonesia akan menjadi negara maju dan sejahtera.

Permasalahannya sekarang hanya dinikmati oleh segelintir kaum elit. Para oligarki, pengusaha dan oknum penguasa menikmati keuntungan besar dari sumber daya alam yang ada.

Pemerintahan Presiden Prabowo bertekad kuat untuk melakukan pembenahan. Harapannya sumber daya alam dinikmati oleh rakyat banyak.

Kedua, yaitu amanah. Negara butuh tata kelola dan pengelola yang amanah. Tata kelola terkait dengan sistem, regulasi, peraturan dan lainnya.

Tata kelola yang baik memiliki ciri-ciri TARIF yaitu transparan, akuntabel, responsif, inklusif dan fair. Tata kelola harus didukung oleh pengelola negara yang berintegritas, profesional, dan kredibel. Memiliki trust dan respek yang tinggi.

Baca Juga :  Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram

Problem besar dihadapi oleh bangsa Indonesia pada sisi ini. Ketidakstabilan ekonomi diduga salah satu penyebabnya karena tata kelola dan pengelola yang belum amanah.

Ada harapan saat awal diangkat, Presiden Prabowo segera melakukan perubahan yang radikal dan mendasar. Namun harapan itu belum terwujud. Mungkin kalkulasinya tidak sederhana.

Semoga segera ada perbaikan sehingga tata kelola dan pengelola negara ini adalah orang-orang yang amanah.

Titik Temu dan Sinergi

Ketiga, yaitu kolaborasi atau kerja sama. Era sekarang bukan lagi era super human tapi super team yang saling sinergi, topang menopang, menguatkan dan kerja sama.

Bahkan dengan pesaing pun tidak hanya berkompetisi (bersaing) tapi juga berkoopetisi (bekerja sama). Saling memadukan potensi untuk membangun sinergi bahkan dengan ‘lawan’ sekalipun.

Di sinilah perlunya pemerintah mengelola dengan baik kelompok masyarakat yang kritis dari LSM, mahasiswa, dosen, pengamat, jurnalis, dan lainnya. Jangan dimusuhi tapi diajak berdialog dengan kepala dingin dan hati terbuka. Jangan diabaikan apalagi dibenturkan dengan kelompok lain sesama anak bangsa.

Baca Juga :  Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Lihat apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Selama semua berangkat dari semangat cinta Indonesia, maka akan ada titik temu dan sinergi bersama.

Keempat, yaitu tindakan. Salah satu penyebab tidak ada kemajuan karena berputar di wacana, narasi, omon-omon. Perlu ada tindakan agar apa yang dimimpikan bisa terwujud.

Ingin Indonesia bebas dari korupsi segera bertindak berantas korupsi. Ingin Indonesia cerdas segera bertindak prioritaskan pembangunan pendidikan. Ingin Indonesia lepas dari cengkeraman oligarki hitam, segera bertindak dengan tegas tanpa pandang bulu.

Kelima yaitu iptek dan imtaq. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sumber daya alam akan menghasilkan nilai tambah yang besar karena diolah.

Sumber daya manusia juga berdaya saing tinggi karena kompeten. Juga perlu dilandasi iman dan taqwa. Itulah kunci keberkahan agar kemakmuran yang dihasilkan memberi kebaikan yang berkelanjutan.

Itulah 5 kunci yang bisa membuat Indonesia sehat, kuat dan disegani di pergaulan dunia. Syukur, Amanah, Kerja sama, Tindakan, Imtaq – Iptek (SAKTI).

Membangun manusia Indonesia seutuhnya yang seimbang iman, ilmu dan amal. Kehidupan bangsa dan negara yang adil, makmur, sejahtera lahir dan batin, selamat dunia akhirat.(*)

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya
Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Car Free Day sebagai Miniatur Lombok
Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian
Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata
Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram
Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif
Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:32 WITA

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WITA

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:12 WITA

Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:49 WITA

Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA