Kosmologi Ingatan dan Lanskap Lombok dalam Pameran Tunggal I Nyoman Sandiya

- Penulis

Jumat, 17 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Pameran ini menghadirkan jeda yang penting: mengingatkan bahwa seni tidak hanya berbicara tentang keindahan (foto: aks / ceraken.id)

Pameran ini menghadirkan jeda yang penting: mengingatkan bahwa seni tidak hanya berbicara tentang keindahan (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Lombok Barat – Ruang seni kembali menemukan nadinya di Rplay-Space EUM, Jalan Pariwisata No. 8, Montong, Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat.

Sejak 16 Juli hingga 13 Agustus 2026, perupa I Nyoman Sandiya menghadirkan Pameran Tunggal bertajuk Kosmologi, sebuah perhelatan yang bukan sekadar memamerkan karya, melainkan mengajak publik menelusuri perjalanan batin, ingatan, dan relasi manusia dengan alam semesta.

Sebanyak 46 lukisan, 3 karya patung, 6 kleong, dan 8 kendi maling memenuhi ruang pamer. Keseluruhan karya tersebut seolah menjadi arsip visual dari perjalanan kreatif Sandiya selama lebih dari dua dekade menetap dan berkarya di Lombok.

Pameran ini sekaligus mempertemukan dua komunitas seni, yakni Rumah Seni Sandy Koming dengan Rplay Lombok Space EUM, dalam sebuah ruang dialog yang hangat dan inklusif.

Dari Sawah Gunung Pengsong Menuju Semesta

Bagi I Nyoman Sandiya, kosmologi bukanlah konsep yang jauh dan abstrak. Ia justru lahir dari kedekatan dengan kehidupan sehari-hari; dari sawah, siput sawah, ilalang, hingga tumpukan sampah plastik yang perlahan mengubah lanskap pertanian.

Dalam sambutannya, Sandiya mengenang awal kedatangannya ke Lombok pada 2004. Ia menemukan banyak ilham dari kehidupan masyarakat sekitar, terutama para perempuan petani yang bekerja tanpa lelah.

“Saat itu saya menyaksikan seorang ibu yang menanam di sawah, sementara bapak sedikit melenggangkan kaki. Peristiwa itu menancap dalam diri saya dan membuat hati saya miris,” ujar Sandiya.

Pameran Kosmologi juga menjadi penanda penting bagi tumbuhnya ekosistem seni (av: aks / ceraken.id)

Pengalaman tersebut mendorongnya untuk terus mengunjungi area persawahan di sekitar Gunung Pengsong. Dari sanalah lahir sejumlah karya penting, termasuk Bangket Gunung Pengsong, yang merepresentasikan kedekatan perupa dengan lanskap pertanian dan kehidupan masyarakat sekitar.

Baca Juga :  Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Tema kosmologi kemudian berkembang menjadi refleksi yang lebih luas. Melalui karya-karya seperti Blue Moon, Tersobek-sobek, hingga Pale Blue Dot, Sandiya mengajak penikmat seni untuk merenungkan posisi manusia yang kecil di hadapan semesta.

“Bagaimana kita terkesan kecil di hadapan semesta ini,” katanya, menjelaskan makna di balik karya Pale Blue Dot.

Estetika yang Menghadirkan Jiwa

Kurator pameran, I Made Suasa Astawa, melihat Kosmologi sebagai perjalanan panjang seorang perupa yang berupaya memperlihatkan jiwa melalui bahasa visual. Menurutnya, karya-karya Sandiya tidak hanya menawarkan pengalaman estetik, tetapi juga mengandung lapisan makna yang lahir dari proses akademik, pengalaman hidup, dan perenungan panjang.

“Nilai-nilai estetika yang diangkat dalam pameran ini memberi pemahaman mendalam mengenai bagaimana seorang perupa memandang kehidupan. Dalam istilah Jawa ada ungkapan jiwo ketok, yakni ketika jiwa menjadi terlihat melalui karya,” ujar Suasa.

Ia menilai karya-karya Sandiya menghadirkan estetika yang berangkat dari ingatan dan pengalaman, lalu direpresentasikan melalui medium dua dimensi maupun tiga dimensi. Dengan demikian, pameran ini menjadi ruang untuk menemukan nilai-nilai yang selama ini tersembunyi.

Pada kesempatan yang sama, Suasa juga menyinggung terbitnya buku Warna, Tekstur, dan Kebebasan: Narasi Seni I Nyoman Sandiya karya Agus K. Saputra. Menurutnya, buku tersebut dapat menjadi referensi akademik penting bagi para peneliti, mahasiswa, maupun pegiat seni rupa di masa mendatang.

Baca Juga :  Milu: Ketika Suara Adat Menjadi Tokoh Utama di Atas Panggung
Kosmologi bukanlah konsep yang jauh dan abstrak (foto: aks / ceraken.id)
Merawat Ruang Dialog Seni di Lombok

Pameran Kosmologi juga menjadi penanda penting bagi tumbuhnya ekosistem seni di Nusa Tenggara Barat. Pemilik Rplay Lombok, Mr Red, menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang bagi perkembangan seni dan kreativitas di Lombok.

“Rplay akan selalu mendukung semua karya dan semua seni yang ingin dikembangkan di Lombok ini. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendukung semuanya,” ujarnya.

Menurutnya, tema kosmologi yang diusung Sandiya mengajak masyarakat merenungkan kembali hubungan antara manusia, alam, dan semesta. Setiap karya yang dipamerkan merupakan buah dedikasi serta kepekaan rasa yang mendalam.

Mr Red mengaku telah lebih dahulu menikmati karya-karya tersebut di tengah malam yang sunyi sebelum pameran dibuka untuk publik.

“Saya merasa sangat bahagia menikmati karya-karya I Nyoman Sandiya dan saya mengajak semua tamu undangan untuk menikmatinya bersama,” katanya.

Di tengah geliat pariwisata dan pembangunan yang terus bergerak di Lombok, pameran ini menghadirkan jeda yang penting: mengingatkan bahwa seni tidak hanya berbicara tentang keindahan, tetapi juga tentang ingatan, relasi manusia dengan lingkungannya, dan kesadaran bahwa manusia hanyalah satu titik kecil dalam jagat raya.

Melalui Kosmologi, I Nyoman Sandiya memperlihatkan bahwa lanskap Lombok, kehidupan para petani, siput sawah, cacing, hingga langit malam dapat menjadi pintu masuk untuk memahami semesta.

Sebuah ikhtiar artistik yang mempertemukan pengalaman personal dengan refleksi universal, sekaligus memperkaya khazanah seni rupa kontemporer di Nusa Tenggara Barat. (aks)

 

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh
Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”
Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang
Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan
Milu: Ketika Suara Adat Menjadi Tokoh Utama di Atas Panggung
Tanah Tumpah: Ketika Tubuh Menjadi Penjaga Ingatan Bumi
Memuliakan Sketsa, Merawat Ingatan: Proses Kuratorial di Balik Pameran Tunggal S. La Radek

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 23:19 WITA

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:06 WITA

Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:22 WITA

Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:54 WITA

Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA