Museum sebagai Ruang Peradaban yang Menyatukan

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:09 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hari Museum Internasional 2026. Museum benar-benar hidup sebagai ruang publik, ruang pengetahuan, ruang peradaban, sekaligus pilar masa depan Indonesia (Foto: kemenbud.go.id / ceraken.id)

Hari Museum Internasional 2026. Museum benar-benar hidup sebagai ruang publik, ruang pengetahuan, ruang peradaban, sekaligus pilar masa depan Indonesia (Foto: kemenbud.go.id / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh polarisasi, konflik, dan pertarungan identitas, museum justru hadir dengan cara yang sunyi. Ia tidak berteriak melalui slogan-slogan politik, tidak pula berlomba dalam hiruk-pikuk media sosial.

Museum bekerja lewat ingatan, melalui benda-benda yang diam, tetapi menyimpan perjalanan panjang sebuah peradaban. Dari ruang-ruang itulah, bangsa belajar memahami dirinya sendiri.

Momentum Hari Museum Internasional 2026 yang diperingati pada 18 Mei menjadi penegasan penting bahwa museum tidak lagi dapat dipandang sekadar gudang benda kuno. Dalam orasi kebudayaan di Museum Nasional Indonesia, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menempatkan museum sebagai ruang publik yang memiliki fungsi strategis untuk menyatukan masyarakat yang tercerai oleh berbagai sekat sosial dan budaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peringatan tahun ini mengusung tema “Museums Uniting a Divided World” yang diangkat oleh International Council of Museums. Tema tersebut terasa relevan dengan situasi global hari ini, ketika dunia memang semakin terkoneksi secara teknologi, tetapi justru mengalami keterbelahan secara sosial dan kultural.

“Di tengah dunia yang makin terkoneksi namun juga terfragmentasi akibat konflik, ketimpangan, dan polarisasi, museum harus hadir sebagai ruang publik yang membangun kembali kepercayaan, mempertemukan perbedaan, serta menghubungkan generasi muda dengan sejarah dan warisan peradabannya,” tegas Fadli Zon.

Museum dan Jati Diri Bangsa

Pidato Menteri Kebudayaan itu memperlihatkan adanya perubahan cara pandang negara terhadap museum. Museum kini tidak hanya diposisikan sebagai institusi pelestarian sejarah, tetapi juga instrumen pembentuk jati diri bangsa dan ruang kewargaan yang memperkuat kohesi sosial.

Pandangan tersebut penting di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat. Generasi muda hidup dalam arus informasi yang nyaris tanpa batas. Mereka mengenal budaya global dalam hitungan detik, tetapi sering kali berjarak dengan akar sejarah dan warisan budayanya sendiri.

Dalam konteks inilah museum menjadi relevan: ia menyediakan ruang untuk memahami asal-usul, membaca perjalanan bangsa, sekaligus menafsirkan masa depan.

Fadli Zon menegaskan bahwa kebijakan permuseuman Indonesia dibangun di atas empat landasan utama. Pertama, museum sebagai instrumen pembentuk jati diri bangsa. Kedua, museum sebagai ruang kewargaan yang memperkuat kohesi sosial. Ketiga, museum sebagai ruang pemulihan kedaulatan budaya. Dan keempat, museum sebagai infrastruktur hulu ekonomi budaya.

Baca Juga :  Hardiknas 2026: Pendidikan Bukan Seremoni, Melainkan Jalan Panjang Peradaban

Konsep terakhir menunjukkan bahwa museum kini juga dipandang memiliki nilai ekonomi yang strategis. Museum bukan sekadar ruang nostalgia, tetapi dapat menjadi sumber inspirasi bagi industri budaya dan ekonomi kreatif.

“Museum harus menjadi ruang yang lestari secara budaya, relevan secara sosial, dan berkelanjutan secara ekonomi. Dari museum akan lahir pengetahuan, imajinasi, dan narasi yang menjadi fondasi industri budaya dan industri kreatif kita,” ujar Fadli Zon.

Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana museum dapat terhubung dengan dunia film, animasi, gim, fesyen wastra, kuliner, hingga konten digital. Warisan budaya tidak lagi diperlakukan sebagai artefak mati, melainkan modal budaya yang hidup dan dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi kreatif nasional.

Dari Ruang Sunyi Menjadi Ruang Hidup

Data yang dipaparkan Kementerian Kebudayaan menunjukkan bahwa hingga April 2026 terdapat 516 museum di Indonesia. Sebanyak 373 museum telah teregistrasi dalam Nomor Registrasi Nasional Museum, sementara 234 museum telah terstandar sebagai museum tipe A, B, atau C.

Angka itu menunjukkan perkembangan positif, meski tantangan terbesar museum Indonesia bukan hanya soal jumlah, melainkan bagaimana menjadikan museum hidup di tengah masyarakat.

Selama bertahun-tahun, museum kerap diasosiasikan sebagai ruang formal yang kaku dan membosankan. Kunjungan museum identik dengan tugas sekolah atau agenda seremonial. Padahal, di banyak negara, museum justru menjadi bagian penting dari gaya hidup masyarakat perkotaan: ruang belajar, ruang rekreasi, hingga ruang interaksi sosial.

Karena itu, Kementerian Kebudayaan kini mendorong empat agenda prioritas permuseuman nasional. Penguatan museum sebagai infrastruktur pengetahuan publik, peningkatan relevansi museum bagi generasi muda, percepatan transformasi digital museum, serta penguatan pembiayaan melalui kemitraan lintas sektor menjadi fokus utama.

Transformasi digital menjadi langkah yang sangat penting. Generasi muda hari ini hidup dalam kultur visual dan interaktif. Museum dituntut tidak hanya menghadirkan koleksi, tetapi juga pengalaman.

Digitalisasi memungkinkan museum menjangkau publik lebih luas, menghadirkan arsip secara virtual, hingga membangun keterlibatan generasi muda melalui teknologi.

Kepala Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin, mengatakan bahwa museum sejatinya menjadi ruang yang mempertemukan masa lalu dan masa depan.

Baca Juga :  Menimbang Risiko, Menjemput Peluang

“Museum mengingatkan kita bahwa keberagaman cara pandang bukan alasan untuk terpisah, melainkan undangan untuk saling memahami dan melengkapi,” ujarnya.

Pernyataan itu terasa penting di tengah kecenderungan masyarakat yang mudah terbelah oleh perbedaan pandangan. Museum menghadirkan pendekatan yang lebih tenang: mengajak orang memahami sejarah, melihat keberagaman pengalaman manusia, dan menemukan titik temu sebagai sesama warga bangsa.

Menjadikan Museum sebagai Gaya Hidup

Salah satu langkah menarik yang diluncurkan dalam peringatan Hari Museum Internasional 2026 adalah hadirnya Museum Passport, program yang digagas Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya bersama Paperina.

Museum Passport dirancang sebagai buku jejak partisipatif yang memungkinkan masyarakat mengumpulkan stempel perjalanan budaya dari berbagai museum dan situs cagar budaya di Indonesia. Di dalamnya, pengunjung juga dapat mencatat pengalaman personal selama mengunjungi museum.

Gagasan ini tampak sederhana, tetapi menyimpan pendekatan baru yang menarik: menjadikan kunjungan museum sebagai pengalaman personal dan bagian dari gaya hidup.

Di era media sosial, pengalaman memiliki nilai penting. Orang tidak hanya ingin datang ke suatu tempat, tetapi juga membangun keterhubungan emosional dengan ruang yang dikunjungi. Museum Passport mencoba menjawab kebutuhan itu dengan cara yang lebih partisipatif dan dekat dengan generasi muda.

Program tersebut diharapkan mulai dapat diakses publik pada Juni 2026. Kehadirannya menjadi simbol bahwa museum Indonesia sedang bergerak menuju wajah baru: lebih terbuka, lebih inklusif, dan lebih akrab dengan masyarakat.

Pada akhirnya, tantangan terbesar museum bukan sekadar menjaga koleksi tetap utuh, melainkan menjaga ingatan bangsa tetap hidup. Museum adalah ruang tempat manusia belajar bahwa masa lalu bukan sesuatu yang selesai, tetapi bagian dari perjalanan menuju masa depan.

Menutup orasinya, Fadli Zon mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat museum sebagai ruang peradaban Indonesia.

“Saya berharap museum dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang berbudaya. Mengunjungi museum harus menjadi kebiasaan baru masyarakat, terutama generasi muda, agar museum benar-benar hidup sebagai ruang publik, ruang pengetahuan, ruang peradaban, sekaligus pilar masa depan Indonesia,” tutupnya. (*)

 

Editor : cerekan editor

Sumber Berita: kemenbud.go.id

Berita Terkait

Di Tengah Dominasi AI, Keaslian Manusia Kembali Dicari
Lorong Pendidikan dan Semangat Sportivitas dari SMAN 8 Mataram
Lorong-Lorong Kreativitas di SMAN 8 Mataram
Rumah Inspirasi di Kaki Rinjani
Hardiknas 2026: Pendidikan Bukan Seremoni, Melainkan Jalan Panjang Peradaban
Encop Sopia Raih Gelar Doktor Bidang Ilmu Politik di Universitas Indonesia
Menimbang Risiko, Menjemput Peluang
Gaukang ri Lakkang, Cara Membangun Kesadaran Kritis Warga dengan Menulis

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:09 WITA

Museum sebagai Ruang Peradaban yang Menyatukan

Selasa, 12 Mei 2026 - 17:00 WITA

Di Tengah Dominasi AI, Keaslian Manusia Kembali Dicari

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:30 WITA

Lorong Pendidikan dan Semangat Sportivitas dari SMAN 8 Mataram

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:11 WITA

Lorong-Lorong Kreativitas di SMAN 8 Mataram

Senin, 4 Mei 2026 - 19:39 WITA

Rumah Inspirasi di Kaki Rinjani

Berita Terbaru

Pale Blue Dot - I Nyoman  Sandiya. Pada akhirnya, seluruh kehidupan, seluruh mimpi, dan seluruh sejarah manusia memang hanya berlangsung di sebuah titik biru pucat bernama bumi (Foto: ist / ceraken.id)

PAGELARAN

Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:02 WITA

Musik dalam pertunjukan ini hadir sebagai perekat sosial: bahasa universal yang melampaui sekat-sekat etnik (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:27 WITA

Hari Museum Internasional 2026. Museum benar-benar hidup sebagai ruang publik, ruang pengetahuan, ruang peradaban, sekaligus pilar masa depan Indonesia (Foto: kemenbud.go.id / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Museum sebagai Ruang Peradaban yang Menyatukan

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:09 WITA