Menyigi Jejak Peradaban di Provinsi Nusa Tenggara Barat

- Penulis

Sabtu, 14 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

"Koleksi Museum NTB". Di Indonesia, nekara dikenal pula sebagai “nekara hujan” karena digunakan dalam ritual memanggil hujan (Foto: aks/ceraken.id)

"Koleksi Museum NTB". Di Indonesia, nekara dikenal pula sebagai “nekara hujan” karena digunakan dalam ritual memanggil hujan (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Wilayah kepulauan di bagian tengah Indonesia ini menyimpan kisah panjang tentang perjumpaan manusia, budaya, dan peradaban yang membentuk wajah masyarakatnya hari ini.

Dengan luas sekitar 20.153 kilometer persegi, provinsi ini terdiri atas dua pulau utama, Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, serta puluhan pulau kecil yang oleh masyarakat Sasak disebut gili, membentuk lanskap kepulauan yang kaya secara geografis maupun kultural.

Di Pulau Lombok, masyarakat asli dikenal sebagai Suku Sasak, yang menamai tanah kelahirannya sebagai Gumi Sasak. Sementara itu, Pulau Sumbawa dihuni dua komunitas utama: Suku Samawa di bagian barat dan Suku Mbojo di wilayah timur.

Ketiganya, Sasak, Samawa, dan Mbojo, memiliki identitas budaya yang berbeda, namun diikat oleh sejarah panjang interaksi antarperadaban.

Jejak Prasejarah dan Migrasi Budaya

Asal-usul manusia di kawasan ini belum sepenuhnya terungkap. Namun, sejumlah temuan arkeologis memberikan petunjuk tentang keberadaan manusia sejak masa prasejarah.

Di wilayah selatan Lombok, misalnya, ditemukan alat-alat batu berciri paleolitik seperti kapak genggam, kapak perimbas, dan alat serpih. Temuan serupa juga muncul di berbagai titik di Pulau Sumbawa.

Salah satu temuan penting berupa nekara ditemukan di Pulau Sangiang, wilayah Bima, serta di daerah Seran, Sumbawa. Artefak lain berupa periuk berhias ditemukan di kawasan Gunung Piring di Lombok Selatan, sementara alat batu seperti chopper dan flakes ditemukan di Batutering, Sumbawa.

Seluruh temuan tersebut menunjuk pada hubungan kebudayaan Asia Selatan dengan tradisi tembikar yang dikenal sebagai Shan Huynh–Kalanay Pottery Tradition.

Temuan ini menegaskan bahwa wilayah NTB bukan daerah terisolasi, melainkan bagian dari jalur migrasi dan perdagangan manusia prasejarah di Asia Tenggara.

Baca Juga :  Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Seiring perjalanan waktu, berbagai bangsa datang dengan kepentingan ekonomi, politik, maupun keagamaan. Pengaruh dari Bali dan Jawa terasa kuat di Lombok, sementara Pulau Sumbawa lebih banyak berinteraksi dengan komunitas maritim dari wilayah Bugis di Sulawesi Selatan.

Selain interaksi antarsuku Nusantara, wilayah ini juga mengalami pengaruh kolonial dari bangsa Eropa serta pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia II.

“Koleksi Museum NTB”. Koleksi lain berasal dari masa arkeologi klasik, antara lain buli-buli keramik dari Cina Selatan abad ke-14 yang ditemukan di Desa Sekotong Tengah, Lombok Barat (Foto: aks/ceraken.id)

Bersamaan dengan itu, agama dan kepercayaan turut mengalami perkembangan: dari animisme dan dinamisme, masuknya Hindu dan Buddha, penyebaran Kristen di wilayah Donggo-Bima, hingga Islam yang kemudian menjadi agama mayoritas masyarakat.

Perbedaan intensitas dialog budaya inilah yang kemudian membentuk keragaman karakter sosial dan tradisi di kedua pulau tersebut.

Artefak yang Menyimpan Memori Zaman

Jejak perjalanan sejarah tersebut kini dapat disaksikan melalui koleksi yang tersimpan di Museum Negeri NTB. Museum, yang berada di Jalan Panji Tilar Negara No. 6, Taman Sari, Ampenan, Kota Mataram ini, menjadi ruang penting untuk membaca kembali perjalanan manusia di wilayah kepulauan tersebut.

Salah satu koleksi paling berharga adalah nekara perunggu, artefak budaya Dong Son yang berasal dari wilayah Vietnam dan menyebar hingga Asia Tenggara, termasuk wilayah Nusantara dan Cina Selatan yang kini menjadi bagian dari Tiongkok. Di Indonesia, nekara dikenal pula sebagai “nekara hujan” karena digunakan dalam ritual memanggil hujan.

Selain itu, nekara juga dipakai dalam upacara kematian dan sebagai genderang perang. Dua nekara penting yang kini tersimpan di museum tersebut ditemukan di wilayah Seran, Kecamatan Seteluk, dekat kota Sumbawa Besar pada 1976, serta di Sambelia, Kabupaten Lombok Timur pada 1991.

Baca Juga :  Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Koleksi lain berasal dari masa arkeologi klasik, antara lain buli-buli keramik dari Cina Selatan abad ke-14 yang ditemukan di Desa Sekotong Tengah, Lombok Barat. Ada pula guci keramik masa Dinasti Sung abad ke-12 yang ditemukan di situs Pendua, Desa Sesait, Kabupaten Lombok Utara.

Artefak lain berupa pedupaan, arca Siwa, arca Durga Mahisasuramardhini, arca Siwa Mahadewa dari Batu Pandan, serta fragmen genta dan genta perunggu, menjadi bukti kuat pengaruh Hindu-Buddha yang pernah berkembang di kawasan ini.

Kisah NTB pada akhirnya adalah kisah pertemuan manusia dari berbagai latar, yang saling berdialog, beradaptasi, dan membentuk identitas baru.

Dari alat batu sederhana hingga nekara perunggu, dari ritual kuno hingga praktik keagamaan modern, seluruhnya membentuk lapisan sejarah yang masih hidup dalam keseharian masyarakat.

Di tengah arus modernisasi, warisan budaya tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat NTB tumbuh dari perjumpaan panjang peradaban.

Menjaga dan merawatnya bukan sekadar tugas institusi budaya, melainkan tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap memahami akar sejarahnya.

Jejak masa lalu itu kini tidak hanya tersimpan di museum atau situs arkeologi, tetapi juga hidup dalam tradisi, bahasa, dan kearifan lokal masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo: tiga identitas yang terus mewarnai perjalanan Provinsi Nusa Tenggara Barat menuju masa depan.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA