Dari Panggung MTQ ke Panggung Peradaban

- Penulis

Rabu, 10 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Puncak kemeriahan pembukaan hadir melalui Tarian Kolosal Rahmatan Lil Alamin yang melibatkan 300 penari (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id

Puncak kemeriahan pembukaan hadir melalui Tarian Kolosal Rahmatan Lil Alamin yang melibatkan 300 penari (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id

CERAKEN.ID — Langit malam Praya pada Senin (9/6/2026) menjadi saksi dimulainya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Ribuan warga memadati arena utama, menyatu dalam suasana khidmat sekaligus meriah yang menandai pembukaan ajang syiar Islam terbesar di daerah tersebut.

Hadir dalam kesempatan itu Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri, Sekretaris Umum LPTQ Pusat Prof. Dr. H. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri, para bupati dan wali kota se-NTB, unsur Forkopimda, para tuan guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta kafilah dari seluruh kabupaten dan kota di NTB.

Di hadapan ribuan peserta dan masyarakat, Gubernur Iqbal mengajak seluruh elemen daerah menjadikan MTQ tidak sekadar ajang kompetisi membaca Al-Qur’an, melainkan momentum untuk menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Pada saat yang sama, ia juga menegaskan pentingnya membangkitkan kembali kejayaan prestasi Tilawatil Qur’an NTB di tingkat nasional maupun internasional.

MTQ sebagai Energi Kebangkitan

Bagi NTB, MTQ memiliki makna yang lebih luas daripada perlombaan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara syiar keagamaan, pembinaan generasi Qurani, dan penguatan identitas daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung qari dan qariah nasional.

Semangat itu terasa sejak awal pembukaan. Ribuan pasang mata tertuju ke panggung utama yang tidak hanya menampilkan seremoni formal, tetapi juga menghadirkan refleksi tentang perjalanan masyarakat NTB dalam menjaga hubungan antara agama, budaya, dan kehidupan sosial.

Baca Juga :  Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Pesan yang mengemuka malam itu adalah ajakan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dalam membangun daerah. MTQ ditempatkan sebagai titik temu antara prestasi, spiritualitas, dan penguatan karakter masyarakat.

Tarian Kolosal yang Mengisahkan Peradaban

Puncak kemeriahan pembukaan hadir melalui Tarian Kolosal Rahmatan Lil Alamin yang melibatkan 300 penari. Pertunjukan tersebut memadukan seni, budaya, dan pesan-pesan keislaman dalam sebuah narasi visual yang memukau ribuan penonton.

Narasi pembuka yang mengiringi pertunjukan itu mengandung pesan mendalam tentang identitas dan harapan masyarakat NTB.

“Maka datang dan datanglah kembali. Para kafilah Bumi Nusa Tenggara Barat, dari segala penjuru angin. Untuk membangun kembali kejayaan bumi ini.”

Tarian ini memadukan seni, budaya, dan pesan-pesan keislaman dalam sebuah narasi visual yang memukau ribuan penonton (Foto: d’goh / ceraken.id)

Narasi tersebut juga menggambarkan NTB sebagai tanah kelahiran pemimpin-pemimpin yang menghormati ulama, tempat tumbuhnya perempuan-perempuan tangguh, sekaligus ruang hidup yang dibangun dalam semangat moderasi beragama.

“Karena inilah MTQ yang dibangun dengan paradigma keluhuran Moderasi Agama. Disinilah agama adalah nafas selaras alam bagi seluruh ummat manusia.”

Secara artistik, komposisi 250 penari perempuan dan 50 penari laki-laki menghadirkan simbolisme yang kuat. Penari perempuan merepresentasikan alam, bumi, air, dan sumber kehidupan yang terus melahirkan serta memelihara keberlangsungan dunia.

Sementara penari laki-laki dimaknai sebagai manusia yang memikul amanah sebagai khalifah untuk menjaga ciptaan Tuhan.

Gerak tari yang mengalir, tata panggung yang megah, dan perpaduan musik serta narasi menghadirkan sebuah pertunjukan yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga mengajak penonton merenungkan hubungan antara manusia, alam, dan nilai-nilai ilahiah.

Baca Juga :  Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Kerja Sunyi di Balik Kemegahan Panggung

Di balik gemerlap pertunjukan yang memukau, tersimpan kerja panjang yang tidak selalu terlihat publik. Ratusan seniman, penata tari, pemusik, kru teknis, dan panitia bekerja selama berbulan-bulan untuk memastikan setiap detail berjalan sesuai rencana.

Selepas pertunjukan, Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, mengungkapkan refleksinya mengenai proses panjang yang melahirkan karya tersebut.

“Yang terlihat adalah pertunjukannya. Yang jarang terlihat adalah perjuangannya. Di balik setiap karya yang indah, ada tim yang bekerja dengan hati, bertahan dengan sabar, dan berjuang tanpa henti,” tulisnya.

Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa sebuah perhelatan besar tidak hanya dibangun oleh kemegahan panggung, tetapi juga oleh dedikasi orang-orang yang bekerja di belakang layar. Mereka menghadirkan sebuah karya yang menjembatani nilai-nilai Al-Qur’an dengan ekspresi budaya lokal, sehingga pesan keagamaan dapat diterima dengan cara yang indah dan menyentuh.

Pada akhirnya, pembukaan MTQ XXXI NTB bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi panggung yang memperlihatkan bagaimana agama, seni, budaya, dan semangat kebersamaan dapat berpadu dalam satu harmoni.

Dari Praya, pesan itu bergema: bahwa kejayaan tidak hanya diukur dari prestasi yang diraih, tetapi juga dari kemampuan menjaga nilai-nilai Al-Qur’an tetap hidup dalam denyut kehidupan masyarakat. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh
Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”
Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang
Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan
Milu: Ketika Suara Adat Menjadi Tokoh Utama di Atas Panggung
Tanah Tumpah: Ketika Tubuh Menjadi Penjaga Ingatan Bumi
Memuliakan Sketsa, Merawat Ingatan: Proses Kuratorial di Balik Pameran Tunggal S. La Radek

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 23:19 WITA

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:06 WITA

Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:22 WITA

Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:54 WITA

Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA