Bangga Jadi Alumni SMA Rau, Daeng Hasim Beberkan Alasan Maju Jadi Caketum Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya

- Penulis

Rabu, 26 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

H Hasim AMdKes, SSi  Calon Ketua Umum Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Pringgabaya periode 2026-2030

H Hasim AMdKes, SSi Calon Ketua Umum Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Pringgabaya periode 2026-2030

CERAKEN.ID Dari almarhum sang ayah Haji Abdul Muttalib yang berdarah Bugis-Makassar, Haji Hasim A.Md.Kes., S.Si. belajar tentang arti tanggung jawab dan kepemimpinan. Sementara dari ibundanya Hj Zulaeha yang berdarah Sasak Lombok, ia belajar tentang ketulusan, kesabaran, dan keteguhan menjalani kehidupan.

Nilai-nilai itulah yang kemudian membentuk sosok yang akrab disapa Daeng Hasim, seorang praktisi teknologi transfusi darah, relawan kemanusiaan, aktivis sosial, sekaligus figur alumni yang kini menawarkan pengabdian lebih luas melalui pencalonannya sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Pringgabaya (IKA SMANSABAYA).

Daeng Hasim lahir di Labuhan Lombok, Pringgabaya, Lombok Timur, 16 November 1979. Ia merupakan putra dari Haji Biboq, almarhum, yang dikenal sebagai mantan Kepala Desa Labuhan Lombok yang cukup berpengaruh dan disegani pada era 1980-an. Sang ayah juga dikenal sebagai bagian dari keturunan pelaut Bugis yang memiliki karakter kuat, tegas, dan bertanggung jawab.

Sementara sang ibu berasal dari Pohgading, Pringgabaya. Dari ibundanya, karakter Daeng Hasim ditempa menjadi pribadi yang setia, pekerja keras, ulet, disiplin, dan memiliki dedikasi tinggi terhadap amanah yang dipercayakan kepadanya.

Nilai-nilai keluarga tersebut kelak menjadi bekal penting dalam perjalanan pendidikan, profesi, maupun aktivitas sosialnya.

Dari SMA Rau Menuju Dunia Teknologi Transfusi Darah

Pendidikan dasar Daeng Hasim dimulai di SDN 2 Pringgabaya dan diselesaikannya pada 1991. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 3 Pringgabaya hingga tamat pada 1994.

Namun, salah satu fase pendidikan yang paling membekas dalam ingatannya adalah ketika menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Pringgabaya yang kala itu populer dengan sebutan SMA Rau. Ia menamatkan pendidikan SMA pada 1997.

Kenangan tentang SMA Rau masih begitu kuat dalam ingatannya. Ia bahkan masih mengingat suasana sekolah ketika hujan turun deras.

Daeng Hasim mengajak PT NAM untuk peduli kemanusian pentingnya donor darah untuk masyarakat

Jika hujan terjadi pada hari Minggu, halaman sekolah yang masih berupa tanah akan berubah menjadi kubangan lumpur. Kondisi tersebut terkadang membuat upacara bendera pada Senin pagi harus ditiadakan.

Ada pula kenangan sederhana namun justru menjadi cerita yang tak terlupakan. Ketika proses belajar berlangsung, tiba-tiba kambing atau kawanan domba melintas di depan ruang kelas.

Bagi Daeng Hasim, semua itu bukan sekadar cerita masa lalu. Itulah bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya.

Ia mengaku bangga menjadi alumni SMA Negeri 1 Pringgabaya karena sekolah tersebut telah memberikan banyak pengalaman dan membentuk fondasi dirinya hingga menjadi sosok profesional seperti sekarang.

Selepas SMA, Daeng Hasim sempat melanjutkan pendidikan di Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Mataram. Namun, perjalanan itu hanya berlangsung sekitar satu tahun.

Tak lama kemudian, seorang kawannya di Jakarta memperkenalkan pilihan pendidikan yang berbeda: Paramedis Teknologi Transfusi Darah (PTTD).

Pilihan tersebut menjadi titik balik perjalanan hidupnya.

Daeng Hasim kemudian mengikuti seleksi di Departemen Kesehatan RI. Setelah mengetahui dirinya diterima, ia berangkat kembali ke Jakarta untuk menjalani pendidikan.

Perjalanan menuju Jakarta menjadi pengalaman tersendiri. Dari Lombok ia menempuh perjalanan darat menuju Surabaya menggunakan bus Tiara Mas, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Sesampainya di Jakarta, ia mendaftarkan diri dan tinggal di asrama sebagai mahasiswa.

Tahun pertama pada 1998 menjadi fase adaptasi yang tidak mudah. Ia harus berhadapan dengan lingkungan baru di kota metropolitan, mengurus kebutuhan hidup sendiri, dan belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri.

Lorong-lorong pasar, kehidupan kota besar, hingga berbagai dinamika sebagai mahasiswa harus dilaluinya.

Baca Juga :  Dari Mosi Tidak Percaya hingga Ruang Kerja: Panjang Jalan Perkawanan dengan Nuril Islamiah

Namun semua itu justru menjadi bagian penting dari proses pendewasaan.

Ia akhirnya menyelesaikan pendidikan di bidang teknologi transfusi darah dan memilih bekerja terlebih dahulu di Jakarta.

“Saya memilih bekerja dulu di Jakarta. Saya ingin mendapat pengalaman, belajar tentang kasus dan segala macamnya,” kenang mantan Ketua IKM Paramedis Teknologi Transfusi Darah DKI Jakarta ini.

Mengabdikan Keahlian untuk Kemanusiaan

Pengalaman bekerja di Jakarta menjadi bekal berharga bagi Daeng Hasim. Ia semakin memahami bahwa profesinya bukan sekadar pekerjaan teknis, tetapi berkaitan langsung dengan kehidupan manusia.

Dunia transfusi darah mempertemukannya dengan persoalan kemanusiaan yang sangat nyata.

Daeng Hasim saat mengikuti rapat persiapan baksos kemanusian dalam rangka hari kemerdekaan RI KE 81 bersama INTI NTB , UIN MATARAM dan IAHN MATARAM

Pada 2003, kesempatan pulang kampung datang. Ia mendapat tawaran untuk bekerja di Lombok. Kerinduan untuk kembali dekat dengan keluarga dan orang tua semakin memperkuat keputusannya.

Daeng Hasim kemudian bergabung dengan Unit Donor Darah (UDD) PMI Lombok Barat dan tetap mengabdi di bidang tersebut hingga sekarang.

Sebagai praktisi teknologi transfusi darah, kesehariannya tidak jauh dari urusan donor darah, pengolahan darah, dan pelayanan transfusi.

Dalam sebuah wawancara di YS Podcast beberapa waktu lalu, ia bahkan menjelaskan secara terbuka berbagai hal mengenai profesinya, termasuk pentingnya donor darah secara rutin dan manfaatnya bagi kesehatan.

Baginya, profesi tersebut sekaligus merupakan bentuk pengabdian.

Menjadi praktisi medis dan relawan kemanusiaan bukan hanya pilihan pekerjaan, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidupnya.

Reuni yang Mengubah Cara Pandang tentang Alumni

Kesibukan sebagai praktisi medis tidak membuat Daeng Hasim kehilangan hubungan dengan teman-teman sekolah.

Ia tetap menjaga silaturahmi dengan para alumni SMA Negeri 1 Pringgabaya. Dari hubungan dan komunikasi antarkawan alumni itulah kemudian muncul keterlibatannya dalam organisasi alumni.

Momentum penting terjadi pada 14 Agustus 2022 ketika para alumni menggelar reuni lintas angkatan secara sederhana di Lesehan Massaro Kayangan Labuhan Lombok Pringgabaya.

Pertemuan tersebut kemudian berkembang menjadi momentum lahirnya kepengurusan pusat IKA SMANSABAYA. Dalam forum itu, Sukri Aruman dipilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PP IKA SMANSABAYA periode 2022-2026.

Daeng Hasim kemudian dipercaya masuk dalam struktur kepengurusan sebagai Koordinator Bidang Kegiatan Sosial, Budaya, Keagamaan, Hukum, Lingkungan, dan Aksi Cepat Tanggap Bencana.

Setahun kemudian, ia mendapat amanah lebih besar sebagai Wakil Ketua Umum I.

Sejak saat itu, keterlibatannya dalam berbagai kegiatan IKA SMANSABAYA semakin intensif.

Dari sinilah perspektif Daeng Hasim terhadap organisasi alumni semakin berkembang.

Ia melihat bahwa IKA SMANSABAYA memiliki potensi luar biasa.

Dengan 34 angkatan dan jumlah alumni yang diperkirakan mencapai lebih dari 15 ribu orang, menurutnya, organisasi ini memiliki kekuatan besar apabila seluruh potensi tersebut dapat dipertemukan.

“Ada alumni yang memiliki kompetensi, pengalaman, jaringan, profesi, usaha, gagasan, maupun kepedulian sosial. Namun, potensi tersebut akan jauh lebih kuat apabila dapat dipertemukan dan digerakkan dalam sebuah semangat bersama,” ujarnya.

Daeng Hasim bersama PP IKA SMANSABAYA pada sebuah acara sarasehan pelajar se NTB di Mataram

Dari Alumni untuk Alumni

Pandangan tersebut kemudian menjadi salah satu alasan Daeng Hasim memberanikan diri maju dalam bursa pemilihan Ketua Umum IKA SMANSABAYA.

“Saya maju sebagai calon karena saya masih memiliki tanggung jawab dan kecintaan kepada almamater,” tegasnya.

Baginya, organisasi alumni tidak boleh berhenti sebagai tempat bernostalgia.

IKA SMANSABAYA harus menjadi ruang untuk mempertemukan potensi, membangun jejaring, membantu sesama alumni, mendukung almamater, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, ia ingin membawa semangat baru dalam organisasi tersebut.

Baca Juga :  Yoggy Yuliandra: Dari Aktivis Pergerakan hingga Tekad Menguatkan Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya. Siapa Takut!

IKA SMANSABAYA harus menjadi rumah besar bagi seluruh alumni.

Rumah besar yang terbuka bagi siapa saja. Rumah yang tidak membedakan latar belakang, profesi, angkatan maupun status sosial. Rumah yang memberikan ruang kepada setiap alumni untuk berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.

Daeng Hasim menegaskan, dirinya tidak maju karena merasa paling hebat atau paling mampu.

Ia maju karena ingin bekerja bersama.

Baginya, kepemimpinan bukan tentang siapa yang berdiri paling depan, melainkan bagaimana seorang pemimpin mampu mengajak lebih banyak orang bergerak dan memastikan setiap potensi mendapatkan ruang untuk memberikan manfaat.

Sinergi, Kolaborasi, dan Kolaboraksi

Daeng Hasim menawarkan tiga kata kunci yang menjadi ruh gagasan kepemimpinannya: sinergi, kolaborasi, dan kolaboraksi.

Menurutnya, program IKA SMANSABAYA tidak semestinya hanya lahir dari gagasan pengurus.

Program harus tumbuh dari kebutuhan, aspirasi, gagasan, dan partisipasi seluruh alumni.

Dengan demikian, alumni tidak hanya menjadi penerima program, tetapi ikut menjadi bagian dari proses merancang, menjalankan, sekaligus mengevaluasi setiap gerakan organisasi.

Ia ingin alumni yang sedang membangun usaha dapat terhubung dengan alumni lainnya.

Alumni yang memiliki keahlian dapat berbagi pengetahuan.

Alumni yang membutuhkan dukungan dapat menemukan jejaring.

Sementara alumni yang memiliki kepedulian sosial dapat dipertemukan dalam aksi nyata.

Semangatnya sederhana,  potensi yang tersebar harus dipertemukan menjadi kekuatan bersama.

Ia percaya, ketika alumni saling mengenal, saling mendukung, dan saling membuka ruang kolaborasi, IKA SMANSABAYA tidak hanya menjadi organisasi dengan struktur kepengurusan, tetapi berkembang menjadi sebuah gerakan bersama.

Gerakan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh alumni, almamater, dan masyarakat.

Ketua Umum Bukan Tujuan, Melainkan Amanah

Bagi Daeng Hasim, jabatan Ketua Umum bukanlah tujuan akhir.

Jabatan adalah amanah.

Amanah untuk menggerakkan. Amanah untuk melayani. Amanah untuk membuka ruang partisipasi. Dan amanah untuk memastikan semakin banyak alumni dapat mengambil bagian dalam kebaikan.

Karena itu, ia ingin membawa IKA SMANSABAYA keluar dari sekadar ruang nostalgia masa lalu menuju organisasi yang mampu menjawab kebutuhan masa kini sekaligus menyiapkan masa depan.

“Bukan untuk menjadi yang paling depan, tetapi untuk berdiri bersama seluruh alumni dan menggerakkan potensi yang kita miliki.”

Kalimat tersebut menjadi gambaran sederhana mengenai cara Daeng Hasim memaknai pencalonannya.

Ia tidak menawarkan diri sebagai sosok yang akan bekerja sendirian.

Ia menawarkan kebersamaan.

Ia mengajak seluruh alumni membangun sinergi, memperkuat kolaborasi, dan mewujudkannya melalui kolaboraksi nyata.

Sebab, menurutnya, kekuatan terbesar IKA SMANSABAYA bukan berada pada satu orang ketua, melainkan pada seluruh alumni yang bersedia bergerak bersama.

Tiga Program Prioritas

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Daeng Hasim menawarkan tiga program prioritas yang sederhana namun memiliki orientasi pada kerja nyata: Alumni Mengajar, alumni peduli dan alumni berkontribusi.

Alumni Mengajar, katanya, bagaimana menghubungkan alumni yang memiliki kompetensi, pengalaman, dan keahlian dengan almamater maupun sesama alumni untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Alumni Peduli,Menguatkan kepedulian sosial alumni melalui berbagai kegiatan kemanusiaan, lingkungan, kesehatan, dan aksi sosial lainnya,”sebutnya.

Sedangkan alumni berkontribusi, lanjut Daeng, bagaimana membuka ruang seluas-luasnya bagi alumni untuk memberikan kontribusi sesuai profesi, kemampuan, jaringan, usaha, maupun sumber daya yang dimiliki.

Menurutnya,Ketiga program tersebut diarahkan untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara alumni, almamater, dan masyarakat.” Satu Alumni, Satu Jejaring, Satu Kontribusi,”pungkas Daeng. ***

 

Penulis : CR-02

Editor : Ceraken Editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Yoggy Yuliandra: Dari Aktivis Pergerakan hingga Tekad Menguatkan Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya. Siapa Takut!
Delapan Tahun Mengenang Andi Mustari Pide: Merawat Kearifan, Meneguhkan Ilmu Pengetahuan
Dari Mosi Tidak Percaya hingga Ruang Kerja: Panjang Jalan Perkawanan dengan Nuril Islamiah
Utang Budi yang Dibayar dengan Kerja
PWI NTB Kirim Doa untuk Almarhum Zulmansyah Sekedang
Meneguhkan Komitmen di Usia 125 Tahun: Inklusi Keuangan, Transformasi Digital, dan Peran Strategis di Kawasan Bali–Nusa Tenggara
Bangket, Monyet, dan Plastik: Lanskap Kreativitas di Kaki Gunung Pengsong
Pemimpin yang Menyupiri Tamu: Wajah Transformasi dari Museum Negeri NTB

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 06:04 WITA

Yoggy Yuliandra: Dari Aktivis Pergerakan hingga Tekad Menguatkan Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya. Siapa Takut!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 05:13 WITA

Bangga Jadi Alumni SMA Rau, Daeng Hasim Beberkan Alasan Maju Jadi Caketum Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:19 WITA

Delapan Tahun Mengenang Andi Mustari Pide: Merawat Kearifan, Meneguhkan Ilmu Pengetahuan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 18:58 WITA

Dari Mosi Tidak Percaya hingga Ruang Kerja: Panjang Jalan Perkawanan dengan Nuril Islamiah

Minggu, 12 Juli 2026 - 00:58 WITA

Utang Budi yang Dibayar dengan Kerja

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA