Kharisma Priasa: Menata Visual Borka, Menata Bahasa Sunyi

- Penulis

Senin, 8 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

“Dari titik ini, saya mulai memahami bahwa visual dan musik sesungguhnya memiliki akar kesenyawaan, keduanya adalah bahasa atmosfer.” (Foto: ist)

“Dari titik ini, saya mulai memahami bahwa visual dan musik sesungguhnya memiliki akar kesenyawaan, keduanya adalah bahasa atmosfer.” (Foto: ist)

CERAKEN.ID- Mataram- Dalam dunia teater, visual kerap dianggap sebagai “bahasa diam”. Tidak bersuara, namun sanggup menyampaikan lapisan-lapisan makna yang justru tak mampu diungkapkan lewat dialog atau musik.

Bagi Kharisma Priasa, penata visual dalam Lakon Borka 2025, bahasa diam itu adalah tantangan sekaligus ruang eksplorasi yang membuka horizon kreatif baru. Ketika produksi ini dipersiapkan untuk tampil dalam Festival Teater Indonesia pada 10 Desember 2025 di Taman Budaya Mataram, ia memasuki proses kreatif yang diwarnai kebingungan di awal, tetapi kemudian berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan dan memperkaya dirinya sebagai seniman.

Kharisma selama ini lebih akrab dengan dunia musik, sebuah medan yang baginya telah menjadi bahasa refleks, mengolah bunyi, ritme, dinamika, dan atmosfer. Musik memberinya fondasi tentang bagaimana tempo dan rasa dapat digerakkan, tetapi ketika ia didapuk untuk menata visual, situasinya berubah drastis.

Kini ia bekerja dengan bentuk, warna, ruang, dan citraan. Pada titik inilah kebingungan itu muncul, bagaimana caranya menghadirkan visual yang memiliki kekuatan “berbicara” setara dan seintens musik?

Pertanyaan itu menjadi pintu masuk menuju proses pencarian. Visual bukan lagi sekadar latar atau dekorasi, melainkan medium dramaturgis yang mengalir sejajar dengan tubuh aktor, bunyi, dan teks.

Baca Juga :  Bangga Jadi Alumni SMA Rau, Daeng Hasim Beberkan Alasan Maju Jadi Caketum Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya

“Saya menyadari bahwa visual pun memiliki ritme, yang bisa hadir sebagai aksen, jeda, atau tekanan emosional,” ujarnya.

Dapat pula menjadi bisikan yang menyelinap di balik adegan, atau sebaliknya, sebuah letupan gagasan yang menegaskan konflik dan gagasan lakon.

“Dari titik ini, saya mulai memahami bahwa visual dan musik sesungguhnya memiliki akar kesenyawaan, keduanya adalah bahasa atmosfer,” cerah Kharisma.

Proses kreatif ini tidak terlepas dari peran sutradara R. Eko Wahono, yang memberikan arahan detail pada setiap elemen visual. Lewat diskusi, interpretasi bersama, serta penjelajahan makna dalam naskah Borka, Kharisma diarahkan untuk melihat visual bukan sekadar estetika, melainkan bagian dari tubuh lakon itu sendiri.

Setiap Keputusan, apakah itu warna dominan, tekstur objek, tata cahaya, hingga komposisi ruang, selalu ditimbang untuk menciptakan resonansi emosional dengan adegan dan tema besar pementasan. Bimbingan sang sutradara menjadi semacam kompas yang membantu mengarahkan pencarian Kharisma agar tetap terikat pada dramaturgi, bukan sekadar preferensi artistik.

Baca Juga :  Delapan Tahun Mengenang Andi Mustari Pide: Merawat Kearifan, Meneguhkan Ilmu Pengetahuan

Pada akhirnya, kebingungan yang semula membayang justru menjadi bahan bakar kreatif. Dari dunia bunyi ia melompat ke dunia rupa, namun tetap membawa kepekaan musikalnya sebagai modal dasar.

Ia belajar bahwa visual pun bisa “dengar”, bahwa warna dapat berdetak, garis dapat beresonansi, dan cahaya dapat bernyanyi. Pengalaman ini membuka ruang baru dalam pemahaman estetisnya bahwa disiplin seni tidaklah berdiri sendiri; satu bahasa artistik dapat menyeberang ke bahasa lain tanpa kehilangan esensinya.

Lakon Borka 2025 akhirnya menjadi ruang bertumbuh bagi Kharisma. Sebuah proses yang menantangnya untuk menerjemahkan sunyi menjadi visual yang hidup, dan menghadirkan dunia peristiwa panggung tempat penonton dapat merasakan, bukan hanya melihat.

Kharisma menemukan bahwa menjadi penata visual bukan hanya soal menciptakan keindahan, tetapi menyusun kosmos dramatik yang membuat bahasa visual bernafas seperti halnya musik.

Dalam perjalanan inilah seni teater memperlihatkan kekuatannya, menghubungkan berbagai medium, menyatukan ragam sensibilitas, dan menjadikan kebingungan awal sebagai pintu menuju penemuan diri. (Aks)***

Penulis : Aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita: Liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Yoggy Yuliandra: Dari Aktivis Pergerakan hingga Tekad Menguatkan Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya. Siapa Takut!
Bangga Jadi Alumni SMA Rau, Daeng Hasim Beberkan Alasan Maju Jadi Caketum Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya
Delapan Tahun Mengenang Andi Mustari Pide: Merawat Kearifan, Meneguhkan Ilmu Pengetahuan
Dari Mosi Tidak Percaya hingga Ruang Kerja: Panjang Jalan Perkawanan dengan Nuril Islamiah
Utang Budi yang Dibayar dengan Kerja
PWI NTB Kirim Doa untuk Almarhum Zulmansyah Sekedang
Meneguhkan Komitmen di Usia 125 Tahun: Inklusi Keuangan, Transformasi Digital, dan Peran Strategis di Kawasan Bali–Nusa Tenggara
Bangket, Monyet, dan Plastik: Lanskap Kreativitas di Kaki Gunung Pengsong

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 06:04 WITA

Yoggy Yuliandra: Dari Aktivis Pergerakan hingga Tekad Menguatkan Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya. Siapa Takut!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 05:13 WITA

Bangga Jadi Alumni SMA Rau, Daeng Hasim Beberkan Alasan Maju Jadi Caketum Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:19 WITA

Delapan Tahun Mengenang Andi Mustari Pide: Merawat Kearifan, Meneguhkan Ilmu Pengetahuan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 18:58 WITA

Dari Mosi Tidak Percaya hingga Ruang Kerja: Panjang Jalan Perkawanan dengan Nuril Islamiah

Minggu, 12 Juli 2026 - 00:58 WITA

Utang Budi yang Dibayar dengan Kerja

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA