CERAKEN.ID — Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Nusa Tenggara Barat pada Jum’at malam, 26 Juni 2026, menghadirkan suasana yang berbeda dari biasanya. Tidak terdengar riuh konser musik populer yang identik dengan teriakan penonton atau dentuman keras instrumen elektronik.
Sebaliknya, ruangan dipenuhi antusiasme ratusan penikmat musik yang datang untuk menikmati Chamber Pop Festival 2026: Music Concert, Community Hub, and Pop-up Market. Tiket yang terjual habis menjadi penanda bahwa masyarakat, khususnya generasi muda, mulai membuka diri terhadap bentuk-bentuk pertunjukan musik yang selama ini dianggap eksklusif.
Di tengah semangat itu, kehadiran Bunda Sinta M. Iqbal, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, memberikan makna tersendiri. Ia tidak hanya datang sebagai tamu kehormatan, tetapi juga sebagai sosok yang memberikan dukungan moral terhadap lahirnya ruang-ruang kreatif baru bagi anak muda di Nusa Tenggara Barat.
Menurut Bunda Sinta, festival yang digagas komunitas Pyramid Circle bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan sebuah keberanian menghadirkan wajah baru kebudayaan di daerah.
Keberanian Menghadirkan Wajah Baru Musik NTB
Mengawali sambutannya, Bunda Sinta M. Iqbal menyampaikan apresiasi kepada Pyramid Circle yang selama dua hari, 26–27 Juni 2026, berhasil menyelenggarakan festival dengan konsep yang belum banyak ditemukan di NTB.
“Yang saya salut adalah keberanian dari adik-adik membawa sebuah suasana baru dalam dunia kebudayaan, dunia musik, dunia seni yang ada di Nusa Tenggara Barat yang saat ini ada di Kota Mataram,” ungkap Bunda Sinta.
Bagi Bunda Sinta, keberanian tersebut menjadi modal penting dalam perkembangan ekosistem seni daerah. Inovasi yang dilakukan generasi muda membuktikan bahwa kreativitas tidak selalu harus mengikuti pola-pola lama.
Justru dari keberanian mencoba sesuatu yang berbeda, lahir pengalaman baru yang memperkaya wajah kebudayaan NTB.

Ia kemudian berbagi pengalaman pribadi ketika mendampingi suaminya, Lalu Muhamad Iqbal, bertugas di Wina, Austria, sebuah kota yang dikenal sebagai salah satu pusat musik klasik dunia.
“Bunda itu dulu pernah menemani Mamiq bertugas di Wina, Austria, tempatnya orkestra. Jadi saat saya mendapatkan informasi tentang kegiatan ini, bayangan saya seperti orkestra-orkestra yang ada di film-film, pakai gaun yang sangat formal. Saya bahkan sempat berpikir, apakah saya harus memakai kebaya?” ujarnya disambut tawa hadirin.
Namun sesampainya di lokasi, persepsinya berubah. Konsep chamber pop yang dihadirkan ternyata mampu memadukan unsur orkestra dengan pendekatan yang lebih santai, akrab, dan dekat dengan kehidupan generasi muda.
Festival tersebut berhasil mematahkan anggapan bahwa musik orkestra hanya dapat dinikmati kalangan tertentu.
Seni Milik Semua Kalangan
Dalam pandangan Bunda Sinta, salah satu kekuatan terbesar Chamber Pop Festival terletak pada keberhasilannya menghapus sekat antara seni “kelas atas” dengan masyarakat umum.
Ia mengutip pernyataan Kepala Taman Budaya NTB, Miq Surya, yang sebelumnya menyampaikan bahwa musik orkestra selama ini kerap dipersepsikan sebagai seni yang eksklusif.
“Selama ini kesannya high class, hanya untuk orang-orang kelas tertentu. Tetapi hari ini adik-adik Pyramid Circle membuktikan bahwa seni itu sifatnya universal. Seni bisa bersifat umum, bisa dikombinasikan, dan bisa dikreasikan sesuai kreativitas kita semua. Itulah yang sangat saya apresiasi.”
Baginya, kolaborasi antara komunitas kreatif dengan Taman Budaya NTB, Dinas Kebudayaan NTB, dan Dikpora NTB telah menunjukkan bagaimana pemerintah dapat menjadi fasilitator lahirnya ruang-ruang ekspresi baru.
Lebih jauh lagi, festival ini memperlihatkan bahwa masyarakat NTB memiliki minat terhadap pertunjukan musik alternatif yang berkualitas. Habisnya tiket bahkan sebelum acara berlangsung menjadi indikator bahwa pasar terhadap pertunjukan kreatif sebenarnya sudah mulai terbentuk.
Foolish Moon – HUMA (av: aks/ceraken.id)
“Dengan habisnya tiket hari ini, itu menambah nilai plus lagi. Artinya masyarakat kita, khususnya anak-anak muda di NTB, sudah lebih berani keluar dari zona nyaman. Biasanya kita membayangkan konser itu harus jingkrak-jingkrak, tetapi hari ini mereka mau mencoba dunia baru.”
Taman Budaya Menjadi Rumah Kreativitas Anak Muda
Di hadapan ratusan penonton yang memadati Gedung Teater Tertutup, Bunda Sinta menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTB membuka ruang seluas-luasnya bagi komunitas kreatif untuk terus berkarya.
“NTB sangat terbuka untuk segala jenis kreativitas. Taman Budaya ini akan menjadi rumahnya. Silakan berkreasi, silakan membuka kreativitas adik-adik semua. Kami ingin melihat pergerakan dan perubahan yang lahir dari anak-anak muda NTB.”
Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan panjang dari para penonton.
Baginya, keberadaan ruang budaya bukan sekadar bangunan fisik, melainkan tempat bertemunya gagasan, kolaborasi, dan inovasi lintas komunitas.
Ia juga mengaku bahwa Chamber Pop Festival menjadi pengalaman pertamanya menyaksikan konser orkestra dengan konsep seperti ini di Kota Mataram.
“Saya pribadi ini pertama kali menghadiri kegiatan orkestra sejenis di Kota Mataram. Jadi saya sangat penasaran sekali dan sangat antusias untuk melihat sampai selesai.”
Bunda Sinta kemudian menyampaikan salam dari Mamiq Lalu Muhamad Iqbal yang mengikuti perkembangan kegiatan tersebut.
Dermaga Hati – Sangga Boemi (av: aks / ceraken.id)
“Salam juga dari Mamiq Iqbal untuk kegiatan ini. Beliau sempat bertanya, ‘Apa mereka paham ya?’ Saya jawab, ‘Pahamlah, masa tidak paham bikin kegiatan.'”
Menjelang mengakhiri sambutannya, Bunda Sinta kembali mencairkan suasana dengan menceritakan pesan dari anak-anaknya di rumah.
“Saya tadi sudah diingatkan anak-anak di rumah, kalau Bunda memberi sambutan jangan panjang-panjang, karena mereka bukan mau melihat Bunda sambutan, tapi mau menonton musik. Betul, anak-anak?”
Serentak para penonton menjawab, “Betul!” disertai tepuk tangan yang memenuhi ruangan.
Senyum pun menghiasi wajah Bunda Sinta sebelum akhirnya menutup sambutannya.
“Sekali lagi selamat untuk adik-adik semua. Semoga acara hari ini menyenangkan dan membuka wawasan baru.”
Malam itu, Chamber Pop Festival tidak hanya memperdengarkan harmoni musik yang memadukan orkestra dengan nuansa pop modern. Festival tersebut juga memperlihatkan bahwa ruang kebudayaan di Nusa Tenggara Barat sedang bergerak menuju babak baru; lebih terbuka, inklusif, dan berani bereksperimen.
Dukungan Pemerintah Provinsi NTB, keberanian komunitas Pyramid Circle, serta antusiasme publik yang memenuhi gedung pertunjukan menjadi bukti bahwa seni memiliki kekuatan menyatukan lintas usia, lintas selera, dan lintas latar belakang.
Di tengah perubahan zaman, Chamber Pop Festival 2026 menjadi penanda bahwa kreativitas anak muda NTB telah menemukan panggungnya sendiri, sementara Taman Budaya semakin meneguhkan perannya sebagai rumah bersama bagi lahirnya karya-karya budaya masa depan. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































