Musik Menyatukan, Budaya Menguatkan: Optimisme Baru dari Chamber Pop Festival 2026

- Penulis

Minggu, 28 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kepala Dinas Kebudayaan Prov. NTB, Muhamad Ihwan (kedua dari kanan), "Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Dinas Kebudayaan berkomitmen menjadikan seni pertunjukan sebagai bagian dari ekosistem pemajuan kebudayaan." (foto: aks / ceraken.id)

Kepala Dinas Kebudayaan Prov. NTB, Muhamad Ihwan (kedua dari kanan), "Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Dinas Kebudayaan berkomitmen menjadikan seni pertunjukan sebagai bagian dari ekosistem pemajuan kebudayaan." (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Malam di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, Jumat (26/6/2026), terasa berbeda. Sejak pintu pertunjukan dibuka, antrean penonton terus mengalir hingga seluruh tiket dinyatakan habis terjual.

Riuh tepuk tangan, cahaya panggung yang dinamis, serta harmoni musik yang dibawakan para musisi muda menjadi penanda bahwa Chamber Pop Festival 2026: Music Concert, Community Hub, and Pop-up Market bukan sekadar sebuah konser. Festival ini menjelma menjadi ruang perjumpaan antara kreativitas, kebudayaan, dan optimisme masa depan seni pertunjukan di Nusa Tenggara Barat.

Kesuksesan malam pertama festival tidak hanya diukur dari penuhnya kursi penonton. Lebih dari itu, interaksi hangat antara para penampil dengan audiens memperlihatkan bahwa musik mampu menghadirkan pengalaman bersama yang melampaui batas usia, latar belakang, maupun selera.

Di panggung yang sama, karya-karya orisinal, aransemen musikal yang matang, dan semangat berkesenian para generasi muda menyatu dalam atmosfer yang hidup.

Festival yang Menjadi Ruang Tumbuh Kreativitas

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhamad Ihwan, dalam sambutannya menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menghadirkan festival tersebut. Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan Chamber Pop Festival merupakan hasil kolaborasi yang memperlihatkan kuatnya ekosistem seni di daerah.

“Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada teman-teman UPTD Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat, seluruh panitia, komunitas musik, para pengisi acara, tentunya sponsor dan para pihak yang telah bekerja keras sehingga festival ini dapat terselenggara dengan baik,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa musik memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar hiburan. Musik merupakan bahasa universal kebudayaan yang mampu mempertemukan berbagai perbedaan dan menjembatani hubungan antargenerasi.

“Musik bukan sekadar hiburan. Musik adalah bahasa kebudayaan yang mampu menyatukan perbedaan, menghubungkan generasi, dan menyampaikan nilai-nilai kehidupan tanpa harus banyak kata,” ungkap Ihwan.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan budaya digital, menurutnya, ruang-ruang kreatif seperti Chamber Pop Festival menjadi semakin penting. Festival ini menjadi wadah lahirnya kreativitas baru sekaligus panggung bagi para talenta muda untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

Baca Juga :  Senandung "Jiwa Alam": Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan

“Dari sinilah kreativitas tumbuh. Talenta muda diberi panggung dan identitas kebudayaan kita terus diperkuat melalui karya-karya yang segar, inovatif, dan relevan dengan zaman,” katanya.

Kebudayaan Sebagai Kekuatan Pembangunan

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, melalui Dinas Kebudayaan, menempatkan seni pertunjukan sebagai bagian penting dalam strategi pemajuan kebudayaan. Komitmen tersebut tidak hanya diarahkan pada pelestarian warisan budaya, tetapi juga pada penciptaan karya-karya baru yang memiliki daya saing di tingkat nasional hingga internasional.

Ihwan menjelaskan bahwa pembangunan kebudayaan harus dipahami sebagai upaya yang menyeluruh, yakni menjaga warisan leluhur sekaligus membuka ruang bagi inovasi.

“Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Dinas Kebudayaan berkomitmen menjadikan seni pertunjukan sebagai bagian dari ekosistem pemajuan kebudayaan. Tidak hanya melestarikan warisan kebudayaan, tetapi juga mendorong lahirnya karya-karya baru yang mampu bersinergi dan bersaing di tingkat nasional, bahkan internasional,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa inilah makna pembangunan kebudayaan yang sesungguhnya.

“Melindungi yang diwariskan, mengembangkan yang dimiliki, dan memanfaatkan kebudayaan sebagai sumber kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Kebudayaan sebagai instrumen pembangunan, diplomasi budaya, sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif (foto: aks / ceraken.id)

Semangat tersebut selaras dengan visi NTB Makmur Mendunia, di mana kebudayaan tidak lagi dipandang hanya sebagai identitas daerah, melainkan juga sebagai instrumen pembangunan, diplomasi budaya, sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif.

Dalam kesempatan itu, Ihwan secara khusus mengajak generasi muda agar tidak pernah ragu untuk terus berkarya.

“Jangan pernah takut berkarya. Jadikan musik sebagai media untuk menyampaikan gagasan, menyebarkan optimisme, memperkuat persaudaraan, dan memperkenalkan wajah NTB kepada dunia. Kreativitas adalah investasi masa depan,” pesannya.

Menurutnya, semakin banyak ruang ekspresi yang dibangun, semakin kuat pula ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya yang akan tumbuh di Nusa Tenggara Barat.

Optimisme dari Malam Pertama

Optimisme itu semakin menguat setelah seluruh rangkaian penampilan malam pertama usai. Seusai menyaksikan pertunjukan hingga sekitar pukul 22.11 WITA, Muhamad Ihwan mengaku terkesan dengan kualitas para penampil yang sebagian besar merupakan musisi muda NTB.

“Penampilan hari pertama Chamber Pop Festival 2026 bagus sekali. Yang tampil anak-anak muda, jadi kita sangat optimis kalau kita mengembangkan Taman Budaya ini menjadi tempat pusat kebudayaan, pusat seni, pusat penampilan anak-anak muda di Kota Mataram. Ke depannya akan sangat cerah melihat potensi yang mereka tampilkan,” ujarnya penuh semangat.

Ia pun mengajak masyarakat untuk kembali menyaksikan penampilan pada hari berikutnya.

Baca Juga :  Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

“Ini baru malam pertama. Besok ayo kita nonton lagi di sini. Kerenlah,” katanya.

Yang paling mengejutkan baginya justru kualitas artistik para penampil yang dinilai melampaui ekspektasi.

“Yang membuat saya surprise malam ini adalah karena pertama penampilan anak-anak bagus-bagus sekali, di atas ekspektasi saya. Ternyata mampu menampilkan seni yang luar biasa. Kemudian terlatih, suaranya juga bagus, musiknya juga bagus,” ungkapnya.

Secara khusus, Ihwan memberikan apresiasi kepada Sangga Boemi yang tampil sebagai penampil kedua.

“Terutama Sangga Boemi sebagai penampil kedua, keren banget suaranya, walaupun serak-serak, ya itu perlu dipromosikan lagi di sini sebagai Penampilan Tunggal,” katanya.

Pujian tersebut menjadi sinyal bahwa kualitas musisi muda NTB semakin diperhitungkan. Festival ini membuktikan bahwa talenta lokal mampu menghadirkan pertunjukan yang profesional sekaligus memikat penonton.

Komitmen pemerintah pun tidak berhenti pada penyelenggaraan satu festival semata. Dinas Kebudayaan berencana terus memperkuat fungsi Taman Budaya sebagai rumah bersama bagi komunitas seni dan ruang ekspresi generasi muda.

“Khusus terkait Program Taman Budaya, kita akan kembangkan lagi. Saya menyambut baik, bahkan kita akan membantu untuk terus menampilkan kreasi-kreasi bakat muda dari Nusa Tenggara Barat. Taman Budaya tempatnya!” tegas Ihwan.

Malam pertama Chamber Pop Festival 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertunjukan musik. Ia menjadi penegasan bahwa ketika pemerintah, komunitas seni, pelaku industri kreatif, sponsor, dan masyarakat berjalan bersama, lahirlah sebuah ruang kebudayaan yang hidup.

Di atas panggung Taman Budaya NTB, para musisi muda bukan hanya memainkan lagu, melainkan juga memainkan harapan; bahwa dari Mataram, karya-karya kreatif dapat tumbuh, dikenal, dan suatu hari bergema hingga panggung nasional bahkan internasional. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh
Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”
Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang
Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan
Milu: Ketika Suara Adat Menjadi Tokoh Utama di Atas Panggung
Tanah Tumpah: Ketika Tubuh Menjadi Penjaga Ingatan Bumi
Memuliakan Sketsa, Merawat Ingatan: Proses Kuratorial di Balik Pameran Tunggal S. La Radek

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 23:19 WITA

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:06 WITA

Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:22 WITA

Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:54 WITA

Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA