CERAKEN.ID — Malam di Teater Terbuka UPTD Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sabtu (11/7), seolah menjelma menjadi ruang perayaan bagi kreativitas anak-anak dan generasi muda.
Ratusan pasang mata memadati arena pertunjukan hingga tak lagi menyisakan kursi kosong. Mereka datang bukan sekadar menyaksikan sebuah pentas, melainkan merayakan proses panjang, kerja keras, dan mimpi yang tumbuh dari ruang-ruang latihan.
Sebanyak 228 penampil tampil dalam Pergelaran dan Evaluasi I Olah Seni 2026. Mereka mempersembahkan beragam ekspresi seni, mulai dari Tari Tradisi, Tari Nusantara, Tari Kreasi, Modern Dance, Musik Tradisi, Musik Modern, Vokal, Teater hingga Seni Rupa.
Di atas panggung, setiap gerak, nada, dan dialog menjadi bukti bahwa pembinaan seni di NTB terus menemukan denyutnya.
Laboratorium Kebudayaan yang Terus Menyala
Pergelaran ini bukan sekadar agenda rutin semesteran. Ia merupakan cermin dari visi besar Taman Budaya NTB sebagai laboratorium seni budaya dan pusat informasi kesenian di daerah.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhamad Ihwan, melalui sambutan yang dibacakan Sekretaris Dinas Kebudayaan NTB, Arifin, mengingatkan pentingnya menjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman.
“Agar terus menjaga dan melestarikan seni dan budaya sebagai kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya,” ujarnya.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya populer global, ruang-ruang pembinaan seni menjadi benteng sekaligus jembatan bagi lahirnya generasi yang tidak tercerabut dari akar budayanya.
Pergelaran ini juga diharapkan menjadi ruang silaturahmi dan pembelajaran yang melahirkan karya-karya terbaik putra-putri NTB. Sebab, seni tidak hanya melatih keterampilan, tetapi juga membentuk karakter, kepekaan, dan identitas kebudayaan.
Seni sebagai Sekolah Kehidupan

Bagi UPTD Taman Budaya NTB, olah seni merupakan investasi jangka panjang. Kegiatan yang rutin dilaksanakan dua kali dalam setahun ini dirancang sebagai wadah pembinaan bakat, kreativitas, dan apresiasi seni bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda.
Kepala Seksi Pelestarian Seni dan Budaya UPTD Taman Budaya NTB, Ni Wayan Sri Artini, menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini bukan hanya melahirkan seniman, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki kehalusan budi.
“Penyelenggaraan kegiatan olah seni dimaksud sebagai wadah pembinaan bakat, kreativitas, dan apresiasi seni bagi generasi muda,” katanya, Kamis (16/7).
Menurutnya, seni mampu menanamkan nilai-nilai disiplin, keberanian, dan kemampuan berekspresi yang akan menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, Taman Budaya membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mengembangkan minat dan bakat melalui sistem latihan yang teratur dan didampingi para pelatih profesional.
Kebahagiaan dari proses tersebut ternyata tidak hanya dirasakan para peserta. Sri Artini mengungkapkan, dukungan orang tua menjadi energi tersendiri dalam penyelenggaraan kegiatan ini.
“Mereka mengatakan kebahagiaan itu sangat sederhana, yaitu melihat anak tampil untuk melatih mental dan kemandirian di atas panggung,” ungkapnya.
Kebahagiaan itu bahkan menular kepada seluruh anggota keluarga. Kakek, nenek, paman, bibi, hingga saudara sepupu turut hadir memberikan dukungan. Panggung seni pun berubah menjadi ruang kebersamaan yang mempererat hubungan keluarga.
Menata Masa Depan Pendidikan Seni di NTB
Di balik kemeriahan pergelaran, para pelatih juga menyimpan sejumlah catatan penting untuk pengembangan olah seni ke depan.
Seni mampu menanamkan nilai-nilai disiplin, keberanian, dan kemampuan berekspresi yang akan menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari (av: ist / ceraken.id)
Pelatih kelas biola, Ranto Rahadi, mengaku antusias melihat munculnya talenta-talenta baru di bidang musik, khususnya instrumen string.
“Saya lebih fokus melatih skill dan mental anak-anak agar mereka tetap melakukan yang terbaik di atas panggung, dalam keadaan apa pun,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai persoalan teknis, terutama kualitas audio, masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dibenahi.
Hal senada disampaikan Pelatih Kelas Vokal, Pipit Tripitaka. Menurutnya, Olah Seni Taman Budaya telah menjadi rumah bertumbuh bagi anak-anak dan para pelatih. Namun, ke depan dibutuhkan sistem pembelajaran yang lebih terstruktur.
“Sangat disayangkan jika kegiatan belajar seni hanya menjadi pengisi waktu luang anak. Jika dikelola dengan tepat, olah seni ini dapat menjadi sekolah seni yang memiliki hasil belajar yang terarah,” katanya.
Gagasan mengenai jenjang pembelajaran, kelas dasar dan lanjutan, hingga sertifikasi bagi peserta menjadi wacana menarik yang patut dipertimbangkan. Sebab, pendidikan seni hari ini tidak lagi hanya berorientasi pada pertunjukan, melainkan juga pada pembentukan ekosistem kreatif yang mampu mendukung masa depan generasi muda.
Kehadiran berbagai tokoh dan institusi pendidikan dalam pergelaran ini, mulai dari para rektor perguruan tinggi, pimpinan lembaga penyiaran, hingga komunitas seni dan para duta budaya, menunjukkan bahwa perhatian terhadap pengembangan seni di NTB terus menguat.
Pada akhirnya, panggung Olah Seni Taman Budaya bukan sekadar tempat tampil. Ia adalah ruang persemaian. Di sanalah anak-anak belajar percaya diri, mengenal disiplin, menghargai proses, dan mencintai kebudayaannya sendiri.
Karena sesungguhnya, sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh jalan dan gedung-gedung tinggi, tetapi juga oleh generasi yang memiliki jiwa seni, karakter yang kuat, serta kesadaran bahwa kebudayaan adalah identitas yang harus terus dirawat dan diwariskan. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































