CERAKEN.ID — Ada kalanya sebuah lukisan tidak sekadar dilihat, tetapi dialami. Ia bekerja perlahan, menyentuh ruang yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh bahasa.
Jumat malam, 17 Juli 2026, di Rplay Lombok EUM Space, suasana semacam itu terasa ketika sejumlah pengunjung larut memaknai karya-karya dalam Pameran Tunggal Kosmologi karya perupa I Nyoman Sandiya. Di antara puluhan karya yang dipamerkan, satu lukisan berjudul White Dhoped diam-diam menjadi pusat perhatian.
Bukan karena ukurannya yang besar atau warna-warnanya yang mencolok, melainkan karena kesunyian yang dipancarkannya.
Matahari di Tengah Sunyi Semesta
Aliyah Mutmainnah, seorang Tenaga Teknis Kefarmasian, berdiri cukup lama di depan lukisan kanvas berukuran 60 x 80 sentimeter itu. Baginya, lingkaran putih yang memenuhi bidang lukis menyerupai matahari yang baru lahir di tengah kehampaan.
“Ada banyak karya I Nyoman Sandiya yang memanjakan mata sekaligus memantik pikiran saya. Namun White Dhoped benar-benar memikat perhatian. Rasanya seperti dibawa ke awal penciptaan,” ujarnya.
Ia melihat lingkaran putih itu sebagai simbol yang memancarkan dua hal sekaligus: ketenangan dan energi yang besar.
“Bagi saya ini bukan sekadar gambar matahari, tetapi simbol harapan dan pusat dari segala harmoni. Lingkaran putih itu seperti simbol keabadian dalam spiritual. Pelukis berhasil menerjemahkan luasnya semesta menjadi sebuah karya yang sangat menyentuh jiwa,” katanya.
Pengalaman Aliyah memperlihatkan bagaimana karya seni tidak selalu membutuhkan penjelasan yang rumit. Kadang, sebuah bentuk sederhana justru mampu membuka ruang tafsir yang luas dalam diri penikmatnya.

Perjalanan Panjang Mencari Jati Diri
Bagi perupa M. Satarudin, kekuatan karya-karya Sandiya terletak pada kedalaman penghayatannya terhadap alam. Menurutnya, tidak semua orang mampu menerjemahkan apa yang dilihat dan dirasakan menjadi bahasa visual yang utuh.
“Luar biasa pemahaman I Nyoman Sandiya tentang alam. Apa yang dia lihat, apa yang dia perhatikan, dan apa yang dia rasakan, bisa diungkapkan dalam kesehariannya dan dituangkan ke atas kanvas,” ujarnya.
Satarudin mengaku baru mengenal Sandiya beberapa tahun terakhir. Namun dalam rentang waktu itu, ia melihat seorang perupa yang terus bekerja dalam diam, menggali identitas artistiknya sendiri.
“Ada jejak perjalanan panjang, penghayatan, dan pengalaman yang luas, dari Bali hingga ke Lombok. Dua hingga tiga tahun terakhir saya melihat beliau terus berproses menggali jati diri hingga akhirnya menghadirkan pameran tunggal bertajuk Kosmologi ini,” katanya.
Konsistensi tersebut sesungguhnya bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Sejak sekitar tahun 2004, Sandiya telah menempuh perjalanan kreatif yang panjang. Dalam rentang lebih dari dua dekade, ia terus menekuni idiom visual yang berangkat dari perenungan terhadap alam, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan semesta.
Di tengah kecenderungan sebagian perupa untuk terus berpindah gaya demi mengikuti tren, Sandiya justru memilih jalur yang lebih sunyi: bertahan pada pencarian batinnya sendiri.
Kosmologi sebagai Percakapan tentang Manusia
Kekaguman terhadap konsistensi itu juga disampaikan oleh perupa otodidak Mawardi. Meski berlatar belakang teknik sipil dan lama bekerja di proyek-proyek konstruksi, kecintaannya pada seni membuatnya cukup peka membaca proses kreatif seorang perupa.
“Saya mengikuti karya-karya beliau dari berbagai kesempatan. Setelah mendapat penjelasan langsung, saya melihat reliefnya, teksturnya, detail garis dan warna yang sangat teliti. Maknanya dalam sekali,” ujarnya.

Menurut Mawardi, yang membuat karya-karya Sandiya istimewa bukan hanya aspek teknis, tetapi kemampuannya mempertahankan karakter visual yang khas.
“Ciri khas lukisannya itu sangat khusus. Beliau tidak tergoda untuk berpindah ke aliran lain. Mungkin itu sudah menjadi habitat artistiknya. Sangat konsisten,” katanya.
Konsistensi itu menemukan bentuknya dalam Kosmologi. Namun, sebagaimana diungkapkan Sandiya, pameran ini sesungguhnya bukan tentang benda-benda langit.
“Kosmologi bukan tentang bintang, juga bukan tentang planet. Ini tentang kita, tentang tangan yang mencipta, tentang hati yang menunggu seperti Blue Moon, dan tentang jiwa yang akhirnya berani berenang di orbitnya sendiri,” ujar Sandiya.
Pernyataan itu menjadi pintu masuk untuk memahami keseluruhan pameran. Karya Yang Mencipta berbicara tentang keberanian menerima kekacauan dan tetap memilih menjaga kehidupan. Blue Moon menghadirkan renungan tentang momen langka, harapan, dan waktu yang terus berputar, bahkan menjadi penanda bagi para petani dalam membaca musim tanam.
Sementara Berenang di Orbit mengajak manusia mempercayai arus kehidupan dan menerima bahwa tidak semua hal harus dikendalikan.
“Saya percaya akhir bukanlah kehancuran. Akhir adalah cara lain untuk mulai lagi. Seperti Big Bang, Big Crunch, Big Freeze, atau Big Rip. Semua itu hanya nama lain dari proses kita bertumbuh,” katanya.
Kalimat itu terasa seperti simpulan dari seluruh perjalanan artistik Sandiya: bahwa semesta tidak hanya berada di luar diri manusia, tetapi juga berdiam di dalamnya.
Pameran Tunggal Kosmologi yang berlangsung hingga 13 Agustus 2026 di Rplay Lombok EUM Space pada akhirnya menjadi ruang perenungan bersama. Ia mengajak publik berjalan lebih pelan, melihat lebih dalam, dan menyadari bahwa manusia sesungguhnya adalah bagian kecil dari semesta yang terus bergerak.
Dan mungkin, seperti lingkaran putih dalam White Dhoped, setiap manusia sedang mencari mataharinya sendiri; pusat cahaya yang menuntun mereka untuk tetap bertumbuh, meski berada di tengah sunyinya semesta. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































