Melihat untuk Percaya: Perjalanan, Tubuh, dan Makna dalam “Lintas”

- Penulis

Senin, 2 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Bagi seorang pejalan, mata dan penglihatan adalah perangkat utama untuk menyelami realitas (Foto: ist/ceraken.id)

Bagi seorang pejalan, mata dan penglihatan adalah perangkat utama untuk menyelami realitas (Foto: ist/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pada bagian akhir forum “Bincang Buku” Komunitas Teman Baca, Sabtu (28/2), tuan rumah sekaligus pegiat literasi NTB, Dedy Ahmad Hermansyah, membedah catatan perjalanan terbaru Sigit Susanto berjudul “Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain” (2025).

Buku setebal x + 297 halaman itu bukan sekadar kumpulan kisah melancong, melainkan kelanjutan dari buku pertamanya, Menyusuri Lorong-Lorong Dunia (2005), yang terbit dua dekade silam.

“Buku ini sebenarnya lanjutan,” ujar Dedy. “Ia tetap mempunyai kedalaman tema pada sastra, sejarah, dan nuansa backpacker.”

Namun, sebagaimana ditegaskan Dedy, Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain (selanjutnya disebut “Lintas”) menghadirkan lanskap baru. Terdapat 11 catatan perjalanan dengan sembilan negara yang sebelumnya belum disinggahi dalam buku pertama.

Jika buku terdahulu adalah lorong, maka buku terbaru ini adalah simpang-simpang yang membuka perspektif lebih luas; tidak hanya geografis, tetapi juga intelektual dan reflektif.

Mengalami Sastra, Mengalami Dunia

Dedy memetakan tiga hal penting dalam buku tersebut.

Pertama, ajakan mengalami kesusastraan dan sejarah di setiap negara yang dikunjungi. Bersama istrinya, Claudia, Sigit menjelajah bukan hanya dengan ransel, tetapi juga dengan buku.

Ia selalu membawa karya sastra dari negara yang didatanginya. Dengan cara itu, perjalanan menjadi dialog antara teks dan lanskap, antara halaman buku dan jalanan kota.

Albania, Swiss, dan negara-negara lain tidak diposisikan sebagai objek wisata eksotis semata, melainkan ruang kebudayaan yang memiliki riwayat sosial, ekonomi, politik, dan estetika.

Sigit membaca sebuah negeri sekaligus membaca karya sastranya dan dari sana ia menulis ulang pengalamannya bagi pembaca Indonesia.

Membandingkan, Bukan Menggurui

Kedua, ajakan untuk membandingkan segala hal yang ditemui dengan kenyataan di Indonesia. Catatan perjalanan ini, menurut Dedy, terasa sadar ditulis untuk pembaca Indonesia.

Baca Juga :  Menyusuri Jejak Mahabbah di Batas Ada dan Tiada: Catatan Pemantik atas Novel Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu?

Perbandingan itu bukan dalam nada menghakimi, melainkan reflektif. Bagaimana sistem transportasi, budaya membaca, tata kota, atau etos kerja di negeri lain dibandingkan dengan kondisi tanah air?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengalir tanpa pretensi moralistik, tetapi cukup untuk menggugah pembaca merenung.

Dalam titik ini, perjalanan berubah menjadi cermin. Dunia luar bukan sekadar pemandangan, melainkan pantulan bagi diri sendiri.

Refleksi dan Ruang Sentimental

Ketiga, refleksi kehidupan melalui perjalanan. Dengan gaya backpacker, Sigit membangun ruang reflektif tentang relasi antarmanusia.

Di sinilah Dedy (kanan) menemukan kunci penting dari jarak 20 tahun antara buku pertama dan buku terbaru (Foto: aks/ceraken.id)

Ia menulis dengan mata yang kadang sentimental tentang tujuan dan prinsip hidupnya dalam mengembara.

Perjalanan tidak lagi tentang destinasi, melainkan proses menyelami pengalaman. Tubuh yang bergerak, kaki yang melangkah, mata yang menangkap citra, semuanya diolah menjadi kesadaran.

Di sinilah Dedy menemukan kunci penting dari jarak 20 tahun antara buku pertama dan buku terbaru. Ia mengutip kalimat Sigit:

“Di tengah gencar revolusi digital, aku merasa ada pergeseran keyakinan dari writing is believing menjadi seeing is believing.”

Kalimat itu menjadi pintu masuk refleksi yang lebih luas tentang kehidupan di era digital.

Antara Tatapan dan Pengalaman

Bagi seorang pejalan, mata dan penglihatan adalah perangkat utama untuk menyelami realitas.

Citra yang tertangkap mata diolah menjadi refleksi sadar. Tubuh bergerak dalam ruang nyata, mengalami jarak dan waktu secara alami.

Namun di era modern hingga pascamodern, fungsi tatapan berubah. Dedy merujuk pemikiran Paul Virilio, Guy Debord, dan Jacques Lacan untuk menegaskan bahwa di dunia digital, pandangan sering terpisah dari pengalaman.

Baca Juga :  Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri

Tubuh virtual bisa “melihat” tanpa hadir. Sensasi tercabut dari objek nyata.

Dalam konteks itu, perjalanan Sigit justru menjadi kebalikan dari fantasmagoria digital. Ia melakukan ekspansi tubuh ke ruang realitas.

Ia mengalami jarak dan waktu secara konkret. Ia memaksimalkan kehadiran fisik dan fokus pada detail-detail spesifik, sehingga makna lahir dari pengalaman, bukan dari simulasi.

“Seeing” dalam buku ini bukan sekadar melihat layar, melainkan menatap dunia secara utuh.

Perdebatan Generasi dan Kedalaman

Diskusi yang dipandu Raushan Fikri Heryanto sempat memanas ketika Dedy menyatakan bahwa generasi sebelum Gen Z lebih mencirikan dan memaknai kedalaman seperti yang dicontohkan dalam Lintas. Pernyataan itu ditanggapi serius oleh peserta diskusi, Ical dan Abel.

Namun pada akhirnya, titik temu tercapai. Dedy menyadari bahwa kedalaman bukan monopoli generasi tertentu. Ia adalah hasil dari kesediaan untuk hadir sepenuhnya dalam pengalaman.

Perjalanan Sigit Susanto memperlihatkan bahwa “melihat untuk percaya” bukan berarti sekadar menatap permukaan. Melihat dalam arti yang dimaksud adalah menyatukan tubuh, pikiran, dan kesadaran dalam satu momen pengalaman.

Di tengah dunia yang serba cepat, catatan perjalanan ini seperti pengingat: eksistensi manusia ditentukan oleh pengalaman yang sungguh-sungguh dialami. Bukan sekadar citra yang lewat di layar, tetapi jejak langkah yang benar-benar ditapaki.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari Lintas bahwa perjalanan sejati bukan hanya berpindah tempat, melainkan memperdalam cara kita melihat dunia, sebelum akhirnya menuliskannya kembali agar orang lain pun dapat percaya. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas
Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak
Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri
Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu
Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan
Ketika Cahaya Itu Adalah Sosok “Nuriadi”: Novel “Datoq Nyatoq dalam Perspektif Strukturalisme Genetik
Membaca Keris NTB dari Vitrin Museum hingga Jejak Pengetahuan
Novel sebagai Jalan Literasi: Ketika Datoq Nyatoq Menjadi Jembatan Membaca Dunia

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:04 WITA

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:55 WITA

Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak

Kamis, 20 Agustus 2026 - 09:33 WITA

Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:30 WITA

Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:58 WITA

Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA