Karya: Rusdin Tompo*
Bung, aku melihat kopimu berapi menggumpal
diseduh dari sejarah bangsamu yang hitam kental
kopi tubruk² yang berani melabrak kolonial
dari sana pidato-pidatomu mengepal
dari sana pikiran-pikiran bernasmu menyempal
mengentak kesadaran sebagian orang yang masih tumpul akal
kopi yang disangrai lewat diskusi-diskusi panas masa alot revolusi
dihidang untuk mengadang bayonet bahkan segudang amunisi
kopi itu yang hendak kureguk tandas
kopi itu yang kubagikan dengan entak teriakan cadas
biar senyawa rasa dan aroma keberaniannya
seperti katamu, beri aku pemuda³ mau kuajak ngopi bersama
*
Bung, kau putra sang fajar⁴ lahir di awal pergantian abad
pembaca hebat buku-buku, pendebat diskusi bab demi bab
babad tentangmu membentang sejak republik masih serupa cerita indi
ditahan karena keukeuh akan keyakinan kau tak peduli
di penjara Banceuy, kau menyusun pledoi Indonesia Menggugat⁵
di Ende, Flores, renunganmu akan keberagaman menguat⁶
berapa gelas kopi kau habiskan di malam-malam pekat gulita
biar mata batinmu jernih mengolah rasa yang kau alirkan lewat pena
di Bengkulu, kau mengajak Fatmawati ke penghulu⁷
sementara Inggit⁸ yang menemani hingga gerbang, terpaku menunggu
ah, Bung, hidup memang terasa bagai tonil
kau adalah aktor sekaligus pelopor
di mimbar kau membakar lewat orasi yang mewujud obor
kau adalah letupan kata-kata yang membuka jendela kesadaran
bahwa perjuangan bukan hanya dengan bedil tetapi juga visi gagasan
*
di Jalan Peneleh, Surabaya, pintu yang sama kau lewati
Musso, Kartosoewirjo, dan aktivis pergerakan jadi teman ngopi
rumah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto bukan hanya tempat ngekos⁹
tetapi juga taman bagi nasionalisme yang mulai bertunas
maka aku tak heran bila Musso kau hormati sebagai guru¹⁰
pun aku paham bila Kartosoewirjo kau ajak bersenda-gurau¹¹
meski kalian sama-sama bertekad mengenyahkan penjajah
jalan yang dipilih akhirnya terbelah
revolusi bukan hanya memakan bayinya sendiri
lebih daripada itu
juga bisa berubah seteru walau dia teman ngopi
prinsip itu jadi garis batas, demi menjaga kukuhnya negeri
*
Bung, dengan Hatta, kau adalah dwitunggal penaka dwiwarna
duo sejati, tak pernah saling menyakiti meski sikap berbeda
bahkan ketika proklamasi hendak dibacakan
kau menunggu Hatta, sebagai teman seikrar seperjuangan¹²
kulihat banyak corat-coret di atas kertas tulisan
kubayangkan cangkir-cangkir kopi menemani pembahasan
dan setelah semua rampung dibicarakan
ketika suaramu mantap nyatakan kemerdekaan1¹³
lagi-lagi ngopi di kedai adalah perayaan paling merakyat
bagi negara yang baru saja berdaulat.
Gowa, Agustus 2026
*) Rusdin Tompo, kelahiran Ambon, 3 Agustus 1968. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi. Merupakan inisiator Komunitas Puisi (KoPi) Makassar, dan Koordinator Satupena Sulawesi Selatan.
Catatan kaki:
1. Judul puisi esai ini terinspirasi dari poster zaman revolusi Boeng, Ajo Boeng. Poster ini merupakan kolaborasi lintas tokoh dan seniman, yakni Soekarno (art director), Affandi (ilustrator), Chairil Anwar (copywriter), Sudjojono (layout designer), dan Dullah (model). Ir. Soekarno yang kita kenal merupakan proklamator, dan Presiden RI ke-1, Affandi, Sudjojono, dan Dullah merupakan perupa, sedangkan Chairir Anwar adalah seorang penyair dan Pelopor Angkatan 45. Poster yang dinilai lebih hidup dibandingkan dengan slogan “Freedom or Death” itu, dicetak ulang, lalu disebarluaskan, bahkan ditempelkan di gerbong kereta api, di tembok, dan pusat-pusat keramaian. Poster itu dinilai sebagai artefak visual paling penting selama revolusi fisik (1945-1949), yang mampu memobilisasi semangat juang masyarakat di masa itu. Catatan Henri Nurcahyo, Boeng, Ayo (Ngopi) Boeng https://sandhya-citralekha.org/2026/06/14/boeng-ayo-ngopi-boeng/
2. Bung Karno diketahui merupakan penikmat kopi aktif, yang rutin minum kopi setiap pagi untuk membuka hari. Kopinya adalah kopi tubruk sederhana, dengan resep dan komposisi yang tak pernah berubah: satu sendok kopi ditambah satu setengah sendok the gula. Kopi tubruk itu dinikmati dengan sarapan roti yang diolesi mentega dan gula. Mengawali hari dengan ngopi dinilai baik oleh beliau agar lebih fokus menjalankan aktivitas sebagai pemimpin yang harus membuat keputusan-keputusan penting bagi bangsa dan negaranya. https://ottencoffee.co.id/majalah/presiden-soekarno-juga-peminum-kopi
3. Salah satu kutipan terkenal Bung Karno: “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscayaakan kuguncangkan dunia”. Kalimat ikonik yang melintasi batas waktu ini, menunjukkan peran krusial pemuda sebagai agent of change. Kalimat itu merupakan panggilan abadi untuk bertindak, sekaligus mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada jumlah, melainkan pada tekad, kualitas, dan semangat persatuan. https://rri.co.id/wamena/nasional/1930417/makna-semboyan-legendaris-soekarno-beri-aku-10-pemuda
4. Putra Sang Fajar adalah salah satu julukan bagi Bung Karno. Dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Cindy Adams, 2001), diungkapkan bahwa Bung Karno lahir pukul 6 pagi, saat fajar mulai menyingsing. Bagi orang Jawa, anak yang lahir pada saat marahari terbit, dipercaya nasibnya telah ditentukan terlebih dahulu. Ibunya bahkan memperkirakan Bung Karno akan menjadi orang yang mulia dan menjadi pemimpin bagi rakyatnya. Karena beliau dilahirkan pada tahun 1901 (tanggal 6 Juni), maka itu juga merupakan suatu abad yang baru.
5. Indonesia Menggugat adalah naskah pembelaan (pledoi) bersejarah yang dibacakan Bung Karno di depan pengadilan kolonial Belanda (Landraad) di Bandung, tahun 1930. Bung karno dan tiga tokoh PNI (Perserikatan Nasional Indonesia), masing-masing Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata, dipenjara karena dituduh hendak menggulingkan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.
6. Pada masa pengasingannya di Ende, Flores, Nusa tenggara Timur (NTT), tahun 1934-1938, Soekarno diceritakan sering duduk dan merenung di bawah pohon sukun. Tempat itu kemudian dalam memori kolektif bangsa, menjadi ruang perenungan tentang Indonesia, yang merdeka, bersatu, dan berkeadilan. Di Kota Ende itu—dan di bawah pohon sukun—Soekarno menemukan lima butir mutiara, yang kelak dirumuskan sebagai Pancasila. Ahmad Arif dalam buku Buah Leluhur, Pohon Masa Depan (Kepustakaan Populer Gramedia, 2026) menyebut sukun sebagai “food prescription” resep pangan masa depan. Tidak saja sebagai simbol sejarah, tetapi juga pengingat bahwa ketahanan bangsa dapat tumbuh dari pangan lokal yang tangguh, lestari, dan berakar dari Nusantara. Sumber: Instagram masaktvtoko dan masaktv.
7. Suatu hari, Fatmawati menemui Bung Karno untuk minta nasihat karena ada seorang pemuda yang akan melamarnya. Di luar dugaan, Bung Karno malah melamar anak tokoh Muhammadiyah, Bengkulu, tersebut. Bung Karno rupanya jatuh cinta pada gadis kelahiran 5 Februari 1923 itu, ketika berada dalam pengasingan di Bengkulu. Fatmawati sempat bingung, lalu mengajukan syarat bahwa ia bersedia dipinang Bung Karno bila mau menceraikan Bu Inggit secara baik-baik, sebab ia tidak mau dipoligami. 70 Kisah Soekarno: Republik, Sahabat, dan Wanita, Intisari, Agustus 2015, Edisi Khusus 70 Tahun Indonesia.
8. Inggit Garnasih merupakan istri kedua Bung Karno. Inggit berusia 12 tahun lebih tua disbanding Bung Karno. Bung Karno bertemu Inggit saat ngekos di Bandung. Dinamika perjuangan politik Bung Karno, termasuk selama masa-masa pembuangannya di Ende dan Bengkulu, juga dialami Inggit. Kisahnya dituangkan dalam roman biografi Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno, karya Ramadhan KH, terbit tahun 1981. Selama bersama Bung Karno, Inggit biasa menghidangkan kopi tulen cap Liong Bulan. ceritadepok.com.
9. Surabaya, tepatnya di Gang 7 Peneleh, merupakan tempat indekos Bung Karno muda. Tempat kos itu, merupakan milik tokoh pergerakan, Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, pemimpin PSI (Partai Sarekat Islam). Rumahnya terdiri atas 10 kamar berukuran kecil, termasuk loteng. Bung Karno, pindah dari Blitar ke Surabaya karena kepentingan melanjutkan pendidikan, setelah ia masuk HBS (Hoogere Burgerschool), yang merupakan sekolah menengah atas. Bung Karno, dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Cindy Adams, 2001), menyebut Surabaya sebagai dapur nasionalisme, lantaran di sini dia digembleng melalui diskusi-diskusi dengan sejumlah tokoh yang mewarnai sejarah Indonesia. Di rumah kos itu, kopi menjadi teman setia Bung Karno, saat ngobrol dan berdiskusi. Kisah ini disampaikan Puti Guntur Soekarno, cucu sang proklamator, pada seminar tentang kopi di Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, Kota Bogor, 30 Agustus 2022. https://dongengkopi.id/terungkap-kopi-kesukaan-bung-karno/
10. Musso dan Bung Karno pernah sama-sama indekos di Gang Peneleh, Surabaya, rumah HOS Tjokroaminoto. Keduanya punya tekad yang sama mengusir penjajah. Namun, dalam perjalanan waktu, keduanya memilih berseberangan dalam ideologi politik. Musso dan PKI-nya melakukan pemberontakan di Madiun, pada tahun 1948. Padahal, 37 hari lalu, ia sempat bertemu Bung Karno di Istana Merdeka. Meski begitu, Bung Karno menganggap Musso, yang usianya lebih tua, sebagai salah seorang gurunya. 70 Kisah Soekarno: Republik, Sahabat, dan Wanita, Intisari, Agustus 2015, Edisi Khusus 70 Tahun Indonesia.
11. Kartosoewirjo bukan saja sebagai teman kos di rumah HOS Tjokroaminoto, tetapi juga orang yang paling sering mengeritik Bung Karno bila sedang latihan berpidato di depan cermin. Walau diledek, Bung Karno tidak marah. Beliau malah berkata bahwa latihan pidato itu sebagai persiapan bagi dirinya kelak menjadi orang besar. Saling balas ejekan di antara keduanya dimaknai sebagai candaan, yang akan diakhiri dengan tertawa bersama. Karena itu, salah satu keputusan terberat Bung Karno, ketika harus menandatangani vonis mati terhadap sahabat lamanya itu, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo selaku imam dan pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). 70 Kisah Soekarno: Republik, Sahabat, dan Wanita, Intisari, Agustus 2015, Edisi Khusus 70 Tahun Indonesia.
12. Dwitunggal Ir. Soekarno dan Drs. Mohmmad Hatta, merupakan sebutan bagi dua tokoh proklamator Republik Indonesia. Sebagai pemimpin bangsa, keduanya saling mengisi satu sama lain, baik dari segi sifat maupun jalan pikiran. Deliar Noer (2002), dalam buku Mohammad Hatta: Hati Nurani Bangsa, 1920-1980, menulis hubungan Bung Hatta dan Bung Karno, terutama di masa revolusi 1945-1949, benar-benar bagai dwitunggal. Bung Karno menguasai massa rakyat dan membangkitkan semangat mereka. Sebaliknya, Bung Hatta mampu menguasai diri dalam keadaan apapun, berpikir dengan tenang dan dalam, memperhatikan perkembangan yang terjadi dengan cermat. Keduanya saling dukung dan saling percaya. Meski dalam beberapa kasus kadang terjadi polemik di antara keduanya. Namun, persahabatan mereka langgeng hingga ajal menjemput Bung Karno, 21 Juni 1970. 70 Kisah Soekarno: Republik, Sahabat, dan Wanita, Intisari, Agustus 2015, Edisi Khusus 70 Tahun Indonesia.
13. Sebelum Proklamasi Kemerdekaan dibacakan, terjadi serangkaian peristiwa yang mewarnai kronik sejarah Indonesia. Rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) semula akan diadakan pada tanggal 16 Agustus, tetapi Bung Karno dan Bung Hatta dibawa paksa oleh sekelompok pemuda ke luar kota. Kejadian yang dikenal dengan Peristiwa Rengasdengklok ini, sesungguhnya dimaksudkan untuk menghindarkan kedua tokoh itu dari kemungkinan terlibat dalam kerusuhan antara para pemuda dan tentara Jepang. Namun, rupanya tidak terjadi. Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya dibawa kembali ke Jakarta. Dalam buku Mohammad Hatta: Hati Nurani Bangsa, 1920-1980 (Deliar Noer, 2002) disebutkan bahwa malam itu juga, diadakan rapat di rumah Admiral Maeda di Oranje Boulevard, menghasilkan teks proklamasi yang didiktekan Bung Hatta dan ditulis Bung Karno. Teks itu disetujui, setelah melalui koreksi dan perbaikan. Menjelang subuh, mereka bubar untuk bertemu lagi di Pegangsaan Timur 56, tempat kediaman Bung Karno, guna menghadiri Proklamasi Kemerdekaan yang teksnya ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta. Momen historis itu terjadi kira-kira pukul 10 pagi, pada Jumat, 17 Agustus 1945.



























































