CERAKEN.ID — Malam itu, Sabtu 16 Mei 2026 pukul 21.00 WITA, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi NTB berubah menjadi ruang sunyi yang dipenuhi bahasa tubuh. Tidak ada dialog panjang, tidak ada percakapan verbal yang rumit.
Namun, tubuh-tubuh para penari berbicara dengan cara yang jauh lebih dalam: tentang keluarga, kehilangan komunikasi, tekanan batin, kasih sayang, dan kegelisahan manusia modern.
Puncak “hasil” karya tari dalam Workshop Seni Pertunjukan bertema “Swara Loka Karsa” menghadirkan tiga karya: “Ini Mami Papi”, “Aku dan Emak”, dan “Tiang”. Ketiganya lahir dari proses workshop selama tiga hari, 13 hingga 15 Mei 2026, yang digagas Taman Budaya Provinsi NTB sebagai ruang pencarian kreatif bagi generasi muda seni pertunjukan NTB.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di bawah arahan Alfiyanto, ketiga karya itu tidak dibangun melalui ledakan gerak yang berlebihan. Sebaliknya, kekuatan artistiknya justru lahir dari pengulangan-pengulangan gerak yang sederhana, namun sarat emosi.
Repetisi tubuh menjadi simbol rutinitas, tekanan psikologis, dan siklus hubungan keluarga yang terus berulang dalam kehidupan manusia.
Dalam pernyataan artistiknya, Alfiyanto menjelaskan bahwa penciptaan karya tari bukan sekadar memproduksi variasi gerak baru, melainkan proses mengolah makna melalui tubuh, ruang, dan pengalaman emosional.
“Gerak yang serupa justru melahirkan karakter, atmosfer, dan intensitas emosional yang berbeda, bergantung pada bagaimana tubuh, ruang, waktu, serta intensi kreator mengolah dan menempatkannya dalam struktur koreografi,” tulisnya.

Pernyataan itu terasa hidup di atas panggung. Gerak-gerak yang tampak sederhana berubah menjadi pengalaman emosional yang kompleks ketika tubuh para penari mulai membangun relasi dengan ruang dan musik.
Penonton tidak hanya menyaksikan koreografi, tetapi seperti diajak masuk ke dalam rumah-rumah yang penuh kegelisahan.
Rumah yang Kehilangan Percakapan
Karya “Ini Mami Papi” membuka pertunjukan dengan suasana keluarga modern yang perlahan kehilangan kedekatan emosionalnya. Tubuh para penari bergerak dalam ritme yang kadang saling mendekat, namun kemudian menjauh tanpa benar-benar saling menyentuh.
Cahaya panggung yang dingin mempertegas rasa sepi di tengah rumah yang tampak ramai oleh aktivitas.
Karya ini berbicara tentang orang tua yang berusaha menjaga anaknya di tengah dunia digital yang bergerak begitu cepat. Panggilan “Mami” dan “Papi” yang dulu terasa hangat berubah menjadi gema yang memantul dalam ruang penuh jarak.
Melalui tubuh para penari, penonton menyaksikan bagaimana kasih sayang kadang gagal menemukan bentuk komunikasi yang tepat. Ada tangan yang ingin meraih, tetapi tertahan. Ada langkah yang ingin mendekat, namun justru menjauh.
“Gerak menjadi bahasa ketika kata-kata tak lagi mampu menjelaskan ketakutan orangtua terhadap perubahan zaman dan dunia virtual yang membentuk kehidupan anak,” demikian penggalan sinopsis karya tersebut.

Di sinilah tari kontemporer menemukan kekuatannya. Ia tidak menjelaskan persoalan secara gamblang, tetapi membiarkan tubuh berbicara melalui suasana, ritme, dan emosi yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat modern.
Kegelisahan itu menjadi relevan bagi banyak keluarga hari ini. Rumah tidak lagi selalu menjadi ruang percakapan yang hangat. Kesibukan, teknologi, dan tekanan kehidupan perlahan menciptakan jarak emosional yang tidak mudah diucapkan dengan kata-kata.
Tubuh Ibu dan Pengorbanan yang Sunyi
Jika “Ini Mami Papi” berbicara tentang jarak emosional keluarga modern, maka “Aku dan Emak” membawa penonton memasuki ruang domestik yang lebih personal dan emosional. Karya ini menjadi refleksi tentang sosok ibu yang memikul begitu banyak beban kehidupan tanpa banyak suara.
Tubuh para penari bergerak dalam ritme yang repetitif, seperti menggambarkan rutinitas harian seorang ibu: mengurus rumah, menjaga anak, dan memastikan kehidupan keluarga tetap berjalan. Namun di balik gerak yang tampak sederhana itu tersimpan kelelahan, keteguhan, dan kasih sayang yang nyaris tak pernah berhenti.
Karya tersebut menghadirkan kesadaran bahwa ruang domestik bukan sekadar tempat aktivitas rumah tangga, melainkan ruang pengorbanan yang sering kali tidak terlihat. Dapur, sumur, dan kasur bukan hanya simbol pekerjaan domestik, tetapi metafora tentang kehidupan ibu yang terus berputar tanpa jeda.
“Sikap keras yang terkadang hadir bukanlah bentuk kebencian, melainkan wujud kasih sayang dan tanggung jawab agar anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat,” demikian tertulis dalam sinopsis karya.
Melalui koreografi yang tenang namun emosional, penonton diajak melihat ibu bukan hanya sebagai sosok pengasuh, tetapi juga manusia yang memiliki kelelahan dan pergulatan batin sendiri. Tari menjadi medium untuk menghadirkan empati terhadap pengalaman-pengalaman yang selama ini dianggap biasa.

Di beberapa bagian, repetisi gerak justru menciptakan tekanan emosional yang kuat. Pengulangan itu seperti menggambarkan rutinitas kehidupan yang terus berjalan tanpa henti, sekaligus memperlihatkan bagaimana cinta sering hadir dalam bentuk pengorbanan yang sunyi.
“Tiang” dan Pergulatan Mencari Diri
Karya terakhir, “Tiang”, menjadi penutup yang paling personal dan reflektif. Dalam bahasa Sasak, “tiang” berarti “saya” atau “aku”. Namun dalam karya ini, “Tiang” juga menjadi simbol manusia yang berusaha tetap tegak di tengah tekanan hidup.
Tubuh-tubuh penari bergerak dalam ketegangan, kelelahan, dan repetisi yang intens. Ada dorongan untuk bangkit, namun juga rasa lelah yang terus menarik tubuh kembali jatuh.
Karya ini menggambarkan kegelisahan anak dalam mencari jati diri ketika perhatian emosional dari keluarga mulai menjauh.
“Tiang adalah AKU,” demikian kalimat penutup sinopsis karya itu.
Kalimat singkat tersebut terasa seperti pengakuan yang sangat personal. Bahwa di balik tekanan kehidupan modern, banyak anak muda sebenarnya sedang berjuang mempertahankan dirinya sendiri.
Karya ini mengingatkan bahwa anak, seperti tiang penyangga bangunan, membutuhkan perhatian dan kasih sayang agar tidak runtuh oleh tekanan hidup. Tanpa kehadiran emosional keluarga, seseorang bisa kehilangan arah dalam memahami siapa dirinya.

Dalam pandangan Alfiyanto, workshop tari kontemporer memang bukan sekadar ruang untuk menghasilkan pertunjukan yang baik di atas panggung. Kepada ceraken.id, Sabtu (16-05-2026) pukul 13.21 WITA, ia menegaskan bahwa esensi utama workshop justru terletak pada proses pencarian artistik yang berlangsung selama pelatihan.
“Tujuan akhir dari kegiatan ini bukan dilihat dari hasil karyanya, tapi yang paling penting adalah prosesnya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kesalahpahaman yang selama ini melekat pada tari kontemporer. Menurutnya, banyak orang menganggap tari kontemporer harus melepaskan diri dari akar budaya lokal, padahal justru sebaliknya.
“Tari kontemporer memberi ruang agar tradisi dapat berbicara dengan bahasa baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman,” katanya.
Karena itu, selama workshop berlangsung, peserta didorong untuk berani bereksplorasi dan menemukan ekspresi artistik mereka sendiri. Dari proses tersebut lahir pemahaman baru bahwa tari bukan sekadar parade gerak indah, tetapi medium untuk menerjemahkan emosi menjadi pengalaman artistik yang hidup.
“Saat ini mereka memahami bahwa tari itu bukan parade gerak, tapi bagaimana emosi bisa menjadi sebuah ekspresi,” tegas Alfiyanto.
Malam pementasan “Swara Loka Karsa” akhirnya tidak hanya menjadi panggung pertunjukan tari. Ia menjelma ruang refleksi tentang keluarga, relasi manusia, dan kegelisahan generasi modern.
Melalui tubuh-tubuh yang bergerak di atas panggung, para peserta workshop memperlihatkan bahwa seni tari masih memiliki kekuatan untuk menyentuh luka yang paling personal, lalu mengubahnya menjadi pengalaman bersama yang dapat dirasakan semua orang. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































