Dari Beranda Desa Menuju Indonesia Emas: Menimbang Masa Depan Koperasi di NTB

- Penulis

Selasa, 14 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Karya Mahendra (foto: aks / ceraken.id)

Karya Mahendra (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Ada satu pelajaran penting yang kerap terlupakan dalam sejarah ekonomi Indonesia: koperasi tidak pernah lahir dari ruang-ruang kekuasaan yang dingin. Ia tumbuh dari kebutuhan bersama, dari percakapan panjang di beranda rumah, dari musyawarah petani, nelayan, pedagang kecil, dan masyarakat desa yang ingin keluar dari jerat ketidakadilan ekonomi.

Karena itu, Hari Koperasi setiap 12 Juli seharusnya tidak hanya menjadi perayaan seremonial, melainkan momentum untuk mengingat kembali ruh koperasi sebagai gerakan rakyat.

Bung Hatta pernah menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional. Sebuah konsep yang sederhana tetapi mendalam: ekonomi tidak boleh hanya dikuasai segelintir orang, melainkan menjadi ruang gotong royong yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Di tengah tantangan ekonomi global, Presiden Prabowo Subianto mencoba menghidupkan kembali semangat tersebut melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Pemerintah bahkan menargetkan puluhan ribu koperasi menjadi simpul baru ekonomi desa, mulai dari distribusi pangan, penyediaan pupuk, layanan keuangan rakyat, hingga penguatan rantai pasok nasional.

Namun, ada catatan penting yang tidak boleh diabaikan: koperasi tidak bisa diperlakukan sebagai proyek pembangunan semata.

Koperasi lahir dari musyawarah, bukan dari instruksi.

Tanpa partisipasi masyarakat, koperasi berisiko menjadi bangunan fisik yang kehilangan jiwa. Berbagai diskusi publik bahkan menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa sejumlah koperasi dibentuk terlalu cepat tanpa kesiapan kelembagaan dan basis anggota yang kuat.

Baca Juga :  Merdeka Finansial, Menata Masa Pensiun Bersama Tring!
Ketika Desa Menjadi Pusat Pertumbuhan

Taruhan besar pemerintahan Prabowo sesungguhnya terletak pada keberanian menggeser pusat pertumbuhan ekonomi dari kota menuju desa.

Selama puluhan tahun, desa sering hanya dipandang sebagai penyedia bahan baku dan tenaga kerja murah. Akibatnya, nilai tambah ekonomi justru dinikmati kawasan perkotaan.

Koperasi Merah Putih berupaya membalik keadaan tersebut dengan menjadikan desa sebagai pusat produksi, distribusi, sekaligus konsumsi. Presiden bahkan menegaskan bahwa desa harus memiliki kekuatan ekonominya sendiri dan tidak terus bergantung kepada pihak luar.

Gagasan ini sebenarnya sangat relevan bagi Nusa Tenggara Barat.

NTB memiliki kekuatan besar di sektor pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif berbasis budaya. Sayangnya, banyak komoditas unggulan masih menghadapi persoalan klasik: rantai distribusi panjang, akses pembiayaan terbatas, dan lemahnya posisi tawar petani maupun pelaku UMKM.

Koperasi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan seluruh potensi tersebut.

Bayangkan apabila koperasi desa di Lombok Timur menjadi pusat distribusi hasil jagung dan tembakau. Atau koperasi di Sumbawa mengelola rantai pasok peternakan dan perikanan secara terintegrasi.

Di kawasan wisata seperti Mandalika, koperasi dapat menjadi rumah bagi produk UMKM, kerajinan, tenun, hingga layanan wisata berbasis masyarakat.

Manfaat bagi Masyarakat NTB

Bagi masyarakat NTB, keberhasilan gerakan koperasi setidaknya menghadirkan lima manfaat penting.

Pertama, meningkatkan posisi tawar petani, nelayan, dan pelaku UMKM sehingga tidak mudah terjebak dalam praktik tengkulak maupun rentenir.

Baca Juga :  Ekonomi NTB Tetap Melaju di Tengah Normalisasi Tambang, Pertumbuhan Semakin Berkualitas

Kedua, membuka akses pembiayaan yang lebih murah dan inklusif bagi masyarakat desa.

Ketiga, menciptakan lapangan kerja baru melalui pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal.

Keempat, memperkuat ketahanan pangan dan distribusi barang kebutuhan pokok hingga ke pelosok desa.

Kelima, mendorong lahirnya ekonomi berbasis gotong royong yang selaras dengan karakter sosial masyarakat NTB.

Bagi daerah yang sedang mengusung visi NTB Makmur Mendunia, koperasi sesungguhnya bukan sekadar instrumen ekonomi, melainkan strategi pembangunan sosial. Ia dapat menjadi sarana pengurangan kemiskinan, penguatan desa wisata, hingga pengembangan industri kreatif berbasis budaya.

Tetapi sekali lagi, keberhasilan koperasi tidak ditentukan oleh banyaknya gedung yang berdiri atau jumlah koperasi yang diresmikan.

Keberhasilannya justru diukur dari seberapa besar masyarakat merasa memiliki, ikut bermusyawarah, dan memperoleh manfaat nyata.

Hari Koperasi tahun ini mengingatkan kita bahwa masa depan ekonomi Indonesia mungkin memang sedang kembali mencari jalannya ke desa. Dan bagi NTB, momentum tersebut adalah peluang besar.

Sebab ketika desa tumbuh, masyarakat sejahtera, dan koperasi hidup sebagai gerakan bersama, maka cita-cita ekonomi kerakyatan yang pernah diimpikan para pendiri bangsa tidak lagi menjadi nostalgia, melainkan kenyataan yang bekerja dari bawah, dari kampung-kampung, dari beranda rumah warga, dan dari semangat gotong royong yang tidak pernah benar-benar hilang. (aks)

 

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade
Merdeka Finansial, Menata Masa Pensiun Bersama Tring!
Jembatan Harapan Desa Mawu: Dari Penantian Puluhan Tahun untuk Masa Depan Anak-Anak
Pegadaian Peduli Sade: Menjaga Kepedulian di Tengah Abu Kebakaran
Pegadaian Peduli Menjangkau Tujuh Kabupaten, Menguatkan Penyintas Gempa NTT
Dari Ruang Hijau Menuju Merdeka Finansial, Pensiunan Pegadaian Bersama Tring!
Peduli Sesama, INTI NTB Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Desa Adat Sade
Dari Kobaran Api, Sade Menjaga Harapan untuk Bangkit Kembali

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 09:03 WITA

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Kamis, 27 Agustus 2026 - 00:54 WITA

Merdeka Finansial, Menata Masa Pensiun Bersama Tring!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:43 WITA

Jembatan Harapan Desa Mawu: Dari Penantian Puluhan Tahun untuk Masa Depan Anak-Anak

Rabu, 26 Agustus 2026 - 13:36 WITA

Pegadaian Peduli Sade: Menjaga Kepedulian di Tengah Abu Kebakaran

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Pegadaian Peduli Menjangkau Tujuh Kabupaten, Menguatkan Penyintas Gempa NTT

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA