Rahmatan Lil ‘Alamin dari Praya: Ketika Seni Budaya Menjadi Wajah Dakwah dan Kolaborasi NTB

- Penulis

Senin, 15 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Oleh: Lalu Suryadi Mulawarman – Kepala Taman Budaya Prov. NTB

CERAKEN.ID — Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat yang berlangsung di Praya, Kabupaten Lombok Tengah, pada 9 Juni 2026, bukan sekadar ajang perlombaan membaca dan memahami Al-Qur’an. Perhelatan ini juga menjadi ruang perjumpaan antara nilai-nilai keislaman, kebudayaan, dan semangat gotong royong yang menjadi ciri masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Pada malam pembukaan yang berlangsung di Bencingah Agung Masmirah, ribuan pasang mata menyaksikan sebuah pertunjukan kolosal bertajuk “Rahmatan Lil ‘Alamin”. Tarian yang melibatkan sekitar 300 penari tersebut hadir sebagai pembuka yang merepresentasikan pesan universal Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Di balik kemegahan pertunjukan itu, terdapat proses panjang yang memperlihatkan bagaimana kerja kebudayaan dibangun melalui kolaborasi lintas lembaga, lintas profesi, dan lintas generasi.

Bagi Taman Budaya Provinsi NTB, keterlibatan dalam pembukaan MTQ ini merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan kebudayaan sebagai medium pemersatu sekaligus sarana penyampaian nilai-nilai keagamaan yang dekat dengan masyarakat.

Seni sebagai Bahasa Universal Dakwah

Tema “Rahmatan Lil ‘Alamin” dipilih bukan tanpa alasan. Di tengah masyarakat yang semakin beragam dan dinamis, pesan Islam yang membawa kedamaian, kasih sayang, toleransi, dan penghormatan terhadap kemanusiaan perlu terus disampaikan melalui berbagai medium yang mampu menyentuh ruang batin masyarakat.

Seni pertunjukan memiliki kemampuan itu. Gerak tubuh, komposisi ruang, musik, tata visual, dan ekspresi kolektif para penari mampu menghadirkan pesan-pesan spiritual secara lebih emosional dan membekas.

Melalui koreografi kolosal yang memadukan unsur tradisi Sasak, simbol-simbol keislaman, serta semangat kebersamaan masyarakat NTB, pertunjukan ini menjadi representasi perjalanan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial masyarakat. Tidak ada sekat antara seni dan agama. Keduanya justru saling memperkuat dalam membangun peradaban yang beradab dan berkeadaban.

Sebanyak 300 penari yang terlibat berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas seni, hingga pegiat budaya daerah. Mereka menjadi wajah generasi muda NTB yang kreatif, religius, dan memiliki kebanggaan terhadap akar budayanya.

Baca Juga :  Melintasi Waktu Bersama Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar

“Melalui karya ini kami ingin menunjukkan bahwa seni budaya dapat menjadi media dakwah yang indah, inklusif, dan menyentuh hati. Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan pesan itu kami terjemahkan ke dalam bahasa gerak yang dapat dipahami oleh siapa saja,” demikian keyakinan yang kami bangun selama proses kreatif berlangsung.

Kolaborasi Besar yang Melampaui Batas Institusi

Keberhasilan pementasan kolosal ini tidak mungkin terwujud hanya oleh satu lembaga. Ia lahir dari semangat kerja bersama yang melibatkan banyak pihak dengan visi yang sama, yakni menghadirkan pembukaan MTQ yang bermartabat, berkesan, dan mencerminkan identitas budaya NTB.

Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah menjadi motor utama penyelenggaraan kegiatan. Dukungan penuh dari pemerintah daerah memberikan ruang yang luas bagi hadirnya kreativitas seni dalam rangkaian pembukaan MTQ.

Di sisi lain, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Tengah berperan penting dalam mengoordinasikan sumber daya pendidikan dan kebudayaan yang ada di daerah. Banyak peserta yang terlibat berasal dari lingkungan sekolah dan sanggar binaan yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan Lombok Tengah.

Dinas Pariwisata Lombok Tengah juga memberikan kontribusi strategis dalam memastikan pertunjukan menjadi bagian dari promosi identitas daerah. Seni budaya yang ditampilkan pada pembukaan MTQ bukan hanya dinikmati masyarakat NTB, tetapi juga menjadi etalase kebudayaan yang memperlihatkan kekayaan tradisi daerah kepada para tamu dari berbagai kabupaten dan kota.

Sementara itu, Dinas Kebudayaan Provinsi NTB melalui Taman Budaya NTB mengambil peran dalam pengembangan konsep artistik, pendampingan kreatif, koordinasi produksi, hingga penguatan kualitas pertunjukan agar mampu tampil dalam standar sebuah perhelatan provinsi.

Kolaborasi semacam ini menunjukkan bahwa pembangunan kebudayaan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Ia membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, institusi pendidikan, komunitas seni, dan masyarakat luas.

Baca Juga :  Begawe Beleq: Merayakan Budaya, Menggerakkan Kreativitas, Menguatkan Kebersamaan
Membangun Ekosistem Kebudayaan yang Berkelanjutan

Lebih jauh dari sebuah pertunjukan pembukaan, keterlibatan Taman Budaya NTB dalam MTQ XXXI memiliki makna yang lebih strategis. Kegiatan ini menjadi ruang aktualisasi bagi para pelaku seni sekaligus sarana pembelajaran bagi generasi muda untuk terlibat dalam produksi seni berskala besar.

Proses latihan yang berlangsung selama beberapa pekan memperlihatkan bagaimana disiplin, kerja sama, dan semangat kolektif tumbuh di antara para peserta. Mereka tidak hanya belajar menari, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, manajemen waktu, komunikasi, dan penghargaan terhadap keberagaman.

Dalam konteks pembangunan daerah, pengalaman semacam ini sangat penting untuk memperkuat ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan. Seni tidak boleh hanya hadir saat festival atau seremoni semata. Seni harus menjadi bagian dari proses pendidikan karakter, penguatan identitas, dan pemberdayaan masyarakat.

Karena itu, keberhasilan pementasan “Rahmatan Lil ‘Alamin” menjadi bukti bahwa investasi pada sektor kebudayaan akan selalu memberikan dampak yang luas. Ia mempertemukan nilai agama dengan ekspresi kreatif, memperkuat solidaritas sosial, sekaligus membuka ruang bagi lahirnya talenta-talenta baru di bidang seni pertunjukan.

Pada akhirnya, malam pembukaan MTQ XXXI di Praya tidak hanya menghadirkan kemeriahan sebuah seremoni. Ia meninggalkan pesan bahwa ketika kebudayaan dan nilai-nilai keagamaan berjalan beriringan, maka lahirlah energi sosial yang mampu memperkuat jati diri masyarakat.

Pementasan Tari Kolosal “Rahmatan Lil ‘Alamin” adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Tengah, Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, serta Taman Budaya NTB mampu menghasilkan karya yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, kolaborasi semacam inilah yang perlu terus dirawat. Sebab kebudayaan pada hakikatnya bukan hanya tentang warisan masa lalu, melainkan juga tentang bagaimana kita menyiapkan masa depan yang berakar kuat pada nilai, identitas, dan kebersamaan.(*)

 

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore
Dari Tradisi ke Masa Depan: Mandalika Menjadi Panggung Kebudayaan
Melintasi Waktu Bersama Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar
“Sade: Merawat Ingatan, Menata Masa Depan”
Begawe Beleq: Merayakan Budaya, Menggerakkan Kreativitas, Menguatkan Kebersamaan
Menggali Akar, Menoreh Jiwa: Merawat Musik Tradisi NTB dari Panggung Taman Budaya
Kemiskinan NTB Menurun, Pekerjaan Berikutnya Lebih Berat
Pertumbuhan Ekonomi NTB: Tinggi Angkanya, Perlu Merata Manfaatnya

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:31 WITA

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Rabu, 26 Agustus 2026 - 18:32 WITA

Melintasi Waktu Bersama Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:33 WITA

“Sade: Merawat Ingatan, Menata Masa Depan”

Kamis, 20 Agustus 2026 - 17:44 WITA

Begawe Beleq: Merayakan Budaya, Menggerakkan Kreativitas, Menguatkan Kebersamaan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 16:33 WITA

Menggali Akar, Menoreh Jiwa: Merawat Musik Tradisi NTB dari Panggung Taman Budaya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA