CERAKEN.ID — Ada satu pelajaran penting yang kerap terlupakan dalam sejarah ekonomi Indonesia: koperasi tidak pernah lahir dari ruang-ruang kekuasaan yang dingin. Ia tumbuh dari kebutuhan bersama, dari percakapan panjang di beranda rumah, dari musyawarah petani, nelayan, pedagang kecil, dan masyarakat desa yang ingin keluar dari jerat ketidakadilan ekonomi.
Karena itu, Hari Koperasi setiap 12 Juli seharusnya tidak hanya menjadi perayaan seremonial, melainkan momentum untuk mengingat kembali ruh koperasi sebagai gerakan rakyat.
Bung Hatta pernah menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional. Sebuah konsep yang sederhana tetapi mendalam: ekonomi tidak boleh hanya dikuasai segelintir orang, melainkan menjadi ruang gotong royong yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Di tengah tantangan ekonomi global, Presiden Prabowo Subianto mencoba menghidupkan kembali semangat tersebut melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Pemerintah bahkan menargetkan puluhan ribu koperasi menjadi simpul baru ekonomi desa, mulai dari distribusi pangan, penyediaan pupuk, layanan keuangan rakyat, hingga penguatan rantai pasok nasional.
Namun, ada catatan penting yang tidak boleh diabaikan: koperasi tidak bisa diperlakukan sebagai proyek pembangunan semata.
Koperasi lahir dari musyawarah, bukan dari instruksi.
Tanpa partisipasi masyarakat, koperasi berisiko menjadi bangunan fisik yang kehilangan jiwa. Berbagai diskusi publik bahkan menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa sejumlah koperasi dibentuk terlalu cepat tanpa kesiapan kelembagaan dan basis anggota yang kuat.
Ketika Desa Menjadi Pusat Pertumbuhan
Taruhan besar pemerintahan Prabowo sesungguhnya terletak pada keberanian menggeser pusat pertumbuhan ekonomi dari kota menuju desa.
Selama puluhan tahun, desa sering hanya dipandang sebagai penyedia bahan baku dan tenaga kerja murah. Akibatnya, nilai tambah ekonomi justru dinikmati kawasan perkotaan.
Koperasi Merah Putih berupaya membalik keadaan tersebut dengan menjadikan desa sebagai pusat produksi, distribusi, sekaligus konsumsi. Presiden bahkan menegaskan bahwa desa harus memiliki kekuatan ekonominya sendiri dan tidak terus bergantung kepada pihak luar.
Gagasan ini sebenarnya sangat relevan bagi Nusa Tenggara Barat.
NTB memiliki kekuatan besar di sektor pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif berbasis budaya. Sayangnya, banyak komoditas unggulan masih menghadapi persoalan klasik: rantai distribusi panjang, akses pembiayaan terbatas, dan lemahnya posisi tawar petani maupun pelaku UMKM.
Koperasi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan seluruh potensi tersebut.
Bayangkan apabila koperasi desa di Lombok Timur menjadi pusat distribusi hasil jagung dan tembakau. Atau koperasi di Sumbawa mengelola rantai pasok peternakan dan perikanan secara terintegrasi.
Di kawasan wisata seperti Mandalika, koperasi dapat menjadi rumah bagi produk UMKM, kerajinan, tenun, hingga layanan wisata berbasis masyarakat.
Manfaat bagi Masyarakat NTB
Bagi masyarakat NTB, keberhasilan gerakan koperasi setidaknya menghadirkan lima manfaat penting.
Pertama, meningkatkan posisi tawar petani, nelayan, dan pelaku UMKM sehingga tidak mudah terjebak dalam praktik tengkulak maupun rentenir.
Kedua, membuka akses pembiayaan yang lebih murah dan inklusif bagi masyarakat desa.
Ketiga, menciptakan lapangan kerja baru melalui pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal.
Keempat, memperkuat ketahanan pangan dan distribusi barang kebutuhan pokok hingga ke pelosok desa.
Kelima, mendorong lahirnya ekonomi berbasis gotong royong yang selaras dengan karakter sosial masyarakat NTB.
Bagi daerah yang sedang mengusung visi NTB Makmur Mendunia, koperasi sesungguhnya bukan sekadar instrumen ekonomi, melainkan strategi pembangunan sosial. Ia dapat menjadi sarana pengurangan kemiskinan, penguatan desa wisata, hingga pengembangan industri kreatif berbasis budaya.
Tetapi sekali lagi, keberhasilan koperasi tidak ditentukan oleh banyaknya gedung yang berdiri atau jumlah koperasi yang diresmikan.
Keberhasilannya justru diukur dari seberapa besar masyarakat merasa memiliki, ikut bermusyawarah, dan memperoleh manfaat nyata.
Hari Koperasi tahun ini mengingatkan kita bahwa masa depan ekonomi Indonesia mungkin memang sedang kembali mencari jalannya ke desa. Dan bagi NTB, momentum tersebut adalah peluang besar.
Sebab ketika desa tumbuh, masyarakat sejahtera, dan koperasi hidup sebagai gerakan bersama, maka cita-cita ekonomi kerakyatan yang pernah diimpikan para pendiri bangsa tidak lagi menjadi nostalgia, melainkan kenyataan yang bekerja dari bawah, dari kampung-kampung, dari beranda rumah warga, dan dari semangat gotong royong yang tidak pernah benar-benar hilang. (aks)
Editor : ceraken editor



























































