Lalu Suryadi Mulawarman: Menjaga Api Tari dari Lombok untuk Indonesia

- Penulis

Jumat, 2 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Banyak talenta muda NTB saat ini sesungguhnya telah mampu bersaing di level nasional bahkan internasional (foto: aks)

Banyak talenta muda NTB saat ini sesungguhnya telah mampu bersaing di level nasional bahkan internasional (foto: aks)

CERAKEN.ID — Nama Lalu Suryadi Mulawarman tak pernah jauh dari denyut kehidupan seni tari di Mataram dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Di ruang-ruang latihan, di balik panggung pertunjukan, hingga forum-forum kebudayaan, sosoknya hadir sebagai penggerak, pendidik, sekaligus penjaga napas panjang tradisi.

Bahkan, seorang perupa yang pernah berkolaborasi dengannya tanpa ragu menyebut Miq Surya sebagai seorang maestro tari Lombok. Sebuah sebutan yang lahir bukan dari klaim personal, melainkan dari pengalaman artistik yang teruji.

“Beberapa kali kolaborasi, saya merasakan elemen gerak tradisi Lombok yang sangat melekat. Ia adalah salah satu maestro tari di Lombok,” ujar sang perupa.

Pernyataan itu menegaskan satu hal penting: kekuatan Miq Surya bukan semata pada penguasaan teknik, tetapi pada kemampuannya merawat akar tradisi sambil membuka ruang dialog dengan zaman.

Tubuh penari, dalam perspektifnya, bukan sekadar alat gerak, melainkan medium pengetahuan, sejarah, dan tafsir budaya.

Refleksi Seorang Kepala Taman Budaya

Dalam sebuah unggahan media sosial yang kemudian diperbincangkan, Lalu Suryadi Mulawarman, kini sebagai Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, menuliskan pernyataan reflektif bahwa “kualitas karya dan SDM seniman tari kita (NTB) masih harus ditingkatkan untuk bisa masuk level nasional.”

Pernyataan ini bukan kritik kosong, apalagi sikap merendahkan. Ia lahir dari pembacaan jujur atas kondisi nyata dunia seni tari NTB.

Di balik potensi besar dan talenta muda yang melimpah, seni tari NTB masih menghadapi sejumlah tantangan klasik: keterbatasan ruang aktualisasi, minimnya akses terhadap jaringan nasional dan internasional, lemahnya budaya apresiasi, hingga kurangnya kolaborasi antarseniman.

Dalam situasi seperti inilah, pernyataan Lalu Surya menemukan relevansinya. Sebagai alarm sekaligus ajakan untuk berbenah.

Sebagai pendiri Saksak Dance Production, Miq Surya telah menanamkan filosofi pendidikan tari yang melampaui sekadar penguasaan repertoar. Baginya, menari bukan soal menghafal gerak, melainkan memahami tubuh, makna, dan tanggung jawab artistik.

Baca Juga :  Bangga Jadi Alumni SMA Rau, Daeng Hasim Beberkan Alasan Maju Jadi Caketum Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya

“Evaluasi ini sebenarnya ingin melihat sejauh mana progres dan perkembangan bukan cuma tentang kualitas teknik kepenarian (wiraga, wirasa, wirama), tapi pada etitude, kerjasama, tanggung jawab, dan loyalitas anak didik penari SakSak Dance,” ujarnya.

Evaluasi yang dimaksud bukan sekadar penilaian panggung, tetapi proses refleksi menyeluruh. Miq Surya menolak pendekatan instan dalam pendidikan tari.

Ia menekankan pentingnya perjalanan panjang, disiplin latihan fisik, pengasahan roso (rasa), intuisi, kepekaan musikal, serta keberanian untuk terlibat dalam berbagai pertunjukan dan kompetisi.

“Karena yang saya lihat selama ini penari cuma diajarkan menari, tapi tidak diajarkan bagaimana cara menjadi penari yang berkualitas dan bisa sejajar dengan penari-penari nasional bahkan internasional,” tambahnya.

Di titik inilah Miq Surya menempatkan tari sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Bukan hanya penampil panggung, tetapi individu yang memiliki kesadaran tubuh, etika kerja, dan visi artistik.

Menempa Talenta, Menjaga Konsistensi

NTB, khususnya Lombok, menyimpan banyak talenta muda berbakat. Namun, bakat tanpa pengasuhan yang tepat akan mudah layu. Miq Surya menekankan pentingnya peran mentor dan ekosistem yang sehat untuk mengasah sekaligus merawat potensi tersebut.

“Kita banyak talenta-talenta berbakat yang juga seharusnya ditempa oleh orang-orang yang tepat guna mengasah dan mengasuhnya,” katanya.

Konsistensi menjadi kata kunci. Di Sanggar Saksak Dance, ada penari yang bertahan hingga sembilan bahkan sepuluh tahun. Mereka pergi bukan karena kehilangan gairah, melainkan karena melanjutkan studi ke luar daerah atau memasuki fase baru kehidupan.

“Ini menunjukkan konsistensi dan perjalanan panjanglah yang membuat SakSak Dance terus bertahan dan berprestasi nasional dan internasional sejak berdiri 20 Mei 2001,” pungkasnya.

Prestasi yang diraih bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari disiplin, kesabaran, dan kesetiaan pada proses.

Baca Juga :  Delapan Tahun Mengenang Andi Mustari Pide: Merawat Kearifan, Meneguhkan Ilmu Pengetahuan

Sebagai Kepala Taman Budaya NTB, Miq Surya membawa semangat yang sama ke ranah kebijakan dan fasilitas publik. Ia memposisikan Taman Budaya sebagai rumah bersama bagi seniman, budayawan, dan generasi kreatif NTB.

“Kami di Taman Budaya, Alhamdulillah, memberi semua aktivitas dan fasilitas bagi seniman, bagi budayawan, bagi anak-anak kreatif untuk masa depan NTB Makmur Mendunia lewat berkebudayaan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa banyak talenta muda NTB saat ini sesungguhnya telah mampu bersaing di level nasional bahkan internasional. Tantangannya adalah bagaimana menyediakan standar, ekosistem, dan motivasi yang berkelanjutan.

“Banyak pelaku dan seniman tari jarang memikirkan tentang standar dan kebutuhan tari di Indonesia. Jujur ini menjadi tanggung jawab saya selaku Kepala Taman Budaya bagaimana memotivasi sanggar-sanggar yang ada di Lombok khususnya,” katanya lugas.

Ajakan kolaborasi menjadi penutup sekaligus pembuka harapan: bekerja bersama untuk mewujudkan visi NTB Makmur Mendunia melalui kebudayaan.

Menatap Generasi Emas Tari NTB

Di setiap pentas evaluasi, Miq Surya tidak hanya melihat pertunjukan, tetapi membaca masa depan. Ia melihat anak-anak muda, generasi emas Indonesia dan NTB, yang kelak akan membawa identitas Lombok ke panggung-panggung dunia.

“Mari kita saksikan pertunjukkan anak-anak muda, pertunjukkan generasi emas Indonesia, dan generasi emas NTB di masa yang akan datang,” ajaknya.

Dalam sosok Lalu Suryadi Mulawarman, seni tari NTB menemukan figur yang berdiri di antara tradisi dan masa depan. Seorang pendidik yang tegas, pemimpin yang reflektif, dan seniman yang setia pada proses.

Dari Lombok, ia menjaga api tari tetap menyala, agar kelak cahayanya mampu menembus batas-batas geografis dan kultural, menuju panggung Indonesia dan dunia. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Yoggy Yuliandra: Dari Aktivis Pergerakan hingga Tekad Menguatkan Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya. Siapa Takut!
Bangga Jadi Alumni SMA Rau, Daeng Hasim Beberkan Alasan Maju Jadi Caketum Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya
Delapan Tahun Mengenang Andi Mustari Pide: Merawat Kearifan, Meneguhkan Ilmu Pengetahuan
Dari Mosi Tidak Percaya hingga Ruang Kerja: Panjang Jalan Perkawanan dengan Nuril Islamiah
Utang Budi yang Dibayar dengan Kerja
PWI NTB Kirim Doa untuk Almarhum Zulmansyah Sekedang
Meneguhkan Komitmen di Usia 125 Tahun: Inklusi Keuangan, Transformasi Digital, dan Peran Strategis di Kawasan Bali–Nusa Tenggara
Bangket, Monyet, dan Plastik: Lanskap Kreativitas di Kaki Gunung Pengsong

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 06:04 WITA

Yoggy Yuliandra: Dari Aktivis Pergerakan hingga Tekad Menguatkan Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya. Siapa Takut!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 05:13 WITA

Bangga Jadi Alumni SMA Rau, Daeng Hasim Beberkan Alasan Maju Jadi Caketum Ikatan Alumni SMAN 1 Pringgabaya

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:19 WITA

Delapan Tahun Mengenang Andi Mustari Pide: Merawat Kearifan, Meneguhkan Ilmu Pengetahuan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 18:58 WITA

Dari Mosi Tidak Percaya hingga Ruang Kerja: Panjang Jalan Perkawanan dengan Nuril Islamiah

Minggu, 12 Juli 2026 - 00:58 WITA

Utang Budi yang Dibayar dengan Kerja

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA