CERAKEN.ID — Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-31 Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat yang akan digelar pada 9 Juni 2026 di Praya, Kabupaten Lombok Tengah, tidak hanya menjadi ruang kompetisi tilawah dan syiar Islam.
Perhelatan akbar ini juga akan menghadirkan sebuah pertunjukan seni yang sarat makna melalui tari kolosal bertajuk Rahmatan Lil Alamin, persembahan Taman Budaya NTB.
Sebanyak 300 penari akan terlibat dalam pertunjukan pembukaan tersebut. Sebuah jumlah yang tidak hanya menunjukkan skala produksi yang besar, tetapi juga menggambarkan semangat kolektif untuk menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam bahasa gerak, ruang, dan estetika budaya.
MTQ sendiri merupakan festival keagamaan yang bertujuan mengagungkan, memahami, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an. Lebih dari sekadar perlombaan mencari qari dan qariah terbaik, MTQ menjadi sarana dakwah, silaturahmi, sekaligus upaya membumikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat.
Karena itulah, kehadiran tari kolosal dalam pembukaan MTQ bukan sekadar hiburan seremonial, melainkan bagian dari narasi besar tentang harmoni manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Tantangan di Balik 300 Penari
Di balik kemegahan angka tersebut, terdapat tantangan tersendiri yang harus dihadapi tim kreatif Taman Budaya NTB. Dari total 300 talent yang terlibat, sebanyak 250 merupakan penari perempuan dan hanya 50 penari laki-laki.
Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, mengakui bahwa komposisi tersebut lahir dari kondisi riil dunia tari di daerah.
“Kalau dilihat dari komposisi tari kolosal Rahmatan Lil Alamin sebesar 300 talent, terdiri dari 250 perempuan dan 50 laki-laki. Apakah pilihannya seperti itu? Kita menyadari diri, kita kekurangan talent laki-laki untuk di tari. Ini sebenarnya sangat berpengaruh terhadap materi karya. Jadi tidak bisa kita utak-atik lagi, mau buat spektakuler di laki-laki agak susah. Tapi ini tantangan tersendiri,” ujarnya.
Menurut Miq Surya, persoalan tersebut bukan semata-mata karena tidak adanya potensi, melainkan karena minimnya wawasan dan referensi pertunjukan tari yang melibatkan laki-laki di Lombok.
“Yang terjadi sebenarnya karena kurangnya atau minimnya wawasan dan juga mungkin tontonan tarian untuk laki-laki yang memang di tradisi Lombok sangat minim kita jumpai. Sehingga tidak ada ketertarikan buat laki-laki untuk belajar menari selain kadang muncul anekdot yang mengatakan kalau laki-laki menari itu menjadi tidak pantas,” katanya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan dunia tari di NTB tidak hanya berkaitan dengan produksi karya, tetapi juga menyangkut persepsi sosial yang masih berkembang di masyarakat. Akibatnya, ruang regenerasi penari laki-laki berjalan lebih lambat dibandingkan penari perempuan.

Namun justru dari keterbatasan itulah kreativitas diuji. Alih-alih menjadikan komposisi yang timpang sebagai hambatan, Taman Budaya NTB berupaya mengubahnya menjadi kekuatan visual dan dramaturgi yang khas.
Menerjemahkan Rahmat bagi Semesta Alam
Tema Rahmatan Lil Alamin atau “rahmat bagi semesta alam” dipilih bukan tanpa alasan. Tema ini sangat dekat dengan semangat MTQ yang mengajarkan kedamaian, kasih sayang, keseimbangan, serta tanggung jawab manusia terhadap kehidupan.
Secara artistik, komposisi 250 penari perempuan dan 50 penari laki-laki dapat dibaca sebagai kekuatan visual yang mendukung tema tersebut. Jumlah besar penari perempuan dapat merepresentasikan alam semesta, bumi, air, tumbuhan, serta sumber kehidupan yang terus melahirkan dan memelihara keberlangsungan dunia.
Sementara itu, penari laki-laki dapat dimaknai sebagai manusia yang diberi amanah sebagai khalifah untuk menjaga dan merawat ciptaan Tuhan.
Jika diterjemahkan ke dalam struktur koreografi, pertunjukan dapat bergerak melalui tiga babak besar.
Babak pertama menghadirkan gambaran keindahan dan kedamaian alam. Hamparan penari perempuan bergerak mengalir seperti ombak atau hembusan angin, sementara penari laki-laki menjadi pusat harmoni melalui gerak-gerak yang mencerminkan rasa syukur dan ketundukan kepada Tuhan.
Babak kedua memasuki fase ujian dan tantangan. Gerak menjadi lebih dinamis dan kontras. Penari laki-laki menyebar ke berbagai ruang panggung, menggambarkan pergulatan manusia dengan ego, kekuasaan, dan tantangan zaman.
Di sisi lain, penari perempuan menampilkan ekspresi alam yang rapuh, menggambarkan bumi yang terluka akibat ketidakseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan.
Puncaknya hadir pada babak ketiga. Seluruh penari menyatu dalam formasi besar yang melambangkan rekonsiliasi antara manusia dan alam. Harmoni kembali tercipta. Rahmat kembali mengalir kepada seluruh makhluk.
Pembacaan tersebut merupakan salah satu kemungkinan tafsir artistik atas tema Rahmatan Lil Alamin. Pada akhirnya, bentuk koreografi yang tampil di panggung MTQ akan menjadi interpretasi kreatif tim koreografer dalam menerjemahkan pesan rahmat, harmoni, dan keseimbangan semesta.
Dari Workshop hingga Kematangan Artistik
Sebelumnya, dalam upaya menjembatani kesenjangan jumlah penari laki-laki, Taman Budaya NTB menyelenggarakan Workshop Swara Loka Karsa pada 13–16 Mei 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Alfiyanto, S.Sn., M.Sn., seniman tari kontemporer dan koreografer dari ISBI Bandung. Kehadiran koreografer nasional ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas artistik sekaligus memperkaya pendekatan kreatif dalam mengolah karya berskala besar.
Workshop menjadi ruang penting untuk mengembangkan gagasan koreografi, menyatukan visi para pelatih dan penari, sekaligus mencari formula yang tepat agar keterbatasan jumlah penari laki-laki tidak mengurangi kekuatan pertunjukan.
Di titik inilah seni menunjukkan fungsinya sebagai ruang dialog antara konsep dan realitas. Sebuah karya tidak hanya lahir dari ide besar, tetapi juga dari kemampuan mengolah berbagai keterbatasan menjadi keunggulan estetis.
Menjaga Tradisi, Mencari Pakem
Di balik proses kreatif tersebut, Miq Surya juga menyoroti persoalan yang lebih mendasar, yakni minimnya literasi mengenai tari tradisi Sasak dan Lombok. Hingga kini, menurutnya, belum ada rujukan yang benar-benar mampu menjawab kebutuhan generasi baru koreografer dalam memahami pakem gerak tari Lombok.
“Kalau tentang pakem tari Lombok sendiri sampai saat ini masih belum kita jumpai literasi atau buku-buku yang menulis tentang pakem gerak dan tari Lombok. Walau pernah ada beberapa tulisan, tapi nyatanya sampai saat ini belum menjawab pertanyaan kreator muda atau koreografer muda tentang pakem gerak atau tari Sasak Lombok,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat banyak seniman harus melakukan pencarian sendiri melalui praktik, observasi budaya, hingga dialog dengan para pelaku tradisi. Karena itu, dalam setiap karya yang diciptakannya, Miq Surya selalu berupaya menggali nilai-nilai budaya Sasak secara lebih mendalam.
“Itulah alasan saya kenapa saat berkarya selalu mengangkat nilai-nilai tentang tradisi Sasak atau Lombok, bukan hanya di permukaannya,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Rahmatan Lil Alamin bukan sekadar pertunjukan pembuka MTQ. Ia juga menjadi bagian dari ikhtiar panjang merawat ingatan budaya, menerjemahkan nilai-nilai lokal ke dalam bahasa seni yang relevan dengan zaman, sekaligus memperkuat identitas NTB di tengah arus perubahan yang terus bergerak.
Pada akhirnya, pembukaan MTQ NTB tahun ini bukan hanya tentang menyambut sebuah kompetisi membaca Al-Qur’an. Ia menjadi panggung yang mempertemukan nilai-nilai agama, tradisi budaya, dan kreativitas seni dalam satu peristiwa bersama.
Melalui gerak tubuh 300 penari, pesan tentang kedamaian, tanggung jawab manusia terhadap alam, dan rahmat bagi seluruh semesta diharapkan hadir bukan hanya untuk disaksikan, tetapi juga untuk direnungkan. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































