Mataram, ceraken.id — Semangat kemerdekaan tidak selalu berhenti pada upacara, bendera, dan gema lagu kebangsaan.
Di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kelurahan Pagutan Timur, Kota Mataram, Minggu (23/8/2026), semangat itu diterjemahkan ke dalam percakapan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana seseorang dapat merdeka dalam mengelola keuangannya, terutama ketika memasuki masa pensiun.
Gagasan itu mengemuka dalam kegiatan yang digagas Kerukunan Pensiun Pegadaian (KPP) Korcab Lombok bertajuk “Pensiunan Pegadaian Merdeka Finansial Bersama Tring!”. Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari Direktur Utama PT Pesonna Optima Jasa (POJ), anak usaha PT Pegadaian, Nuril Islamiah.
Bagi Nuril, momentum Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan bentuk kemerdekaan yang lain. Jika kemerdekaan bangsa diperjuangkan untuk menentukan nasib sendiri, maka kemerdekaan finansial dapat dimaknai sebagai kemampuan seseorang menata kebutuhan hidupnya dengan perencanaan dan pengelolaan aset yang disiplin.
“Saya menyambut baik kegiatan di RTH dengan tema ‘Pensiunan Pegadaian Merdeka Finansial Bersama Tring!’. Karena dengan demikian kita pun mengajak masyarakat luas untuk bahu-membahu mencapai titik merdeka secara finansial,” ujar Nuril Islamiah saat ditemui di The Gade Coffee Ampenan, Senin (24/8/2026).
Dari Kemerdekaan Bangsa ke Kemerdekaan Finansial
Nuril mengatakan, tema kemerdekaan finansial sengaja dipertemukan dengan momentum perayaan 17 Agustus. Baginya, keduanya memang berada dalam konteks berbeda, tetapi dapat dipertautkan melalui semangat untuk membangun kemandirian.
“Nah, ini sebenarnya dua hal yang berbeda yang ingin kita satukan. Kita sekarang merayakan kemerdekaan sekaligus mengajak orang, pada saatnya nanti, dia juga merdeka secara finansial melalui aplikasi Tring!. Kaitannya erat sekali, karena momen ini adalah momen tujuh belasan, maka kita ambil tema merdeka finansial,” katanya.
Dalam konteks itulah, Tring! diperkenalkan sebagai salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengelola transaksi dan aset emas dalam satu ekosistem digital. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat mengakses berbagai layanan, mulai dari membeli, menjual, menabung, mencicil, hingga mencetak emas, termasuk memanfaatkan layanan gadai dan memantau portofolio aset.
Nuril menekankan, salah satu langkah yang dapat ditempuh dalam mempersiapkan masa pensiun adalah membangun kebiasaan menyimpan aset secara bertahap. Bahkan, menurutnya, kebiasaan itu dapat dimulai dari nominal yang relatif terjangkau.
“Kalau mau pensiun dengan merdeka finansial, salah satu aplikasi yang mendukung itu adalah dengan melalui kita menyimpan aset dalam bentuk emas melalui Tring!. Karena dari Rp10.000 kita sudah bisa nabung,” ujarnya.
Ia juga melihat kelebihan lain dalam penggunaan satu platform yang memungkinkan berbagai kebutuhan transaksi dilakukan secara terintegrasi.
“Kalau kita butuh apa-apa, di satu aplikasi tersebut kita bisa melakukan berbagai transaksi. Mau gadai, jual atau beli, segala macam bisa. Itulah makanya kita kemarin mengajak kepada orang-orang di sekitar RTH, yang menonton dan kumpul-kumpul, kalau mau merdeka finansial, salah satu kuncinya adalah dengan menggunakan aplikasi Tring!,” kata Nuril.
Membagi Penghasilan dalam Lima Porsi
Bagi Nuril, gagasan mengenai kemerdekaan finansial bukan sekadar materi yang disampaikan kepada masyarakat. Ia mengaku telah mempraktikkan pola pengelolaan keuangan tersebut sejak masih aktif bekerja di Pegadaian.
Sejak produk Tabungan Emas hadir pada 2015, ia mulai menerapkan pembagian penghasilan ke dalam lima porsi. Pola itu, menurutnya, menjadi cara untuk memastikan kebutuhan masa kini tetap berjalan tanpa mengabaikan persiapan masa depan.
“Saya bagi penghasilan saya menjadi lima porsi. Yaitu 5 persen untuk save reward, 15 persen dana kebaikan, 20 persen dana darurat, 25 persen konsumsi, dan 35 persen investasi,” ungkapnya.
Porsi investasi sebesar 35 persen itulah yang kemudian, menurut Nuril, dapat diarahkan untuk membangun aset jangka panjang. Namun, yang lebih penting dari sekadar angka, ia menilai, adalah kemampuan seseorang memegang komitmen terhadap rencana yang telah dibuat.
“Sebenarnya konsepnya adalah yang penting, istilah saya itu adalah konsekuensi dengan konsep ‘kokodifo’. Kalau sudah punya konsep, maka yang pertama adalah komitmen dulu, bagaimana kita komitmen untuk masa mendatang, mau kita simpan berapa,” katanya.
Dari komitmen itu, ia menyebut ada beberapa kata kunci lain yang harus dijaga: konsisten, disiplin, dan fokus terhadap tujuan.
“Kedua adalah konsisten. Bagaimana kita konsisten setiap bulan disiplin untuk melakukan. Ketiga adalah disiplin. Disiplin bukan berarti rajin, bukan itu. Disiplin itu adalah pada awalnya kita mengekang segala kebutuhan, tapi pada akhirnya kita membebaskan atas kebutuhan.”
“Keempat adalah fokus, tentu pada apa yang harus kita kejar atau goal di masa pensiun,” ujarnya.
Menghitung Hidup hingga Usia 80 Tahun
Cara Nuril menyiapkan masa pensiun juga dibangun melalui perhitungan yang cukup rinci. Ia menggunakan apa yang disebutnya sebagai konsep “jam 80”, yakni membuat proyeksi kebutuhan hidup hingga usia 80 tahun.
Dengan asumsi masa pensiun dimulai pada usia 56 tahun, terdapat rentang sekitar 24 tahun yang harus dipersiapkan. Rentang waktu itulah yang kemudian menjadi dasar perhitungannya dalam mengelola dan membangun aset.
“Makanya saya buat konsep jam 80. Artinya, harapan hidup orang Pegadaian itu rata-rata di usia 80 tahun. Maka dari umur 56 sampai umur 80 itu ada 24 tahun, maka saya kalikan itu semua,” katanya.
Nuril kemudian membagi kebutuhan masa pensiun ke dalam sembilan kelompok. Tiga di antaranya merupakan kebutuhan bulanan, mulai dari kebutuhan pokok makan dan minum, kebutuhan sekunder seperti iuran warga, listrik, dan berbagai pengeluaran rutin, hingga kebutuhan untuk menjaga kebugaran.
Selain itu, terdapat tiga kebutuhan tahunan, seperti zakat fitrah dan Iduladha, biaya perbaikan rumah, serta biaya peremajaan kendaraan. Sementara tiga kebutuhan lainnya ia masukkan dalam kelompok kebutuhan penyegaran atau refresh, mulai dari ibadah umrah, perjalanan dan kebutuhan pribadi, hingga keinginan membangun rumah ibadah.
“Sembilan kebutuhan itulah yang saya siapkan dari tahun 2015 melalui produk Tabungan Emas yang sekarang dipermudah melalui aplikasi Tring!,” ujarnya.
Ia mengaku telah memasuki masa pensiun pada 30 April 2026, setelah membersamai Pegadaian selama 31 tahun dua bulan. Namun, masa pensiun dari Pegadaian tidak berarti langkah profesionalnya berhenti.
Dua hari sebelum masa purnabakti berakhir, Nuril mendapat penugasan untuk memimpin PT Pesonna Optima Jasa.
“Saya sudah pensiun tanggal 30 April tahun 2026, setelah membersamai Pegadaian selama 31 tahun dua bulan. Tapi sebelum tanggal 30 April, dua hari sebelum berakhir, saya ditunjuk untuk memegang jabatan sebagai Direktur Utama di anak perusahaan Pegadaian, yaitu PT POJ,” katanya.
Emas, Inflasi dan Persiapan Masa Depan
Dalam menghitung kebutuhan masa pensiun, Nuril juga mempertimbangkan faktor inflasi. Baginya, menyimpan seluruh dana dalam bentuk tabungan biasa membutuhkan perhitungan lebih besar karena nilai uang akan terus menghadapi tekanan kenaikan harga dari waktu ke waktu.
Ia memilih emas sebagai salah satu instrumen penyimpanan aset yang diyakininya dapat membantu menjaga daya beli dalam jangka panjang, meski setiap bentuk investasi tetap memiliki karakter dan risiko yang berbeda.
“Kalau faktor inflasi 3 persen atau 4 persen, maka kita harus mencari ROI yang bisa menghasilkan 8 persen. Pertanyaannya, tabungan mana atau deposito mana yang bisa mencapai angka itu?” katanya.
Menurut Nuril, setiap orang tentu memiliki pilihan strategi investasi masing-masing, baik yang cenderung konservatif maupun yang bersedia mengambil risiko lebih besar. Namun, ia mengingatkan bahwa pilihan tersebut harus disesuaikan dengan tujuan dan kemampuan masing-masing.
Di titik itulah, kata dia, merdeka finansial bukan berarti harus memiliki kekayaan berlimpah dalam waktu singkat. Kemerdekaan finansial lebih dekat pada kemampuan merencanakan kehidupan, memahami kebutuhan, membangun aset, dan menjaga konsistensi terhadap tujuan yang telah ditetapkan.
“Saya merasakan sendiri apa yang saya lakukan sejak tahun 2015, sejak mulai membuka Tabungan Emas itu. Yang penting adalah komitmen, konsisten, disiplin, dan fokus terhadap tujuan masa pensiun,” ujar Nuril.
Pesan itu pula yang dibawa dalam kegiatan “Pensiunan Pegadaian Merdeka Finansial Bersama Tring!” di RTH Pagutan Timur. Di tengah perayaan kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, gagasan tentang kebebasan kemudian diperluas maknanya: bukan hanya tentang bebas sebagai bangsa, tetapi juga tentang kesiapan setiap individu untuk menata hidupnya sendiri.
“Kita sekarang merayakan kemerdekaan sekaligus mengajak orang banyak, pada saatnya nanti, dia juga merdeka secara finansial melalui aplikasi Tring!. Ini saling berkaitan sekali,” tutup Nuril. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan



























































