Oleh H.L Agus Fathurrahman – Budayawan
(1)
CERAKEN.ID — Meniru Sang Penulis, pertama-tama saya mohon maaf yang setulus-tulusnya kepada Penulis (yang Guru Besar Sastra), para Pembahas (yang sastrawan, penulis dan para Doktor), karena saya hanya seorang awam yang diminta berbicara tentang Novel karya Guru Besar Sastra, tanpa pengetahuan tentang sastra. Karena keterbatasan itu, saya akan mulai membaca novel ini dari disclaimer penulisnya:“…. jika ada kesamaan nama dan tempat yang disebut dalam novel ini, itu hanyalah kebetulan. Novel ini adalah murni fiksi”. Ini juga berarti bahwa nama Datoq dalam judul novel ini juga fiksi. Dengan demikian, maka dalam membaca novel ini saya akan menghilangkan semua nama (termasuk nama dalam judul) dan tempat dan saya Ganti dengan kode berdasarkan episodenya. Jadi novel yang saya baca judulnya adalah “DATOK, ENGKAUKAH ITU?
Secara manusiawi saya tidak mampu menganonimkan penulisnya, karena memang saya kenal baik, kenal desa asal dan tradisi yang membesarkan, pendidikan yang ditempuhnya, dan sebagian pengalaman hidupnya. Maka izinkan saya mengenalnya sebagai seorang penulis. Penulis membangun dan menulis cerita ini dengan alasan dan tujuan sebagaimana dituliskan dalam pengantar yaitu sebagai upaya untuk tetap mencintai keluarga dan leluhur, mendoakan agar keluhurannya menjadi energi yang berguna bagi orang lain. Dan yang paling penting saya sampaikan adalah novel ini ditulis oleh seorang Guru Besar Sastra dan Insya Allah penekun jalan tradisi, maka setiap kata yang ditulis pasti dengan pertimbangan sastrawi dan pertanggungjawaban ilmiah. Maka saya mohon maaf kalau bacaan saya sangat terbatas walaupun saya berusaha secara maksimal.
Berangkat dari tujuan itu, saya akan mulai dengan pertanyaan, mampukah Penulis menggugah kesadaran pembaca-nya untuk menguatkan rasa cinta kepada keluarga dan leluhur dan berupaya mewujudkannya dalam perilaku sehari-hari. Pertanyaan ini akan berkaitan dengan kedewasaan pembacanya secara intelektual, emosional dan spiritual. Secara Intelektual dapat menerima perbedaan perspektif dalam memandang sesuatu. Secara emosional dapat membuat jarak antara pengetahuan yang telah dimiliki atau pengetahuan umum dengan teks yang disajikan. Dan Secara spiritual memiliki pengetahuan dan pengalaman pribadi atau membaca pengalaman orang lain seperti yang disajikan dalam teks.
Secara substansi, novel ini dapat dibaca dengan berbagai teks sebagai sudut pandang, seperti teks sosiologis, teks antropologis, teks andragogis, teks historiografis, teks sufistik dan lain-lain. Artinya, novel ini menyasar pembaca dengan karakter khusus. Sebagai pembaca awam yang memiliki sedikit pengalaman belajar etnografi spiritualisme (meminjam istilah Dr. Awaludin, MH.) dari masyarakat Sasak, saya mencoba membaca Novel ini dengan perspektif itu.
(2)
Tokoh Kita (meminjam istilah Iwan Simatupang dalam novel Kering) dalam novel ini, karena berbagai latar belakang, bertahun-tahun memendam obsesi mencari leluhurnya dengan berbagai pendekatan sampai menemukan seberkas cahaya kesadaran yang menuntunnya. Entah cahaya semu atau cahaya sejati, hanya Tokoh Kita yang tahu. Cahaya kesadaran tersebut terefleksi karena adanya sekelebat bayangan, ada spiritualis, ada sosok guru dan ketiganya sepertinya juga masih menyimpan misteri tersendiri. Tokoh Kita yang seorang guru menggunakan kemampuan intelektualitas, emosionalitas dan spiritualitasnya sendiri menyibak misteri itu.

Tokoh Kita tampaknya terlambat sadar tentang pentingnya jati diri sejak dini, sehingga melupakan jejak-jejak yang disisakan oleh tradisi spiritual Belian Nganak. Visi Belian Nganak saat Tokoh Kita dilahirkan, tanda kelahiran yang dituturkan oleh Belian Nganak kepada ibunya, baru diingat setelah menjadi ayah. Semua itu ikut andil memperkuat obsesinya menemukan leluhur sebagai tempat bercermin melihat profile diri sejatinya. Seberkas Cahaya kesadaran menjadi modalnya dan bertekad mencari jalan sendiri. Seberkas cahaya dalam kegelisahan akhirnya bertemu reflektor yang menampakkan bayangan dirinya. Reflektor itu menjadi cermin yang menimbulkan cahaya lagi bertemu cermin/reflektor baru yang memantul lagi, demikian seterusnya. Sebuah pencarian tanpa ujung. Pola ini merupakan model yang dilakukan oleh para pejalan tradisi dalam mencari kesejatian, melalui tawassul dalam tradisi tarikat untuk mencapai ma’rifat. Semakin tinggi capaian semakin berat ujiannya.
Dalam proses pencariannya, Tokoh Kita dihadapkan pada persoalan keluarga ang disebabkan oleh kealpaannya, dan menyebabkan Tokoh Kita berada pada posisi terendah dalam hidupnya. Peran sahabat hadir sebagai pembangun semangat dan kehadiran sang guru sebagai nasihat yang membuat Tokoh Kita sadar dan berusaha menekan egonya. Semangat untuk bangkit dan kemampuan menekan ego membuatnya mampu meminta maaf yang meluluhkan hati isteri anaknya. Tak lama setelah itu ïbunya meninggal, disusul lagi dengan meninggalnya sang guru. Setelah melalui berbagai ujian itu, tokoh kita memperoleh capaian tertinggi yaitu identitas sang leluhur.
(3)
Ungkapan semakin tinggi capaian seseorang semakin berat ujíiannya, tampaknya menjadi acuan penulis membangun cerita, terlepas dari siapa Tokoh Kita dan siapa yang disebut leluhurnya. Perjalanan Tokoh Kita ini juga tampaknya dibuat berdasarkar pemahaman penulis tentang sufisme Sasak dan model tarikat yang dijalaninya.
- Tokoh Kita mengetahui bahwa untuk menemukan leluhurnya tidak bisa ditemukan melalui catatan tertulis atau cerita lisan yang kebetulan sangat terbatas, tetapi bisa juga ditemukan melalui jalan spiritual. Dalam hal ini harus dilakukan dengan amalan dan laku tertentu dengan bimbingan guru pendamping yang mursyid. Disamping itu, seseorang harus menghayati dan mengamalkan laku tradisi serta peka terhadap isyarat yang diterima melalui visi, mimpi, dan kejernihan bathin untuk membedakan mana yang berasal dari Allah SWT dan mana yang lahir dari nafsu yang bermetamorposis menjadi obsesi. Masyarakat tradisional di Nusantara pada umumnya meyakini bahwa leluhur memiliki daya spiritual yang senantiasa menyertai generasi penerus. Energi itu tidak berhenti di pusara, melainkan menjelma menjadi inspirasi dalam sikap, etika, dan laku hidup anak cucunya. Dalam tradisi Sasak sering disebut anak turas.
- Ziarah, do’a dan ritual khusus akan menyambung energi dengan leluhur akan selalu menemukan arah dan keteguhan. Bisa jadi kehidupan seperti ini menyebabkan munculnya obsesi untuk mengenal dan menemui leluhurnya. Tokoh Kita gelisah mencari garis energi apa yang diwariskan leluhurnya sebagai Anak Turas. Bersama keluarganya senantiasa menjaga ikatan dengan dengan leluhur melalui do’a, ziarah dan melakukan ritus-ritus leluhur. Dengan begitu, dia berharap energi spiritual dan moral yang diwariskan tidak akan terputus.
- Untuk mencapai kemampuan menjangkau atau menembus dimensi gaib (tempat beristirahatnya para leluhur) seseorang harus terus melatih diri (riyadah) mensucikan diri (tazkiyatun nafsi) melalui amalan-amalan wirid yang istiqamah. Sadar akan hal ini tokoh kita berusaha menemukan guru mursyid yang dia percaya. Dalam kepercayaan Sasak para leluhur diistilahkan dengan si epeyang kula di paer daya dan arwah pengeran di paer lauq.
- Tradisi wirid setiap kelompok tarekat termasuk jalan Sasak yang (mungkin) dijalani oleh Tokoh Kita, memiliki batas-batas rahasia yang sangat ketat. Hal ini dimaksudkan agar berita dan alam gaib tidak bocor dan tidak bias karena “dicurl” oleh jin jahat. Sang Guru membimbing dan mendampingi perjalanan spiritual muridnya. Tampaknya Tokoh Kita dalam wiridnya sudah mampu menangkap pesan dari dalam dirinya.
- Kejernihan informasi yang diterima (melalui penyaksian, melalui ilham atau melalui mimpi) sangat tergantung pada tingkat capaian seorang salik melampaui perjalanan dengar tertib. Memelihara dan menjalankan syariat, meningkatkan kualitas ibadah (tarikat), menemukan ilmu kesejatian (hakikat) dan akhirnya mengenal diri sebenarnya (ma’rifat). Kita tidak menemukan data tentang maqam Tokoh Kita dalam perjalanan pencariannya.
- Secara teori, untuk mencapai kemampuan menembus alam ruh seseorang harus sudah mampu meninggalkan alam nasut (mengalahkan nafsu amarah, lawwamah), telah mencapai derajat insan kamil (bersatunya ruh hayati dan ruh idafi). Jika telah mencapai derajat ini, seseorang telah memasuki alam ruh (alam syahadah), menuju alam malakut, alam jabarut dan alam lahut. Jika seseorang belum mencapai derajat alam syahadah (melampaui insan kamil) obsesi dan nafsu rendah yang mengendarai upaya pencarian seseorang melalui dunia gaib, dihawatirkan informasi atau ilmu yang diperoleh berasal dari makhluk rendah.
(4)
Aspek dalam maupun aspek luar dari karya ini tidak bisa dipisahkan dari Sang Penulis, dan itu bisa jadi merupakan sebuah cuplikan biografi dan mungkin juga tidak. Tetapi Penulis memiliki pengetahuan (dan mungkin juga pengalaman) yang ingin ditawarkan kepada pembaca. Sebagai seorang awam dalam dunia Sastra, saya berpegang pada konsep bahwa novel bukan sumber pengetahuan apalagi sumber kebenaran, sehingga kalau ada informasi yang berkaitan dengan pengetahuan sebelumnya atau pengetahuan umum, fungsinya hanya sebagai tawaran cara pandang yang harus dikaji dengan pendekatan ilmu pengetahuan. Dan untuk itu Penulis Novel ini memiliki kapasitas untuk pada sesi lain kita berguru.
Akhirnya untuk menutup bacaan saya terhadap novel ini, saya akan menyampaikan bahwa, Penulis menyajikan materi yang berat dengan model jamuan ringan, sehingga kita dapat menikmatinya dengan santai dan tidak terasa kita sudah merasa kenyang. Namun jika pembaca belum sampai pada kedewasaan intelektual, emosional dan spiritual, mungkin akan banyak batu sandungan dan terantuk sehingga akan meninggalkan luka dalam perasaan. Terimakasih sudah berkenan membaca, mendengarkan dan mungkin menyimak semoga bermanfaat. Kepada Penulis, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterbatasan bacaan saya. (*)
*) materi ini disampaikan dalam Soft Launching dan Bedah Buku Novel “Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu?”, Jumat, 31 Juli 2026.
Editor : ceraken editor



























































