CERAKEN.ID — Ada kalanya sebuah novel lahir bukan semata-mata karena kehendak pengarang, melainkan karena sebuah panggilan batin yang terus mengetuk hingga tak lagi bisa diabaikan.
Perasaan itulah yang mengemuka ketika Prof. Nuriadi menutup perjalanan kreatifnya menulis novel Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu? yang diterbitkan PT. Mera Books pada Juli 2026. Novel setebal vi + 228 halaman berukuran 14 x 20 sentimeter itu tidak hanya menjadi karya sastra terbarunya, tetapi juga penanda berakhirnya sebuah pergulatan yang lama dipendam.
“Lega, rasanya seperti melunasi hutang,” tutur Prof. Nuriadi saat ditemui pada Sabtu malam, 25 Juli 2026.
Kelegaan itu tampak jelas di wajahnya. Padahal, beberapa jam sebelumnya ia sempat mengirim pesan singkat yang menyiratkan kondisi fisiknya yang kurang baik. “Atau besok saja. Saya agak meriang karena sakit gigi kambuh,” tulisnya.
Namun malam itu, rasa sakit seolah tersisih oleh kegembiraan setelah sebuah perjalanan panjang akhirnya mencapai muara.
Tujuh Hari yang Mengubah Segalanya
Yang mengejutkan justru bukan lamanya gagasan itu bersemayam, melainkan singkatnya proses penulisan. Di tengah ritme kreatif yang sempat naik-turun, Nuriadi mengaku novel tersebut rampung hanya dalam waktu tujuh hari.
“Dalam jangka waktu tujuh hari, Novel Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu? selesai,” ungkapnya.
Ia mengisahkan bahwa pada masa itu seolah tidak ada lagi ruang bagi keraguan.
“Ya, saat itu, saya terus menuliskannya, tanpa ada keraguan lagi,” katanya.
Pernyataan tersebut menghadirkan kesan bahwa proses kreatif bukan lagi semata kerja intelektual, melainkan pengalaman spiritual yang mengalir begitu saja. Seakan-akan cerita telah tersedia, sementara dirinya hanya bertugas mencatatnya.
Judul novel itu sendiri menghadirkan rasa penasaran. Pada catatan kaki halaman pertama dijelaskan bahwa “datoq” merupakan panggilan masyarakat Sasak kepada pemuka agama atau tuan guru yang memiliki ilmu tinggi, karamah, kewalian, sangat dituakan, serta berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
Penjelasan ini menjadi pintu masuk penting untuk memahami perjalanan tokoh Nasar, sekaligus arah spiritual yang hendak dibangun pengarang.
Jejak Kehidupan yang Menjadi Narasi
Sepanjang perbincangan, satu kalimat terus berulang keluar dari mulut Nuriadi.
“Mengapa harus saya yang menuliskannya.”

Kalimat tersebut bukanlah bentuk keraguan terhadap kemampuan menulis, melainkan kegelisahan menerima pengalaman-pengalaman batin yang kemudian menjelma menjadi cerita. Ia menelusuri pertanyaan itu bersama orang terdekat, terutama sang istri yang menyaksikan kegelisahan tersebut sejak awal.
Dalam perjalanan itu, ia mengaku kerap merasakan kehadiran sosok berjubah putih yang hadir seperti siluet ketika kerinduan akan keteduhan muncul. Pada saat-saat demikian, zikir “ya hayyu ya qoyyum” menjadi penguat yang terus menenangkan batinnya.
Ingatan kemudian membawanya kembali ke masa kecil, kepada sosok Inaq atau ibunya. Pada ilustrasi sampul maupun isi novel, bayangan seorang ibu dengan mata yang berlinang air mata menjadi simbol yang kuat tentang kasih sayang yang tak pernah putus.
“Memang, Inaq saya pernah bercerita bahwa saat saya lahir dengan kepala terlilit daging seperti surban,” jelasnya.
Ia melanjutkan kisah itu dengan satu informasi yang selama ini menjadi bagian dari sejarah keluarganya.
“Dan perlu juga diketahui selama saya dalam kandungan, ayah saya pergi menggembala kerbau ke tempat yang jauh sekali.”
Fragmen-fragmen personal tersebut tidak hadir sebagai memoar, melainkan berubah menjadi bahan baku sastra yang memperkaya dimensi emosional novel.
Spiritualitas, Sejarah, dan Kemanusiaan
Pintu lain untuk memahami novel ini ialah kehadiran guru spiritualnya yang bernama Miq Sun. Sosok tersebut digambarkan menjadi penuntun dalam menjaga istiqamah setiap kali penulis menerima amanah kehidupan.
Kehadiran guru spiritual itu menghadirkan ketenangan sekaligus keyakinan ketika menghadapi berbagai persoalan.
Dimensi spiritual tersebut kemudian berpadu dengan konflik-konflik kemanusiaan yang dihadapi tokoh utama, termasuk guncangan dalam rumah tangga Nasar. Bagian ini menjadi salah satu kejutan penting dalam alur cerita.
Dalam lanskap budaya patriarki yang masih kuat, persoalan tersebut disampaikan secara halus, tanpa kehilangan daya kritiknya.
Secara editorial memang masih dijumpai ketidakkonsistenan penamaan tokoh pada beberapa halaman, yakni halaman 45, 52, dan 110. Namun kekeliruan teknis tersebut tidak mengurangi kekuatan narasi yang dibangun.
Pada akhirnya, Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu? tampil sebagai novel yang memadukan spiritualitas, sejarah, dan kemanusiaan dalam satu tarikan napas. Pilihan penulis mengutip Surah At-Thur ayat 21 pada bagian pengantar menjadi penegas arah keseluruhan cerita: tentang iman yang diwariskan, hubungan antargenerasi, serta ikatan batin yang melampaui ruang dan waktu.
Mungkin karena itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir Nuriadi setelah novel ini rampung terdengar begitu sederhana, tetapi menyimpan makna yang sangat dalam.
“Lega, rasanya seperti melunasi hutang.”
Boleh jadi, hutang yang dimaksud bukan kepada pembaca ataupun dunia sastra, melainkan kepada panggilan batin yang selama ini menunggu untuk ditunaikan melalui sebuah karya. (aks)
*)materi ini disampaikan dalam Soft Launching dan Bedah Buku Novel “Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu?”, Jumat, 31 Juli 2026.
Editor : ceraken editor



























































