Ketika Manusia Setengah Dewa Memimpin: Refleksi Kepemimpinan Lionel Messi di World Cup 2026

- Penulis

Senin, 29 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Lionel Messi mengajarkan bahwa kepemimpinan yang efektif bukan semata-mata soal visi besar atau otoritas formal (foto: ist / ceraken.id)

Lionel Messi mengajarkan bahwa kepemimpinan yang efektif bukan semata-mata soal visi besar atau otoritas formal (foto: ist / ceraken.id)

Oleh: M. Ramadhani

CERAKEN-ID — Sedikitnya enam gol telah lahir dari kaki Lionel Messi hingga berakhirnya fase grup World Cup 2026. Tim Nasional Argentina pun menutup babak penyisihan dengan nilai sempurna, sembilan poin, tanpa sekalipun menelan kekalahan dan dengan produktivitas gol yang mengesankan.

Di usia 39 tahun, Messi kembali membuktikan bahwa usia bukanlah batas untuk terus mencetak prestasi.

Sebagai pesepak bola, Lionel Messi telah meraih hampir seluruh trofi bergengsi yang menjadi impian setiap pemain. Namun, bagi rakyat Argentina, ia bukan sekadar atlet. Messi telah menjelma menjadi simbol kepemimpinan dan kebanggaan nasional.

Bentuk penghormatan itu bahkan diwujudkan melalui pembangunan patung setinggi 26 meter yang berdiri tegak di salah satu kota di Argentina. Patung tersebut menampilkan Messi duduk sambil mengapit trofi Piala Dunia dengan kedua kakinya, sementara tangan kanannya menunjuk ke langit; gestur khas yang selama ini ia lakukan sebagai ungkapan syukur kepada Sang Pencipta.

Di Piala Dunia 2026, ketika Argentina terus melaju tanpa terkalahkan, kekuatan utama tim bukan hanya terletak pada kemampuan teknik atau kebugaran fisik para pemainnya. Yang lebih menonjol adalah konsistensi sikap, kemampuan membangun pengaruh, serta kecakapan beradaptasi yang dipadukan dengan keteguhan memegang prinsip. Semua itu merupakan karakter kepemimpinan modern yang efektif.

Penulis menyaksikan aksi Messi di sela-sela mengikuti pembelajaran Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II, sebuah program pengembangan kepemimpinan bagi birokrat. Di antara agenda zoom meeting, diskusi kelompok, serta beragam teori kepemimpinan yang dipelajari, penampilan Messi justru menghadirkan refleksi menarik.

Muncul sebuah pertanyaan: benarkah Lionel Messi layak disebut sebagai pemimpin yang menginspirasi? Setidaknya ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik.

Kepemimpinan yang Menginspirasi

Pertama, kepemimpinan melalui keteladanan. Messi memimpin tanpa harus berteriak di lapangan. Ia menunjukkan kepemimpinan melalui kerja keras, disiplin bertahan, kemampuan membaca ruang, hingga memberikan umpan sederhana yang membuka peluang bagi rekan setim. Keteladanan seperti inilah yang membangun budaya kerja kolektif. Setiap pemain terdorong memberi kontribusi terbaik demi tujuan bersama.

Baca Juga :  Melintasi Waktu Bersama Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar

Dalam organisasi maupun pemerintahan, gaya kepemimpinan seperti ini jauh lebih efektif dibanding sekadar retorika. Integritas yang ditunjukkan melalui tindakan sehari-hari selalu lebih meyakinkan daripada janji-janji yang diucapkan.

Kedua, komunikasi nonverbal yang membangun kepercayaan. Messi tidak banyak berbicara di lapangan. Ia berkomunikasi melalui gerakan, tatapan mata, atau tepukan singkat di bahu rekannya. Bahasa tubuh semacam itu menciptakan rasa saling percaya dan memperkuat kerja sama tim.

Dalam birokrasi maupun pemerintahan daerah, komunikasi yang konsisten, tenang, dan empatik juga menjadi fondasi penting untuk membangun kepercayaan publik. Kebijakan baru akan lebih mudah diterima ketika masyarakat merasa dipahami dan dilibatkan.

Ketiga, kepemimpinan yang adaptif namun tetap berpegang pada nilai. Setiap pertandingan menghadirkan lawan, tekanan, dan situasi yang berbeda. Messi mampu mengubah perannya sesuai kebutuhan tim; kadang menjadi kreator serangan, kadang turun lebih dalam mengatur permainan, bahkan menjadi penyelesai akhir ketika diperlukan. Namun, di balik fleksibilitas itu, ia tetap memegang nilai yang sama: kerja keras, kerendahan hati, dan kepentingan tim di atas kepentingan pribadi.

Pemimpin yang efektif memang harus mampu beradaptasi terhadap perubahan, tetapi tidak kehilangan kompas moral yang menjadi dasar kepemimpinannya.

Pelajaran bagi Kepemimpinan Publik

Keempat, resiliensi menghadapi penolakan terhadap perubahan. Dalam setiap organisasi selalu ada kelompok yang merasa nyaman dengan keadaan lama dan enggan menerima perubahan karena khawatir kehilangan posisi, keuntungan, atau pengaruh.

Messi menunjukkan bahwa resistensi tidak selalu harus dihadapi dengan konfrontasi. Ia menjawab keraguan melalui konsistensi prestasi, kesabaran membangun bukti, dan kemampuan merangkul rekan setim secara bertahap. Kemenangan demi kemenangan menjadi argumen paling kuat bahwa perubahan memang layak diperjuangkan.

Kelima, pelajaran bagi pengambil kebijakan daerah. Pemerintah daerah yang sedang mendorong transformasi, misalnya dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan atau reformasi tata kelola pemerintahan, dapat meniru pola kepemimpinan Messi. Mulailah dengan proyek percontohan yang berhasil sebagai bentuk keteladanan, komunikasikan manfaatnya secara empatik kepada masyarakat, sesuaikan kebijakan dengan karakter lokal tanpa meninggalkan prinsip dasar, lalu hadapi penolakan melalui bukti keberhasilan, bukan sekadar perdebatan.

Baca Juga :  Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Perubahan yang dibangun di atas hasil nyata akan jauh lebih bertahan dibanding perubahan yang dipaksakan.

Lalu, bagaimana dengan kepemimpinan publik saat ini? Dalam kehidupan politik dan pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah, masyarakat setiap hari menyaksikan bagaimana para pemimpin mengambil keputusan sekaligus berkomunikasi kepada publik.

Dari dunia sepak bola dan sosok Lionel Messi, kita belajar bahwa seorang pemimpin tidak dibentuk dalam semalam. Ia ditempa melalui perjalanan panjang, melalui kemenangan dan kekalahan, suka dan duka bersama timnya.

Messi memang luar biasa, tetapi ia tidak pernah menjadi hebat sendirian. Kehebatannya ditopang oleh supporting system yang mampu mengoptimalkan bakat luar biasa yang dianugerahkan Tuhan. Kepemimpinan yang hebat selalu lahir dari perpaduan antara kualitas individu dan kekuatan tim.

Penutup

Messi mengajarkan bahwa kepemimpinan yang efektif bukan semata-mata soal visi besar atau otoritas formal. Kepemimpinan adalah perpaduan antara integritas, keteladanan, komunikasi yang membangun kepercayaan, kemampuan beradaptasi, serta ketangguhan menghadapi berbagai bentuk resistensi.

Ketika seorang pemimpin mampu membuktikan manfaat perubahan melalui prestasi nyata, mereka yang semula menolak perlahan akan ikut bergerak bersama. Dari sanalah lahir perubahan yang berkelanjutan.

Jika suatu hari rakyat Argentina harus memilih seorang pemimpin berdasarkan keteladanan, bukan semata-mata jabatan, boleh jadi nama Lionel Messi akan muncul sebagai pilihan utama. Sebab, meminjam lirik lagu Iwan Fals, ia telah menjelma menjadi sosok “Manusia Setengah Dewa.” (*)

M. Ramadhani adalah penggemar sepak bola, dan ASN Pemerintah Kota Mataram.

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore
Dari Tradisi ke Masa Depan: Mandalika Menjadi Panggung Kebudayaan
Melintasi Waktu Bersama Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar
“Sade: Merawat Ingatan, Menata Masa Depan”
Begawe Beleq: Merayakan Budaya, Menggerakkan Kreativitas, Menguatkan Kebersamaan
Menggali Akar, Menoreh Jiwa: Merawat Musik Tradisi NTB dari Panggung Taman Budaya
Kemiskinan NTB Menurun, Pekerjaan Berikutnya Lebih Berat
Pertumbuhan Ekonomi NTB: Tinggi Angkanya, Perlu Merata Manfaatnya

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:31 WITA

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Rabu, 26 Agustus 2026 - 18:32 WITA

Melintasi Waktu Bersama Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:33 WITA

“Sade: Merawat Ingatan, Menata Masa Depan”

Kamis, 20 Agustus 2026 - 17:44 WITA

Begawe Beleq: Merayakan Budaya, Menggerakkan Kreativitas, Menguatkan Kebersamaan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 16:33 WITA

Menggali Akar, Menoreh Jiwa: Merawat Musik Tradisi NTB dari Panggung Taman Budaya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA