CERAKEN.ID — Soft launching dan bedah Buku Kecil Nine, Inaq, Ine: Kualitas Perempuan Sasak Berdasarkan Manuskrip Takepan Megantaka karya Lalu Agus Fathurrahman, Senin malam (17/8/2026), di Taman Kapitan Ampenan, Mataram, tidak berhenti sebagai perayaan kelahiran sebuah buku.
Di ruang yang mempertemukan akademisi, seniman, penulis, dan pegiat kebudayaan itu, tiga kata yang akrab dalam kehidupan masyarakat Sasak—Nine, Inaq, dan Ine—berubah menjadi pintu masuk bagi perdebatan tentang perempuan, bahasa, sejarah, kodrat, konstruksi sosial, hingga kemungkinan asal-usul sebuah kata. Diskusi yang dipandu Murachim, M.Pd., dengan AS. Rosyid sebagai editor, semakin hidup ketika sejumlah penanggap ikut masuk ke gelanggang pemikiran.
Hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Nuriadi Sayip, Guru Besar Sastra dan Budaya Universitas Mataram, serta Muh. Syahrul Qadri, M.A., akademisi-seniman dan ahli sastra pertunjukan. Keduanya datang dengan sudut pandang berbeda, tetapi justru dari perbedaan itulah buku kecil karya Lalu Agus Fathurrahman menemukan ruang dialognya.
Buku yang bertolak dari pembacaan terhadap manuskrip Takepan Megantaka itu seakan membuka kembali pertanyaan lama: bagaimana masyarakat Sasak memberi nama, menempatkan, dan membayangkan perempuan dalam kehidupan kebudayaannya?
Tiga Kata, Tiga Pintu Pemaknaan
Mamiq Rahmat menjadi salah seorang penanggap yang menangkap uraian para pembicara sebagai sebuah perjalanan dari kodrat menuju peran dan posisi. Baginya, pembacaan terhadap Nine, Inaq, dan Ine dapat membantu melihat kualitas perempuan Sasak tidak hanya sebagai persoalan jenis kelamin, tetapi juga sebagai perjalanan sosial dan kultural.
“Saya menangkap kesimpulan bahwa Nine itu adalah kodrat, Inaq adalah fungsi, dan Ine adalah posisi. Coba direnungkan,” ujar Mamiq Rahmat.
Menurutnya, Nine dapat dibaca sebagai keberadaan perempuan dalam kodratnya. Sementara Inaq menghadirkan proses pengambilan tanggung jawab, tempat cinta dan pengasuhan diteguhkan. Dari sana, kata Ine bergerak ke wilayah yang lebih luas: sebuah posisi besar yang tidak selalu lagi menunjuk secara sempit pada jenis kelamin.
Mamiq Rahmat menunjuk sejumlah istilah dalam khazanah Sasak seperti Inen Paer, Inen Bangket, dan Inen Gawe. Sebutan-sebutan itu, menurutnya, memperlihatkan bagaimana kata Ine dapat menjadi simbol sesuatu yang besar, tempat bernaung, sekaligus penanda kebanggaan.
“Kita telah dinaungi oleh istilah itu di Sasak ini. Ada Ine yang sangat besar meskipun itu tidak lagi memperlihatkan gendernya, tidak memperlihatkan lagi jenis kelaminnya,” katanya.
Di titik itu, Ine tidak lagi sekadar kata yang menunjuk perempuan. Ia menjadi metafora tentang kebesaran, tujuan, harapan, dan imajinasi. Sebuah kata yang dalam perjalanan sosialnya dapat melampaui tubuh biologis dan masuk ke dalam ruang simbolik kebudayaan.
Geger dan Dugaan Jejak Etimologis
Diskusi kemudian bergerak ke medan yang lebih tajam ketika Geger menyampaikan dugaan etimologisnya. Ia mengapresiasi Lalu Agus Fathurrahman karena, menurutnya, penulisan buku tersebut merupakan upaya meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya.
“Terima kasih kepada Miq Tuan Lalu Agus Fathurrahman yang sudah meluangkan waktu untuk menulis, agar generasi ke depan itu tidak kehilangan jejak. Bagi saya, ini jejak historis,” ujar Geger.
Namun, ia juga merasa pembicaraan tentang asal-usul kata Nine, Inaq, dan Ine masih dapat “berenang” lebih jauh. Ia menawarkan dugaan bahwa ketiga kosakata tersebut mungkin memiliki hubungan genealogis dengan kata-kata lain, termasuk kemungkinan relasi antara binti, betina, dan bentuk-bentuk bahasa yang berkembang dalam rumpun Melayu maupun bahasa lain.
“Saya curiga, meskipun belum pada kesimpulan final, itu merupakan turunan dari kata betina,” katanya.
Geger menekankan bahwa gagasannya belum merupakan kesimpulan ilmiah final. Ia justru membuka kemungkinan bahwa bahasa Sasak, seperti bahasa-bahasa lain, terbentuk melalui perjumpaan panjang antarmanusia, migrasi, dan pertukaran kebudayaan.
Dugaan itu menjadi menarik justru karena langsung mendapat tanggapan kritis dari para pembicara. Bedah buku pun berubah menjadi ruang tempat hipotesis diuji, bukan sekadar diterima.
Nature, Nurture, dan Konstruksi Menjadi Perempuan
Prof. Dr. Nuriadi Sayip mengapresiasi kedua penanggap, tetapi mengajak diskusi kembali pada landasan teoritis yang lebih hati-hati. Ia menyebut, dalam teori feminisme, terdapat dua istilah penting yang dapat membantu membaca persoalan perempuan: nature dan nurture.
“Ketika kita bicara tentang perempuan yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Sasak menjadi Nine, maka kata Nine itu mengacu pada keberadaan perempuan dalam sisi nature, sudah alamiah secara biologis seperti itu,” ujar Prof. Nuriadi.
Sementara itu, Inaq dan Ine, menurutnya, dapat dibaca dalam hubungan dengan nurture, yakni sesuatu yang dibentuk melalui konstruksi sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak hanya lahir ke dalam identitas, tetapi juga dididik, diarahkan, dan ditempatkan melalui nilai-nilai yang terus-menerus diwariskan masyarakat.
“Perempuan untuk menjadi Inaq itu karena konstruksi sosial. Sejak kecil memang dididik seperti itu, nurture, dididik terus-menerus untuk jadi perempuan,” katanya.
Ia bahkan memberikan contoh sederhana tentang bagaimana konstruksi sosial bekerja sejak usia dini, termasuk melalui jenis permainan dan simbol-simbol yang dilekatkan kepada anak.
“Lamun dengan nine boneka yang jadi hadiahnya. Lamun dengan mame hadiahnya pistol. Karena konstruksi sosial, dikonsumsi secara sosial seperti itu terus dan akhirnya terbentuk,” ujarnya.
Prof. Nuriadi juga menanggapi pembacaan Mamiq Rahmat tentang fungsi dan posisi. Menurutnya, dalam perspektif antropologi sosial, konsep “peran” sesungguhnya telah mencakup tiga unsur penting: fungsi, posisi, dan tanggung jawab.
“Di balik kata peran ada tiga indikator atau variabel yang harus ada melekat di dalam dirinya,” katanya.
Karena itu, bagi Prof. Nuriadi, Inaq dan Ine dapat dibaca bukan sebagai dua kategori yang sepenuhnya terpisah, melainkan sebagai bagian dari jaringan peran sosial yang mengandung fungsi, posisi, sekaligus tanggung jawab.
Menolak Lompatan, Membuka Kajian
Terhadap dugaan Geger mengenai kemungkinan hubungan Nine, Inaq, dan Ine dengan kata betina atau binti, Prof. Nuriadi memilih sikap akademik yang tegas: sebuah kemungkinan etimologis membutuhkan dasar dan pembuktian yang memadai.
“Saya tidak berani mengatakan bahwa ini adalah turunan dari betina. Kemudian itu berasal dari binti, saya tidak punya dasar untuk mengatakan lompatan berpikir seperti itu. Secara ilmiah pertanggungjawaban saya berat kalau untuk mengatakan itu,” ujarnya.
Ia tidak menutup ruang diskusi, tetapi membedakan antara dugaan yang masih membutuhkan penelitian dengan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Kalau untuk cocokologi, boleh-boleh saja begitu,” katanya, sembari menegaskan perlunya studi lebih mendalam tentang hubungan bahasa, sejarah migrasi, dan perkembangan kebudayaan.
Bagi Prof. Nuriadi, salah satu hal yang lebih kuat secara data adalah keberadaan penggalan “in” yang menurutnya muncul dalam banyak kosakata di Nusantara dan berkaitan dengan karakter yang dilekatkan kepada perempuan.
“Poin saya adalah saya ingin menguatkan bahwa penggalan ‘in’ itu berlaku di hampir semua suku bangsa di Indonesia, di Nusantara. Saya berani dengan data yang saya pegang, karena ‘in’ itu penanda sifat karakter yang dimiliki oleh perempuan, yaitu ada lembut, ada sikap mengayomi dan kuat secara mental,” katanya.
Di sisi lain, Muh. Syahrul Qadri mengingatkan bahwa buku yang sedang dibedah itu baru lahir. Tidak semua orang telah membacanya secara utuh, sehingga diskusi malam itu, menurutnya, memang baru berfungsi sebagai pemantik.
“Buku ini baru lahir. Jadi, tidak semua orang sudah membacanya. Kalau misalnya kita mau mendiskusikan buku ini, mungkin akan sulit hanya satu arah. Sehingga di sinilah fungsinya pemantik,” ujar Syahrul.
Ia menjelaskan bahwa dirinya menawarkan pembacaan dari sudut dekolonial: sebuah usaha untuk melihat kembali diri sendiri melalui bahasa dan cara pandang sendiri. Bagi Syahrul, persoalan pentingnya bukan sekadar menemukan padanan kata dari bahasa lain, tetapi bagaimana masyarakat Sasak dapat berkaca pada dirinya sendiri melalui khazanah bahasanya.
“Terkait dengan tawaran kata betina berasal dari bahasa Arab itu hanya kebetulan semu. Kalau misalnya kita mau “begalur” (diskusi) terkait hal itu, nanti kita mempelajari apa yang disebut dengan linguistik historis komparatif,” katanya.
Syahrul juga menegaskan bahwa kata betina digunakan untuk hewan, bukan manusia, dan karena itu tidak bisa begitu saja dijadikan jembatan untuk menarik kesimpulan tentang asal-usul Nine, Inaq, dan Ine.
“Jangan terlalu merendahlah, bahwa Melayu itu adalah bangsa yang sangat besar pada zamannya,” ujarnya.
Pada akhirnya, malam di Taman Kapitan Ampenan itu memperlihatkan bahwa sebuah buku kecil dapat melahirkan percakapan yang jauh lebih besar daripada ukuran fisiknya.
Nine, Inaq, Ine tidak lagi berdiri sebagai tiga kata yang selesai dimaknai dalam satu malam. Ia justru menjadi tiga pintu untuk memasuki persoalan yang lebih luas: tentang perempuan, bahasa, manuskrip, ingatan budaya, konstruksi sosial, dan keberanian untuk menguji kembali apa yang selama ini dianggap sudah mapan.
Perdebatan pun tidak ditutup dengan kemenangan satu pandangan atas pandangan lain. Sebaliknya, perbedaan antara pembacaan kodrat, fungsi, posisi, peran, konstruksi sosial, hingga dugaan etimologis menjadi tanda bahwa khazanah budaya Sasak masih menyediakan ruang luas untuk ditelusuri.
Buku kecil itu telah diluncurkan. Namun, tampaknya, perjalanannya baru saja dimulai. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































