Oleh: Lalu Suryadi Mulawarman – Kepala Taman Budaya Provinsi NTB
CERAKEN-ID — Mandalika tidak hanya sedang tumbuh sebagai kawasan pariwisata dan ruang pertemuan dunia. Di tengah geliat pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) The Mandalika, ada satu hal yang tidak boleh tertinggal: kebudayaan.
Sebab, sebuah kawasan yang hendak dikenal dunia tidak cukup hanya membangun jalan, hotel, sirkuit, dan berbagai fasilitas modern. Kawasan itu juga harus memiliki jiwa, identitas, serta cerita yang membedakannya dari tempat lain.
Dari kesadaran itulah, Mandalika Art & Culture Performance (MACP) hadir sebagai ruang perjumpaan antara seni, budaya, masyarakat, dan masa depan. Program atraksi seni dan budaya rutin di KEK The Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat ini diluncurkan oleh ITDC atau InJourney Tourism Development Corporation, bekerja sama dengan Taman Budaya Provinsi NTB serta masyarakat sekitar, pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
MACP menjadi lebih dari sekadar pertunjukan. Ia adalah langkah untuk membawa seni tradisi keluar dari ruang-ruang yang selama ini mungkin terasa terbatas, kemudian mempertemukannya dengan publik yang lebih luas, dengan dunia pariwisata, dengan perkembangan zaman, dan yang terpenting, dengan generasi yang akan menjadi pewarisnya.
Ketika Mandalika Memiliki Jiwa
Kawasan pariwisata membutuhkan atraksi. Tetapi kebudayaan tidak semestinya diperlakukan hanya sebagai atraksi.
Di dalam kebudayaan terdapat ingatan, nilai, cara pandang, pengetahuan, serta perjalanan panjang sebuah masyarakat. Seni tradisi lahir bukan dalam ruang kosong.
Ia tumbuh dari kehidupan masyarakat, dari hubungan manusia dengan alam, dari sejarah, kepercayaan, kerja, pergaulan, dan berbagai pengalaman kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, ketika seni dan budaya hadir di Mandalika, yang sesungguhnya sedang dibawa ke hadapan publik bukan hanya sebuah tontonan. Ada identitas yang sedang diperkenalkan. Ada akar yang sedang dirawat. Ada cerita tentang Lombok dan Nusa Tenggara Barat yang sedang disampaikan dengan bahasa yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
MACP kemudian menjadi penting karena memberi ruang bagi kebudayaan untuk hadir di tengah perubahan. Mandalika yang terus bergerak sebagai kawasan pariwisata internasional memerlukan identitas yang kuat. Dan identitas itu tidak bisa dibangun hanya dengan menghadirkan sesuatu dari luar.
Justru kekuatan terbesar Mandalika harus bertumpu pada apa yang tumbuh dari tanahnya sendiri.
Tradisi Tidak Harus Berhenti di Masa Lalu
Tantangan terbesar kebudayaan hari ini bukan sekadar bagaimana melestarikannya, tetapi bagaimana membuatnya tetap hidup.
Tradisi yang hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu berpotensi kehilangan ruang dalam kehidupan generasi baru. Sebaliknya, tradisi yang mampu berdialog dengan perkembangan zaman memiliki kesempatan untuk terus tumbuh, mengalami pembaruan, dan menemukan bentuk-bentuk ekspresi baru tanpa harus kehilangan akar dan nilai dasarnya.
Harapan kita, MACP dapat menjadi ruang dan langkah awal untuk terus berkontribusi dalam mengenalkan, melestarikan, dan mengembangkan seni tradisi menjadi karya-karya baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Dengan demikian, seni tradisi tidak ditinggalkan. Ia justru dapat bergerak bersama zaman dan memberi dampak positif bagi generasi emas Lombok di masa yang akan datang.
Di sinilah diperlukan keberanian untuk melakukan pembacaan baru terhadap tradisi. Bukan untuk menghilangkan bentuk asalnya, melainkan untuk membuka kemungkinan-kemungkinan baru.
Musik tradisi dapat berdialog dengan bunyi-bunyi kontemporer. Tari dapat menemukan pola penyajian yang lebih komunikatif. Cerita rakyat dapat diterjemahkan melalui medium visual, pertunjukan, teknologi, bahkan berbagai bentuk seni kekinian.
Kebudayaan yang hidup adalah kebudayaan yang mampu berdialog.
Anak-Anak Tradisi, Corong Masa Depan
Pengalaman yang paling berharga dan memiliki nilai tinggi sesungguhnya terjadi ketika anak-anak tradisi tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku dan bagian dari perkembangan seni kekinian.
Merekalah yang kelak menjadi corong seni dan budaya di masa depan.
Ketika generasi muda diberi ruang untuk tampil, berproses, bereksperimen, dan menafsirkan kembali warisan budayanya, maka proses pewarisan sedang berlangsung dengan cara yang lebih hidup. Mereka tidak sekadar menerima tradisi sebagai sesuatu yang harus dijaga, tetapi mengalami sendiri tradisi itu sebagai bagian dari identitas dan ruang kreatif mereka.
“Pengalaman yang paling berharga dan bernilai tinggi adalah ketika anak-anak tradisi menjadi pelaku dan bagian dari seni kekinian. Karena merekalah corong seni budaya di masa yang akan datang,” demikian keyakinan yang harus terus kita tumbuhkan bersama.
MACP dapat menjadi salah satu ruang penting bagi proses tersebut. Pertemuan antara seniman, pelaku budaya, masyarakat sekitar, generasi muda, dan wisatawan membuka kemungkinan terjadinya pertukaran pengalaman dan gagasan.
Dari panggung-panggung seperti inilah mungkin akan lahir generasi baru yang tidak merasa asing dengan budayanya sendiri. Generasi yang mampu memainkan alat musik tradisi, menari, bercerita, mencipta, sekaligus memahami bagaimana warisan tersebut dapat berbicara kepada dunia.
Sinergi untuk NTB Makmur Mendunia
Tidak ada satu lembaga atau satu kelompok yang dapat memikul tugas kebudayaan sendirian. Pelestarian dan pengembangan seni budaya membutuhkan sinergi dan kolaborasi dari semua pihak.
Pemerintah, dunia usaha, pelaku pariwisata, seniman, budayawan, komunitas, masyarakat, lembaga pendidikan, hingga generasi muda harus memiliki kesadaran dan misi yang sama: menjadikan kebudayaan sebagai salah satu pilar pembangunan.
Kolaborasi ITDC, Taman Budaya Provinsi NTB, dan masyarakat sekitar dalam MACP menjadi contoh bahwa kebudayaan dapat tumbuh ketika semua pihak membuka ruang untuk bekerja bersama.
Sinergi menjadi kata kunci.
Bukan sekadar kerja sama dalam menyelenggarakan sebuah kegiatan, tetapi membangun kesadaran bersama bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai bagian penting dari masa depan daerah. Kebudayaan bukan pelengkap pembangunan. Ia adalah fondasi yang memberi arah, identitas, dan karakter terhadap pembangunan itu sendiri.
“Sinergi dan kolaborasi semua pihak menjadi kata kunci untuk bersama-sama memiliki misi menjadikan kebudayaan sebagai pilar dan garda terdepan dalam mewujudkan NTB Makmur Mendunia,” menjadi semangat yang perlu terus dirawat.
MACP, tentu, bukan akhir dari sebuah perjalanan. Justru ia dapat menjadi awal dari langkah yang lebih panjang. Sebuah ruang untuk terus bereksperimen, mempertemukan tradisi dan kekinian, melibatkan masyarakat, serta membuka kesempatan seluas-luasnya bagi generasi muda untuk menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan.
Dari Mandalika, seni dan budaya NTB dapat terus bergerak.
Bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan.
Bukan hanya untuk dipertontonkan, tetapi untuk dipahami.
Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang akan datang.
Sebab pada akhirnya, masa depan kebudayaan tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat kita menjaga warisan masa lalu. Masa depan kebudayaan juga ditentukan oleh keberanian kita memberi ruang kepada generasi hari ini untuk merawat, menafsirkan, dan menciptakan masa depannya sendiri.
Dan mungkin, dari panggung-panggung MACP di Mandalika, perjalanan itu sedang dimulai.(*)
Editor : ceraken editor



























































