I Nengah Kisid: Melukis sebagai Jalan Membaca, Mendengar, dan Melakukan

- Penulis

Senin, 22 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Karya-karya Pak Kisid (kanan) hadir sebagai penanda bahwa seni tidak hanya berbicara tentang bentuk dan warna, tetapi juga tentang nilai dan tanggung jawab.(Foto: ist)

Karya-karya Pak Kisid (kanan) hadir sebagai penanda bahwa seni tidak hanya berbicara tentang bentuk dan warna, tetapi juga tentang nilai dan tanggung jawab.(Foto: ist)

Catatan Agus K Saputra

CERAKEN.ID- Dalam perjalanan panjang seorang perupa, proses kreatif kerap menjadi wilayah yang paling sunyi sekaligus paling menentukan. Pada sosok I Nengah Kisid, proses itu justru menemukan bentuknya yang jernih dan reflektif melalui tiga aktivitas sederhana namun mendasar: membaca, mendengarkan, dan melakukan. Tiga kata kerja ini bukan sekadar metode, melainkan fondasi pengkaryaan yang menuntun perjalanan artistik dan spiritualnya selama puluhan tahun.

“Ada tiga hal yang selalu saya lakukan dalam proses melukis: membaca, mendengarkan, dan melakukan. Ketiga kegiatan ini berkontribusi pada pengembangan keterampilan, pemahaman, dan ekspresi kreatif pengkaryaan,” ujar Pak Kisid, sapaan akrab I Nengah Kisid.

Baginya, melukis bukan sekadar aktivitas visual, melainkan hasil dari pergulatan intelektual, kepekaan batin, dan kerja tangan yang terus diasah.

Membaca menjadi pintu awal: membaca teks, membaca realitas, membaca kehidupan. Dari sana, mendengarkan hadir sebagai ruang penerimaan: mendengarkan nasihat, kritik, suara alam, dan bisikan nurani.

Sementara melakukan adalah tahap pembuktian, ketika ide dan perenungan diwujudkan ke atas kanvas.

“Proses melukis menjadi paling efektif ketika ketiga elemen ini digabungkan secara sinergis,” lanjutnya. Dalam sinergi itulah, gagasan menemukan bentuk, dan nilai menemukan bahasa rupa.

Jejak perjalanan Pak Kisid berangkat dari Bali. Ia merupakan lulusan S1 Seni Rupa IKIP Singaraja, sebuah institusi yang membentuk dasar akademik dan pedagogisnya. Tahun 1981 menjadi tonggak penting ketika ia menetap di Mataram dan mengabdikan diri sebagai guru seni rupa di Sekolah Menengah Atas.

Dari ruang kelas, Pak Kisid tak hanya mengajarkan teknik dan teori seni, tetapi juga menanamkan kesadaran estetik dan etika berkesenian kepada generasi muda.

Empat tahun berselang, pada 1985, Pak Kisid memelopori lahirnya sebuah sanggar seni lukis bagi kalangan guru-guru seni di Mataram. Inisiatif ini menandai kesadarannya untuk ikut membangun ekosistem seni rupa di Lombok.

Sanggar tersebut menjadi ruang temu, diskusi, dan produksi, sekaligus wadah berbagi semangat berkarya di tengah keterbatasan fasilitas seni kala itu. Secara tidak langsung, langkah ini menempatkan Pak Kisid sebagai salah satu figur penting dalam sejarah perkembangan seni lukis modern di Lombok.

Baca Juga :  Dari Mosi Tidak Percaya hingga Ruang Kerja: Panjang Jalan Perkawanan dengan Nuril Islamiah

Kesadaran dan kecintaannya pada seni lukis terus bertumbuh seiring waktu. Hingga akhirnya, ia memiliki ruang khusus yang menjadi perpanjangan dari dirinya sebagai perupa: “I Nengah Kisid Art Gallery.”

Galeri ini secara khusus mengoleksi karya-karyanya sendiri. Di ruang itulah ia menghabiskan waktu luang: melukis, merenung, dan berdialog dengan kanvas. Galeri bukan semata ruang pamer, tetapi ruang spiritual tempat proses kreatif berlangsung dalam keheningan.

Secara visual, karya-karya Pak Kisid mudah dikenali. Ia kerap menggunakan warna-warna kontras, dengan dominasi warna gelap yang berpadu kuat dengan merah dan putih.

Warna-warna ini bukan hadir secara kebetulan, melainkan sebagai simbol dan penegasan makna. Merah, putih, dan hitam menjadi medan emosi sekaligus medan spiritual tempat gagasan-gagasannya bergerak.

Objek-objek dalam lukisannya digarap secara dekoratif, menghadirkan figur-figur imajinatif yang merepresentasikan kehidupan sosial manusia.

Sosok-sosok tersebut sering kali tidak terikat pada realisme anatomis, melainkan dibentuk melalui bahasa simbolik. Tubuh manusia, alam, dan elemen metaforis bertaut dalam satu bidang kanvas, menciptakan narasi visual yang mengajak penonton untuk merenung, bukan sekadar melihat.

Yang membedakan Pak Kisid dari banyak perupa lain adalah konsistensinya mengangkat tema spiritualitas sebagai medium ungkap. Spiritualitas dalam karyanya tidak hadir secara dogmatis, melainkan sebagai dialog batin.

Bahasa rupa yang dibangun bergerak secara vertikal, relasi manusia dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta, dan secara horizontal, relasi manusia dengan sesamanya serta dengan alam. Dua arah komunikasi ini membentuk struktur utama dalam hampir seluruh karyanya.

Pada Pameran Mandalika Art Community bertema “Resonansi” yang berlangsung di Galeri Taman Budaya NTB hingga 30 Desember 2025, Pak Kisid menyertakan dua lukisan yang merepresentasikan dengan kuat arah spiritual pengkaryaannya.

Karya pertama berjudul “Keluar Dari Kegelapan Menuju Terang” (130 x 110 cm, acrylic on canvas). Lukisan ini menghadirkan dikotomi dua kehidupan: hidup dalam kegelapan dan hidup dalam terang.

“Keluar Dari Kegelapan Menuju Terang” : 130 x 110 cm, acrylic on canvas (Foto: aks)

Kegelapan dimaknai sebagai kondisi rohani yang jauh dari kebenaran dan jauh dari Tuhan, ditandai dengan keputusasaan, kebohongan, dan keegoisan.

Baca Juga :  Bangga Jadi Alumni SMA Rau, Daeng Hasim Beberkan Alasan Maju Jadi Caketum Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya

Namun Pak Kisid tidak berhenti pada narasi muram. Ia menghadirkan jalan keluar melalui iman: langkah menuju terang, menuju kehidupan yang selaras dengan kebenaran.

Terang dalam lukisan ini bukan sekadar cahaya visual, melainkan simbol keselamatan, kedamaian, dan panggilan untuk menjadi pelita bagi sesama. Melalui komposisi warna dan figur yang saling bertaut, Pak Kisid menyampaikan pesan bahwa perubahan selalu dimungkinkan, bahwa manusia memiliki pilihan untuk keluar dari gelap menuju terang.

Karya kedua berjudul “Dialog di Eden” (120 x 100 cm, acrylic on canvas). Eden, taman yang indah dan penuh warna, digambarkan sebagai ruang awal relasi harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Pohon-pohon berbuah warna-warni, binatang yang bersukacita, dan suasana yang menyenangkan menjadi latar visual yang memikat. Namun, di balik keindahan itu, tersimpan kritik yang tajam.

Dialog di Eden: 120 x 100 cm, acrylic on canvas (Foto: aks)

Tuhan menempatkan manusia pertama di Eden dengan tugas merawat alam ciptaan-Nya. Ketidaktaatan manusia dalam menjalankan tanggung jawab tersebut menjadi sumber kerusakan, bukan hanya kerusakan alam, tetapi juga kerusakan relasi antarmanusia.

Melalui “Dialog di Eden”, Pak Kisid mengaitkan kisah spiritual dengan realitas ekologis kontemporer, menegaskan bahwa krisis lingkungan hari ini berakar pada krisis moral dan spiritual.

Bagi Pak Kisid, tema spiritual bukanlah pilihan estetik semata, melainkan panggilan hidup. “Setidaknya tema spiritual ini berguna untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain dalam menyeru kepada kebaikan,” katanya.

Pernyataan ini merangkum sikap berkesenian yang ia jalani: seni sebagai jalan refleksi, edukasi, dan pengabdian.

Dalam lanskap seni rupa NTB, karya-karya Pak Kisid hadir sebagai penanda bahwa seni tidak hanya berbicara tentang bentuk dan warna, tetapi juga tentang nilai dan tanggung jawab.

Melalui proses membaca, mendengarkan, dan melakukan, ia merawat kesadaran bahwa melukis adalah kerja rohani.

Sebuah ikhtiar panjang untuk memahami manusia, alam, dan Sang Pencipta, sekaligus mengajak publik untuk turut merenung dalam sunyi kanvas.

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita: Liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Yoggy Yuliandra: Dari Aktivis Pergerakan hingga Tekad Menguatkan Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya. Siapa Takut!
Bangga Jadi Alumni SMA Rau, Daeng Hasim Beberkan Alasan Maju Jadi Caketum Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya
Delapan Tahun Mengenang Andi Mustari Pide: Merawat Kearifan, Meneguhkan Ilmu Pengetahuan
Dari Mosi Tidak Percaya hingga Ruang Kerja: Panjang Jalan Perkawanan dengan Nuril Islamiah
Utang Budi yang Dibayar dengan Kerja
PWI NTB Kirim Doa untuk Almarhum Zulmansyah Sekedang
Meneguhkan Komitmen di Usia 125 Tahun: Inklusi Keuangan, Transformasi Digital, dan Peran Strategis di Kawasan Bali–Nusa Tenggara
Bangket, Monyet, dan Plastik: Lanskap Kreativitas di Kaki Gunung Pengsong

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 06:04 WITA

Yoggy Yuliandra: Dari Aktivis Pergerakan hingga Tekad Menguatkan Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya. Siapa Takut!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 05:13 WITA

Bangga Jadi Alumni SMA Rau, Daeng Hasim Beberkan Alasan Maju Jadi Caketum Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:19 WITA

Delapan Tahun Mengenang Andi Mustari Pide: Merawat Kearifan, Meneguhkan Ilmu Pengetahuan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 18:58 WITA

Dari Mosi Tidak Percaya hingga Ruang Kerja: Panjang Jalan Perkawanan dengan Nuril Islamiah

Minggu, 12 Juli 2026 - 00:58 WITA

Utang Budi yang Dibayar dengan Kerja

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA