Oleh: Sigit Susanto*
CERAKEN.ID — Pringgasela, Masbagik, Lombok Timur, tempat banyak sapi lahir tanpa pejantan. Itu terjadi di sekitar tahun 1980-an.
Sapi-sapi muda itu keturunan dari pejantan Australia dan Belanda, seperti Brahman, Leimosin, Simmental. Lewat kawin suntik atau inseminasi buatan sapi-sapi blasteran ini lahir sehat dan posturnya jumbo. Sapi-sapi ukuran besar dan tangguh menjadi penghuni bumi gora.
Mengingat peternak sapi di Pringgasela itu sulit menyebut sapi hasil perkawinan dari bibit luar, tapi mereka ingat si juru suntik sapi betinanya, yaitu bernama Bambang Nugraha. Ia pegawai dari dinas peternakan provinsi yang bertugas di Lombok Timur.
Tak disangka di antara percakapan warga di daerah itu tersebar istilah Sapi Bambang. Sebutan itu tentu cukup aneh di telinga; apakah sapi itu diberi nama Bambang?
Perlahan pertanyaan itu mudah mendapat jawaban dari sesama peternak sapi, bahwa nama Bambang disematkan, karena kesulitan peternak menyebut nama jenis sperma pejantan dari luar yang disuntikkan ke indukan lokal.
Untuk itu lebih mudahnya menyebut nama juru suntiknya saja; Bambang. Jadilah; Sapi Bambang.
Istilah Sapi Bambang beredar lebih luas, sebelum juru suntik bernama Bambang sendiri tahu. Ia baru mulai mengetahui namanya disebut-sebut, setelah sebutan itu sudah beredar. Ia tertawa sekaligus terharu, ketika namanya dipakai para peternak.
Juru suntik hewan kaki empat ini memang agak unik. Ia menekuni tugas ini semata-mata karena amanah dari kantornya.
Pada awalnya ia akui sangat sulit meyakinkan para peternak. Tentu para peternak takut atau khawatir, bagaimana hasil kawin suntik nanti?
Lewat kesabaran yang lama dan setelah melihat hasilnya, perlahan para peternak merasa yakin. Mereka puas dengan sistem baru itu.
Cara bergaul Bambang sendiri yang ramah dan mudah berkelakar, menjadikan antara peternak dan si juru suntik lebih akrab, tanpa sekat.
Karena ini program pemerintah, maka tidak dipungut biaya. Berkat keakraban Bambang dengan para peternak yang otomatis petani itu, membuat mereka terjalin hubungan emosional kekeluargaan yang mendalam. Kadang jika Bambang akan pulang, disuruh membawa hasil pertanian mereka, seperti cabe, bawang merah dan ketela,
Tahun 1986 saya mengunjungi rumah dinas Bambang yang juga kakak ipar saya, karena menikah dengan kakak kandung saya bernama Sri Murni.
Jumat, 3 Mei 2024, pukul 12.04, Bambang meninggal dunia di RSUD Mataram. Jenasahnya dimakamkan di kuburan Rembiga, Selaparang, Mataram.
Selamat Jalan, semoga arwahnya mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Dan jejakmu kami ingat selalu, mungkin juga para peternak sapi zaman dulu di Pringgasela, Lombok Timur. (*)
*Penulis buku “Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain” (2025)”, menetap di Zug, Swiss.
Editor : ceraken editor



























































