CERAKEN.ID — Di tengah arus deras transformasi digital dan tantangan rendahnya budaya baca di berbagai daerah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) justru menorehkan capaian membanggakan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2026 yang bersumber dari Perpustakaan Nasional, NTB berhasil menempati posisi kedua nasional dalam tingkat minat baca dengan skor 61,19 poin, tepat di bawah Nusa Tenggara Timur (62,05 poin) dan di atas Sumatera Selatan (60,86 poin).
Capaian ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin dari kerja panjang yang menautkan literasi sebagai gerakan sosial lintas sektor.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Dr. H. Ashari, SH., MH., menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan buah dari strategi terintegrasi yang menyentuh hingga lapisan terbawah masyarakat.
“Capaian dua besar nasional ini menunjukkan bahwa upaya kita membangun budaya literasi mulai dari desa hingga digital sudah berada di jalur yang tepat,” ujarnya.
Pendekatan yang dilakukan Pemerintah Provinsi NTB tidak bersifat parsial. Literasi dibangun sebagai ekosistem yang hidup; menghubungkan pemerintah, sekolah, komunitas, hingga keluarga.
Dalam konteks ini, membaca tidak lagi diposisikan sebagai aktivitas individual, melainkan sebagai kebiasaan kolektif yang tumbuh dari interaksi sosial sehari-hari.
Program strategis seperti NTB Terampil dan Tangkas menjadi salah satu tulang punggung gerakan ini. Melalui advokasi, sosialisasi, hingga kegiatan berkelanjutan seperti Kemah Literasi, pemerintah berupaya menanamkan kesadaran bahwa literasi adalah fondasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia.
Pembinaan juga diperluas melalui penguatan perpustakaan di tingkat kabupaten/kota, sekolah, dan desa, disertai berbagai lomba kreatif seperti resensi buku, video literasi, hingga lomba bertutur.
Di sisi lain, perhatian terhadap akar budaya turut menjadi bagian penting dari strategi ini. Bersama Museum NTB, pemerintah melakukan pendataan dan digitalisasi naskah kuno sebagai upaya menjaga warisan intelektual daerah.
Langkah ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya berbicara tentang masa depan, tetapi juga tentang merawat ingatan kolektif masa lalu.
Secara kebijakan, penguatan literasi diperkuat melalui Surat Edaran Gubernur yang mendorong peningkatan indeks literasi, kegemaran membaca, serta penguatan peran Bunda Literasi dan komunitas literasi.
Kebijakan ini mempertegas bahwa literasi adalah agenda pembangunan yang bersifat sistemik dan berkelanjutan.
Akses terhadap bahan bacaan juga terus diperluas melalui Gerakan Hibah Sejuta Buku (HIBAH SAKU). Hingga kini, sebanyak 840 desa/kelurahan telah memiliki perpustakaan dari total 1.166 wilayah, didukung oleh 4.340 unit perpustakaan dan 166 komunitas literasi yang aktif.
Angka ini menunjukkan bahwa infrastruktur literasi di NTB tidak hanya berkembang secara kuantitatif, tetapi juga semakin merata.
Transformasi digital menjadi dimensi penting dalam perluasan akses tersebut.
Pengembangan koleksi deposit yang mencapai 12.016 judul, kehadiran NTB e-Library dengan 964 judul, serta katalog daring yang memuat lebih dari 68 ribu koleksi, membuka ruang baru bagi masyarakat untuk mengakses pengetahuan tanpa batas geografis.
Namun, di balik kemajuan digital, NTB tidak meninggalkan pendekatan kultural. Inovasi Gerakan Literasi Tradisional (GELITRA) menjadi bukti bahwa literasi dapat tumbuh melalui cara-cara yang menyenangkan dan kontekstual.
Dengan menggabungkan permainan tradisional, membaca nyaring, dan mendongeng, literasi diperkenalkan kepada anak-anak sebagai pengalaman yang hidup, bukan kewajiban yang membebani.
“Literasi harus menyenangkan dan kontekstual. Melalui GELITRA, kita menggabungkan budaya lokal dengan kebiasaan membaca,” tambah Ashari.
Keberhasilan NTB menembus dua besar nasional menegaskan satu hal penting: literasi tidak lahir dari kebijakan tunggal, melainkan dari kesinambungan gerakan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Dari desa-desa hingga ruang digital, dari naskah kuno hingga e-book, NTB sedang menyulam sebuah ekosistem literasi yang utuh.
Ke depan, tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar meningkatkan angka, tetapi memastikan bahwa literasi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sebab, ketika membaca telah menjadi budaya, maka pembangunan tidak hanya berlangsung secara fisik, tetapi juga tumbuh dalam cara berpikir dan kesadaran kolektif warganya.(*)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: akun pemprov ntb



























































