Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan

- Penulis

Selasa, 18 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Perempuan dalam kebudayaan Sasak  juga salah satu penyangga utama kehidupan bersama (foto: aks / ceraken.id)

Perempuan dalam kebudayaan Sasak juga salah satu penyangga utama kehidupan bersama (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Mataram – Perempuan Sasak tidak semata-mata hadir sebagai sosok dalam relasi keluarga, tetapi juga sebagai pemilik otoritas, pengayom, bahkan pemimpin dalam ruang sosial dan kebudayaan.

Gagasan itu mengemuka dalam Diskusi Kecil Buku Kecil “Nine, Inaq, Ine: Kualitas Perempuan Sasak Berdasarkan Manuskrip Takepan Megantaka” karya Lalu Agus Fathurrahman yang digelar Bencingah Institute di Jalan Gili Air 21, Taman Kapitan Ampenan, Senin (17/8/2026) malam.

Diskusi yang berlangsung mulai pukul 19.30 WITA itu mempertemukan sejumlah akademisi, seniman, penulis, dan pegiat kebudayaan. Hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Nuriadi Sayip, Guru Besar Sastra dan Budaya Universitas Mataram, serta Muh. Syahrul Qadri, M.A., akademisi-seniman dan ahli sastra pertunjukan.

Diskusi dipandu Murachim, M.Pd., sementara AS. Rosyid bertindak sebagai editor sekaligus orang yang mengawal proses produksi buku tersebut.

Buku yang disebut “kecil” itu justru membawa pertanyaan besar: bagaimana kebudayaan Sasak memahami perempuan dengan bahasanya sendiri? Dari tiga kata; Nine, Inaq, dan Ine, penulis menelusuri jenjang kualitas, peran, tanggung jawab, dan otoritas perempuan berdasarkan pembacaan terhadap manuskrip Takepan Megantaka.

Moderator diskusi, Murachim, M.Pd., mengatakan buku tersebut menarik karena mencoba melihat perempuan Sasak dari perspektif kebudayaan sendiri. Menurutnya, penulis tidak sekadar membicarakan perempuan dalam kerangka feminisme modern, tetapi menelusuri bagaimana tradisi Sasak telah memiliki konsep tentang otoritas dan kesetaraan perempuan dengan laki-laki.

“Buku ini mengulas tentang Nine, Inaq, Ine, sebuah pemikiran keperempuanan yang digali dari suku Sasak. Miq Agus menengok secara adil ke dalam tradisi suku Sasak dan menemukan bagaimana perempuan sesungguhnya berbagi otoritas dengan lelaki dalam posisi setara satu sama lain dan bagaimana lelaki harus belajar menghargai batas-batas itu,” kata Murachim.

Ia menjelaskan, kedudukan perempuan dan laki-laki dalam gagasan yang ditawarkan buku tersebut tidak berdiri dalam hubungan hierarkis. Kesetaraan itu, menurutnya, juga berangkat dari kesadaran spiritual terhadap ketentuan dan petunjuk Tuhan.

“Lebih dari itu, penulis menekankan bahwa kedudukan setara antara perempuan dan laki-laki berdiri di atas keikhlasan terhadap ketentuan dan petunjuk yang datang dari Allah,” ujarnya.

Murachim juga melihat pembahasan Nine, Inaq, dan Ine sebagai pintu masuk untuk memahami perempuan Sasak secara lebih luas, baik dari perspektif perempuan maupun laki-laki.

“Kita akan mengulik bagaimana perspektif feminisme dalam buku ini, bagaimana memandang perempuan Sasak dari sisi laki-laki, bagaimana memandang perempuan Sasak dari sisi perempuan, dan bagaimana perempuan Sasak memandang dirinya sendiri,” katanya.

Feminisme yang Lahir dari Rahim Kebudayaan Sasak

AS. Rosyid dalam pengantarnya menyebut buku tersebut sebagai upaya menghadirkan kembali pemikiran tentang pemuliaan perempuan yang lahir dari rahim kebudayaan Sasak.

“Buku ini adalah tentang pemikiran pemuliaan terhadap perempuan, tentang kedudukan perempuan dan laki-laki atau dalam tanda kutip feminisme yang genuine dilahirkan dari rahim kebudayaan Sasak,” kata Rosyid.

Menurutnya, kata kunci buku itu terletak pada pembedaan jenjang kompetensi antara Nine, Inaq, dan Ine. Ketiganya tidak sekadar sinonim perempuan, tetapi menunjukkan tingkatan peran dan kapasitas yang berkembang seiring tanggung jawab sosial.

Rosyid menilai, buku karya Lalu Agus Fathurrahman itu mengisi ruang kosong dalam wacana mengenai filsafat keperempuanan khas Sasak.

“Menurut saya buku ini sangat fresh karena ia mengisi gap wacana yang sejak lama senjang. Belum pernah ada yang mengurai pemikiran filsafat keperempuanan khas suku Sasak,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan proses penyuntingan buku berlangsung melalui diskusi intensif bersama penulis. Sejumlah bagian diperdalam, antara lain mengenai perdebatan ulama tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan serta tafsir keagamaan yang selama ini kerap menempatkan perempuan dalam posisi sekunder.

Baca Juga :  Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak

Buku tersebut diterbitkan melalui Kolofon Media, Yogyakarta. Edisi yang telah memiliki ISBN diperkirakan tiba pada awal September 2026. Sementara itu, peserta diskusi sudah dapat melakukan pemesanan awal atau pre-order.

“Nine, Inaq, Ine” dan Kekayaan Bahasa Sendiri

Muh. Syahrul Qadri membaca buku itu dari perspektif sastra, feminisme, dan dekolonialisme. Baginya, tiga istilah yang menjadi judul buku justru menunjukkan bahwa masyarakat Sasak telah memiliki perangkat konseptual sendiri untuk memahami perempuan.

“Kenapa kita harus sukanya meminjam istilah-istilah dari luar? Contohnya tadi yang disebut oleh editor ada istilah feminis, kesetaraan gender, dan lain sebagainya. Padahal masyarakat Sasak sendiri sudah punya tiga kata yang mewakili perempuan,” katanya.

Dalam pembacaannya, Nine merupakan perempuan pada umumnya. Inaq mengacu kepada perempuan yang telah menjadi ibu, sementara Ine menunjukkan tingkat kualitas yang lebih tinggi karena mengandung kemampuan mengayomi, memimpin, dan mengorganisasi.

Ia mencontohkan penggunaan istilah Ine Ran dalam berbagai kegiatan masyarakat Sasak. Bahkan ketika posisi pemimpin kegiatan memasak atau ran diisi laki-laki, sebutan Ine Ran tetap digunakan.

“Ini menarik sebenarnya, jadi ‘Ine’ ini adalah sosok perempuan atau femininitas yang sangat tinggi jenjang tingkatnya,” ujar Syahrul.

Dari sana ia membawa pembahasan kepada gagasan dekolonial. Menurutnya, selama berabad-abad cara berpikir asli masyarakat Sasak mengenai perempuan, keluarga, tata ruang, dan otoritas moral sering ditempatkan sebagai objek yang harus diterjemahkan oleh kerangka berpikir dari luar.

“Dekolonial itu lebih mengarah kepada, saya ingin melihat diri saya sendiri. Jangan lihat saya hanya sebagai objek. Minimal saya juga akan bersuara tentang diri saya sendiri, berkaca dari diri saya sendiri,” katanya.

Perempuan sebagai Penyangga, Bukan Subordinat
Di titik inilah Nine, Inaq, dan Ine menjadi semacam tangga konseptual (foto: aks / ceraken.id)

Syahrul kemudian menyoroti cara pandang yang menempatkan perempuan sebagai subordinat laki-laki. Ia mengkritisi penggunaan tafsir tertentu yang menjadikan kisah tulang rusuk sebagai alasan untuk menempatkan perempuan di belakang atau di bawah laki-laki.

“Kalau pun itu berasal dari tulang rusuk, bukankah tulang rusuk itu adalah penyangga? Dan penyangga itu menjadi sangat penting. Ketika penyangga tidak ada, seorang laki-laki tidak akan bisa berdiri,” ujarnya.

Karena itu, menurut Syahrul, buku Nine, Inaq, Ine menawarkan relasi yang tidak hierarkis. Laki-laki dan perempuan tidak ditempatkan dalam struktur atas-bawah, melainkan sebagai pasangan yang saling melengkapi.

“Laki-laki dan perempuan itu adalah sepacaq, istilahnya, atau saling mengisi, saling melengkapi. Tidak ubahnya seperti kiri dan kanan, atas dan bawah. Karena itulah ketika ini adalah semacam sepasang, yang namanya sepasang itu harus saling menyempurnakan,” katanya.

Pandangan itu, menurutnya, menjadi penting ketika dibaca bersama kebudayaan Sasak yang bahkan kerap menyebut bumi tempat mereka berpijak sebagai Gumi Nine.

“Nine, Inaq, dan Ine, tiga kata ini menjadi sesuatu yang spektakuler di dalam buku kecil ini, tetapi mengandung sesuatu yang luar biasa,” katanya.

Bagi Syahrul, tiga istilah itu tidak seharusnya berhenti sebagai kosakata tradisional. Ia merupakan ajakan agar masyarakat Sasak kembali membaca dirinya sendiri melalui bahasa dan pengalaman kebudayaannya.

“‘Nine, Inaq, Ine’ bukanlah tiga kata yang usang, yang hanya sekadar kita lafalkan, kita hafalkan. Ia adalah undangan untuk kita berhenti sejenak, merenung dan bertanya, sudahkah kita orang Sasak benar-benar bicara tentang diri kita sendiri dan dengan bahasa kita sendiri,” tegasnya.

Dari “Nine” ke “Ine”: Tanggung Jawab yang Makin Luas

Prof. Dr. Nuriadi Sayip membawa pembacaan yang lebih interdisipliner. Ia tidak hanya melihat buku itu dari perspektif feminisme atau dekolonialisme, tetapi mencoba memasuki berbagai “pintu” kajian sastra dan budaya.

Baca Juga :  Membaca Novel Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu?

“Kalau Pak Syahrul mencoba membedah dari sisi feminisme dan dekolonial atau dekolonialisme, saya mengatakan paradigma yang dibangun itu adalah paradigma monolitik. Saya mencoba menjelajahi dari sudut komprehensif atau interdisipliner,” kata Nuriadi.

Menurutnya, inspirasi utama buku tersebut adalah manuskrip Megantaka, yang perlu dibaca secara hati-hati karena memiliki sejarah persebaran dan keberadaan naskah di Bali maupun Lombok.

Nuriadi mengingatkan bahwa kajian mengenai asal-usul manuskrip tidak boleh dilakukan secara gegabah. Ia mendorong penelitian filologis untuk menentukan hubungan, usia, dan persebaran berbagai versi Megantaka.

“Tugas kita bersama untuk mengkaji secara filologis, mana naskah yang lebih pertama dan mana naskah yang muncul kemudian. Itu harus dikaji,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya memahami sastra bukan sebagai sesuatu yang semata-mata fiktif. Dalam karya fiksional, kata Nuriadi, selalu mungkin terdapat fakta, pengalaman sosial, pesan moral, visi, serta intensi pengarang.

“Sastra itu pada dasarnya adalah perekam dari peradaban sebuah bangsa. Jadi, kalau Anda mau tahu tentang peradaban, perkembangan, pergeseran peradaban sebuah bangsa, bacalah karya sastra,” katanya.

Dari perspektif itu, Megantaka tidak cukup dibaca sebagai kisah lama. Ia dapat menjadi cermin bagi masyarakat pada zamannya sekaligus lampu bagi pembaca masa kini.

Nuriadi kemudian menghubungkan tiga istilah dalam buku tersebut dengan perluasan peran dan tanggung jawab perempuan. Nine berada pada lingkup personal, Inaq berkembang pada tanggung jawab keluarga, sedangkan Ine bergerak menuju tanggung jawab sosial yang lebih luas.

“Dalam tafsir saya, buku ini ingin menampilkan ‘Nine, Inaq, Ine’ dari sisi peran dan tanggung jawab seorang perempuan. ‘Nine’ itu perannya dalam konteks yang kecil, ‘Inaq’ itu dalam keluarga, dan ‘Ine’ itu dalam konteks peran dan tanggung jawabnya dalam masyarakat yang luas,” jelasnya.

Perempuan yang Lembut Sekaligus Teguh

Pada bagian akhir paparannya, Nuriadi menggambarkan perempuan sebagai sosok yang memiliki kelembutan sekaligus kekuatan mental. Ia menggunakan metafora The Silken Tent karya Robert Frost untuk menggambarkan perempuan sebagai tenda sutra yang memberi perlindungan di tengah teriknya kehidupan.

Bagi Nuriadi, kelembutan bukan tanda kelemahan. Justru di balik kelembutan itu terdapat keteguhan yang memungkinkan perempuan menjalankan peran dan tanggung jawab yang semakin luas.

Di titik inilah Nine, Inaq, dan Ine menjadi semacam tangga konseptual. Dari perempuan sebagai individu, berkembang menjadi ibu dalam keluarga, kemudian menjadi sosok yang mampu mengayomi dan memikul tanggung jawab bagi masyarakat.

“Dia bisa kuat itu gara-gara keyakinan di dalam dirinya, keyakinan, keteguhan, keimanan seorang perempuan untuk tetap tegak apa pun angin yang di luar,” kata Nuriadi.

Ia menutup pembacaannya dengan menegaskan bahwa perempuan tidak semestinya ditempatkan sebagai objek atau sekadar pelengkap dalam kehidupan laki-laki.

“Perempuan yang posisinya secara feminis itu adalah dia bukanlah mainan laki-laki, tetapi partnernya bagi laki-laki,” ujarnya mengutip Elizabeth Chandler.

Diskusi di Bencingah Institute malam itu akhirnya tidak berhenti pada peluncuran sebuah buku. Ia menjadi ruang untuk memperbincangkan kembali bagaimana masyarakat Sasak memandang perempuan melalui warisan bahasanya sendiri, melalui manuskrip lama, dan melalui pengalaman kebudayaan yang terus bergerak.

Di antara Nine, Inaq, dan Ine, tersimpan gagasan tentang perjalanan kualitas sekaligus perluasan tanggung jawab. Dari diri sendiri menuju keluarga, dari keluarga menuju masyarakat.

Dan dari masa lalu yang direkam dalam Takepan Megantaka, masyarakat hari ini diajak membaca kembali satu hal yang mungkin selama ini terlalu dekat untuk disadari: bahwa perempuan dalam kebudayaan Sasak bukan sekadar yang berada di dalam rumah, melainkan juga salah satu penyangga utama kehidupan bersama. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas
Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak
Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri
Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu
Ketika Cahaya Itu Adalah Sosok “Nuriadi”: Novel “Datoq Nyatoq dalam Perspektif Strukturalisme Genetik
Membaca Keris NTB dari Vitrin Museum hingga Jejak Pengetahuan
Novel sebagai Jalan Literasi: Ketika Datoq Nyatoq Menjadi Jembatan Membaca Dunia
Menghormati Jejak Kreatif Sang Pengarang: Apresiasi atas Kehadiran Novel Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu?*)

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:04 WITA

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:55 WITA

Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak

Kamis, 20 Agustus 2026 - 09:33 WITA

Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:30 WITA

Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:58 WITA

Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA