Menjembatani Kebersamaan dari Pesantren: Saat Silaturahmi Menjadi Gerakan Sosial

- Penulis

Kamis, 4 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

CERAKEN.ID — Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika sosial yang terus berubah, masih ada ruang-ruang perjumpaan yang menghadirkan makna sederhana namun mendalam. Ruang itu terwujud ketika sejumlah organisasi kemasyarakatan memilih hadir langsung di tengah masyarakat, bukan sekadar membawa nama lembaga, melainkan membawa kepedulian.

Kamis, 4 Juni 2026, halaman Yayasan Pondok Pesantren Azzainiyah Al-Majidiyah NW di Kotaraja, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, menjadi saksi sebuah pertemuan yang sarat pesan kebersamaan. Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Nusa Tenggara Barat bersama Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) NTB datang dalam kegiatan bertajuk JMSI NTB dan INTI NTB Goes to Pesantren 2026.

Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi agenda silaturahmi. Di dalamnya terkandung semangat literasi, kepedulian sosial, dan upaya mempererat hubungan antarelemen masyarakat melalui aksi nyata. Sebanyak 75 pasang sandal diserahkan kepada para santri sebagai bentuk dukungan sederhana namun bermakna bagi aktivitas pendidikan di lingkungan pesantren.

Silaturahmi yang Melahirkan Kepedulian

Rombongan dipimpin Ketua JMSI NTB H. Boy Mashudi didampingi Sekretaris Sukri Aruman. Dari INTI NTB hadir Ketua Harian S. Widjanarko dan Sekretaris H. Rudi Hidayat bersama sejumlah pengurus kedua organisasi. Turut hadir pula Ketua Pengurus Cabang JMSI Lombok Timur Suardi Mustaan dan Sekretaris Suhaedi Muktar.

Bagi JMSI NTB, kegiatan sosial semacam ini bukanlah yang pertama. Organisasi yang mewadahi para pemilik media siber tersebut berupaya meneguhkan perannya tidak hanya sebagai bagian dari ekosistem pers, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial.

“Misi kita silaturahmi, literasi dan berbagi. Intinya, kita coba hadir memberikan manfaat dan memperkenalkan keberadaan lembaga kepada kalangan pengasuh pesantren dan santri,” ujar H. Boy Mashudi.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan organisasi modern tidak semata diukur dari aktivitas administratif atau program kelembagaannya. Yang lebih penting adalah sejauh mana organisasi mampu menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat yang dilayaninya.

Baca Juga :  Dari Kobaran Api, Sade Menjaga Harapan untuk Bangkit Kembali

Semangat yang sama juga disampaikan Sekretaris INTI NTB, H. Rudi Hidayat. Menurutnya, kunjungan tersebut lahir dari niat membangun hubungan kemanusiaan yang lebih erat, tanpa membawa kepentingan lain di luar misi sosial.

“Kedatangan kami ke ponpes ini tidak ada muatan politiknya, tapi semata-mata untuk menjalin silaturahmi sekaligus menyerahkan bantuan meski tak seberapa nilainya,” katanya.

Organisasi, apa pun latar belakangnya, dapat bertemu pada satu titik yang sama: kepedulian terhadap pendidikan dan masa depan generasi muda. (Foto: ist / ceraken.id)

Di tengah situasi sosial yang sering kali dipenuhi prasangka dan sekat identitas, pernyataan tersebut menjadi penting. Ia menegaskan bahwa kerja-kerja sosial dapat menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai latar belakang dalam tujuan yang sama: menghadirkan manfaat bagi sesama.

Pendidikan sebagai Titik Temu

Pesantren selama ini tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai sosial masyarakat. Karena itu, dukungan terhadap pesantren sejatinya merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia.

Ketua Yayasan Azzainiyah Al-Majidiyah NW Kotaraja, Drs. H. Syaifullah, menyambut hangat kedatangan rombongan JMSI NTB dan INTI NTB. Baginya, perhatian yang diberikan berbagai elemen masyarakat menjadi energi penting bagi pengembangan lembaga pendidikan yang dipimpinnya.

“Kami senang dan bahagia atas kedatangan JMSI NTB dan INTI NTB. Kami sangat berterima kasih atas dukungan dan bantuannya,” ujar Syaifullah.

Harapan untuk terus menjalin komunikasi dan kerja sama menjadi penanda bahwa hubungan yang dibangun dalam kunjungan tersebut tidak berhenti pada seremoni penyerahan bantuan. Ada keinginan untuk menghadirkan kolaborasi yang lebih berkelanjutan demi kemajuan para santri dan dunia pendidikan.

Baca Juga :  Sertinah TDA NTB 8.0: Estafet Amanah, Menjaga Nyala Kewirausahaan di Bumi Gora

Suasana keakraban semakin terasa ketika Ketua Harian INTI NTB, S. Widjanarko, berbagi motivasi kepada para santri dan tenaga pendidik. Dengan penuh kehangatan ia mengungkapkan kedekatannya dengan lingkungan pesantren dan organisasi Nahdlatul Wathan.

“Saya sangat dekat dengan Ponpes. Apalagi NW, saya hapal mars NW,” katanya yang langsung disambut tepuk tangan hadirin.

Momen itu kemudian berlanjut dengan penampilan lagu qasidah “Jilbab Putih” yang dibawakannya. Kehangatan yang tercipta memperlihatkan bahwa hubungan sosial sering kali tumbuh bukan dari pidato panjang, melainkan dari kesediaan untuk hadir, berbagi, dan berinteraksi secara tulus.

Pada akhirnya, kunjungan JMSI NTB dan INTI NTB ke Pondok Pesantren Azzainiyah Al-Majidiyah NW menghadirkan pelajaran penting tentang makna kolaborasi. Bahwa organisasi, apa pun latar belakangnya, dapat bertemu pada satu titik yang sama: kepedulian terhadap pendidikan dan masa depan generasi muda.

Di Lombok Timur hari itu, bantuan berupa puluhan pasang sandal mungkin tampak sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu tersimpan pesan yang jauh lebih besar: bahwa kemajuan daerah dibangun bukan hanya oleh kebijakan dan program besar, melainkan juga oleh silaturahmi yang dirawat, kepedulian yang diwujudkan, dan kebersamaan yang terus dijaga. (*)

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade
Merdeka Finansial, Menata Masa Pensiun Bersama Tring!
Jembatan Harapan Desa Mawu: Dari Penantian Puluhan Tahun untuk Masa Depan Anak-Anak
Pegadaian Peduli Sade: Menjaga Kepedulian di Tengah Abu Kebakaran
Pegadaian Peduli Menjangkau Tujuh Kabupaten, Menguatkan Penyintas Gempa NTT
Dari Ruang Hijau Menuju Merdeka Finansial, Pensiunan Pegadaian Bersama Tring!
Peduli Sesama, INTI NTB Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Desa Adat Sade
Dari Kobaran Api, Sade Menjaga Harapan untuk Bangkit Kembali

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 09:03 WITA

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Kamis, 27 Agustus 2026 - 00:54 WITA

Merdeka Finansial, Menata Masa Pensiun Bersama Tring!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:43 WITA

Jembatan Harapan Desa Mawu: Dari Penantian Puluhan Tahun untuk Masa Depan Anak-Anak

Rabu, 26 Agustus 2026 - 13:36 WITA

Pegadaian Peduli Sade: Menjaga Kepedulian di Tengah Abu Kebakaran

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Pegadaian Peduli Menjangkau Tujuh Kabupaten, Menguatkan Penyintas Gempa NTT

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA