CERAKEN.ID — Malam di Taman Kapitan Ampenan, Mataram, Senin (17/8/2026), tidak berhenti sebagai sebuah soft launching dan bedah buku.
Setelah dua sesi penanggap membicarakan buku kecil Nine, Inaq, Ine: Kualitas Perempuan Sasak Berdasarkan Manuskrip Takepan Megantaka, karya Lalu Agus Fathurrahman, forum justru memasuki ruang yang lebih menarik ketika berbagai pertanyaan, kritik, pembacaan, dan kegelisahan dilontarkan kepada sang penulis.
Buku kecil itu pun tidak lagi sekadar menjadi objek pembicaraan, melainkan pintu masuk untuk memperdebatkan posisi perempuan Sasak, antara teks kuno, konstruksi budaya, fungsi sosial, hingga realitas hari ini.
Hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Nuriadi Sayip, Guru Besar Sastra dan Budaya Universitas Mataram, serta Muh. Syahrul Qadri, M.A., akademisi, seniman, dan ahli sastra pertunjukan. Diskusi dipandu Murachim, M.Pd., sementara AS. Rosyid bertindak sebagai editor.
Sejumlah penanggap dari berbagai latar belakang turut memperkaya perbincangan, di antaranya Dr. Lalu Maksum Ahmad, Pamela Paganini, Muja, dan Yuga Anggana.
Fungsi yang Tumbuh dari Seorang Perempuan
Dr. Lalu Maksum Ahmad membuka pembacaannya dengan menawarkan perspektif fungsional terhadap tiga kata kunci yang menjadi judul buku tersebut: Nine, Inaq, dan Ine. Baginya, ketiganya dapat dibaca sebagai tiga lapis fungsi perempuan dalam kehidupan.
“Menurut pandangan saya, tema buku ini lebih ke perspektif fungsional, di mana ‘Nine’ adalah fungsi individual, ‘Inaq’ adalah fungsi parental, kemudian ‘Ine’ adalah fungsi sosial,” ujarnya.
Ia kemudian menghubungkan ketiga fungsi tersebut dengan istilah lain. “Nine” dibacanya sebagai fungsi jinsiyah, “Inaq” sebagai fungsi tarbiyah, sementara “Ine” dikaitkan dengan fungsi sosial atau kepemimpinan.
Namun, dari ketiga fungsi itu, Lalu Maksum memilih berhenti lebih lama pada sosok “Inaq”. Ia bahkan memperkenalkan sebuah dialek Sasak, nggeto-nggete, melalui deklamasi yang secara khusus dihadiahkannya kepada Lalu Agus Fathurrahman.
Dalam bait yang dibacakannya, “Inaq” hadir bukan sebagai istilah abstrak. Ia menjadi sosok yang mengandung, melahirkan, menyusui, meninabobokan, merawat, dan tetap bertahan di tengah seluruh beban pengasuhan.
“Ibu, sembilan bulan sepuluh hari saya di dalam perutmu. Makan tidak enak, tidur pun tidak bisa. Saat saya dilahirkan, sakitnya sungguh benar, dari tapak kaki hingga kepala. Bertaruh nyawa saking cintamu kepadaku, Ibu,” demikian antara lain makna dari bait yang dibacakannya dalam bahasa Sasak.
Bait berikutnya menggambarkan seorang ibu yang menyusui dan menyuapi anaknya tanpa kekurangan, meninabobokan, membuat ayunan, menghadapi tangis tengah malam, berak, kencing, dan segala kerepotan masa kecil.
“Tapi engkau senyum, engkau senang saja,” demikian penggalan yang menjadi penutup bagian deklamasi tersebut.
Bagi Lalu Maksum, pembacaan itu menjadi cara untuk menghadirkan kembali fungsi parental dari “Inaq”. Ia kemudian menyebutkan bahwa deklamasi tersebut merupakan hadiah sekaligus pengantar bagi buku yang ia persembahkan kepada Lalu Agus Fathurrahman, Deklamasi Sasak: Peliharaq Tradisi, Jagag Jatidiri.
Di titik itu, “Inaq” tidak lagi hanya menjadi kata. Ia menjelma pengalaman hidup. Ia adalah tubuh yang mengandung, tangan yang merawat, dan kesediaan untuk menanggung kesulitan tanpa selalu meminta pengakuan.
Pertanyaan tentang Siapa yang Berhak Berbicara
Pamela Paganini membawa diskusi ke wilayah yang berbeda. Ia mempertanyakan asal-usul konseptual tiga kata dalam judul buku: apakah Nine, Inaq, Ine merupakan representasi karakter utama dalam naskah, ataukah lahir dari peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam Megantaka.
“Dari terciptanya buku ‘Nine, Inaq, Ine’, apakah tiga kata kunci ini berasal dari tokoh karakter dari naskah tersebut? Apakah dia merupakan representasi dari karakter utamanya atau terinspirasi dari peristiwa-peristiwa yang ada di naskah tersebut?” tanyanya.
Namun pertanyaan berikutnya justru menjadi salah satu yang paling menggugah malam itu. Pamela menyinggung konsep dekolonialisasi yang dibicarakan sebelumnya, yakni tentang pemberian otoritas kepada subjek yang selama ini tidak mendapatkan kesempatan untuk berbicara.
“Pertanyaan saya, mengapa tidak ada perempuan Sasak pada panelis malam hari ini?” ujarnya.
Pertanyaan itu langsung menyentuh jantung persoalan. Jika forum membicarakan perempuan Sasak, sejauh mana perempuan Sasak sendiri hadir sebagai subjek yang berbicara dan mendefinisikan dirinya?
Prof. Dr. Nuriadi Sayip kemudian menanggapi pertanyaan tersebut dengan gaya khasnya, memadukan argumentasi akademik dan humor.
“Kalau perempuan yang berbicara nanti tidak objektif. Lebih baik yang berbicara adalah orang luar, yang bukan dirinya sehingga itu lebih objektif,” katanya, sebelum menjelaskan maksud pembacaannya.
Menurut Nuriadi, kadang sebuah bangunan kebudayaan justru dapat dibaca dengan lebih kritis dari posisi di luar.
“Untuk membaca sesuatu bangunan jangan berada di dalam, tapi beradalah di luar,” ujarnya.
Kemudian, sambil berseloroh kepada Pamela, ia berkata, “Kalau Anda yang berada di dalam tidak bisa melihat seperti apa seorang perempuan itu, keluarlah dulu, menjadi ‘laki-laki’, baru Anda bisa melihat posisi Anda sebagai perempuan.”
Hadirin tertawa. Namun candaan itu tetap meninggalkan pertanyaan serius: apakah perempuan benar-benar telah memperoleh ruang yang cukup untuk menjadi subjek atas pengalaman, pengetahuan, dan kebudayaannya sendiri?
Pertanyaan tentang representasi itu kemudian berkelindan dengan tanggapan Yuga Anggana. Ia mengaku memiliki latar keluarga Sunda dan menemukan kedekatan tertentu antara istilah “indung” dengan konsep “Ine” yang dibicarakan dalam forum.
Namun yang lebih penting baginya adalah bagaimana membaca takepan tanpa terjebak pada romantisasi sejarah dan kebudayaan.
“Saya ingin tahu langsung ke Miq Agus Fn, bagaimana menafsirkan pijakan takepan tadi itu agar tidak terjebak pada romantisasi sejarah, romantisasi budaya,” kata Yuga.
Ia mengakui buku-buku Lalu Agus Fathurrahman selama ini menjadi jembatan baginya untuk memahami kebudayaan Sasak, terutama ketika berhadapan dengan takepan, lontar, dan berbagai teks yang ditafsirkan kembali dalam karya-karya sang penulis.
Namun ia tetap mengajukan kegelisahan: apakah penghormatan terhadap perempuan dalam teks dan tradisi telah benar-benar diterjemahkan dalam kehidupan sosial hari ini?
“Apakah secara realitas itu hanya menjadi simbol keagungan di dalam fungsi misalnya di dalam rumah? Bagaimana dengan kontribusi keputusan strategis, keputusan publik misalnya dalam masyarakat adat Sasak?” tanyanya.
Bagi Yuga, kemuliaan perempuan dalam teks kuno tidak cukup jika hanya berhenti sebagai simbol.
“Jika teks-teks kuno terbukti memuliakan derajat perempuan secara kosmologis, langkah dekonstruktif apa yang harus kita lakukan agar idealitas naskah tersebut bisa menyentuh realitas pemenuhan hak-hak perempuan Sasak hari ini, bukan hanya berakhir sebagai wacana di atas kertas?”
Pertanyaan itu membawa forum bergerak jauh dari sekadar pembacaan naskah. Dari halaman takepan, diskusi masuk ke ruang musyawarah, relasi kuasa, pengambilan keputusan, dan kehidupan perempuan Sasak hari ini.
Peginaq, Feminitas, dan Feminisme
Muja membawa forum pada sebuah kata yang mungkin sederhana, tetapi menyimpan jejak kebudayaan yang menarik: peginaq.
Ia mengingat masa kecilnya bermain gangsing. Dalam permainan yang sebagian besar dimainkan laki-laki itu, pemimpin kelompok justru disebut peginaq. Jika pemimpin itu gagal, akibatnya dapat dirasakan oleh seluruh kelompok.
“Ketika dulu saya main gangsing, ketuanya pasti disebut dengan ‘peginaq’. Kalau dia gagal untuk memukul atau hasilnya jelek akan berpengaruh ke semua tim,” kata Muja.
Ia kemudian mempertanyakan pilihan kata tersebut.
“Ini permainan yang didominasi oleh laki-laki, tapi kenapa istilahnya sangat feminis sekali untuk menyebutkan ketuanya? Kenapa tidak ‘boss besar’ atau apalah?”
Muja membandingkannya dengan peresean, yang menggunakan istilah pepadu untuk menyebut tokoh laki-laki yang bertarung. Sementara dalam permainan gangsing, kepemimpinan justru memakai istilah yang memiliki kedekatan dengan kata “Inaq”.
“Jadi itu menggelitik saya, kira-kira bagaimana tanggapan dari para pembedah ataupun Mamiq Tuan Agus Fn nantinya menanggapi peran pemimpin atau orang yang menjadi ketua mengayomi dalam konteks pemilihan diksi ‘peginaq’ ini,” ujarnya.
Prof. Nuriadi menanggapinya melalui perspektif fungsi dan konstruksi berpikir.
“Dilihat dari fungsi perannya saja,” katanya. “Pengakuan terhadap istilah ‘Ine’ yang sangat feminin terhadap peran sebuah objek itu, maka kita menyebut itu sebagai ‘Ine’.”
Menurutnya, dalam konstruksi berpikir yang berkembang, sesuatu yang menetap, menjadi pusat, atau menjadi induk sering dikaitkan dengan perempuan. Sebaliknya, sesuatu yang bergerak kerap dilekatkan kepada laki-laki.
“Yang menetap itu adalah pasti ‘Ine’, pasti yang kita anggap itu sebagai induk. Tetapi kalau yang ke mana-mana pasti laki-laki,” ujarnya.
Namun dari konstruksi tersebut, Nuriadi kemudian membawa pembicaraan kepada persoalan yang lebih konseptual: perbedaan antara feminitas dan feminisme.
“Feminitas dengan feminisme itu beda,” tegasnya.
Menurut Nuriadi, feminitas berbicara mengenai nilai, kualitas, posisi, dan pengakuan terhadap perempuan. Sementara feminisme berkaitan dengan gerakan sosial dan politik untuk mencapai kesetaraan serta melawan subordinasi yang lahir dari dominasi laki-laki dan sistem patriarki.

“Kalau feminisme itu sebenarnya bicara tentang politik gerakan sosial yang dilakukan dalam rangka untuk mencapai kesetaraan dan pengakuan dan penghilangan terhadap subordinasi dari dominasi laki-laki atau sistem patriarki. Itu gerakan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa feminisme bekerja sekaligus pada dua ranah.
“Secara teori, cara pandang kita di dalam bagaimana perempuan itu harus setara, tidak bias gender. Secara praktis bagaimana kita melakukan gerakan-gerakan secara sosial di dalam menolak, menghancurkan atau mendekonstruksi sistem patriarki yang didominasi laki-laki.”
Karena itu, Nuriadi memberi catatan akademik terhadap konsep Nine, Inaq, Ine.
“Yang saya ingin katakan sebagai tanggung jawab akademis saya, ini sebenarnya kita masih berbicara pada konteks feminitas, bukan bicara tentang feminisme.”
Dalam pembacaannya, Nine, Inaq, Ine lebih berada pada wilayah pengakuan terhadap peran, posisi, dan kualitas perempuan secara kultural. Perempuan dimuliakan dan dipandang memiliki kekuatan, tetapi hal itu belum otomatis menjadi gerakan politik untuk membongkar ketimpangan struktur sosial.
Nuriadi kemudian menghubungkan persoalan itu dengan sejarah gerakan feminisme. Ia menyinggung pertemuan di Seneca Falls, New York, pada 1848, ketika Elizabeth Cady Stanton dan tokoh-tokoh lain memperjuangkan pengakuan hak perempuan melalui Declaration of Sentiments.
Baginya, salah satu dasar lahirnya gerakan feminisme adalah konstruksi sosial yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang “menetap” dan mengurus urusan domestik, sementara laki-laki bergerak di wilayah publik dan politik.
Di sinilah, penghormatan terhadap perempuan harus diuji lebih jauh. Apakah penghormatan itu hanya berhenti sebagai pujian terhadap keagungan perempuan, ataukah berkembang menjadi pengakuan terhadap hak dan perannya dalam menentukan kehidupan sosial?
“Tidak ada rapat perempuan, yang ada di masyarakat terutama Sasak adalah mesti laki-laki,” ujar Nuriadi ketika menanggapi persoalan representasi perempuan dalam pengambilan keputusan.
Baginya, perubahan terhadap kondisi itu membutuhkan perubahan sistem dan cara berpikir.
Megantaka: Dari Naskah Kuno ke Cermin Realitas
Muh. Syahrul Qadri kemudian mengingatkan bahwa sejak awal buku Nine, Inaq, Ine sebenarnya telah menyatakan arah yang ingin dituju. Dalam halaman keempat, buku tersebut tidak dimaksudkan sekadar menjadi nostalgia terhadap masa lalu, melainkan diharapkan dapat menjadi bekal transformasi masyarakat Sasak di masa depan.
“Dari sini kemudian sebenarnya terkait dengan naskah kuno yang sudah disampaikan oleh Prof. Nuriadi tadi itu adalah karya fiksi, di mana kemudian karya fiksi ini tergantung dari perspektif mana kita melihat dan bagaimana cara kita memandangnya,” ujar Syahrul.
Sebuah naskah dapat dibaca dari banyak arah. Dengan perspektif yang berbeda, pembaca dapat menemukan persoalan yang berbeda pula.
Di situlah, menurut Syahrul, keahlian dan keuletan Lalu Agus Fathurrahman dalam membaca naskah menjadi penting.
“Keahlian, keuletan, dan kemampuan Mamiq Agus Fn di dalam melihat naskah itu menjadi sesuatu yang agak berbeda,” katanya.
Ketika kemudian diberikan kesempatan untuk menanggapi, Miq Agusn Fn, sapaan penulis, membuka pembicaraannya dengan humor.
“Saya haturkan kepada semua yang sudah membedah buku saya ini. Sudah diberikan pisau bedah yang sangat tajam. Saya jadi takut mengeluarkan buku ini dengan pisau bedah yang tajam tadi,” katanya.
Ia lalu menyambung dengan candaan, “Maaf sekali, beliau profesor, ‘tiang’ guru jelata,” yang langsung disambut tawa hadirin.
Setelah itu, Miq Agus Fn mulai menjelaskan jalan panjang lahirnya buku tersebut. Baginya, gagasan mengenai perempuan bukan sesuatu yang baru muncul ketika ia menulis Nine, Inaq, Ine.
“Saya dari tahun 1983 sudah membuat syair lagu judulnya ‘Anakku Nine’. Kemudian tahun 1985 saya menulis syair lagu ‘Pangeran Inaq’,” ungkapnya.
Pengalaman hidup juga menjadi bagian dari pembacaan tersebut. Ia melihat banyak tokoh besar tumbuh bersama kehadiran perempuan kuat.
“Saya melihat orang-orang besar seperti Pak Profesor, itu beliau bisa jadi Profesor karena ada perempuan yang kuat di sampingnya,” ujarnya.
Ia kemudian menyebut sejumlah contoh tokoh nasional.
“Habibie ada Ainun. Soeharto ada Ibu Tien. Gus Dur ada Ibu Sinta. Itu perempuan-perempuan kuat.”
Dari sana, ia mengajukan pertanyaan yang menjadi salah satu kegelisahan buku tersebut: mengapa perempuan yang kuat dalam kenyataan masih sering disepelekan dalam kehidupan sosial?
“Lah kenapa kemudian kita, kalau bahasa Sasak-nya ‘sentewere’, menyepelekan perempuan?” katanya.
Kegelisahan itu semakin kuat ketika ia melihat realitas dalam masyarakat adat. Menurutnya, perempuan kerap ditempatkan di belakang secara simbolik, meskipun dalam praktik kehidupan keluarga dan sosial justru memiliki pengaruh besar.
“Di masyarakat adat kalau sudah rapat adat, ‘nine itu muri tao’, perempuan itu adanya di belakang, katanya,” ujarnya.
Padahal, dalam urusan konkret, perempuan bisa memiliki suara yang menentukan.
“Yang bisa memutuskan itu nanti kalau orang mau begawe, Nine, ibu-ibu itu yang bisa memutuskan berapa boleh ngundang.”
Kontradiksi itulah yang kemudian menjadi salah satu titik tolak bukunya.
“Buku ini bertujuan untuk memberi renungan transformatif bagi perempuan,” kata Miq Agus Fn.
Namun perubahan, menurutnya, tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada pihak luar.
“Tak akan bisa berubah walaupun laki-laki ngajarin seperti apa kalau dari diri perempuan sendiri tidak berusaha.”
Ia juga menjelaskan bahwa ketika menulis buku tersebut, ia mencoba memasuki pengalaman perempuan tanpa kehilangan kesadarannya sebagai laki-laki.
“Saya sekaligus sebagai ‘perempuan’ ketika saya menulis ini. Saya jadi perempuan dan saya jadi laki-laki. Karena saya merasakan.”
Menurut Miq Agus Fn, dalam diri manusia terdapat berbagai sifat yang tidak harus dipahami secara kaku sebagai milik salah satu jenis kelamin.
“Dalam seorang perempuan ada femininitas dan maskulinitas sekaligus. Dalam seorang laki-laki ada maskulinitas dan femininitas sekaligus.”
Ia membedakan antara sifat dan ideologi.
“‘Itas-itas’ ini adalah sifat, ‘ism-ism’ itu adalah ideologi. Kita bukan ‘ism’, tapi kita bicara ‘itas-itas’ itu, sifat-sifat dasar.”
Dari sana, konsep Nine, Inaq, Ine dipahami sebagai proses dan perjalanan. “Nine” berproses menjadi “Inaq”, dan kemudian “Inaq” berproses menjadi “Ine”.
Bukan sekadar perubahan nama, melainkan perjalanan fungsi, posisi, dan tanggung jawab dalam kehidupan.
Takepan sebagai Jalan Transformasi
Pertanyaan berikutnya yang dijawab Miq Agus Fn adalah mengapa ia memilih Megantaka sebagai sumber utama pembacaannya.
Ia menjelaskan bahwa sebelum menulis buku, ia telah mempelajari lima versi naskah Megantaka yang terdapat dalam koleksi Museum Negeri NTB. Selain itu, ia juga memiliki naskah sendiri yang kondisinya telah rapuh.
“Saya sebelum menulis ini, saya baca kelima versinya yang ada di Museum Negeri NTB,” katanya.
Karena kondisi salah satu naskah miliknya tidak memungkinkan untuk terus-menerus dibuka, ia menggunakan salah satu naskah museum sebagai “naskah saksi” yang dianggap representatif.
Dari lima naskah tersebut, Miq Agus Fn menemukan bahwa semuanya menggunakan bahasa Sasak.
“Saya tidak mengatakan ini asli, juga tidak berani, namun kenyataannya lima naskah itu semuanya berbahasa Sasak,” ujarnya.
Ia mengakui dirinya bukan ahli filologi, tetapi mengaku senang dan tekun bekerja dengan naskah. Dalam proses pembacaannya, ia membandingkan satu versi dengan versi lain dan tidak menemukan perbedaan yang terlalu jauh.

Ia juga tertarik pada kenyataan bahwa meskipun cerita tersebut dikenal dengan judul Megantaka, tokoh Megantaka sendiri muncul terutama pada bagian akhir sebagai sosok antagonis. Sementara sosok yang membangun perjalanan cerita adalah Putri Ambar Sari dan Panji Tilar Negara.
Penjelasan Prof. Nuriadi tentang pola cerita Panji, menurut Miq Agus Fn, semakin memperkuat pembacaannya.
“Dan ini memang cara bercerita Nusantara,” katanya.
Ia bahkan pernah menulis tentang jejak Panji di Lombok melalui tulisan berjudul Panji Main-Main ke Lombok.
Bagi Miq Agus Fn, pilihan terhadap Megantaka juga memiliki hubungan personal. Sejak kecil ia telah mendengarkan cerita tersebut. Ketika kemudian dipercaya memimpin Museum Negeri NTB, kedekatannya dengan naskah semakin kuat.
“Selama saya jadi Kepala Museum NTB kerjaan saya baca naskah,” katanya sambil menjelaskan bahwa ia menggunakan kesempatan tersebut untuk belajar lebih jauh tentang manuskrip.
Namun alasan terkuatnya memilih Megantaka adalah sosok perempuan yang digambarkan begitu kuat dalam diri Putri Ambar Sari.
“Begitu kuat perempuan yang digambarkan dengan sosok Ambar Sari,” ujarnya.
Ia bahkan telah lama menjadikan cerita tersebut sebagai bahan dongeng bagi anak-anaknya. Ketika teknologi komunikasi mulai berkembang, ia membuat cerita bersambung tentang Putri Ambar Sari melalui grup keluarga.
Dari sana, pembacaan terhadap naskah tidak lagi berhenti pada teks. Ia menjadi bagian dari proses pendidikan.
Miq Agus Fn juga menyoroti bagian cerita tentang anak yang harus diasingkan. Dalam pembacaannya, keputusan tersebut tidak hanya berada di tangan laki-laki atau penguasa.
“Dalam cerita Megantaka ini tidak diputuskan oleh ayahnya, tidak diputuskan oleh si Penghulu tadi, tapi yang memutuskan adalah ibunya. Ini kekuatannya di situ,” katanya.
Ia membaca keputusan sang ibu sebagai bentuk kekuatan dan kepekaan.
“Ketika seorang ibu ikhlas, maka ibu sudah membaca apa yang akan terjadi di depan karena kehalusan, kelembutan jiwanya, dia seolah-olah melihat masa depan anak yang akan dia buang.”
Dalam tafsir Miq Agus Fn, keputusan itu bukan semata-mata tindakan meninggalkan, melainkan bagian dari proses membentuk ketangguhan.
“Dia dididik untuk menjadi kuat,” ujarnya.
Di sinilah Megantaka dibaca bukan sebagai cerita yang selesai di masa lalu. Naskah tersebut menjadi bahan renungan terhadap kehidupan hari ini.
Miq Agus Fn menegaskan bahwa ia tidak membaca Megantaka seperti seseorang sekadar membaca cerita.
“Saya tidak membaca seperti seorang membaca cerita. Dan saya bukan orang sastra yang akan membangun pikiran saya dengan konsep sastra. Saya adalah penekun naskah.”
Menurutnya, sebuah naskah selalu terbuka untuk dibaca dari berbagai sudut.
“Kalau ada yang mau mengangkat dengan teks kekuasaan, silakan. Mengangkat dengan teks politik, silakan. Mau mengangkat dengan teks sosial, silakan. Saya membaca dengan teks perempuan.”
Namun pembacaan itu, menurutnya, tidak berdiri tanpa dasar. Ia menggunakan referensi yang relevan dan memulai buku tersebut dari pembicaraan mengenai tradisi literasi masyarakat Sasak.
“Takepan dan pepaosan sebagai media transformasi dan media pendidikan pada masyarakat Sasak tradisi. Ini saya mulainya dari situ.”
Dengan demikian, buku Nine, Inaq, Ine sesungguhnya sedang melakukan sesuatu yang lebih jauh daripada sekadar menghidupkan kembali sebuah cerita lama. Ia mencoba membawa naskah keluar dari ruang penyimpanan dan mempertemukannya dengan persoalan masyarakat kontemporer.
Naskah tidak lagi hanya menjadi benda museum.
Ia menjadi ruang dialog.
Ia menjadi cermin.
Dan sekaligus, meminjam konsep yang disebut Miq Agus Fn sebagai temuan penting dari Prof. Nuriadi, ia dapat menjadi The Mirror and The Lamp; cermin yang memantulkan kenyataan sekaligus lampu yang menerangi kemungkinan-kemungkinan baru.
Pada akhirnya, diskusi di Taman Kapitan Ampenan malam itu tidak menghasilkan satu kesimpulan tunggal. Justru kekuatan forum terletak pada keberagaman pembacaan yang muncul.
Dr. Lalu Maksum melihat Nine, Inaq, Ine melalui fungsi individual, parental, dan sosial. Pamela Paganini mempertanyakan representasi dan suara perempuan dalam forum. Muja menemukan jejak feminitas dalam istilah peginaq.
Yuga Anggana meminta agar pembacaan terhadap naskah tidak berhenti pada romantisasi budaya. Prof. Nuriadi memberi garis tegas antara feminitas dan feminisme. Sementara Muh. Syahrul Qadri mengingatkan bahwa sebuah karya fiksi selalu terbuka terhadap perspektif pembacaan.
Dan Lalu Agus Fathurrahman, sebagai penulis, menjawab seluruh pertanyaan itu dengan kembali kepada kegelisahan awalnya: bagaimana teks lama dapat menjadi bahan renungan bagi kehidupan hari ini.
“Buku ini bertujuan untuk memberi renungan transformatif bagi perempuan,” katanya.
Namun mungkin, setelah melalui seluruh perdebatan malam itu, buku tersebut tidak hanya memberi renungan bagi perempuan.
Ia juga menjadi cermin bagi laki-laki.
Cermin bagi masyarakat adat.
Cermin bagi cara kita memuliakan perempuan dalam bahasa, tetapi belum tentu dalam struktur pengambilan keputusan.
Pertanyaan terbesarnya kemudian bukan lagi sekadar apa arti Nine, Inaq, dan Ine.
Pertanyaannya adalah: sejauh mana penghormatan terhadap perempuan yang hidup dalam teks, bahasa, dan tradisi benar-benar hadir dalam kehidupan sosial hari ini?
Apakah perempuan hanya dimuliakan sebagai simbol?
Ataukah kemuliaan itu telah menjelma menjadi pengakuan atas suara, hak, keputusan, dan perannya dalam ruang keluarga maupun ruang publik?
Mungkin pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat sebuah buku kecil terus hidup setelah halaman terakhirnya ditutup.
Di ujung tanggapannya, Miq Agus Fn kembali merendahkan diri di hadapan berbagai kritik yang dilontarkan sepanjang malam.
“Terima kasih malam ini sudah menambah kekurangan-kekurangan yang ada pada buku ini,” katanya.
Sebuah kalimat sederhana yang justru menggambarkan makna diskusi tersebut.
Bahwa sebuah buku, setelah diterbitkan, tidak lagi hanya menjadi milik penulis.
Ia menjadi milik pembaca.
Ia boleh dibedah.
Ia boleh dipertanyakan.
Ia boleh diperdebatkan.
Bahkan, ia boleh menemukan kekurangannya sendiri melalui suara orang lain.
Dan dari situlah sebuah teks; seperti takepan yang terus dibaca ulang dari generasi ke generasi, tidak pernah benar-benar selesai berbicara. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































