Dari Museum NTB ke Panggung Global: Buku Wastra Lombok Siap Diluncurkan Internasional

- Penulis

Rabu, 18 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Prof Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc, (kiri), Dr Ahmad Nuralam, S.H., M.H.(tengah), dan Michael Abbot (kanan).   Percakapan mengalir mulai dari perkembangan literasi budaya, promosi kain tradisional Indonesia, hingga upaya memperkuat diplomasi budaya melalui publikasi internasional. (Foto: Museum Negeri NTB)

Prof Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc, (kiri), Dr Ahmad Nuralam, S.H., M.H.(tengah), dan Michael Abbot (kanan). Percakapan mengalir mulai dari perkembangan literasi budaya, promosi kain tradisional Indonesia, hingga upaya memperkuat diplomasi budaya melalui publikasi internasional. (Foto: Museum Negeri NTB)

CERAKEN.ID — Kepala Museum Negeri NTB, Dr Ahmad Nuralam, S.H., M.H.,  melakukan pertemuan penting dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc, pada 18 Februari 2026 di kantor kementerian kebudayaan.

Pertemuan tersebut turut dihadiri kolektor sekaligus penulis Michael Abbot serta akademisi Dr. Muhammadun. Agenda utama yang dibahas adalah rencana peluncuran buku internasional tentang wastra Lombok yang akan digelar pada Juni 2026 di Adelaide, Australia Selatan.

Pertemuan berlangsung di lingkungan kerja Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dengan suasana yang cair dan produktif. Walaupun jadwal resmi hanya menyediakan waktu tiga puluh menit, diskusi justru berlangsung lebih dari dua jam.

Percakapan mengalir mulai dari perkembangan literasi budaya, promosi kain tradisional Indonesia, hingga upaya memperkuat diplomasi budaya melalui publikasi internasional.

Michael Abbot, yang selama bertahun-tahun mengoleksi berbagai wastra Nusantara, tengah menyiapkan penerbitan buku berbahasa Inggris yang secara khusus membahas kain tenun dari Lombok dan Bali.

Buku ini diharapkan menjadi referensi penting bagi dunia internasional dalam memahami kekayaan tekstil tradisional Indonesia, terutama wastra Lombok yang selama ini belum banyak terdokumentasikan dalam literatur global.

Dalam kesempatan tersebut, Michael Abbot berharap Menteri Kebudayaan bersedia memberikan kata pengantar sebagai bentuk dukungan negara terhadap promosi budaya Indonesia di kancah internasional.

Baca Juga :  Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Selain itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. Lalu Muhamad Iqbal, S.IP, M.Si, juga direncanakan memberikan sambutan tertulis dalam buku tersebut serta menghadiri peluncuran dan diskusi buku di Australia.

Ahmad Nuralam menegaskan bahwa buku yang akan diterbitkan ini menjadi tonggak penting karena merupakan literasi internasional pertama yang secara khusus membahas koleksi dan ragam wastra Lombok secara mendalam.

Ia menilai kehadiran buku ini akan membuka ruang lebih luas bagi masyarakat dunia untuk mengenal identitas budaya masyarakat Lombok melalui kain tenun yang sarat nilai sejarah, simbolik, dan filosofi kehidupan.

Buku yang akan diterbitkan ini menjadi tonggak penting karena merupakan literasi internasional pertama yang secara khusus membahas koleksi dan ragam wastra Lombok secara mendalam (Foto: Museum Negeri NTB)

Menteri Kebudayaan menyambut baik inisiatif tersebut dan menyatakan kesiapannya memberikan sambutan dalam buku tersebut. Menurutnya, promosi budaya melalui literasi internasional merupakan langkah strategis dalam pemajuan kebudayaan nasional.

Ia menilai wastra Lombok memiliki nilai artistik dan historis yang layak diperkenalkan secara lebih luas.

“Buku ini menjadi  literasi internasional yang penting bagi pemajuan kebudayaan kita khususnya masyarakat Lombok” kata Fadli Zon di ruang kerjanya.

Selain membahas buku, pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan bagi Kepala Museum Negeri NTB untuk melaporkan perkembangan program museum desa yang tengah digalakkan sebagai upaya memperluas akses edukasi budaya kepada masyarakat.

Dalam kesempatan itu pula, Ahmad Nuralam menyerahkan beberapa publikasi Museum NTB, termasuk buku mengenai tradisi bercocok tanam masyarakat Sasak serta kajian manuskrip Markum sebagai bagian dari penguatan dokumentasi sejarah lokal.

Baca Juga :  Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Menariknya, seusai diskusi resmi, Menteri Kebudayaan mengajak para tamu berkeliling ruang kerjanya yang menampilkan berbagai koleksi budaya yang ditata secara artistik. Momen tersebut menambah kesan hangat dalam pertemuan yang awalnya bersifat formal.

“Pak Menteri mengajak kami keliling melihat koleksi beliau yang di display secara artistik. Saya pun melaporkan perkembangan museum desa serta memberikan buku yang ditulis oleh Museum NTB tentang bercocok tanam masyarakat Sasak serta kajian manuskrip Markum,” pungkas Nuralam.

Pertemuan ini menunjukkan bahwa promosi budaya tidak lagi sekadar kegiatan seremonial, tetapi telah berkembang menjadi diplomasi budaya yang dirancang secara strategis melalui publikasi, jaringan kolektor, akademisi, serta dukungan pemerintah daerah dan pusat.

Jika peluncuran buku di Adelaide berjalan sesuai rencana, maka wastra Lombok akan menapaki babak baru sebagai identitas budaya yang semakin dikenal di dunia internasional.

Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa kain tradisional bukan hanya produk kerajinan, tetapi arsip hidup yang merekam perjalanan peradaban masyarakat Nusantara.

Ketika wastra Lombok tampil di panggung global, yang turut diperkenalkan bukan hanya keindahan kainnya, melainkan juga cerita, nilai, dan kebijaksanaan masyarakat yang melahirkannya.(aks)**

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan museum ntb

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sade Pascakebakaran: Saatnya Menata Ulang Kampung Tradisi dari Hati ke Hati
Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 16:54 WITA

Sade Pascakebakaran: Saatnya Menata Ulang Kampung Tradisi dari Hati ke Hati

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA