Sangga Boemi dan Orkestra yang Mengantar Pulang: Sebuah Perjalanan Musikal di Chamber Pop Festival 2026

- Penulis

Senin, 29 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sangga Boemi. Dikenal melalui jalur akustik, indie pop, dan balada (foto: aks / ceraken.id)

Sangga Boemi. Dikenal melalui jalur akustik, indie pop, dan balada (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID – Ada suasana yang sulit dijelaskan ketika Sangga Boemi menapaki panggung Chamber Pop Festival 2026: Music Concert, Community Hub, and Pop-up Market di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat malam, 26 Juni 2026.

Bukan semata karena ia tampil bersama Sreyas String Ensamble untuk pertama kalinya, melainkan karena seluruh pertunjukan seolah mengajak penonton meninggalkan hiruk-pikuk keseharian dan terbang ke ruang yang lebih sunyi; ke bulan, ke awan, hingga menemui gugusan bintang.

Di tengah pencahayaan panggung yang hangat dan iringan instrumen gesek yang megah, Sangga Boemi menghadirkan empat lagu yang dirangkai bukan sekadar sebagai daftar penampilan, melainkan sebagai sebuah perjalanan batin.

Musisi yang selama ini dikenal melalui jalur akustik, indie pop, dan balada itu kembali menunjukkan kekuatan utamanya: lirik-lirik puitis yang kontemplatif, sederhana, namun mampu mengetuk ruang terdalam para pendengarnya.

Tema “pulang” yang selama ini menjadi salah satu napas karya-karyanya kembali terasa kuat. Namun pulang yang dimaksud Sangga bukan sekadar kembali ke rumah. Pulang adalah perasaan. Sebuah tempat singgah bagi hati untuk menemukan kedamaian setelah menempuh perjalanan panjang kehidupan.

Empat Lagu, Satu Cerita Kehidupan

Penampilan dibuka melalui lagu “Hujan Senja dan Aku”, karya yang ditulis Sangga pada 2016 ketika baru memulai kehidupan sebagai mahasiswa di Mataram.

Sebelum melanjutkan penampilannya, Sangga menyampaikan kondisi kesehatannya kepada penonton.

Hujan, Senja dan Aku – Sangga Boemi (av: aks/ceraken.id)

“Suara saya memang agak sengau karena kurang fit. Jadi buat teman-teman, tetap jaga kesehatan ya,” ujarnya disambut tepuk tangan hangat penonton.

Ia kemudian menceritakan makna lagu tersebut.

“Lagu ini membayangkan saat hujan di sore hari, tiba-tiba bertemu seseorang yang kemudian menempel menjadi teman khayalan sampai saat ini. Kurang lebih seperti itu. Ya… sedikit puitis.”

Lagu itu menjadi pembuka yang lembut. Petikan gitar menciptakan ruang nostalgia yang begitu intim. Sesekali Sangga menghentikan permainan untuk meneguk air dari tumbler yang dibawanya ke atas panggung, berusaha menjaga stamina agar tetap mampu menyelesaikan keseluruhan pertunjukan.

Memasuki lagu kedua berjudul “Waktu”, karya grup Tunggang Gunung yang juga menjadi bagian perjalanan musikalnya, suasana berubah menjadi lebih reflektif.

“Lagu berikutnya sangat berat bagi yang menjalaninya. Ada yang menjalani dengan santai, ada juga yang tergesa-gesa. Seperti lagu yang akan saya bawakan ini, ‘Waktu’. Ini adalah interpretasi sebuah kehidupan. Apa pun situasi yang sedang kita alami, memang sudah waktunya.”

Melalui lagu tersebut, Sangga mengajak penonton menerima bahwa kebahagiaan, kesedihan, kegagalan, hingga kehilangan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan waktu manusia.

Baca Juga :  Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh
Ketika Orkestra Menghidupkan ‘Dermaga Hati’

Puncak emosional mulai terasa ketika lagu ketiga, “Dermaga Hati”, dimainkan bersama Sreyas String Ensamble.

Waktu – Sangga Boemi (av: aks/ceraken.id)

Bagi Sangga, lagu ini memiliki tempat yang sangat istimewa.

“Kenapa ‘Dermaga Hati’? Karena seperti sebuah dermaga, ada yang datang, ada yang pergi, dan ada yang menetap. Lagu ini lebih kepada memastikan tentang kerinduan dan kerelaan.”

Nuansa orkestral membuat lagu tersebut memiliki dimensi yang sama sekali baru. Gesekan biola, viola, dan cello seolah memperluas ruang emosional yang sebelumnya hanya hadir melalui gitar dan vokal.

Beberapa hari setelah pertunjukan, tepatnya Senin pagi, 29 Juni 2026, Sangga kembali mengenang pengalaman tersebut.

“Ini pengalaman pertama saya di mana beberapa karya diiringi instrumen orkestra, khususnya ‘Dermaga Hati’ dan ‘Telah Madonna Ia’.”

Ia menjelaskan bahwa “Dermaga Hati” dipilih secara khusus karena sangat jarang dibawakan dalam konser-konser sebelumnya.

“Karena ada kesempatan digubah bersama orkestra, akhirnya lagu itu saya pilih untuk dibawakan.”

Menurutnya, tantangan terbesar justru datang dari proses aransemen.

Sreyas String Ensamble” (av: aks/ceraken.id)

“Kalau ‘Telah Madonna, Ia’ memang sudah ada sedikit unsur orkestranya sehingga tinggal menyesuaikan beberapa bagian. Tetapi ‘Dermaga Hati’ benar-benar dibuat dari nol. Saya hanya mengirim rekaman mentah dari gawai kepada teman-teman Sreyas String Ensamble. Dari situlah mereka mengulik semuanya hingga menjadi pertunjukan seperti kemarin.”

Kerja kolaboratif tersebut menjadi salah satu kekuatan utama penampilan Sangga malam itu. Musiknya tidak kehilangan identitas akustiknya, tetapi memperoleh ruang ekspresi yang jauh lebih luas melalui sentuhan orkestral.

Bangkit, Berkarya, dan Membiarkan Karya Menemukan Jalannya

Lagu terakhir berjudul “Telah Madonna Ia”, yang diadaptasi dari puisi penyair Julia F. Gerhani Arungan, menjadi penutup sekaligus simpul seluruh cerita yang dibangun sejak awal pertunjukan.

Sebelum membawakannya, Sangga mengungkapkan bahwa sebenarnya ia telah menyiapkan lebih banyak lagu.

“Sebenarnya saya ingin menampilkan lima belas lagu, tetapi suara saya tidak sampai ke sana. Jadi lagu terakhir ini menjadi rangkuman semuanya.”

Ia kemudian menjelaskan perjalanan cerita yang sengaja disusun melalui urutan lagu.

“Yang pertama tentang pertemuan kecil yang mengesankan melalui ‘Hujan Senja dan Aku’, kemudian menjadi situasi yang tidak bisa dihindari pada lagu ‘Waktu’, lalu tentang harapan dan kerelaan di ‘Dermaga Hati’, dan terakhir ‘Telah Madonna Ia’, sebuah puisi tentang seseorang yang mampu bangkit dari keterpurukannya.”

Penjelasan itu kembali diperdalam ketika diwawancarai kembali pada Senin pagi, 29 Juni 2026 itu.

Dermaga Hati – Sangga Boemi (av: aks/ceraken.id)

“Urutan lagunya memang sengaja saya buat menjadi sebuah cerita perjalanan. Dimulai dari perjumpaan yang tak terduga, kemudian menghadapi takdir waktu, belajar mengenang dan merelakan, hingga akhirnya bangkit dari keterpurukan sebagai awal yang baru serta rasa hormat kepada diri sendiri.”

Bagi Sangga, penampilan tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan meskipun kondisi fisiknya sedang tidak prima.

“Karena kondisi fisik yang tidak stabil kemarin, saya lebih mengedepankan cerita dari lagu-lagu yang saya bawakan daripada memikirkan teknis di atas panggung. Show must go on.”

Penampilan itu juga mendapat perhatian khusus dari Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB  Muhamad Ihwan, yang secara terbuka memberikan apresiasi setelah pementasan (ceraken.id 28 Juni 2026).

“Terutama Sangga Boemi sebagai penampil kedua, keren banget suaranya, walaupun serak-serak. Itu perlu dipromosikan lagi di sini sebagai penampilan tunggal.”

Pujian tersebut diakui Sangga menjadi kejutan yang sama sekali tidak ia bayangkan.

“Waah… satu kebanggaan buat saya bisa sampai diapresiasi seperti itu. Saya sama sekali tidak membayangkan akan mendapat respons setelah pertunjukan.”

Jika kelak kembali memperoleh kesempatan tampil dalam format serupa, Sangga mengaku akan mempersiapkan diri dengan lebih matang.

“Pastinya saya akan sambut baik. Saya akan mempersiapkan mental dan diri agar lebih maksimal. Tapi saya juga ingin tetap melibatkan teman-teman komunitas karena mereka yang selama ini memberi energi sehingga karya-karya saya tetap hidup.”

Telah Madonna, Ia – Sangga Boemi (av: aks/ceraken.id)

Namun di balik segala apresiasi yang diterimanya, Sangga memilih tetap berpijak pada kesederhanaan seorang seniman yang terus belajar.

“Saya tidak punya ekspektasi yang berlebihan. Biar karya yang menemukan tempatnya. Saya hanya ingin terus berkarya, terus berproses, dan terus meng-upgrade diri.”

Ia kemudian mengenang nasihat yang diterimanya sekitar satu dekade lalu dari seniman rupa NTB, Bli Mantra Ardhana, yang hingga kini menjadi pegangan hidupnya.

“Beliau pernah bilang kepada saya, ‘Berkarya saja terus, kalau pun karyamu dikenal dan terkenal, itu hanya bonus.'”

Kalimat sederhana itu, menurut Sangga, selalu mengingatkannya bahwa kecintaan terhadap proses jauh lebih penting daripada mengejar popularitas.

“Jadi lebih kepada mencintai apa yang kita kerjakan. Bagaimana perjalanan karya itu nanti hanyalah bonus. Yang terpenting adalah berkarya dan berproses dengan jujur.”

Malam itu, empat lagu yang dibawakan Sangga Boemi bersama Sreyas String Ensamble bukan hanya menghadirkan pertunjukan musik. Ia menjelma menjadi perjalanan emosional tentang perjumpaan, takdir, kerelaan, dan kebangkitan.

Baca Juga :  Senandung "Jiwa Alam": Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan

Sebuah perjalanan yang membuat para penonton tidak sekadar menikmati alunan nada, tetapi turut diajak menemukan makna pulang di dalam diri mereka masing-masing. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh
Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”
Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang
Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan
Milu: Ketika Suara Adat Menjadi Tokoh Utama di Atas Panggung
Tanah Tumpah: Ketika Tubuh Menjadi Penjaga Ingatan Bumi
Memuliakan Sketsa, Merawat Ingatan: Proses Kuratorial di Balik Pameran Tunggal S. La Radek

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 23:19 WITA

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:06 WITA

Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:22 WITA

Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:54 WITA

Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA