Oleh Lalu Suryadi Mulawarman – Kepala Taman Budaya Prov. NTB
CERAKEN.ID — Bagi masyarakat Sasak, begawe bukan sekadar kegiatan berkumpul. Di dalamnya terdapat semangat kebersamaan, gotong royong, perjumpaan, dan kegembiraan yang lahir dari kesediaan banyak orang untuk mengambil bagian dalam sebuah perhelatan.
Dalam semangat itulah Begawe Beleq Festival 2026 akan berlangsung pada 21 hingga 25 Agustus 2026, menghadirkan sebuah ruang perayaan yang mempertemukan budaya, kreativitas, ekonomi lokal, hiburan, dan kekuatan komunitas. Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat mengambil bagian dalam ikhtiar ini dengan menghadirkan seni sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu, kehidupan hari ini, dan kemungkinan masa depan.
Festival ini menjadi penting karena kebudayaan tidak seharusnya hanya disimpan sebagai ingatan. Kebudayaan harus terus dihidupkan, dipertemukan dengan masyarakat, diberi ruang untuk tumbuh, serta dibaca kembali dalam konteks zaman yang terus berubah.
Melalui Begawe Beleq Festival, masyarakat tidak hanya diajak datang untuk menyaksikan sebuah acara, tetapi juga menjadi bagian dari sebuah perayaan bersama.
Panggung Budaya sebagai Ruang Perjumpaan
Kehadiran Taman Budaya NTB dalam Begawe Beleq Festival merupakan bagian dari upaya untuk terus membuka ruang apresiasi bagi seni dan kebudayaan. Panggung hiburan yang disiapkan dalam festival ini akan menjadi tempat bertemunya berbagai ekspresi, mulai dari pertunjukan seni budaya, musik, tari, hingga penampilan talenta-talenta lokal.
Seni, dalam konteks ini, bukan sekadar tontonan. Seni adalah cara masyarakat menyampaikan pengalaman, membaca lingkungan, mengingat sejarah, serta membangun percakapan dengan sesamanya. Karena itu, panggung budaya harus menjadi ruang yang terbuka, tempat tradisi dan kreativitas kontemporer dapat saling menyapa.
Taman Budaya NTB memandang festival sebagai ruang yang strategis untuk memperluas perjumpaan antara karya dan masyarakat. Kesenian akan menemukan maknanya yang lebih luas ketika ia tidak hanya hadir di ruang-ruang tertentu, tetapi juga menjadi bagian dari denyut kehidupan publik.
Begawe Beleq Festival memberi kesempatan kepada masyarakat untuk melihat bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir dalam musik, gerak tari, bahasa, kerajinan, kuliner, cara berkumpul, serta dalam semangat untuk saling bekerja bersama.
Kreativitas yang Menggerakkan Ekonomi Lokal
Perayaan kebudayaan juga memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan ekonomi masyarakat. Begawe Beleq Festival menghadirkan Bazar UMKM yang menjadi ruang promosi bagi berbagai produk unggulan lokal, mulai dari kuliner, kerajinan, hingga produk-produk kreatif lainnya.
Di sini, kebudayaan dan ekonomi tidak ditempatkan sebagai dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya justru dapat saling menguatkan. Kreativitas masyarakat melahirkan produk, sementara produk membawa serta cerita, identitas, keterampilan, dan pengetahuan lokal yang tumbuh dari lingkungan tempat masyarakat itu hidup.
UMKM, pelaku ekonomi kreatif, seniman, dan perajin memiliki peran penting dalam membangun ekosistem kebudayaan yang hidup. Ketika sebuah karya mendapat ruang untuk dipertemukan dengan masyarakat, maka di sana terbuka peluang bagi tumbuhnya pasar, jejaring, dan keberlanjutan ekonomi.
Begawe Beleq Festival karena itu tidak hanya dirancang sebagai sebuah keramaian sesaat. Festival ini diharapkan mampu menjadi ruang yang memberikan dampak nyata, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya. Masyarakat datang untuk menikmati pertunjukan, tetapi pada saat yang sama mereka juga dapat mengenal dan mendukung produk-produk lokal.
Inilah salah satu kekuatan sebuah festival: ia menciptakan perjumpaan. Perjumpaan antara pembuat karya dan penikmatnya, antara pelaku UMKM dan konsumen, antara komunitas dan masyarakat, serta antara berbagai gagasan yang mungkin sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.
Community Hub dan Masa Depan Kolaborasi
Selain bazar dan panggung hiburan, Begawe Beleq Festival juga menghadirkan Community Hub sebagai ruang interaksi dan kolaborasi. Komunitas, organisasi, dan para pelaku kreatif diberi kesempatan untuk bertemu, berbagi gagasan, memperluas jejaring, serta menampilkan berbagai aktivitas dan karya.
Keberadaan ruang seperti ini menjadi semakin penting di tengah berkembangnya ekonomi kreatif dan meningkatnya peran komunitas dalam kehidupan sosial masyarakat. Banyak gagasan besar justru lahir dari perjumpaan sederhana: dari percakapan, pertukaran pengalaman, dan keberanian untuk membangun kerja bersama.
Taman Budaya NTB melihat komunitas sebagai salah satu energi penting dalam perkembangan kebudayaan. Komunitas adalah ruang tempat kreativitas tumbuh secara organik. Di sana terdapat anak-anak muda, seniman, pegiat budaya, pelaku usaha, serta berbagai kelompok masyarakat yang memiliki perhatian dan kegelisahan terhadap lingkungan sekitarnya.
Karena itu, Begawe Beleq Festival dapat menjadi titik temu bagi berbagai kekuatan tersebut. Pemerintah, dunia usaha, sponsor, pelaku UMKM, komunitas, seniman, dan masyarakat dapat berada dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Kolaborasi semacam ini diperlukan agar kebudayaan tidak berjalan sendiri. Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Demikian pula ekonomi kreatif memerlukan ruang, akses, promosi, dan jejaring agar dapat berkembang secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, sebuah festival akan meninggalkan kesan yang lebih kuat apabila yang dibawanya tidak berhenti ketika panggung dibongkar dan lampu-lampu dipadamkan. Yang lebih penting adalah apa yang tumbuh setelahnya: jejaring baru, kerja sama baru, pasar baru, gagasan baru, dan kesadaran baru tentang pentingnya menjaga identitas budaya sekaligus membuka diri terhadap perkembangan zaman.
Begawe Beleq Festival 2026, yang berlangsung selama lima hari, 21–25 Agustus, menjadi kesempatan untuk merayakan kekayaan itu secara bersama-sama. Kata beleq, yang berarti besar, tidak semata-mata menunjuk pada ukuran sebuah acara. Kebesaran sesungguhnya justru terletak pada besarnya ruang yang dibuka bagi masyarakat untuk ikut terlibat.
Ketika seniman diberi panggung, UMKM diberi ruang, komunitas dipertemukan, dan masyarakat datang untuk menikmati sekaligus mengambil bagian, maka festival tidak lagi hanya menjadi agenda. Ia berubah menjadi sebuah gerakan kebersamaan.
Taman Budaya Provinsi NTB hadir dalam semangat tersebut: menjaga agar kebudayaan tetap hidup, memberi ruang bagi kreativitas untuk berkembang, serta memastikan bahwa seni tetap memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat.
Sebab kebudayaan yang hidup bukan hanya kebudayaan yang dikenang. Kebudayaan yang hidup adalah kebudayaan yang dirayakan, dikerjakan bersama, diwariskan, dan terus diberi kemungkinan untuk tumbuh.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari sebuah begawe beleq: sebuah perayaan besar yang tidak hanya mengumpulkan banyak orang dalam satu waktu, tetapi juga menyatukan banyak harapan untuk masa depan yang lebih kreatif, berbudaya, inklusif, dan berdaya.(*)
Editor : ceraken editor



























































