Sembilan Tahun Setelah Ampenan: Pendidikan sebagai Jalan Keluar dari Krisis Kebudayaan

- Penulis

Rabu, 4 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

“Kini kita dalam krisis kebudayaan,”ujar Rudolf Puspa (tengah) (Foto: ceraken.id)

“Kini kita dalam krisis kebudayaan,”ujar Rudolf Puspa (tengah) (Foto: ceraken.id)

CERAKEN.ID — Sembilan tahun telah berselang sejak sebuah percakapan mengendap di ingatan. Malam itu, di pinggir pantai Ampenan, ombak berderai pelan sementara lampu-lampu perahu berpendar di kejauhan. Di sela desir angin laut, Rudolf Puspa melontarkan satu kalimat yang kini terasa kian relevan: “Kini kita dalam krisis kebudayaan.”

Kalimat itu terdengar seperti peringatan. Bukan tentang runtuhnya gedung-gedung kesenian atau hilangnya upacara adat semata, melainkan tentang rapuhnya cara kita memaknai hidup bersama.

Dalam rentang 25 tahun, sebuah kurun yang bahkan cukup untuk melahirkan dan membesarkan satu generasi, perubahan sosial bergerak begitu cepat, meninggalkan banyak orang dalam kebingungan nilai.

Krisis kebudayaan bukanlah peristiwa yang kasatmata. Ia hadir dalam bentuk yang halus: percakapan yang mudah tersulut, perbedaan yang lekas menjadi permusuhan, serta ruang publik yang semakin penuh “sekat-sekat”.

Sekat identitas, sekat pilihan politik, sekat ekonomi, bahkan sekat dalam cara berpikir. Hidup guyub dalam balutan tata krama, yang dahulu menjadi penyangga relasi sosial, perlahan terasa seperti cerita lama yang dikisahkan dengan nada nostalgik.

Padahal, kebudayaan sejatinya bukan benda mati. Ia adalah proses, hasil dari perjumpaan dan persenyawaan berbagai unsur kehidupan.

Baca Juga :  Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang

Ketika sekat-sekat dibiarkan mengeras, kebudayaan kehilangan daya lenturnya. Ia tidak lagi menjadi ruang temu, melainkan medan kontestasi tanpa empati.

Dalam situasi demikian, generasi muda menghadapi tantangan yang tidak ringan. Mereka tumbuh dalam banjir informasi, tetapi kerap miskin pendampingan nilai.

Mereka mahir mengakses data, tetapi tidak selalu diajak berdialog tentang makna. Jika krisis kebudayaan dibiarkan, maka yang tergerus bukan hanya tradisi, melainkan juga kemampuan untuk hidup berdampingan secara dewasa.

Namun, setiap krisis menyimpan kemungkinan. Jika ini sebuah kisah, semoga saja ia menuju jalinan proses persenyawaan yang adi luhung.

Persenyawaan antara tradisi dan modernitas. Antara kebebasan individu dan tanggung jawab sosial. Antara kebanggaan identitas dan keterbukaan terhadap yang lain.

Pintu masuknya adalah pendidikan.

Tentu saja bukan pendidikan yang sekadar berorientasi pada angka-angka, peringkat, atau sertifikat. Bukan pula pendidikan yang menjadikan peserta didik sebagai objek yang harus seragam.

Pendidikan yang dibutuhkan adalah pendidikan yang membebaskan, yang memberi ruang pada peserta didik untuk bersuara, berkreasi, dan berkarya. Pendidikan yang melatih keberanian berpikir, sekaligus menumbuhkan kerendahan hati untuk mendengar.

Baca Juga :  Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB

Pendidikan yang membebaskan tidak anti pada capaian akademik, tetapi menempatkannya sebagai bagian dari proses memanusiakan manusia. Ia memberi ruang dialog di kelas, mendorong diskusi lintas pandangan, dan menghidupkan kembali etika pergaulan.

Di sanalah tata krama tidak diajarkan sebagai hafalan, melainkan dipraktikkan sebagai laku sehari-hari.

Di tengah sekat-sekat yang kian nyata, sekolah dan kampus bisa menjadi laboratorium kebudayaan: tempat perjumpaan gagasan tanpa saling meniadakan. Tempat di mana perbedaan dirayakan sebagai kekayaan, bukan ancaman.

Jika pendidikan mampu memainkan peran ini, maka krisis kebudayaan bukanlah akhir cerita.

Sembilan tahun setelah percakapan di Ampenan itu, pertanyaannya bukan lagi apakah krisis itu nyata. Ia sudah kita rasakan.

Pertanyaannya adalah: maukah kita menjadikan pendidikan sebagai jalan pulang? Jalan untuk menyemai kembali nilai-nilai guyub, memperhalus tata krama, dan membangun persenyawaan yang lebih dewasa sebagai bangsa.

Sejarah menunjukkan, satu generasi bisa hilang dalam 25 tahun. Tetapi dalam rentang waktu yang sama, satu generasi juga bisa bangkit, jika diberi ruang untuk belajar, berpikir, dan mencintai kebudayaannya dengan cara yang terbuka dan merdeka. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal
Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:43 WITA

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA