CERAKEN.ID — Di ruang tengah Komunitas Pasir Putih, Pemenang, Lombok Utara, suasana siang terasa tenang. Bangunan yang sehari-hari difungsikan sebagai sekolah taman kanak-kanak itu sedang berubah menjadi ruang temu bagi gambar, ingatan, dan cara pandang baru terhadap keseharian.
Di tempat inilah pameran tunggal Hujjatul Islam bertajuk “4 ½” berlangsung hingga 31 Juli 2026. Di sela-sela pameran, kurator Manshur Zikri memaparkan bagaimana proyek ini bukan sekadar menampilkan rangkaian karya, melainkan sebuah upaya membaca ulang fragmen-fragmen yang selama ini luput dari perhatian.
Menurut Manshur, pameran tersebut lahir dari eksplorasi panjang Hujjatul Islam terhadap medium arang (charcoal), tetapi berkembang menjadi pertemuan tiga proyek yang memiliki napas berbeda. Ketiganya dipertemukan dalam satu narasi yang justru menegaskan konsistensi praktik artistik sang perupa.
Tiga Proyek, Satu Cara Membaca Dunia
Manshur menjelaskan bahwa “4 ½” menyatukan proyek Balang Kale (2025), Belian (2026), dan 2 ½ yang dikerjakan khusus untuk Bangsal Menggawe 2026. Meskipun berasal dari konteks yang berbeda, ketiga proyek itu memiliki benang merah yang sama, yakni eksplorasi terhadap medium arang sekaligus kecenderungan Hujjatul Islam memilih serpihan-serpihan kecil dari sebuah peristiwa utuh.
“Kalau pamerannya Jattul sebenarnya idenya itu berangkat dari eksplorasi dia terhadap medium charcoal, arang. Cuma di pameran ini dia menggabungkan tiga proyek berbeda. Yang pertama Balang Kale, kemudian Belian, dan yang ketiga 2 ½. Nah, tiga proyek itu digabung menjadi satu pameran yang diberi nama 4 ½,” ujar Manshur Zikri kepada ceraken.id.
Pada proyek 2 ½, eksplorasi medium bahkan bergerak lebih jauh. Bila karya-karya sebelumnya menggunakan kertas sebagai bidang gambar, kali ini arang diaplikasikan di atas tripleks. Pergeseran medium itu bukan sekadar eksperimen teknis, melainkan bagian dari pencarian kemungkinan visual yang lebih luas.
Ketika Penggalan Lebih Bermakna daripada Keseluruhan
Bagi Manshur, kekuatan Hujjatul Islam justru terletak pada keberaniannya meninggalkan kecenderungan ilustratif. Alih-alih menggambarkan sebuah cerita secara utuh, ia memilih menghadirkan potongan-potongan yang tampak sepele, tetapi menyimpan lapisan makna.
Dalam proyek Balang Kale, misalnya, Hujjatul Islam tidak menggambar adegan klimaks ketika seorang ibu mengipas darah anaknya hingga hidup kembali. Ia hanya menghadirkan sebuah kipas. Begitu pula ketika menggambar perahu; yang muncul bukan keseluruhan badan kapal, melainkan hanya palang-palang kayunya.
“Saya melihat, sadar atau tidak sadar, Jattul itu selalu mengambil penggalan-penggalan tertentu dari sesuatu yang sifatnya lebih utuh. Jadi bukan mengilustrasikan keseluruhan cerita, tetapi hanya mengambil bagian tertentu. Dari situ saya berspekulasi bahwa pendekatan Jattul itu bersifat anekdot,” jelas Manshur.
Pendekatan itu, menurutnya, membuka kemungkinan baru untuk membicarakan sejarah keseharian. Ketika wacana tentang narasi kecil dan sejarah sehari-hari mulai menjadi jargon yang diulang-ulang, praktik artistik Hujjatul Islam justru berusaha membongkar kemapanan cara berpikir tersebut.
“Pendekatan Jattul punya kemungkinan untuk membicarakan lagi bagaimana sebenarnya kita mendefinisikan sejarah keseharian. Jadi mitos-mitos tentang keagungan sejarah keseharian itu dibongkar lagi. Kita diajak lebih kritis terhadap narasi-narasi kecil, bukan sekadar membesar-besarkannya, tetapi memahami prosesnya secara jujur,” katanya.

Kerumitan yang Tersembunyi dalam Hal-Hal Sederhana
Selama ini karya-karya Hujjatul Islam kerap disebut sederhana. Namun, bagi Manshur, kesederhanaan itu hanyalah kesan pertama. Semakin lama diamati, gambar-gambar tersebut justru memperlihatkan kerumitan yang tersembunyi di balik objek-objek sehari-hari.
Palang perahu, tali tambatan, sudut kapal, atau serpihan bentuk lain yang tampak biasa ternyata menyimpan struktur visual yang kompleks. Hujjatul Islam tidak menyederhanakan objek-objek itu, melainkan mengurai kerumitannya melalui garis demi garis.
“Beberapa orang bilang gambar Jattul sederhana. Tapi saya justru melihatnya bukan kesederhanaan. Dia sedang menyoroti kerumitan sesuatu yang selama ini dianggap sederhana. Keseharian itu punya kompleksitasnya sendiri, tergantung sejauh mana intensitas kita mengamatinya,” ujar Manshur.
Baginya, kebiasaan Hujjatul Islam menggambar setiap hari bukan sekadar rutinitas berkarya. Aktivitas tersebut merupakan bentuk latihan untuk terus menangkap detail-detail yang selama ini luput dari perhatian banyak orang.
Ruang Pamer sebagai Bagian dari Bahasa Artistik
Keunikan “4 ½” juga hadir pada cara pameran ini memperlakukan ruang. Gedung sekolah taman kanak-kanak tidak dipaksa berubah menjadi galeri putih (white cube). Sebaliknya, karakter ruang dibiarkan tetap hidup dan dijadikan bagian dari bahasa visual pameran.
Kusen jendela, ventilasi, langit-langit, hingga dua meja di dalam ruangan sengaja dipertahankan sebagai elemen artistik. Penempatan karya pun diatur mengikuti ritme ruang sehingga pengunjung tidak sekadar melihat gambar, tetapi mengalami perjalanan visual yang memiliki tempo.
“Pertanyaannya bukan bagaimana mengubah ruang ini menjadi white cube, tetapi bagaimana watak ruang itu menjadi bagian dari bahasa artistik pameran. Makanya kusen jendela, ventilasi, sampai penempatan gambar di bawah atau di langit-langit semuanya menjadi bagian dari presentasi karya,” terang Manshur.
Sebagai kurator, ia juga mengintervensi penyusunan karya melalui pendekatan sinematik. Jarak antargambar, pengelompokan, hingga ritme pandang diperlakukan layaknya montase dalam film. Gagasan itu muncul setelah mengetahui bahwa judul proyek 2 ½ terinspirasi dari film legendaris Federico Fellini, 8½.
“Saya mencoba memainkan tempo cara melihat gambar. Ada yang didekatkan, ada yang dijauhkan, seperti montase dalam sinema. Ketika Jattul menyebut judul 2 ½ karena terinspirasi 8½ karya Fellini, saya melihat ada petunjuk bahwa praktik visualnya punya hubungan dengan bahasa film. Karena itu, pendekatan sinematik saya terapkan dalam kurasi pameran ini,” pungkas Manshur.
Melalui “4 ½”, Hujjatul Islam tidak sedang menawarkan rangkaian gambar yang selesai dibaca dalam sekali pandang. Ia justru mengajak pengunjung berhenti sejenak, memberi perhatian pada serpihan-serpihan kecil yang selama ini dianggap remeh.
Dari penggalan-penggalan itulah, sejarah keseharian disusun kembali; bukan sebagai narasi besar yang mapan, melainkan sebagai pengalaman yang terus bergerak, terbuka untuk dipertanyakan, dan selalu mungkin dibaca ulang. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































