CERAKEN.ID — Di ruang pamer Rplay-Space EUM, Montong, Batu Layar, Lombok Barat, warna-warna seperti sedang mencari asal-usulnya sendiri.
Percikan akrilik, bidang-bidang abstrak, bentuk-bentuk simbolik, hingga kehadiran patung, kleong, dan kendi maling menghadirkan sebuah ruang kontemplatif yang tidak sekadar mengajak pengunjung melihat karya, melainkan memasuki percakapan panjang tentang manusia dan alam semesta.
Melalui Pameran Tunggal bertajuk “Kosmologi”, perupa I Nyoman Sandiya dari Rumah Seni Sandy Koming menampilkan 46 lukisan, 3 patung, 6 kleong, dan 8 kendi maling hingga 13 Agustus 2026. Namun, sebagaimana ditegaskan sang perupa, kosmologi yang ia maksud bukanlah sekadar gugusan bintang atau teori astronomi.
“Kosmologi bukan tentang bintang atau planet, tetapi tentang manusia yang sedang mencari orbitnya sendiri,” ujar I Nyoman Sandiya.
Pernyataan itu menjadi pintu masuk untuk memahami keseluruhan karya-karyanya. Sebab di balik lapisan warna dan bentuk abstrak, tersimpan kegelisahan eksistensial manusia: dari mana ia berasal, ke mana ia menuju, dan bagaimana ia memahami akhir.
“Saya percaya akhir bukanlah kehancuran. Akhir adalah cara lain untuk mulai lagi,” katanya.
Abstraksi sebagai Bahasa Spiritual
Bagi kurator pameran, I Made Suasa Astawa, seorang lektor di Universitas Mataram, karya-karya I Nyoman Sandiya dapat dibaca layaknya para ācārya pada masa Upanisad yang menjelaskan hakikat Brahman, Ātman, dan berbagai ajaran tattwa melalui analogi-analogi simbolik.
Dalam pandangannya, seni tidak berdiri berseberangan dengan agama maupun ilmu pengetahuan. Ketiganya justru bertemu dalam upaya yang sama: menemukan kebenaran.

Pilihan Sandiya terhadap seni abstrak dekoratif bukanlah upaya menjelaskan dunia secara harfiah. Ia justru memilih bentuk, warna, dan komposisi sebagai medium pengalaman estetik dan spiritual.
Lukisan-lukisannya yang dipenuhi semburan warna menghadirkan semacam energi primordial, seolah-olah penonton sedang menyaksikan detik-detik awal kelahiran semesta. Abstraksi menjadi bahasa yang melampaui kata-kata, menghadirkan rasa kagum (thauma) yang sejak zaman Yunani kuno dianggap sebagai awal dari pencarian pengetahuan.
Dalam konteks itu, karya-karya Sandiya memperlihatkan bahwa seni memiliki wilayah kajian yang beririsan dengan agama dan sains. Ketiganya lahir dari rasa ingin tahu yang sama terhadap misteri kehidupan.
Catur Pramana dan Jalan Mencari Kebenaran
Proses kreatif I Nyoman Sandiya juga berangkat dari epistemologi Hindu, yakni catur pramana atau empat jalan memperoleh pengetahuan.
Pertama, sabda pramana, yakni kebenaran yang bersumber dari teks-teks suci. Kedua, anumana pramana, kebenaran yang diperoleh melalui penalaran dan akal sehat.
Ketiga, upamana pramana, yaitu pengetahuan melalui analogi dan simbol-simbol. Keempat, pratyaksa pramana, kebenaran yang lahir dari pengalaman langsung dan praktik empiris.
Melalui empat pendekatan itu, Sandiya tidak memosisikan agama dan sains sebagai dua kutub yang saling meniadakan. Sebaliknya, keduanya dilihat sebagai dua cara berbeda untuk membaca realitas yang sama.
Pandangan ini mengingatkan pada gagasan bahwa saintisme dan teisme tidak harus terus berhadap-hadapan. Keduanya dapat saling menyapa dan bekerja sama, sebagaimana jempol dan jari-jari lain yang berbeda bentuk, tetapi justru memperkuat genggaman tangan.
Akhir bukanlah kehancuran. Akhir adalah cara lain untuk mulai lagi (av: ist / ceraken.id)
Dalam konteks penciptaan seni, kebebasan berpikir menjadi ruang penting. Tafsir agama maupun temuan ilmiah pada akhirnya sama-sama merupakan hasil dari upaya manusia memahami semesta yang tak pernah selesai dibaca.
Big Bang, White Hole, dan Ingatan Tentang Asal
Salah satu gagasan paling menarik dalam pameran ini adalah upaya menghubungkan teori big bang dengan narasi penciptaan alam semesta dalam Bhagawata Purana.
Bagi Sandiya, lahirnya alam semesta tidak hanya dapat dipahami melalui pendekatan ilmiah, tetapi juga melalui narasi spiritual yang telah lama hidup dalam tradisi Veda. Konsep white hole dipertemukan dengan gagasan mengenai lahirnya materi dari energi dan sebaliknya.
Dalam salah satu tafsir yang dihadirkannya, perubahan energi menjadi materi dipandang memiliki korespondensi dengan sloka Rgveda yang menyebut hubungan timbal balik antara energi dan materi. Sementara setelah dentuman besar terjadi, alam semesta berjalan di bawah hukum Rta—tatanan kosmis yang menjaga keseimbangan segala sesuatu.
Dari sana, pembacaan Sandiya meluas hingga pada pertanyaan mengenai kelahiran manusia. Mengapa manusia melupakan kehidupan sebelumnya? Mengapa setiap individu memiliki watak yang berbeda, meskipun secara spiritual dipandang memiliki esensi yang sama?
Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab melalui konsep karmavasana, yakni jejak pengalaman dan hasil perbuatan masa lalu yang melekat pada diri setiap individu. Dengan demikian, manusia dipahami sebagai makhluk yang membawa memori kosmisnya sendiri.
Karya-karya dalam pameran “Kosmologi” pada akhirnya tidak sedang menawarkan jawaban pasti. Ia justru mengajak pengunjung memasuki ruang perenungan yang sunyi: bahwa manusia adalah bagian kecil dari semesta yang terus bergerak, lahir, hancur, lalu memulai dirinya kembali.
Di hadapan kanvas-kanvas itu, kosmologi bukan lagi sekadar teori tentang galaksi dan ruang angkasa. Ia menjelma menjadi cerita tentang manusia yang terus mencari pusat gravitasinya sendiri, mencari makna di antara dentuman-dentuman kehidupan, dan berusaha memahami mengapa dirinya hadir di dunia.
Barangkali, sebagaimana diyakini I Nyoman Sandiya, setiap akhir memang bukan kehancuran. Ia hanyalah sebuah pintu menuju permulaan yang lain. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































