Menjaga Akar, Menembus Dunia dalam Swara Loka Karsa

Minggu, 17 Mei 2026 - 13:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lahir keyakinan bahwa seni pertunjukan daerah tidak harus menjadi bayang-bayang pusat kebudayaan lain (Foto: aks / ceraken.id)

Lahir keyakinan bahwa seni pertunjukan daerah tidak harus menjadi bayang-bayang pusat kebudayaan lain (Foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Malam itu, Sabtu 16 Mei 2026, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi NTB tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan seni.

Lampu-lampu panggung yang menyala temaram membuka malam puncak Workshop Seni Pertunjukan “Swara Loka Karsa”, sebuah proses kreatif yang selama tiga hari sebelumnya menempa para peserta untuk menyelami kembali akar tradisi sekaligus menerjemahkannya ke dalam bahasa seni yang lebih kontemporer.

Seni Musik menampilkan komposisi bertajuk “Swara Loka Karsa”, sementara Seni Tari menghadirkan tiga karya: “Ini Mami Papi”, “Anak Emak”, dan “Tiang”. Keempat pertunjukan itu bukan sekadar hasil latihan teknis, melainkan refleksi perjalanan batin para peserta yang berasal dari beragam latar usia dan pengalaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada pelajar SMP, siswa SMA, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga. Mereka dipertemukan dalam satu ruang kreatif yang mengajarkan bahwa seni tidak lahir dari kesempurnaan semata, melainkan dari keberanian untuk mengolah pengalaman hidup menjadi karya.

Di kursi-kursi penonton, para penggiat seni, pejabat daerah, dan masyarakat menyaksikan bagaimana tubuh, bunyi, dan ruang saling berbicara. Sesekali tepuk tangan pecah, bukan hanya sebagai apresiasi terhadap penampilan, tetapi juga sebagai pengakuan atas lahirnya semangat baru dalam ekosistem seni pertunjukan NTB.

Menjaga Tradisi, Menyusun Bahasa Baru

Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, menyebut malam pertunjukan itu sebagai ruang refleksi sekaligus evaluasi dari seluruh proses workshop.

Baginya, tiga hari bukan waktu panjang untuk mempelajari penciptaan musik dan tari kontemporer berbasis tradisi. Namun, waktu singkat itu cukup untuk melihat keseriusan dan potensi para peserta.

“Pentas malam ini adalah refleksi dan evaluasi hasil dari Workshop Seni Pertunjukan musik dan tari. Apa yang didapatkan pelaku-pelaku seni di Nusa Tenggara Barat, khususnya untuk seni tari dan seni musik, nanti akan bisa kita lihat sejauh mana progres mereka, sejauh mana keseriusan mereka, sejauh mana aplikasi mereka, setelah diberikan ilmu dan wawasan selama 3 hari oleh mentor-mentor hebat ini,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa harapan terbesar dari kegiatan tersebut adalah lahirnya seniman-seniman muda yang kreatif dan inovatif, namun tetap berpijak pada tradisi. Menurutnya, tradisi bukan sesuatu yang harus dibekukan dalam masa lalu, melainkan fondasi untuk menciptakan ekspresi seni yang relevan dengan zaman.

“Kami berharap munculnya, tumbuhnya seniman-seniman muda yang berkreavitas dan berinovasi dengan karya-karya yang baru. Berangkat dari pijakan-pijakan tradisi sebenarnya menjadi ranah kontemporer, ranah yang kekinian,” katanya.

Yang menarik, workshop itu tidak hanya diikuti generasi muda. Beberapa seniman tradisi yang telah berusia lanjut juga turut bergabung. Bagi Lalu Suryadi, hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena memperlihatkan adanya semangat lintas generasi dalam menjaga keberlangsungan seni pertunjukan NTB.

Di tengah derasnya arus budaya populer digital, langkah Taman Budaya Provinsi NTB menyelenggarakan workshop tahunan dapat dibaca sebagai upaya membangun regenerasi kesenian secara serius. Seni tidak hanya dipentaskan sebagai seremoni, tetapi diproses sebagai pengetahuan yang diwariskan.

Baca Juga :  Pameran Seni SMAN 8 Mataram Menafsirkan Sekolah sebagai Ruang Tumbuh Kehidupan

“Harapan ke depannya bagaimana NTB memang melahirkan potensi-potensi dan talenta-talenta muda untuk bisa berkiprah, bukan cuma di level nasional bahkan internasional,” tutur Lalu Suryadi.

Ia bahkan mengaitkan semangat kebudayaan tersebut dengan visi besar pembangunan daerah yang diusung Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal. Kebudayaan, menurutnya, bukan sektor pinggiran, melainkan jembatan untuk membawa identitas NTB dikenal dunia.

H. Tarmidzi (kiri bawah), Lalu Suryadi Mulawarman (kiri atas), I Wayan Ary Wijaya (kanan atas), Alfiyanto (kanan tengah), dan Rahmah Firtriah (kanan bawah). Workshop menjadi ruang pembentukan rasa percaya diri (Foto: aks / ceraken.id)
Ketika Seniman Bertemu Seniman

Di balik komposisi musik “Swara Loka Karsa”, terdapat proses kreatif yang dipandu oleh komposer dan Founder Palawara Music Company, I Wayan Ary Wijaya. Ia datang ke NTB bukan sekadar sebagai pemateri, tetapi sebagai rekan dialog bagi para peserta workshop.

Dalam kesannya, Ary Wijaya mengaku menemukan suasana kreatif yang hangat dan terbuka. Ia melihat keberagaman genre musik serta kekayaan kearifan lokal NTB sebagai energi besar yang dapat diolah menjadi karya-karya baru.

“Yang paling utama adalah ketika seniman bertemu seniman terjadilah pembahasan sebuah komposisi, bercengkrama dengan nada-nada dan kami akhirnya melahirkan sebuah karya yang nantinya sebentar lagi akan dipentaskan,” katanya.

Kalimat itu terasa penting. Sebab, seni sering kali tumbuh bukan dari ruang yang serba formal, tetapi dari percakapan-percakapan kecil, dari saling mendengarkan bunyi dan gagasan.

Workshop tersebut membuka ruang perjumpaan yang jarang terjadi: musisi tradisi, pemusik modern, penari muda, dan pelaku seni lintas disiplin duduk bersama untuk menciptakan sesuatu secara kolektif.

Ary Wijaya menyadari bahwa waktu tiga hari tentu belum cukup untuk melahirkan karya yang sepenuhnya matang. Namun, baginya, esensi workshop bukan semata hasil akhir, melainkan keberanian memulai proses.

“Tentunya dengan waktu singkat ini kami akhirnya bisa melahirkan, mungkin jika waktu lebih panjang, karya ini bisa lebih menjadi sempurna,” ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa seni pertunjukan adalah ruang belajar yang tidak pernah selesai. Sebuah karya akan terus tumbuh seiring pengalaman, latihan, dan keberanian bereksperimen.

Ia pun berharap hubungan kreatif dengan seniman NTB tidak berhenti setelah workshop usai. Menurutnya, tantangan terbesar generasi seni hari ini adalah bagaimana tetap relevan di tengah “revolusi” zaman tanpa kehilangan identitas budaya.

Kontemporer sebagai Cara Berpikir

Semangat eksplorasi juga terasa kuat dalam bidang koreografi yang dipandu seniman tari kontemporer Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, Alfiyanto. Dalam pandangannya, tari kontemporer bukan sekadar bentuk gerak yang modern atau eksperimental, melainkan cara berpikir kreatif yang mendorong seseorang untuk terus mencari kemungkinan baru.

“Ada pun Workshop yang dilaksanakan, khusus yang di bidang koreografi atau di bidang kreativitas, ini merupakan sebuah hal yang sangat luar biasa karena ini benar-benar difokuskan kepada proses kreatif tari kontemporer,” katanya.

Bagi Alfiyanto, mental kontemporer adalah keberanian untuk berimajinasi dan menemukan hal-hal baru. Karena itu, workshop tersebut menjadi penting bukan hanya untuk pengembangan artistik, tetapi juga pembentukan karakter para peserta.

Baca Juga :  Merawat Tradisi, Merayakan Masa Depan lewat Musik Swara Loka Karsa

“Setiap anak yang memiliki mental kontemporer adalah anak yang memiliki imajinasi yang tinggi dan anak yang selalu ingin mencari untuk menemukan hal-hal yang baru,” ujarnya.

NTB masih memiliki generasi seni yang percaya pada kekuatan tradisi sekaligus berani menyusunnya menjadi bahasa baru (Foto: aks / ceraken.id)

Dari proses itulah lahir tiga karya: “Ini Mami Papi”, “Anak Emak”, dan “Tiang”. Judul-judul tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, seolah ingin menegaskan bahwa seni kontemporer tidak harus jauh dari realitas masyarakat.

Ia bisa tumbuh dari relasi keluarga, pengalaman personal, bahkan keresahan sosial yang sederhana.

Yang menarik, keberagaman usia peserta justru menjadi kekuatan tersendiri. Tubuh-tubuh muda dan tubuh yang telah matang pengalaman sama-sama bergerak dalam ruang kreatif yang setara. Seni menjadi medium yang menghapus batas usia dan latar belakang sosial.

Kesaksian paling menyentuh datang dari peserta workshop asal Kabupaten Bima, Rahmah Firtriah, yang mewakili peserta lain. Dengan suara penuh haru, ia menyampaikan bagaimana workshop tersebut membuka kesadaran baru mengenai akar budaya NTB.

“Workshop ini membuka mata kami kembali untuk terus sadar bahwa akar budaya Nusa Tenggara Barat selama ini terasa dekat bisa tumbuh menjadi karya komtemporer yang kuat dan relevan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa warisan lokal bukan sesuatu yang harus ditinggalkan demi terlihat modern. Justru dari akar lokal itulah lahir identitas yang kuat.

“Kami belajar bahwa warisan lokal bukan untuk ditinggalkan tapi untuk diolah menjadi bahasa gerak zaman ini,” ujarnya.

Bagi Rahmah dan peserta lainnya, workshop itu juga menjadi ruang pembentukan rasa percaya diri. Mereka belajar bahwa kualitas karya tidak selalu ditentukan oleh teknik yang rumit, melainkan ketulusan dalam proses penciptaan.

“Tidak selamanya dengan teknik yang sulit, cukup dengan apa yang kita mampu asal dilakukan sepenuh hati, maka karya itu akan bersinar,” ucapnya.

Pernyataan itu menjadi semacam simpulan emosional dari keseluruhan workshop: seni yang jujur akan menemukan jalannya sendiri untuk menyentuh penonton.

Di akhir pertunjukan, tepuk tangan panjang kembali menggema memenuhi gedung teater. Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kepemudaan Dikpora NTB, H. Tarmidzi, memberi apresiasi singkat namun bermakna.

“Pertunjukan yang keren tuh, sesuai dengan bidangnya. Dibudayakan!” katanya.

Kalimat sederhana itu mengandung pesan penting: seni pertunjukan tidak cukup hanya dipentaskan sesekali. Ia harus dibudayakan, dijaga keberlangsungannya, diwariskan, dan diberi ruang hidup dalam keseharian masyarakat.

Malam puncak “Swara Loka Karsa” akhirnya tidak hanya menjadi penutup workshop tiga hari. Ia menjadi penanda bahwa di tengah perubahan zaman, NTB masih memiliki generasi seni yang percaya pada kekuatan tradisi sekaligus berani menyusunnya menjadi bahasa baru.

Dari panggung kecil di Gedung Teater Tertutup itu, lahir keyakinan bahwa seni pertunjukan daerah tidak harus menjadi bayang-bayang pusat kebudayaan lain. Ia bisa berdiri dengan identitasnya sendiri, berbicara dengan caranya sendiri, dan suatu hari nanti, benar-benar didengar dunia. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Menangkap Wajah Sunyi dalam Biru: Keliaran Baru Lalu Arief Budiman di Seri “Girls”
Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta
Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid
Menari dari Rumah yang Retak
Menafsir Luka Keluarga dalam Gerak: Tiga Wajah Kehidupan di Panggung Swara Loka Karsa
Merawat Tradisi, Merayakan Masa Depan lewat Musik Swara Loka Karsa
Pameran Seni SMAN 8 Mataram Menafsirkan Sekolah sebagai Ruang Tumbuh Kehidupan
Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 08:59 WITA

Menangkap Wajah Sunyi dalam Biru: Keliaran Baru Lalu Arief Budiman di Seri “Girls”

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:02 WITA

Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:27 WITA

Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid

Selasa, 19 Mei 2026 - 00:14 WITA

Menari dari Rumah yang Retak

Minggu, 17 Mei 2026 - 21:22 WITA

Menafsir Luka Keluarga dalam Gerak: Tiga Wajah Kehidupan di Panggung Swara Loka Karsa

Berita Terbaru

Pale Blue Dot - I Nyoman  Sandiya. Pada akhirnya, seluruh kehidupan, seluruh mimpi, dan seluruh sejarah manusia memang hanya berlangsung di sebuah titik biru pucat bernama bumi (Foto: ist / ceraken.id)

PAGELARAN

Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:02 WITA

Musik dalam pertunjukan ini hadir sebagai perekat sosial: bahasa universal yang melampaui sekat-sekat etnik (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:27 WITA

Hari Museum Internasional 2026. Museum benar-benar hidup sebagai ruang publik, ruang pengetahuan, ruang peradaban, sekaligus pilar masa depan Indonesia (Foto: kemenbud.go.id / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Museum sebagai Ruang Peradaban yang Menyatukan

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:09 WITA