Membangun Birokrasi dari Kompetensi: Ikhtiar NTB Mengakhiri Politik Jabatan

- Penulis

Jumat, 3 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ketika birokrasi diisi oleh orang-orang yang bekerja karena kapasitas, bukan kedekatan, maka kehadiran negara akan semakin terasa dalam kehidupan masyarakat (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

Ketika birokrasi diisi oleh orang-orang yang bekerja karena kapasitas, bukan kedekatan, maka kehadiran negara akan semakin terasa dalam kehidupan masyarakat (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Jakarta. Di tengah tuntutan publik terhadap pemerintahan yang semakin profesional, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memilih memulai perubahan dari ruang yang paling mendasar: tata kelola aparatur sipil negara (ASN). Sebab, birokrasi yang berkualitas bukan semata lahir dari banyaknya regulasi, melainkan dari hadirnya orang-orang yang tepat pada jabatan yang tepat.

Kesadaran itulah yang kini menjadi pijakan Pemerintah Provinsi NTB dalam membangun wajah baru birokrasi, dengan menjadikan kompetensi, integritas, rekam jejak, potensi, dan kinerja sebagai dasar utama pengembangan karier maupun pengisian jabatan.

Komitmen tersebut ditegaskan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, saat melakukan konsolidasi bersama Badan Kepegawaian Negara (BKN) Republik Indonesia di Kantor BKN, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Pertemuan yang dipimpin Kepala BKN RI, Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, itu menjadi penanda dimulainya percepatan penerapan Manajemen Talenta berbasis sistem merit di lingkungan Pemerintah Provinsi NTB.

Mengakhiri Budaya Kedekatan

Bagi Pemerintah Provinsi NTB, reformasi birokrasi tidak cukup hanya dengan menyederhanakan prosedur administrasi. Perubahan harus dimulai dari cara menentukan siapa yang memimpin dan mengelola organisasi pemerintahan.

Gubernur Iqbal menegaskan bahwa pengisian jabatan tidak lagi boleh dipengaruhi faktor kedekatan ataupun pertimbangan di luar profesionalisme. Sebaliknya, kompetensi, integritas, rekam jejak, potensi, dan kinerja harus menjadi ukuran utama.

Baca Juga :  Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

“Reformasi birokrasi harus dimulai dari reformasi tata kelola ASN. Jabatan bukanlah hak yang diberikan karena kedekatan, tetapi amanah yang harus dipercayakan kepada mereka yang memiliki kompetensi, integritas, rekam jejak, dan kinerja terbaik. Ketika orang yang tepat ditempatkan pada posisi yang tepat, birokrasi akan bergerak lebih cepat dan pelayanan kepada masyarakat akan semakin berkualitas,” tegas Miq Iqbal.

Pandangan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa kualitas birokrasi akan menentukan keberhasilan pembangunan daerah. Aparatur yang profesional diyakini mampu melahirkan pemerintahan yang adaptif, cepat mengambil keputusan, sekaligus lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Manajemen Talenta sebagai Fondasi Baru

Komitmen itu diterjemahkan melalui penerapan Manajemen Talenta, sebuah sistem pengelolaan ASN yang menjadikan kompetensi, potensi, rekam jejak, dan capaian kinerja sebagai dasar utama dalam promosi, mutasi, pengembangan karier, hingga pengisian jabatan.

Melalui pendekatan tersebut, setiap keputusan kepegawaian diharapkan berlangsung secara objektif, terukur, transparan, dan akuntabel sesuai prinsip sistem merit. Kesempatan berkembang pun terbuka bagi seluruh ASN berdasarkan kemampuan dan prestasi kerja, bukan kedekatan dengan kekuasaan.

Kepala BKN RI, Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, menyambut baik komitmen Pemerintah Provinsi NTB tersebut. Menurutnya, penguatan sistem merit merupakan salah satu prasyarat membangun birokrasi yang profesional, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan pembangunan yang semakin dinamis.

Baca Juga :  Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Transformasi birokrasi, kata Zudan, hanya akan berjalan optimal apabila pengelolaan sumber daya manusianya dilakukan secara konsisten berdasarkan kompetensi dan kinerja.

Pelayanan Publik Menjadi Tolok Ukur

Pada akhirnya, reformasi birokrasi bukanlah tujuan akhir. Tolok ukurnya adalah perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Ketika jabatan strategis diisi oleh aparatur yang memiliki kapasitas terbaik, proses pengambilan keputusan akan berlangsung lebih cepat, pelaksanaan program pembangunan menjadi lebih efektif, dan pelayanan publik semakin profesional.

Konsolidasi antara Pemerintah Provinsi NTB dan BKN juga memperlihatkan bahwa transformasi birokrasi tidak dapat berjalan sendiri. Sinergi pemerintah pusat dan daerah menjadi bagian penting agar penerapan Manajemen Talenta berlangsung sesuai ketentuan sekaligus mengikuti praktik terbaik dalam pengelolaan ASN nasional.

Bagi warga NTB, reformasi ini sesungguhnya bukan sekadar urusan mutasi, promosi, atau pengisian jabatan. Yang dipertaruhkan adalah kualitas pelayanan yang mereka terima setiap hari; mulai dari layanan administrasi, pendidikan, kesehatan, hingga pelaksanaan program pembangunan di daerah.

Ketika birokrasi diisi oleh orang-orang yang bekerja karena kapasitas, bukan kedekatan, maka kehadiran negara akan semakin terasa dalam kehidupan masyarakat.

Pada titik itulah visi NTB Makmur Mendunia memperoleh pijakan yang kokoh: membangun daerah melalui birokrasi yang bersih, profesional, dan bekerja sepenuhnya untuk kepentingan rakyat. (*/aks)

 

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: ntbprov.go.id

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data
Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan
Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB
Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem
Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata
Menyemai Rasa di Jantung Mandalika: Ketika Kuliner Lokal Menjadi Wajah Pariwisata Lombok
Saat Tempat Kerja Menjadi Ruang Aman: Otsuka dan RS Marzoeki Mahdi Membangun Budaya Peduli Kesehatan Mental
Membaca Masa Depan Teater dari Mataram: Fragmen Tengah Menjadi Laboratorium Pengetahuan Bersama

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 20:30 WITA

Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:53 WITA

Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:25 WITA

Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:04 WITA

Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA