CERAKEN.ID — Ada sesuatu yang menarik dari sebuah buku yang disebut “buku kecil”. Bukan karena ukurannya, melainkan karena kerendahan hati yang mungkin sengaja diletakkan penulis di balik penyebutan itu.
Buku kecil berjudul Nine, Inaq, Ine: Kualitas Perempuan Sasak Berdasarkan Manuskrip Takepan Megantaka justru membuka ruang perbincangan yang luas tentang perempuan, sastra, kebudayaan, manuskrip, hingga cara membaca kembali warisan intelektual masyarakat Sasak.
Hal itu mengemuka dalam diskusi buku yang menghadirkan akademisi sekaligus penulis, Prof. Dr. Nuriadi Sayip, Guru Besar Sastra dan Budaya Universitas Mataram. Ia tidak sekadar membicarakan isi buku, tetapi mengajak hadirin masuk melalui banyak “pintu” untuk memahami Nine, Inaq, Ine secara lebih komprehensif.
“Kalau Pak Syahrul mencoba membedah buku kecil ini sebagai bentuk dari ketawadu’aan penulisnya, saya kira jangan dilihat kecilnya, tapi dampaknya yang besar,” kata Nuriadi.
Membaca dari Banyak Pintu
Nuriadi melihat pendekatan feminisme dan dekolonialisme yang digunakan dalam membaca buku tersebut sebagai salah satu kemungkinan pendekatan. Namun, menurutnya, jika hanya bertumpu pada satu pendekatan, pembacaan akan menjadi monolitik.
“Paradigma monolitik itu mengkaji sebuah objek, kemudian menggunakan teori tertentu, selesai di situ. Ibarat Anda masuk di dalam rumah, melihat satu pintu, kemudian tidak melihat pintu yang lain,” ujarnya.
Ia menawarkan cara pandang yang lebih luas, yang disebutnya sebagai pendekatan komprehensif, interdisipliner, atau “multilitik”. Dengan pendekatan tersebut, objek tidak dibaca dari satu sisi saja, tetapi dari berbagai pintu keilmuan.
“Saya mencoba menjelajahi dari sudut komprehensif atau interdisipliner atau multilitik. Artinya saya mencoba masuk ke dalam bangunan dan memanfaatkan beberapa pintu untuk menikmati sebuah bangunan itu dari pintu-pintu yang berbeda,” katanya.
Bagi Nuriadi, banyaknya pintu bukan berarti menghasilkan kesimpulan yang tercerai-berai. Semua pendekatan itu justru pada akhirnya dapat bertemu pada satu titik: menghadirkan pemahaman yang lebih dalam terhadap objek yang dikaji.
Megantaka dan Jejak Persebaran Sastra Lama
Pintu pertama yang dibuka Nuriadi adalah sumber inspirasi buku tersebut, yakni manuskrip Megantaka. Ia menempatkan Megantaka sebagai bagian dari sastra lama yang mengalami migrasi dan persebaran.
Karena itu, ia mengingatkan agar manuskrip tersebut tidak buru-buru dianggap sebagai karya yang sepenuhnya berasal dari Sasak.
“Kalau seandainya teman-teman menganggap bahwa karya Megantaka ini adalah murni hasil karya Sasak, jangan. Naskah Megantaka ini ditemukan di Bali dan justru di Bali sangat kuat,” tegasnya.
Menurut dia, naskah yang ditransliterasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI pada 1981 merupakan naskah yang ditemukan di Bali. Fakta tersebut, kata Nuriadi, menjadi alasan penting untuk melakukan penelitian filologis guna mengetahui sejarah, persebaran, serta kemungkinan hubungan antarnaskah.
“Jangan ujug-ujug, wow di Lombok, di Sasak lebih dulu. Sebentar, sebagai seorang intelektual akademisi kita harus mengkajinya,” katanya.
Pertanyaan tentang naskah mana yang lebih tua dan mana yang muncul kemudian, menurut Nuriadi, masih menjadi pekerjaan akademik yang perlu ditelusuri lebih jauh. Dengan demikian, kebanggaan terhadap warisan budaya tidak harus dibangun dengan menutup mata terhadap kemungkinan sejarah persebarannya.
Di sela pemaparannya, suasana diskusi juga mencair ketika Nuriadi meluruskan penyebutan bidang keilmuannya. Ia mengatakan dirinya memang pernah menempuh kajian Amerika, tetapi bidang minatnya adalah sastra dan budaya.
“Alhamdulillah waktu itu saya ber-IP 4, tapi saya lupa sekarang,” ujarnya, yang langsung disambut tawa hadirin.
Fiksi Bukan Fiktif
Pintu berikutnya adalah cara memahami karya sastra. Nuriadi mengingatkan bahwa Megantaka sebagai karya sastra tidak semestinya dipahami sebatas cerita yang harus dipercaya secara harfiah. Sastra, katanya, bekerja melalui wilayah fiksional.
Ia membedakan istilah “fiksi” dan “fiktif”. Fiktif mengarah pada sesuatu yang tidak benar atau dibuat-buat, sedangkan fiksional tetap dapat berangkat dari kenyataan, fakta sosial, pengalaman, dan persoalan kehidupan.
“Ketika kita menarik kata fiksi itu ke fiksional, maka di balik kata itu ada kebenaran. Ada fakta, ada pesan moral, ada argumentasi, ada visi, dan ada intensi atau pesan yang terselubung yang ditulis oleh pengarangnya,” jelas Nuriadi.
Ia memberi contoh sejumlah karya sastra dunia yang lahir dari kegelisahan terhadap persoalan sosial. Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi, misalnya, tidak hadir dalam ruang kosong. Novel tersebut berkaitan dengan kegelisahan pengarang terhadap persoalan perempuan dan konstruksi budaya di Mesir.
Demikian pula Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe, The Color Purple karya Alice Walker, serta Beloved karya Toni Morrison. Menurut Nuriadi, karya-karya tersebut menunjukkan bagaimana sastra dapat menjadi medium untuk merekam realitas, menyuarakan kegelisahan, sekaligus memengaruhi cara pembaca melihat persoalan sosial.
“Di balik kata fiksi itu ada kebenaran di situ, didasari oleh fakta, didasari oleh realita yang kemudian dibumbui dalam dunia artistik kreativitas si pengarang,” katanya.
Karena itu, membaca Megantaka tidak cukup berhenti pada pertanyaan apakah seluruh peristiwa di dalamnya benar-benar terjadi. Yang lebih penting adalah menemukan realitas, nilai, pesan, dan pandangan kebudayaan yang mungkin tersembunyi di balik cerita.
Sastra sebagai Cermin dan Lampu
Nuriadi kemudian membawa pembacaan Megantaka ke fungsi dasar sastra. Sastra, menurutnya, bukan hanya hiburan. Ada fungsi didaktis, yakni mendidik, memberi inspirasi, dan membantu masyarakat memahami kehidupannya.
Ia mengutip konsep klasik dulce et utile: sastra memiliki unsur menghibur sekaligus memberikan manfaat. Ia juga merujuk gagasan M.H. Abrams tentang The Mirror and The Lamp.
“The mirror itu cermin, the lamp itu lampu. Pada dasarnya fiksi yang dipahami sebagai sebuah kebenaran, yang ada misi dan pesan moral di situ, maka sastra itu bisa menjadi cermin bagi masyarakat pada zamannya dan kemudian menjadi lampu, menjadi suluh bagi pembacanya ketika membaca masa depan,” paparnya.
Dengan kerangka tersebut, Megantaka dapat dibaca bukan sekadar sebagai kisah masa lalu. Ia dapat menjadi cermin bagi masyarakat yang melahirkannya sekaligus lampu bagi pembaca masa kini.
Nuriadi juga mengutip Robert E. Spiller yang menyebut bahwa “the literature is the recorder of nation”. Sastra, dalam pengertian tersebut, merupakan perekam perjalanan sebuah bangsa.

“Kalau Anda mau tahu tentang peradaban, perkembangan, pergeseran peradaban sebuah bangsa, bacalah karya sastra,” ujarnya.
Maka, ketika manuskrip lama dibaca kembali pada zaman sekarang, sesungguhnya terjadi dialog antara masa lalu dan masa kini. Di situlah buku Nine, Inaq, Ine memperoleh relevansinya: membawa sebuah manuskrip lama untuk berbicara mengenai posisi dan kualitas perempuan dalam kehidupan masyarakat sekarang.
Perempuan yang Dibuang dan Arketipe Megantaka
Dari fungsi sastra, Nuriadi kemudian masuk ke struktur cerita Megantaka. Ia melihat karya tersebut memiliki kecenderungan mengikuti pola naratologi cerita Panji. Ada kerajaan, tokoh bangsawan, peperangan, kesaktian, dan kekuatan semesta yang menjadi bagian dari bangunan konfliknya.
Namun, terdapat satu hal yang menurutnya sangat menarik: perempuanlah yang dibuang.
Dalam kisah Megantaka, Putri Ambara Sari dibuang dan kemudian menjalani perjuangan untuk bertahan hidup. Bagi Nuriadi, posisi perempuan yang dibuang itu menarik jika dibandingkan dengan berbagai cerita rakyat Nusantara yang menampilkan tokoh laki-laki sebagai pihak yang terusir atau mengembara.
Ia menyebut sejumlah kisah seperti Sangkuriang, cerita tujuh bersaudara di Riau, hingga cerita Sasak seperti Doyan Nede dan Balang Kesimbar.
“Poin saya adalah keunikan dari cerita Naskah Megantaka ini: kenapa perempuan, yang namanya Putri Ambara Sari, yang dibuang? Kenapa tidak mengikuti arketipe model penceritaan Nusantara secara umum? Itu yang perlu kita kaji lebih lanjut,” katanya.
Pertanyaan tersebut sekaligus membuka kemungkinan penelitian baru. Apalagi Nuriadi mengajak akademisi dan peneliti untuk menelusuri kemungkinan hubungan tokoh Panji Tilar Negara dalam Megantaka dengan tokoh yang disebut sebagai pendiri Kerajaan Langko.
“Apakah Panji Tilar Negara yang ada di kisah Megantaka ini sama dengan pendiri Kerajaan Langko, yang merupakan anak dari Raja Selaparang, Raden Mas Panji Tilar Negara juga? Coba kita teliti,” ujarnya.
Dengan demikian, pembacaan terhadap Megantaka tidak berhenti pada persoalan perempuan. Ia dapat bergerak ke sejarah, filologi, antropologi, naratologi, dan hubungan antarteks yang berkembang di Nusantara.
Dari Nine ke Inaq, dari Inaq ke Ine
Pada akhirnya, seluruh pintu pembacaan Nuriadi bermuara pada tiga kata yang menjadi judul buku: Nine, Inaq, Ine. Ia menaruh perhatian pada penggalan “in” yang muncul dalam berbagai sebutan perempuan atau ibu di Nusantara.
Ia menyebut penggunaan “Ina”, “Ine”, “Indung”, “Inang”, “Indai”, “Indang”, hingga berbagai bentuk lainnya di sejumlah komunitas Nusantara. Baginya, keberadaan bunyi atau penggalan “in” dalam berbagai istilah tersebut menunjukkan adanya jejak linguistik dan kultural yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.
“Secara Nusantara, penggalan ‘in’ itu identik dengan perempuan, khususnya ibu. Jadi, bukan Sasak saja yang menyebut untuk mengarah kepada perempuan,” katanya.
Dari kata Inaq, Nuriadi kemudian membaca tiga karakter yang menurutnya melekat pada perempuan: kelembutan, kemampuan mengayomi, dan kekuatan mental.
Ia menghubungkan gambaran itu dengan puisi Robert Frost, The Silken Tent, yang mengibaratkan perempuan sebagai tenda sutra di tengah padang. Nuriadi mengutip bagian puisi tersebut:
“She is as in a field a silken tent
At midday when a sunny summer breeze
Has dried the dew and all its ropes relent,
So that in guys it gently sways at ease…”
Bagi Nuriadi, gambaran perempuan sebagai “tenda sutra” bukan sekadar metafora tentang kelembutan. Ada kekuatan yang menopang kelembutan tersebut. Tenda itu dapat bergoyang diterpa angin, tetapi tetap berdiri karena memiliki tiang penyangga yang kokoh.
Ia kemudian melanjutkan dengan bagian lain dari puisi Frost:
“And its supporting central cedar pole,
That is its pinnacle to heavenward…”
Menurut Nuriadi, perempuan adalah sosok yang lembut sekaligus memiliki kekuatan untuk tetap tegak. Ketika berada di tengah kehidupan yang penuh tekanan, kelembutan bukan berarti ketidakberdayaan. Justru di dalam kelembutan itu terdapat daya tahan, keyakinan, dan keteguhan.
“Dia perempuan itu bagaikan tenda sutra di tengah padang yang terik. Di tengah siang bolong, ketika angin musim panas bertiup, tempat laki-laki bernaung di situ adalah di tenda sutra yang lembut. Ketika suasana lagi terik, maka akan terasa sejuk, dan ketika suasana lagi dingin, maka akan terasa hangat. Itulah perempuan,” ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.
Bagi Nuriadi, kekuatan perempuan bukan semata-mata terletak pada kemampuan menghadapi keadaan secara keras, melainkan pada kemampuannya mempertahankan keteguhan di tengah perubahan. Seperti tenda sutra dalam puisi Frost, ia tampak lembut, tetapi memiliki tiang yang membuatnya tetap berdiri.
Dari sana, Nuriadi menggunakan gagasan Leo Marx dalam The Machine in the Garden untuk membaca gerak dari sesuatu yang kecil menuju sesuatu yang lebih besar. Nine dibaca sebagai lingkup personal, Inaq sebagai lingkup keluarga, sementara Ine bergerak menuju tanggung jawab sosial yang lebih luas.
“Dalam tafsir saya, buku ini ingin menampilkan ‘Nine, Inaq, Ine’ dari sisi peran dan tanggung jawab seorang perempuan. Jadi, ‘Nine’ itu perannya dalam konteks yang kecil, ‘Inaq’ itu dalam keluarga, dan ‘Ine’ itu dalam konteks peran dan tanggung jawabnya dalam masyarakat yang luas,” tutur Nuriadi.
Pembacaan itu menjadikan perempuan bukan sekadar sosok yang dibicarakan, melainkan subjek yang terus bergerak dari ruang personal menuju ruang sosial. Dari dirinya sendiri, kepada keluarga, kemudian kepada masyarakat dan bahkan suku bangsa.
Pada titik ini, kelembutan tidak lagi berarti kelemahan. Nuriadi justru melihat perempuan memiliki kekuatan mental yang membuatnya mampu berdiri tegak menghadapi perubahan dan tekanan zaman.
“Dia bisa kuat itu gara-gara keyakinan di dalam dirinya, keyakinan, keteguhan, keimanan seorang perempuan untuk tetap tegak, apa pun angin yang di luar, dia tetap tegak. Di situ kuatnya perempuan,” katanya.
Dan barangkali di situlah makna paling dalam dari Nine, Inaq, Ine: perempuan tidak hanya dibaca dari tubuh dan kodrat biologisnya, tetapi dari peran, daya tahan, pengabdian, dan tanggung jawabnya yang terus membesar.
Perempuan bisa lembut, tetapi bukan berarti lemah. Ia dapat memiliki sisi feminin sekaligus kekuatan yang secara konvensional dianggap maskulin. Karena itu, Nuriadi menutup pemikirannya dengan satu penegasan tentang relasi laki-laki dan perempuan.
“Perempuan yang posisinya secara feminis itu adalah dia bukanlah mainan laki-laki, tetapi partnernya bagi laki-laki,” tegasnya mengutif Elizabeth Chandler.
Dari sebuah “buku kecil”, dengan demikian, terbuka bangunan pemikiran yang jauh lebih besar: tentang manuskrip dan sejarah, sastra dan realitas, perempuan dan kebudayaan, serta tentang bagaimana masa lalu seharusnya tidak sekadar disimpan sebagai warisan, tetapi dibaca kembali sebagai cermin dan lampu bagi kehidupan hari ini. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































